
Setelah menghabiskan ice creamnya, kini Liona melepaskan mantelnya dan ikut menyusul suaminya untuk tidur, tidak membutuhkan waktu yang lama Liona memejamkan mata dan terlelap.
Ethan menggeliatkan badannya, terasa ada sesuatu yang berat yang menimpa tubuhnya. Perlahan ia membuka mata dan melihat, Liona memeluk tubuhnya dengan erat serta kepalanya ia taruh di dadanya yang bidang. Ethan mengangkat tangannya dan mengelus kepala Liona, diliriknya samping nakas dan mengambil ponselnya untuk melihat jam. Jam sudah menunjukan pukul 5:30, dia meletakan ponselnya kembali dan beralih memeluk tubuh Liona.
......................
Germany.
James baru pulang dari kantornya, saat membuka pintu ia dikejutkan oleh Evelyne yang di belakang pintu. Ya, sudah seminggu ini Evelyne menjadi pelayan pribadinya yang harus siap 24 jam untuk James.
"Bisa tidak! Sehari jangan mengagetkanku!" ketus James, menyerahkan tas kerjanya. Kehidupan tentramnya hilang semenjak adanya Evelyne, setiap hari James selalu naik darah ketika berhadapan dengan Evelyne.
Sedangkan Evelyne hanya nyengir kuda, seolah bukan masalah. Dia mengikuti James berjalan di belakangnya, tentu dengan mulut komat kamit mengikuti ucapan James yang marah terhadapnya.
__ADS_1
Setelah sampai didalam kamar James, Evelyne dengan cekatan menyiapkan air hangat lalu menyiapkan pakaian santai, setelah itu ia keluar untuk membuat teh salah satu kebiasaan James meminum teh setelah pulang dari kesibukannya diluaran sana. Saat Evelyne membuka pintu bertepatan James membuka pintu kamar mandi, melihat James yang hanya memakai handuk, memperlihatkan otot-otot kekarnya membuat Evelyne menundukan kepalanya. Sungguh ini adalah ujian terberatnya melayani James.
James yang melihat Evelyne masuk dan menundukan kepalanya hanya tersenyum miring, karna hanya saat ia tidak memakai baju barulah Evelyne menundukkan kepalanya. Dengan santainya James membuka handuknya, lalu memakai boxer serta bajunya.
Melihat itu Evelyne tentu langsung memejamkan matanya, dalam hatinya sudah melafalkan sumpah serapah kepada Majikannyan itu. Dasar om-om gak punya otak, mataku sudah tidak suci lagi setiap hari dihadapkan tubuh kekarnya. Evelyne membatin, sesekali iya membuka salah satu matanya untuk melihat apakah James udah selsai memakai pakaiannya atau tidak.
Setelah melihat James sudah berpakaian lengkap dan sedang menikmati tehnya, Evelyne bernafas lega dan membuka matanya lebar. Lalu dia menghampiri James.
Dengan santai James menyeruput tehnya, lalu melihat Evelyne yang berdiri dihadapannya. "Aku mau memakai pakain di ruang tamu pun itu bukan urusanmu." James berdiri memangkas jarak, membuat Evelyne mundur dan menabrak ranjang. James mengikis jarak sehingga hidung mereka nyaris bersentuhan, terpaan nafas James begitu terasa di pipi Evelyne. "Apa kau tergoda Nona kecil?" tanyanya dengan nada sensual.
Mendengar ucapan James yang begitu menggelitik ditelingannya, membuat Evelyne memejamkan matanya. James yang melihat itu semakin bersemangat menggoda mulut pedas yang ada di hadapannya. "Kau ingin merasakannya?" sambil meniup pipi Evelyne, lalu berbisik ditelinganya "Kau akan ketagihan dan menjerit nikmat." setelah mengatakan itu James menjauhkan wajahnya, dilihatnya wajah tegang Evelyne dia begitu puas, lalu dia kembali duduk dan meminum tehnya.
Saat merasakan tidak ada hembusan nafas, Evelyne membuka matanya. Jantungnya berdegub kencang wajahnya memerah, kakinya terasa lemas, dilihatnya James yang dengan santainya meminum teh seketika itu membuat emosi Evelyne membuncah.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Evelyne keluar dari kamar tersebut. James yang melihatnya tersenyum puas.
Suara dering ponsel mengalihkan atensinya, dilihatnya siapa yang menelpon.
"Halo"
"Tuan, kami sudah menemukan tempat mereka menginap."
"Awasi kesehariannya dan jika ada celah, kau bisa membuat kejutan kecil!"
"Baik Tuan."
"Lihatlah Ethan! Sebentar lagi kau akan merasakan apa yang ku rasakan!"
__ADS_1