
"Nenek lo masuk rumah sakit mana?!!!" teriak Samuel karena saat ini ia sedang mengendarai motor.
"Woyy KATYA!" teriak Samuel lagi tapi masih tak dijawab oleh Katya. Samuel mendengus kesal, dalam hati ia mengira bahwa Katya pasti sedang mengelabuinya lagi.
Karena sedari sepulang sekolah langit sudah mendung, kini rintik hujan mulai turun membasahi jalanan. Itu membuat Samuel tambah kesal dan memilih untuk mencari tempat berteduh dulu.
Samuel lalu memberhentikan motornya didekat warung yang agak sepi pembeli. Mereka berdua lalu berlari kecil menuju warung tersebut untuk berteduh.
"Kenapa kita malah kesini sih sam?" kesal Katya karena ia paling malas kalau harus mengunjungi warung sisi jalan ataupun semacamnya yang menurutnya kotor.
"Bawel banget sih lo, emangnya lo mau ujan-ujanan sampe rumah sakit? Nanti bukannya lo nengok Oma lo malah ikut-ikutan sakit" Katya terdiam mendengar perkataan Samuel, ia lalu tersenyum karena ternyata Samuel menyimpan sedikit perhatian padanya.
"Awas jangan salah sangka sama omongan gue, gue ngomong gitu juga karena gue juga gak mau ikutan sakit. Entar gue malah gak bisa ketemu Olive lagi" senyuman Katya langsung memudar begitu mendengar kelanjutan omongan Samuel lagi.
"Bu, pesen teh angetnya dua ya" ujar Samuel pada penjual warung tersebut.
"Iya dek, tunggu sebentar" jawab penjual warung tersebut lalu mulai membuat dua teh hangat yang dipesan Samuel.
Samuel lalu duduk di kursi panjang yang sudah disediakan, "Sini lo duduk jangan diri mulu!" ujar Samuel pada Katya yang tengah memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.
"Iya" jawab Katya lalu duduk disamping Samuel. Melihat Katya yang menggigil kedinginan, Samuel langsung berinisiatif melepas jaketnya lalu memakaikannya pada Katya.
"Lo kedinginan, pake aja jaket gue" perlakuan dan ucapan Samuel membuat Katya terdiam.
"Nih dek, teh angetnya" ujar ibu penjual warung yang langsung Samuel terima.
"Makasih bu" ibu tersebut hanya mengangguk lalu kembali memasuki warung.
"Nih buat ngangetin badan lo" Samuel menyerahkan segelas teh hangat pada Katya, Katya lalu menerima teh hangat yang disodorkan Samuel dan masih tidak berbicara.
"Jujur aja lo pasti boong kan soal Oma lo yang masuk rumah sakit?" Katya yang sedang meminum teh hangat lalu terdiam masih belum berani menjawab.
"Gue nggak habis pikir deh sama lo, mau lo itu apa sih Kat? Gue kan udah berkali-kali bilang sama lo, kalo gue ini gak ada rasa sama sekali sama lo. Gue cuman nganggep lo temen, dan itupun gak lebih" Katya masih terdiam, bahkan ia tidak berani menatap Samuel. Ia menundukkan wajahnya, ia tau Samuel akan terus berkata seperti itu padanya. Tapi boleh saja bukan kalau ia memutuskan untuk tetap tidak menyerah?
"Aku minta maaf" Katya memberanikan untuk bersuara, tapi perkataan Katya malah membuat Samuel bingung.
"Minta maaf buat apa?"
"Ya.. karena aku udah ngebohongin kamu soal Oma aku yang masuk rumah sakit. Sekali lagi aku minta maaf.." ujar Katya masih menundukkan kepalanya belum berani menatap Samuel.
__ADS_1
"Huhh.." Samuel menghembuskan nafasnya kesal, ia memang sudah menduga itu dari tadi.
"Lain kali jangan lo ulangi lagi, gue paling males kalo mesti ditipu kek gini. Kalo emang lo lagi bener-bener butuh bantuan, gue juga pasti mau nolongin kok. Tapi kalo niatan lo cuman mau kayak gini, lo bisa bikin kepercayaan gue ilang sama lo" Samuel berkata sambil menatapi Katya, tapi Katya masih belum mau menoleh.
"Abis ini gue langsung anterin lo pulang, lain kali lo jangan nipu gue kayak gini lagi" setelah mengatakan itu, Samuel lalu membayar teh hangat tadi lalu berdiri karena hujan sudah mulai reda.
"Ayo gue anterin lo pulang, lo mau disini aja sampe besok?" Katya langsung mendongak dan langsung berdiri sambil menaruh teh hangatnya.
⚪⚪⚪
Karena motor Mark yang tiba-tiba mogok dan bengkel yang Mark kunjungi penuh. Membuat Mark dan Olive mau tak mau harus pulang dengan naik kendaraan umum.
"Kita cari taksi aja ya Liv" Olive terdiam sebentar lalu menggeleng.
"Kita naik angkot aja yuk Mark, udah lama kita nggak naik angkot lagi" ujar Olive memberi saran lain.
"Kamu yakin mau naik angkot?" tanya Mark ragu, Olive lalu mengangguk memastikan.
"Yaudah, kalo gitu kita naik angkot aja" Mark lalu menatap ke arah jalanan mencoba mencari angkot yang lewat.
"Tuh angkotnya dateng" tunjuk Olive, Mark lalu langsung melambaikan tangannya dan angkot itu berhenti tepat didepan mereka. Mereka langsung naik dan untungnya penumpangnya tidak terlalu penuh.
"Yahh.. hujan lagi Mark" keluh Olive sambil menatap ke arah jendela.
"Seandainya aja tadi kita naik taksi, pasti kita gak bakalan kehujanan sampe rumah" Olive merasa bersalah tapi ia tidak menyesal karena memang sudah lama ia tidak naik angkot. Terakhir kali ia naik angkot, saat ia pulang diantar oleh Wahyu yang juga akan ke rumah Mark.
"Kiri pak" seru Mark saat sudah sampai di jalanan depan komplek. Mark dan Olive lalu turun dari angkot dan langsung membayar. Karena masih hujan, terpaksa mereka harus berlari menyebrangi jalanan dengan seragam mereka yang mulai basah.
"Cepet Liv kita mesti lari! Kamu ngapain malah berhenti?!" ujar Mark agak berteriak karena suara hujan yang turun menderas.
"Aku capek Mark, lagian blok kita masih jauh" ujar Olive sambil menopang tangan di lutut. Mark lalu berlari kecil menghampiri Olive. Mark lalu berjongkok memunggungi Olive.
"Ayo naik biar aku gendong" suruh Mark sambil menepuk pundaknya. Olive terdiam sebentar, ia lalu naik ke punggung Mark dan mengalungkan tangannya di leher Mark.
Mark lalu berdiri dan mulai berlari menggendong Olive. Setelah tinggal melewati satu blok lagi, Mark mulai memelankan langkahnya.
"Udah Mark, kamu gak usah lari. Lagian tinggal satu blok lagi kok, nantinya kamu malah kecapean ngegendong aku juga"
"Gapapa kok, lagian kalo kelamaan ujan-ujanan takutnya kamu malah sakit" jawab Mark yang membuat Olive terdiam lagi. Pipi Olive tiba-tiba memanas, jujur ia merasa tersipu dengan ucapan Mark tadi. Untungnya Mark tidak bisa melihatnya.
__ADS_1
"Kita udah lama gak ujan-ujanan gini, rasanya sekarang aku seneng bisa ujan-ujanan kayak gini lagi" ujar Olive sambil merentangkan sebelah tangannya.
"Emangnya kamu seneng banget ya Liv bisa ujan-ujanan lagi?" tanya Mark sambil memelankan langkahnya.
"Iya, lagian ujan-ujanan itu seru tau" jawab Olive sambil kembali mengalungkan tangannya lagi.
"Seru kenapa?" tanya Mark sambil terus berjalan.
"Turunin aku dulu Mark, aku udah gak capek lagi kok" pinta Olive, Mark lalu menurunkan Olive dari punggungnya.
"Seru kenapa?" tanya Mark lagi.
"Ya seru aja, lagian hujan itu suka bikin perasaan aku tenang. Aku suka hujan karena banyak kenangan seru yang aku dapetin pas turun hujan. Lagian banyak orang yang bilang, kalo hujan itu romantis kok" jelas Olive sambil menatap Mark.
"Terutama kenangan tentang kamu Mark, aku selalu suka pas kita ujan-ujanan bareng kayak gini" batin Olive sambil terus menatap Mark. Mark juga ikut terdiam menatap Olive.
"Aku juga suka kok Liv.. " jawab Mark pelan sambil tersenyum.
Jujur, Olive ingin menangis sekarang. Mengapa Mark harus terus membuat Olive semakin menyukainya. Bagaimana caranya Olive bisa melupakan perasaannya? Jika setiap hari perasaannya selalu bertambah menyukai Mark. Olive harus sadar bahwa sekarang Mark telah bersama Zoe. Ia tidak ingin menjadi perusak hubungan mereka.
Olive mengalihkan pandangannya dari Mark, ia lalu menatap kosong ke depan yang membuat Mark bingung. Setetes air mata mengalir pelan dipipi Olive, tapi anehnya meskipun terguyur air hujan Mark tetap bisa melihat Olive menangis.
"Kamu nangis Liv?" tanya Mark lalu menolehkan kepala Olive menghadapnya. Langkah mereka terhenti, Mark lalu bisa melihat mata Olive yang memerah.
"Kamu kok malah nangis Liv?" tanya Mark bingung sekaligus khawatir. Tangis Olive tiba-tiba pecah, Mark lalu langsung membawa Olive ke pelukannya.
"Olive, kamu kenapa? Kok malah nangis?" tanya Mark lagi agak panik, ia takut Olive kenapa-napa.
"Maafin aku Mark.. aku gak seharusnya nyimpen perasaan ini ke kamu" ujar Olive yang membuat Mark bingung. Mark bingung maksud perkataan Olive apa, sedangkan hujan malah turun semakin deras. Mark semakin panik, saat mendengar Olive yang menggigil kedinginan.
"Olive, kita harus cepet-cepet nyampe rumah. Kamu udah kedinginan kayak gini, nanti kamu malah sakit" karena Olive yang tambah menggigil, Mark lalu langsung memangku Olive tanpa sepertujuan Olive.
"Mark.. turunin aku aja Mark.. a-aku masih kuat jalan kok" gumam Olive tapi Mark malah semakin mempercepat langkahnya.
"Muka kamu udah pucet banget Liv, aku takut kamu nanti malah pingsan" jawab Mark sambil terus mempercepat langkahnya. Sesampai dirumah Olive, Mark lalu langsung membawa Olive ke kamarnya.
"Liv, kamu cepet ganti baju dulu biar gak tambah sakit, aku turun dulu buat bikin coklat panas ya" Olive mengangguk pelan, Mark lalu turun sambil menutup pintu kamar Olive. Olive lalu segera mengganti bajunya, ia lalu duduk kembali di atas kasur sambil mengeringkan rambutnya. Olive memakai sweater tebal karena memang ia masih menggigil kedinginan.
Olive melamun pelan, ia malah memperparah semuanya. Seharusnya tadi ia tidak menghampiri Mark saat latihan basket dan memilih langsung pulang dengan taksi. Mungkin sekarang rencananya untuk menjaga jarak tidak akan menjadi semakin rumit.
__ADS_1
Apalagi dengan perkataan Mark di kedai es krim tadi yang memintanya untuk tidak ikut menjauh. Olive semakin bingung harus bersikap bagaimana lagi.