Terjebak Oleh Masa Lalu

Terjebak Oleh Masa Lalu
Bap 25


__ADS_3

Kali ini, Reza berniat akan mengantar surat gugatan perceraian tersebut ke Alaric.


Tapi, saat akan menghampiri rumah Alaric, terlihat mobilnya yang baru saja keluar dari rumah.


Reza pun mengikutinya...


Alaric masuk ke sebuah komplek yang dimana Reza masih terus mengikutinya.


Mobil Alaric terhenti didepan sebuah rumah yang terlihat seorang wanita membuka pagar tersebut dan itu adalah Rinda.


Reza bergegas turun dari mobil dan akan menghampiri Alaric sebelum gerbang ditutup.


Setelah gerbang hampir tertutup, Reza menendang gerbang tersebut dengan sangat keras.


Rinda pun terkejut dan langsung membuka kembali gerbangnya...


"Ada apa?" tanya Rinda.


Reza langsung nyelonong masuk melewati gerbang dan mendekati Alaric yang hendak masuk kerumah.


Melihat Reza yang datang, Alaric pun terkejut dan memperhatikan sekitar apakah Reza sedang bersama Alesha.


"Hey... kamu lihat apa?" Reza melambaikan tangannya dihadapan Alaric.


Reza berdiri dengan gaya petentengan memperhatikan Rinda dan Alaric yang berdiri sebelahan.


"Kebetulan... aku ketemu kamu disini, silahkan tanda tangani ini" Reza memberikan surat gugatan tersebut.


Alaric mengambilnya dari tangan Reza dan melemparnya kelantai.


Reza pun tertawa terbahak-bahak melihat sikap Alaric...


"Boleh aku sebut kamu penjahat kelamin" Reza tertawa.


Merasa tidak senang dengan ucapan Reza, Alaric pun menarik leher baju Reza.


Dengan spontan, Reza mendorong Alaric.


Rinda pun melerai keributan mereka...


"Tolong ya mbak, suami atau selingkuhan kamu ini suruh selesain masalahnya dengan simpanannya" ucap Reza.


"Alesha istriku..." teriak Alaric.


"Terus mbak ini siapa? Selingkuhan kamu?" Reza menaikan alisnya.


Reza mengambil kembali surat gugatan tersebut dilantai dan memberiknnya pada Rinda.


"Tolong secepatnya kamu selesaikan ini" Reza menunjuk ke arah surat yang dipegang oleh Rinda.


"Bukannya kamu uda punya suami... kalian cocok sama-sama pengkhianat" Reza tertawa.


Reza pun pergi dan menendang kembali gerbang...


Alaric dan Rinda hanya diam mendengar ucapan Reza.


Setelah Reza pergi Alaric dan Rinda bertengkar, karna Alaric yang masih menahan-nahan Alesha untuk menjadi istrinya.


"Move on dong kamu" ucap Rinda.


"Terus kamu gimana?" tanya Alaric.


Rinda hanya diam...


Alaric terus menyalahkan Rinda yang saat mereka menikah selalu bersikap dingin, dan yang saat itu Alaric mulai jatuh cinta dengan Alesha.


Karna terus berdebat, Alaric pun berniat kembali kerumah...


Rinda pun membiarkan Alaric pergi...

__ADS_1


Diperjalanan...


Alaric melihat Reza yang masih diarea komplek, merasa belum puas Alaric pun turun dari mobil dan menghampiri Reza.


"Gimana... uda selesai kamu tanda tangani?" tanya Reza.


"Kamu tuli... aku uda bilang gak akan tanda tangani sebelum aku ketemu Alesha" ucap ketus Alaric.


Reza dan Alaric pun kembali berdebat...


Reza berkata pada Alaric untuk tidak mengusik kehidupan Alesha lagi terlagi mereka sudah memiliki seorang anak.


Mendengar itupun Alaric sangat terkejut dan terdiam sesaat...


Alaric masih tidak percaya dengan ucapan Reza, yang kemudian Alaric teringat dengan ucapan Alesha saat itu ketika Reza menganiayanya.


"Oh... jangan-jangan kamu maksa Alesha kali ya, aku ingat dulu di paha Alesha ada memar yang cukup besar itu pasti karna kamu maksa Alesha bercinta" ucap Alaric sambil menunjuk-nunjuk wajah Reza.


Alaric pun berkata bahwa apa yang dilakukan Alesha saat ini hanya terpaksa atau karna paksaan.


Mendengar ucapan Alaric, Reza langsung melempar rokoknya ke pakaian Alaric.


"Aku akan tes DNA anak Alesha, karna aku yakin itu bukan anak kamu" ucap Alaric.


Reza meminta Alaric untuk tidak repot tes DNA karna tanda dikaki Zein sudah cukup membuktikan bahwa Zein adalah darah dagingnya, Reza pun memperlihatkan foto tanda toh hitam dikakinya yang sama persis dengan dikaki Zein.


Alaric terdiam dan terus memperhatikan foto tersebut...


"Gampang... kalau kamu gak mau tanda tangan, aku bisa pakai cara lain" ucap Reza kemudian meninggalkan Alaric.


Reza menuju Apartmen dengan rasa emosi yang sangat memuncak...


Ia teringat akan ucapan Alaric yang mengatakan bahwa Alesha terpaksa dengannya, Reza berkali-kali memukul stir mobilnya.


Begitu sampai di Apartmen, Reza melihat Zein yang tertidur.


"Alesha..." teriak Reza.


Pkkkkk...


Reza menampar Alesha dan menyeretnya.


"Re..." Alesha menahan tangan Reza yang menarik rambutnya.


Dengan rasa kesal ia memukuli Alesha dan menendangnya berkali-kali, sambil mengatakan bahwa Alesha adalah wanita bodoh dan mudah termakan pujuk rayu.


Reza mengambil galon air berukuran besar yang kosong dan memukulkannya ke lengan Alesha.


"Kamu silahkan pergi, aku bisa urus Zein" ucap Reza dengan keras.


Reza mengeluarkan koper milik Alesha dan mengacak-acak isi lemari.


Saat Alesha ingin mengambil Zein dengan spontan Reza mendorong Alesha hingga terjatuh.


"Kamu jangan sentuh Zein..." Reza menunjuk wajah Alesha.


"Keluar..." teriak Reza dengan sangat keras.


Karna pakaian Alesha terlalu minim, ia pun mengambil jaket Reza digantungan tanpa terlihat oleh Reza.


Alesha duduk di kursi yang tidak jauh dari Apartmen mereka.


Alesha hanya termenung, bahkan ia sudah lelah jika harus menangis.


Ia mulai terbiasa dengan sikap Reza yang kasar.


"Dari awal aku yang salah, jadi aku pantas nerima semua ini" dalam hati Alesha.


Alesha merasa lebih baik sakit fisik dari pada harus sakit hati melihat orang yang ia sayang membagi cinta.

__ADS_1


"Ini uda menjadi pilihanku, mungkin Reza masih marah dan cemburu" dalam hati Alesha yang memaklumi.


Alesha sudah pasrah bahkan jika harus mati ditangan Reza, ia pun rela.


Terlagi ia berusaha untuk tidak melawan Reza karna tidak ingin membuatnya semangkin marah.


Kembali ke Reza...


Yang terus menatap Zein dengan mata memerah, ia sangat menyayangi Zein dan tidak ingin berpisah dengannya.


Zein terbangun...


Reza pun menggendongnya dan mengajaknya bermain, ia melakukan hal yang sering Alesha lakukan seperti membuat susu, memandikan dan mengajaknya berbicara.


Berkali-kali Alesha mendekati pintu Apartmen dan mendengarkan dari pintu apakah Zein menangis, namun tidak terdengar suara Zein yang menangis.


Hanya terdengar suara ocehan Reza dan Zein yang tertawa...


Alesha pun tersenyum dan kembali duduk di kursi.


Waktu sudah malam...


Alesha merasa sangat lapar dan haus, ia memeriksa saku jaket Reza dan mendapat beberapa uang pecahan.


Kemudian ia turun kebawah berniat membeli roti dan air mineral.


Saat Zein sudah tertidur kembali, Reza keluar dan memperhatikan sekeliling, ia tidak melihat ada Alesha.


Reza kembali masuk dan melihat Zein yang tertidur, ia berniat akan mencari Alesha namun bingung melihat Zein yang sendirian.


Tidak tega jika harus meninggalkan Zein sendirian, Reza pun menggendong Zein dan membawanya keluar.


Reza terus memperhatikan sekitar mencari Alesha.


"Alesha kan gak bawa ponsel dan uang" dalam hati Reza.


Dari kejauhan terlihat oleh Reza, Alesha yang sedang makan roti dan berjalan kearah lift.


Reza pun menunggu Alesha dilantai dua tepatnya didepan lift yang dinaiki oleh Alesha.


Ketika lift terbuka...


Reza langsung merangkul Alesha dan memintanya untuk pulang.


Alesha sedikit tersenyum dan mengangguk...


Mereka pun kembali masuk kamar...


Reza kembali meletakan Zein diatas tempat tidur dan Alesha langsung ke kamar mandi membersihkan diri.


Saat mandi...


Alesha merasakan kepalanya yang sakit karna Reza menarik rambutnya, dan tubuhnya yang pegal-pegal.


Selesai mandi, Alesha mengambil pakaiannya yang berserakan dilantai dan mengumpulkannya dikeranjang.


Reza terus memperhatikan Alesha yang terlihat biasa saja seperti tidak ada masalah sebelumnya, raut wajah Alesha juga terlihat biasa saja tidak cemberut dan marah.


Terlihat dari cermin lemari, Reza yang terus memperhatikan Alesha.


Alesha pun berbalik badan dan mendekati Reza yang terus menatapnya.


"Re... aku minta maaf ya, aku tau apa yang kamu lakuin karna kamu gak mau kehilangan aku. Aku nyesel uda ninggalin kamu, karna saat itu aku merasa bosen dengan sikap kasar kamu. Sekarang, berubah atau enggaknya kamu, aku tetap terima, aku akan selalu berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kita." Alesha menangis saat mencium tangan Reza.


Mendengar ucapan Alesha, Reza pun merasa sangat bersalah.


"Aku terbakar cemburu, maafin aku" Reza bersujud dikaki Alesha.


Alesha menarik tangan Reza dan memintanya untuk kembali duduk di atas tempat tidur.

__ADS_1


Reza berjanji dengan Alesha untuk tidak lagi berbuat kasar dengannya...


__ADS_2