
Selama berada dirumah Thewiq, Jefkha selalu datang dan menemani Alesha agar tidak merasa bosan.
Sering sekali Jefkha datang membawa berbagai macam makanan untuk Alesha.
Alesha masih menyimpan uang yang ia dapat saat bekerja diluar kota, ia berusaha berhemat dan tetap mengirimkan sejumlah untuk ibunya.
"Aku bosen dirumah terus ada kerjaan gak?" tanya Alesha.
"Kamu lagi hamil harus banyak istirahat" ucap Thewiq.
Alesha terus memaksa dan mengatakan dirinya akan berhati-hati mengerjakan pekerjaannya.
"Aku harus tetap kirim ibu aku uang, dan untuk biaya persalinan nanti" ucap Alesha.
Jefkha berjanji dengan Alesha bahwa ia akan membantu biaya persalinan nantinya begitu juga dengan Thewiq.
"Kita kan berteman baik, kamu santai lah" ucap Thewiq.
Thewiq pun mencoba menghubungi tantenya yang memiliki usaha catering.
Bertepatan saat itu tante Thewiq juga mencari asisten untuk mencatat setiap orderan dan menu harian.
Pekerjaan yang Thewiq tawarkan bukanlah pekerjaan berat, Alesha bisa mengerjakannya dengan santai.
Lokasi tempat Alesha bekerja juga berada dikomplek yang sama.
Alesha terus menjalani hari-hari dengan kegiatannya saat ini.
Sore sepulang Alesha bekerja ia melihat Jefkha yang sudah datang.
"Pas nih, aku bawa snack dari kerjaan... kita makan bareng ya" ucap Alesha.
Saat sedang asyik makan, Jefkha membahas perceraian Alaric dengan istrinya.
Tapi saat mengatakan hal tersebut Alesha tidak merespon apapun.
"Ini kesempatan kamu untuk bisa sepenuhnya miliki Alaric" ucap Jefkha.
"Aku lagi gak mau bahas Alaric" Alesha menatap Jefkha.
"Aku jatuh, aku sakit dan aku bodoh" ucap Alesha.
Dalam hati Alesha sebenarnya masih sangat mencintai Alaric, namun kebenciannya juga masih terus menghantui ketika mendengar ucapan Alaric bahwa tidak mencintainya.
Setiap kali mengingat ucapan Alaric membuatnya menjadi sedih dan terus merasakan sakit hati.
Alesha berusaha untuk melawan hatinya agar bisa melupakan Alaric.
Tetapi ia juga bingung dengan nasib bayinya jika tidak memiliki ayah nantinya.
Alesha pun semangkin pusing memikirkan masalah yang sedang ia hadapi. Karena terlalu banyak memikirkan masalahnya kepalanya pun pusing dan mual.
Hari demi hari berlalu...
Usia kehamilan Alesha sudah memasuki dua bulan penuh.
Namun sampai saat ini Alaric belum juga bisa menemukan keberadaan Alesha.
__ADS_1
Setiap hari, Alaric selalu mencoba berkali-kali menghubungi ponsel Alesha namun tidak juga tersambung.
Dirinya terus merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan pada Alesha.
Dirinya sendiri juga tidak terawat, rumah yang berantakan, dan sering off bekerja karna pikirannya yang kacau.
Sore itu, saat Alaric selesai mandi tidak sengaja kakinya menyenggol keranjang sampah dan membuat sampah dikeranjang berserakan.
"Haissshhhhh..." Alaric memegang keranjang dan memasukan sampah yang berserakan.
Saat semua sampah sudah terkumpul, ia melihat cotton buds dan mengambilnya. Tapi saat ia memegang dan melihatnya lebih dekat itu bukanlah cotton buds melainkan alat tes kehamilan (garis dua).
Deg...
Jantung Alaric serasa berhenti berdetak.
"Ini pasti punya Alesha" dalam hati Alaric.
Perasaannya semangkin tidak tenang, apalagi sampai saat ini ia belum bisa menemukan keberadaan Alesha.
Ia kembali kerumah Putti dan menanyakan keberadaan Alesha, namun jawaban Putti masih saja ketus.
Diperjalanan...
Alaric masih terus memikirkan keberadaan Alesha...
Ia teringan dengan sekelompok pertemanan mereka yang ada beberapa orang.
"Mungkin Alesha sembunyi di salah satu rumah mereka" dalam hati Alaric.
Saat kembali kerumahnya...
Air matanya pun tidak tertahan menyesali kesalahannya yang sudah menyi-nyiakan Alesha.
"Bodohnya aku" Alaric memukul-mukul kepalanya sendiri.
Alaric berencana akan ke club malam ini, yang berketepatan ini malam Minggu.
Ketika Alaric masuk ke club, ia sudah melihat Putti dan teman lainnya sudah berada disana lebih dulu.
Alaric terus memperhatikan mereka dari kejauhan, ia melihat hanya satu wanita yang dekat bersama Putti yaitu Thewiq.
Alaric mencurigai Thewiq dan terus memperhatikannya...
Alaric terus memperhatikan Thewiq dan menunggunya sampai keluar dari club.
Saat mereka bersama-sama keluar dari club, Alaric diam-diam mengikuti Thewiq dan Raffael.
Ketika Thewiq dan Raffael sudah sampai, Alaric berhenti dan hanya memantau dari kejauhan.
Lama menunggu sampai Thewiq masuk kedalam rumahnya, Alaric tidak melihat ada Alesha disana.
Alaric pun kembali kerumah...
Dirumah ia masih penasaran dan belum puas mengintai rumah Thewiq.
Alaric pun berencana akan kembali mengintai rumah Thewiq besok.
__ADS_1
Disisi lain...
Alesha tidak bisa tidur karna memikirkan Alaric, ia masih saja terus teringat dengan perlakuan dan ucapannya Alaric yang mempermainkannya selama ini.
Air matanya pun menetes kembali setiap mengingat hal itu...
Lelah menangis, Alesha pun tertidur.
Selama ini Alesha tau bahwa Alaric sudah memiliki istri dan ia tetap melanjutkan hubungan dengan Alaric karna ia mencintainya. Tapi setelah mendengar bahwa Alaric tidak mencintainya, ia merasa pengorbanannya selama ini sia-sia dan tidak dihargai oleh Alaric.
Keesokan harinya...
Alesha mengirim pesan pada Jefkha...
"Jef... kalau kesini aku titip susu hamil ya!" ucap Alesha.
Sebelum datang kerumah Thewiq, Jefkha membelikan titipan Alesha di supermarket.
Disisi lain...
Sepulang Alaric bekerja ia tidak langsung pulang, ia berhenti disebuah supermarket karna ingin membeli sesuatu.
Dengan tidak sengaja, Alaric melihat Jefkha yang mengambil susu hamil.
Dering ponsel Jefkha berbunyi...
Thewiq meminta Jefkha mengantarnya ke rumah Putti, karna Putti dan Thewiq berjanji akan pergi ke salon bersama.
"Oke... kamu nunggu di pos komplek ya" ucap Jefkha.
Alaric mengerutkan keningnya mendengarkan percakapan Jefkha melalui ponselnya...
Mengetahui Jefkha akan melewatinya,
Alaric pun membalikan badannya, agar Jefkha tidak melihatnya. Kemudian ia juga mengambil susu hamil yang sama dengan diambil Jefkha barusan.
"Pasti Jefkha beli ini untuk Alesha" dalam hati Alaric.
Alaric mengikuti kemana arah Jefkha pergi...
Mobil Alaric terhenti saat melihat Jefkha menjemput Thewiq di pos komplek.
Saat serius mengamati Jefkha dan Thewiq tiba-tiba ponsel Alaric berdering. Ia membaca pesan masuk dari teman kerjanya.
Ketika kembali melihat ke arah pos komplek ia sudah tidak lagi melihat Jefkha dan Thewiq.
"Sial" ucap Alaric sambil memukul stir mobilnya.
Alaric berfikir bahwa Jefkha dan Thewiq masuk ke komplek. Dengan mengendarai mobilnya sangat pelan ia pun masuk ke komplek dan memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah Thewiq.
Alaric terus memperhatikan ke arah rumah Thewiq, tidak terlihat ada motor Jefkha disana. Saat Alaric menghidupkan mesin mobilnya...
Tiba-tiba...
Terlihat oleh Alaric, Alesha berdiri di depan pintu sambil bercermin dan menyisir rambutnya.
Alesha tidak melihat Alaric yang memperhatikannya dari kejauhan.
__ADS_1
"Alesha..." dalam hati Alaric kaget melihat Alesha berada dirumah Thewiq.
Alaric pun mematikan mesin mobilnya, kemudian ia membawa susu hamil yang baru saja ia beli tadi.