
"Sampai kapan? Hm.. Sampai kapan kau akan terjebak sama masa lalu, itu sudah lama berlalu!" lanjut Mr.Dean.
Ethan yang mendengar ucapa Daddynya hanya terdiam.
"Mom. Aku ke atas dulu mau istirahat." ucap Ethan, sambil berlalu dari sana.
"Dad" panggil Emma.
"Iya sayang, tidak apa-apa, biarkan saja anak itu!" tukas Mr.Dean.
"Apakah Ethan belum bisa melupakannya?" tanya Emma.
"Bukan belum sayang, tapi tunggu waktu, bukankah kamu bilang Ethan membawa seorang gadis tinggal di apartemennya?"
"Ahh iya bener Dad"
"Nah itu sudah ada kemajuan, ya sudah sayang Daddy ada meeting sebentar lagi. I Love You." ucap Mr.Dean.
"Baiklah Dad. Love You More." sambungan telpon itu pun terputus.
Emma beranjak dari duduknya, dia berniat untuk menghibur Ethan, Emma tidak menemukan Ethan dikamarnya.
"Apakah ada diruang kerjanya?" berjalan menuju ruang kerja anaknya.
Klek. Suara pintu terbuka, dilihatnya Ethan yang berdiri di dekat jendela.
"Sayang" panggil Emma.
Ethan membalikan badannya, melihat Ibunya yang berjalan ke arahnya.
Huuffttt. Helaan nafas Ethan.
"Mom. Aku tidak ingin membahasnya!" tukas Ethan, seolah tau, kedatangan Ibunya untuk membahas yang di katakan oleh Daddynya.
Emma lalu menarik tangan anaknya untuk duduk disofa, setelah duduk Emma menatap anaknya itu dengan dalam, setelah cukup lama berdiam, Emma membuka suara.
"Sayang, Mommy tidak akan membahas masa lalu mu, tapi, bisakah kamu untuk membuka hati dan memulai hidupmu yang baru?" ucap Emma, sambil mengelus pundak anaknya.
Ethan menatap Ibunya. "Akan aku usahakan Mom!" jawab Ethan.
__ADS_1
"Tidak semua wanita itu sama sayang, cobalah buka hatimu dan percayalah akan takdir." setelah mengatakan itu, Emma keluar dari ruang kerja anaknya.
Mendengar kata Ibunya, Ethan hanya diam sambil memejamkan mata, merenungi kata-kata yang di ucapkan oleh Ibunya itu, seketika bayangan wajah Liona tiba-tiba muncul di benaknya.
"Kenapa wajah gadis pelayan itu yang aku bayangkan!" gumamnya. Sambil meraup wajanya, Ethan beranjak masuk ke kamarnya, karna sudah larut malam dia ingin istirahat.
......................
Di lain tempat, tepatnya di Apartemen Ethan. Liona yang belum bisa memejamkan matanya, gelisah tidak bisa tidur, dia lalu bangun dan turun dari ranjang. Berjalan dengan perlahan, karna kakinya sudah bisa untuk berjalan, setelah sampai diruang keluarga yang merangkap jadi ruang tamu, dia duduk dan menghidupkan telivis, lalu menonton sambil menunggu kantuknya datang.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Suara bel pintu berbunyi.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini? Kalau itu tuan Ethan dia akan langsung masuk!" gumam Liona.
Ting tong
Ting tong
Liona beranjak dengan perlahan, lalu berjalan menuju pintu setelah susah payah berjalan sampailah dia didepan pintu.
Klek.. Suara pintu terbuka.
"Sia-Mmmpphhhhhh!" belum sempat Liona meneruskan ucapannya, dia langsung dibekap oleh petugas kebersihan setelah pingsan, Liona di taruh di dalam troli yang khusus di bawa petugas kebersihan, dirasa sudah aman dia berlalu dari sana.
Ditekan sambungan earpone ditelinganya. "Beres, mangsa sudah ada ditempat." setelah mengucapkan itu dia lalu memasukan Liona ke dalam mobil, setelah beres barulah dia masuk kedalam kemudi dan mengemudi mobilnya menuju markas persembunyiannya.
......................
"Hahh Bagaimana bisa kalian kecolongan!" teriak Boston. Karna anak buah yang ditugaskan untuk menjaga apartemen Ethan Kecolongan.
"Maaf tuan, saat kami berjaga ada petugas kebersihan yang datang dan mengajak kami berbicara, tidak lama petugas kebersihan itu menyemprotkan sesuatu ke wajah kami, setelah itu kami tidak tau apa yang terjadi." ucap anak buahnya menceritakan kronologi kejadian.
"Bodoh! Kalian semua bodoh! Dimana insting kalian Haaahh!" teriaknya dengan marah.
__ADS_1
Anak buah yang berjaga itu hanya bisa menunduk takut.
"Cepat. kalian periksa cctv apartemen itu tanpa terkecuali!" ucapnya lalu bergas pergi.
Tuuutt...tuuutttt.tuuuttt...
Suara telpon yang tersambung.
"Hallo" ucap Ethan disebrang sana.
"Tuan Nona Liona diculik." lapor Boston langsung.
"Apaaaaa! Brengsek, apa yang kau lakukan dimana anak buahmu, cepat cari keberadaan Liona, jika terjadi sesuatu dengan Liona kepalamu yang akan aku potong!" lalu mematikan telpon. Untuk pertama kalinya Ethan menyebut nama Liona, setelah sambungan telpon terputus Ethan segera beranjak dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya.
Secepat kilat Ethan keluar dari rumah, mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. dua puluh menit berlalu Ethan sampai di gedung apartemennya. Ethan keluar dan berlari menuju lift dengan tidak sabaran Ethan memencet tombol lift, setelah terbuka Ethan masuk lalu litf tertutup membawanya naik keatas. Ethan menyumpahi tempat tinggalnya yang ada di lantai paling atas, lift pun tidak luputbdari sasaran sumpah serapahnya. Pikirannya sudah berkecamuk memikirkan yang akan terjadi kepada Liona, setelah pintu lift terbuka dengan tidak sabaran Ethan berlari masuk kedalam Apartemennya.
"Ellaaaaa!" teriak Ethan menggema.
Ella yang mendengar suara majikannya berteriak langsung keluar dengan muka bantalnya, buru-buru Ella kedepan menghampiri sang majikan.
"Ada apa tuan?" ucapnya dengan tenang.
"Bisa-bisanya kau tidur dengan nyenyak dan begitu tenang, apa kau tidak tahu kalau Liona di culik!?" cecar Ethan dengan geram.
"Apa! Ba-bagaimana bisa tuan? Bukankah Nona Liona didalam kamarnya?" ucap Ella lalu berlari ke arah kamar yang ditempati oleh Liona.
Ethan juga ikut berlari, memasuki kamarnya dan ternyata Liona tidak ada dikamar dengan cepat Ethan berlari keluar, masuk ke ruang kerjanya untuk memeriksa cctv seluruh ruangan termasuk kamarnya Dilihatnya Liona yang keluar dari kamar dan duduk diruang tamu, setelahnya Liona menonton televisi tidak berselang lama, terdengar suara bel pintu berbunyi, lalu di lihatnya Liona yang beranjak dari duduknya dan berjalan dengan kaki pincang ke arah pintu. Saat Liona membuka pintu, dia langsung di bekap dan diseret keluar.
"Brengsek kau jameesss!!" sambil mengepalkan tangannya. Dengan penuh amarah dia langsung keluar dan berjalan menuju pintu apartemennya.
"Halo Dalton, cepat retas cctv yang ada di seberang jalan juga diplantaran apartemenku, lihat mobil apa yang keluar di jam 2:35am!" lalu mematikan telponnya.
Ethan berjalan dengan tergesa-gesa, setelah sampai dibawah dia langsung melajukan mobilnya menuju markas. Setelah sampai, Ethan keluar dengan membanting pintu mobil dengan keras, Ethan mengeraskan rahangnya, berjalan dengan tegas setelah sampai tanpa babibu Ethan langsung memukul anak buahnya yang berjaga di Apartemennya.
"Dasar bodoh untuk apa kalian dilatih di BlackSadow jika mengalahkan tikus kecil saja tidak bisa!" teriak Ethan sambil memukul anak buahnya membabi buta.
"Maafkan Kami tuan." ucap salah satu anak buahnya yang sudah babak belur.
"Jika terjadi sesuatu dengan Liona, kepala kalain yang akan aku penggal," ancam Ethan tidak main-main.
__ADS_1
Anak buahnya yang mendengar itu bergidik ngeri tau akan kekejaman Bossnya yang jika marah tidak pandang bulu.