Terjebak With Mafia Arrogant

Terjebak With Mafia Arrogant
Bab 33


__ADS_3

"Ethan, apa yang terjadi?" tanya Liona.


Ethan melihat Liona, lalu membawa istrinya pergi dari sana. "Tidak ada! Lebih baik kita pulang!"


"Tapi aku ingin ke Midwey Museum!" ucap Liona sambil berhenti.


Ethan menghela nafas, firasatnya ada seseorang yang mengikutinya sedari dia keluar dari restoran tersebut. Dan barusan orang itu hendak melukai Liona.


Setelah cukup lama diam, dan menatap wajah Liona, membuatnya menuruti keingin sang istri. "Baiklah" setelah mengatakan itu, mereka menaiki Bus untuk ke Meseum yang di inginkan Liona.


......................


Germany.


Di tengah malam, James membawa seorang wanita pulang ke rumah, di peluknya pinggang wanita itu sambil menaiki anak tangga. Saat membuka pintu kamar, James melihat Evelyne yang tertidur di sofa.


James melepaskan tautan tangannya yang ada di pinggang wanitanya, lalu menghampiri Evelyne. "Hei. Bangun!" James menepuk pipi Evelyne, membuat gadis itu membuka matanya.


"Tuan." ucapnya dengan serak.


"Ngapain kau tidur disini?" tanya James.


Evelyne yang belum sepenuhnya sadar, terdiam. "Ck. Evelyne! Apa kau menjadi tuli sekarang!" ketus James, yang melihat gadis di hadapannya hanya diam.


"Tuan! Jam berapa sekarang?" alih-alih menjawab pertanyaan James, Evelyne malah melontarkan pertanyaan.


Wanita yang di bawa James, dari tadi memperhatikan ke duanya. Wanita itu berjalan ke arah mereka. "James siapa gadis itu?" tanya wanita itu.

__ADS_1


Pandangan mereka yang semula beradu kini terputus, dan beralih ke arah wanita yang berdiri di dekat James. Melihat ada wanita yang tidak di kenalnya membuatnya bertanya. "Siapa dia Tuan?" tanya Evelyne, yang kini sudah mulai sadar.


Mendengar pertanyaan dari dua wanita itu, membuat James meradang. Moodnya jadi rusak, niat hati ingin menyalurkan kebutuhan biologisnya menjadi kacau.


"Keluar kalian sekarang!!" bentak James.


Mendengar bentakan James, membuat wanita itu langsung keluar. Tapi tidak dengan Evelyne.


"Apa kau tuli! Aku bilang keluar.."


Evelyne yang di bentak bukannya takut, malah berdiri dan mendongak melihat James. "Anda kenapa membentak saya!" ucapnya tidak terima.


Melihat Evelyne yang tidak ada takutnya, membuat James memijit keningnya. "Aku tidak mau berdebat, lebih baik kau sekarang keluar!" ucapnya sambil berlalu dari sana, memasuki kamar mandi tidak lupa ia membanting pintu itu sehingga membuat Evelyne terlonjak kaget.


"Ada apa dengan srigala itu," ucapnya sambil mengelus dada. "Sudah telat pulang. Aku sampai tertidur nunggin, giliran pulang marah-marah tidak jelas." Evelyne keluar dari kamar itu untuk melanjutkan tidurnya.


Setelah melihat siapa yang menelponnya dia pun menjawab panggilan tersebut.


"Halo Tuan" ucap orang yang di sebrang sana.


"Halo, ada apa kau menelpon tengah malam begini?"


"Tuan. Saya mau melapor, yang mengawasi Tuan Ethan bukan hanya kami, ada seseorang yang diam-diam mengawasi mereka." ucap anak buah James.


"Maksudmu ada orang lain mengincar mereka, begitu?" tanya James bingung.


"Ya Tuan, saat mereka ada di tempat salju, ada seseorang yang melempari Istri Tuan Ethan dengan gumpalan salju."

__ADS_1


James mulai berpikir siapa yang berniat mencelakai Ethan. "Awasi mereka dan awasi juga orang yang ingin mencelakai mereka." perintahnya.


"Baik Tuan." lalu sambungan telpon itu berakhir.


James menghela nafas. Siapa kira-kira musuh Ethan, tidak mau berpikir banyak, lalu James membaringkan tubuhnya untuk menjemput sebuah mimpi yang indah.


Pagi harinya Evelyne masuk ke kamar James, berjalan ke arah ranjang dan membangunkan Tuannya itu.


"Tuan! Tuan! Apakah anda tidak bekerja hari ini?" sambil menggoyangkan bahu kekarnya.


Tidak ada jawaban. "Hufftt.. Setiap hari membangunkan srigala ini, jika tidak takut ingin sekali aku mencekik lehernya!" ucapnya sambil meragakan mencekik leher seseorang.


"Benarkah, kau ingin mencekik leher ku!" ucap James yang sudah bangun dan mendengarkan ocehan Evelyne.


Evelyne yang tidak sadar pun menjawab. "Ya. Aku ingin mencekiknya dan memanggang bola matanya yang terus melotot itu! Tunggu.." ucapnya tertahan saat menyadari ucapannya yang menjawab ucapan James. Seketika matanya membeliak lebar dan menutup mulutnya.


"Iyakah! Kau akan memanggang bola mataku?" tanyanya lagi.


Suasana didalam kamar yang sudah dingin dengan pendingin ruangan, kini bertambah dingin dengan suara serta tatapan James. Melihat itu membuat Evelyne merinding dan semakin takut.


"Tuan." ucapnya nyengir. "Anda sudah bangun? Apakah hari ini anda tidak berangkat ke kantor?" mengalihkan ucapan James.


James beranjak bangun, saat bangun terlihat celana kolornya yang mengembung. Evelyne yang melihat itu langsung menutup matanya. James berjalan ke arah Evelyne, ia menunduk dan berbisik di telinganya. "Mana nyali mu yang tadi ingin mencekik ku, oh, dan juga ingin memanggang bola mataku?" Hebusan nafas James menggelitik di telinga Evelyne.


Evelyne membuka matanya dan kini mereka saling menatap satu sama lain, hidung mereka nyaris bersentuhan. Nafas James memburu, tangannya merambat naik ke tengkuk Evelyne, ditekannya kedepan, kini bibir mereka hampir tidak ada jarak. Evelyne yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya mematung otaknya tiba-tiba ngeblank, deguban jantungnya kian memburu. James yang melihat tidak ada perlawanan lalu beralih melihat bibir Evelyne yang terbuka, dengan perlahan James menyatukan bibir mereka. Hanya menempel tidak ada *******, tapi itu membuat Evelyne menegang dan melototkan matanya.


Setelah kesadaran otaknya kembali dengan sekuat tenaga Evelyne mendorong dada James, sehingga membuat mereka memiliki jarak. Lalu dengan sekuat tenaga Evelyne melayangkan lima jarinya di pipi James.

__ADS_1


Plaak...


__ADS_2