
"Hey pelayan apa kau tidak dengar! Apa yang kau lakukan?" teriak Ethan.
Sedangkan yang ada dikamar mandi ketiduran karna terlalu nyaman atau efek obat yang di minumnya sampai tidak sadar dia ketiduran saat berendam.
Ethan yang panik langsung membuka pintu kamar mandi itu, saat masuk di lihatnya Liona yang memejamkan mata lalu Ethan berjalan ke arah bathup. Setelah sampai dipandanginya wajah polos Liona, setelah puas melihat wajah Liona, tangannya terulur dan menepuk pipinya dengan pelan.
"Puk puk. Hei bangun!" Liona membuka matanya dan melotot saat melihat Ethan didepannya, langsung saja Liona menyilangkan tangannya untuk menutupi asetnya.
"Kenapa kau tidur saat berendam? Kau tau itu sangat berbahaya!" kesal Ethan.
"Ahh maaf, saya tidak tau kenapa tiba-tiba bisa tertidur. Tapi bisakah Anda keluar? Saya akan menyelesaikan ini dengan cepat." ucap Liona.
Tanpa sepatah kata pun Ethan berlalu dari sana.
Saat diluar kamar mandi, Ethan menghembuskan nafasnya dengan berat merutuki dirinya sendiri dan melihat senjatanya yang tiba-tiba bangun, hanya melihat belahan dada Liona saja membuat tubuhnya panas dingin.
"Bisa bisanya Kau terbangun hanya melihat belahan dadanya" monolognya sendiri pada senjatanya.
Sedangkan Liona yang sudah selsai mandi dan sudah memakai handuk, kini berpegangan pada dinding kamar mandi dan berjalan dengan pelan.
"Aawww sakit sekali rasanya. Aku tidak bisa berjalan" lalu duduk di atas closed.
"Ada orang kah diluar,?" teriak Liona.
Mendengar Liona teriak, dengan cepat Ethan masuk ke kamar mandi.
"Apakah Kau sudah selsai?" tanya Ethan.
"Iya Tuan" jawab Liona.
"Biar ku gendong." langsung menggendong dan membawanya ke ranjang.
"Aku akan keluar dan cepat pakai pakaianmu." berlalu dari sana.
Setelah memastikan bahwa Ethan sudah tidak ada dengan cepat dia memakai pakainnya.
"Huuuffftt.... Sampai kapan aku terjebak disini. Aku ingin pulang."
Tidak berselang lama Ethan masuk dengan pakain formalnya," kita pergi, karna aku ada pekerjaan yang sangat penting."
"Ehh.. Kita mau kemana? Bisakah anda membawaku pulang karna saya mau pulang.
Ethan Tidak menjawab, dia berjalan mendekati ranjang dan tanpa basa basi Ethan mengangkat tubuh Liona.
"Aaaww..Apa yang Anda lakukan!"
__ADS_1
"Diamlah atau ku lempar kau dari sini!" ancam Ethan.
Liona yang mendengar bahwa akan di lempar langsung diam dia pun langsung mengalungkan tanganya karna takut jatuh.
Setelah keluar dari kamar. Ethan berjalan dan para Anak buah yang melihat hanya saling memandang satu sama lain ketika Bossnya sudah tak terlihat barulah mereka berbicara.
"Sejak kapan Boss mau berdekatan dengan wanita?" tanya anak buahnya.
"Entahlah mungkin wanita itu adalah calon istrinya"
"hm".
Sesampainya di mobil, dengan hati-hati Ethan menurunkan Liona setelah dirasa sudah nyaman Ethan menutup pintu dan masuk dibalik kemudi.
Langsung saja Ethan menjalankan mobilnya keluar dari gerbang markasnya. Selama dalam perjalanan hanya ada keheningan.
"Tuan ini bukan arah ke Apartemen saya," ucap Liona karna arah jalurnya berlawanan.
Hening tidak ada jawaban.
"Tuan anda mau membawa saya kemana?" tanya Liona yangalnmulai ketakutan pikiran-pikiran negatif mulai berseliweran di kepalanya.
"Bisakah kau diam!"
Ethan menambahkan kecepatannya, membuat Liona langsung teriak..
"Tuan saya tidak mau dijual, saya berjanji akan melakukan apapun untuk Tuan asal jangan menjual saya." racau Liona.
Ethan yang mendengarnya langsung menginjak rem mendadak, akibatnya Liona langsung terjungkal kedepan.
Ethan melihat Liona. Apa yang di pikirkan gadis pelayan ini. Apa dia berpikir bahwa Aku akan menjualnya hmm baiklah kita ikuti jalan pikiranmu. Ucapnya dalam hati.
"Benarkah kau bakal melakukan apa saja untukku?" ucapnya memastikan.
"Iya Tuan saya akan melakukan apa saja asal Tuan jangan menjual saya."
"Baiklah" ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
Lalu Ethan menjalankan mobilnya kembali dengan kecepatan sedang selang beberapa menit sampailah Di Apartemennya yang begitu mewah dan besar.
Tanpa banyak bicara Ethan keluar dari dalam mobil dan memutar untuk membukakan Liona. Setelahnya Ethan langsung menggendong Liona dan masuk ke dalam Apartemennya, didalam lift Liona hanya bisa memandang wajah Ethan dari jarak dekat di lihatnya rahang yang tegas pahatan wajah yang begitu sempurna dan juga bahu yang lebar dan kokoh, sungguh Liona mengagumi sosok Bossnya itu.
Saat Ethan melihat ke arahnya, Liona berpura-pura memejamkan matanya Ethan yang melihatnya hanya tersenyum miring setelah lift terbuka Ethan lalu berjalan menuju pintu apartemennya setelah memasukan kata sandi barulah pintu itu terbuka, Ethan berjalan memasuki kamar Utama setelah masuk Ethan menurunkan Liona.
"Tuan ini kamar siapa?" tanya Liona sambil mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
"Mulai sekarang kau akan tinggal disini!" Ethan memajukan wajahnya tepat didepan wajah Liona.
Hembusan hangat nafas Ethan menerpa wajah Liona.
"kalau Kau tidak menurut maka..." Ethan menggantungkan kata katanya.
"Ba-baik Tuan saya akan menurut jangan jual saya." jawab Liona dengan cepat.
"Bagus." Kemudian Ethan keluar dari kamar tersebut.
Dia juga tidak mengerti kenapa di menahan Liona yang jelas ada kemauan tersendiri untuk dekat dengan gadis pelayan itu.
Ethan keluar dari Apartemennya untuk menuju ke kantornya, karna ada meeting penting yak tak bisa di wakilkan oleh Asistennya. Selama perjalanan Ethan menelpon anak buahnya untuk mencarikan Art, biar ada yang membantu Liona selama dia tidak ada di samping gadis itu. Setelah sampai di gedung pencakar langit Ethan langsung memakirkan mobilnya dan keluar berjalan dengan langkah tegasnya.
"Selamat datang Tuan, kita langsung ke ruang meeting orang yang akan bekerja sama dengan anda sudah menunggu" ucap Dalton.
"Apakah proposal sudah siap dan untuk kontrak nya sudah siap semua?" tanya Ethan.
"Sudah siap semua Tuan."
Lalu mereka masuk dan langsung di sambut oleh CEO yang akan bekerja sama untuk membangun sebuah Apartemen.
"Selamat sore Mr.Lawrence." sambutnya dengan mengulurkan tangan.
"Selamat sore juga Mr.Madison." menyambut uluran tangan.
"Suatu kehormatan saya bisa bekerja sama dengan Anda" ucapnya santun.
"Ha ha ha. Seharusnya saya yang berkata seperti itu Mr.Lawrence. Senang bekerja Sama dengan Anda.
Setelah melepaskan jabatan tangannya lalu mereka duduk dan membahas kerjasama yang saling menguntungkan. Setelah satu jam lamanya Barulah Mereka selsai.
"Terimaksih Mr. Lawrence atas kerja samanya." sambil menjabat tangan.
"Sama sama Mr.Madison." ucap Ethan.
Setelah selsai Mr.Madison pun berlalu keluar bersama Asistennya.
Ethan kembali ke ruangannya di ikuti oleh Dalton, Ethan melonggarlan dasinya yang terasa mencekik Lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Apa jadwal ku selanjutnya?" tanya Ethan.
"Anda hanya perlu menandatangani berkas-berkas itu Tuan"
"Hm. Baiklah." Dalton pun pamit dan keluar dari ruangan Bossnya. Setelahnya Ethan sibuk mengerjakan dokumen yang Numpuk di atas meja kerjanya.
__ADS_1