
Mr.Dean yang mendapatkan pertanyaan dari istrinya hanya menganggugakan kepalanya.
"Liona kenapa wajahmu kelihatan lesu sekali sayang?" Tanya Emma, yang melihat calon menantunya itu hanya terdiam.
Mendapatkan pertanyaan dari calon mertua, Tentu saja Dia gelagapan. "Ti-tidak kenapa-kenapa Mom," Ucap Liona terbata.
"Iya kah, tapi kamu seperti kurang beristirahat lihatlah kantung matamu." Emma lalu menatap putranya dengan tajam.
Ethan yang ditatap oleh Ibunya pura-pura tidak melihat.
Gimana mau istirahat, kalau setiap malam di seruduk terus oleh anakmu Mom, sebelum berangkat kesini saja Aku tidak bisa lepas dari keganasannya. Sayangnya Liona hanya bisa membatin.
"Ethan apa kau tidak membiarkan menantu Mommy istirahat?" ucap Emma.
"Tentu saja Dia istirahat, memang apa yang Ethan lakukan," ucapnya tak sadar diri.
Emma yang tidak percaya langsung memberi ultimatum. "Mulai sekarang Liona akan tinggal disini."
Mendengar ucapan Ibunya tentu saja Ethan tidak terima. "No Mom, Liona harus tetap bersamaku!"
"Liona harus tinggal disini!" tukas Emma tak terbantah.
Ibu dan Anak itu tidak ada yang mau mengalah, sampai akhir Mr.Dean turun tangan untuk melerai perdebatan itu.
"Cukuup! Lebih baik kalian tanya Liona." tukas Mr.Dean.
Ibu dan Anak itu langsung terdiam, tatapan mereka sekarang tertuju pada yang bersangkutan, Liona yang ditatap hanya bisa tertunduk karna bingung mau memilih siapa.
"Liona Sayang, kamu pilih siapa?" ucap Emma.
"Saya em Saya tinggal disini." ucap Liona tidak berani melihat Ethan.
Mendengar jawaban Liona seketika Ethan lemas.
"Pilihan yang tepat" ucap Emma sambil tersenyum mengejek Anaknya.
"Tapi Mom,"
"Tidak ada tapi-tapian, biarkan Liona berada disini biar dia tidak kekurangan istirhat" Sindir Emma.
Mr.Dean hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan Istri dan Anaknya.
"Apakah kalian akan terus berdebat?" ucap Mr.Dean.
__ADS_1
"Sorry Dad" ucap Emma dan Ethan bersamaan.
Lalu mereka pun makan dengan diam,hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Setelah makan malam selsai Mr.Dean dan Ethan pergi ke ruang kerja untuk membahas pekerjaan sedangkan Emma membawa Liona ke ruang keluarga,sudah lama Emma menginginkan seorang menantu agar ada yang bisa di ajak untuk mengobrol dan bergosip.
"Sayang apakah Ethan selalu memperlakukanmu dengan baik?" tanya Emma kepada Liona.
Iya Dia selalu baik di atas ranjang. ucap Liona yang tentunya hanya diucapkan dalam hati.
"Iya Mom, Ethan begitu baik" ucapnya.
"Baguslah, jika Anak nakal itu berbuat macam-macam bilang aja sama Mommy biar Mommy jewer telinga Anak itu" ucapnya menggebu.
Bukan macam-macam, tapi satu macam dan itu dilakukan setiap ada waktu. lagi-lagi hanya bisa diucap dalam hatinya.
"Ethan tidak pernah berbuat macam-macam Mom." sambil mengulas senyum.
"Ayo sayang kita ke kamar Ethan, mulai hari ini kamu akan tidur dikamar Ethan." ucap Emma sambil berdiri lalu berjalan menaiki anak tangga.
Lioan pun hanya menurut apa yang di ucapkan calon Ibu mertuanya itu, setelah sampai di lantai atas Emma membuka pintu kamar kesan pertama yang di lihat Liona dari kamar Ethan adalah tegas dan misterius karna semua hampir dilapisi dengan warna hitam dan dipadukan sedikit abu-abu. Emma membawa Liona masuk dan duduk diranjang yang berlapis dengan sprai berwarna hitam dan grey Liona hanya diam dan meneliti isi dari kamar Ethan yang tidak berbeda jauh sama di apartemen.
"Sayang bagaimana menurutmu?" tanya Emma kepada Liona.
"Apanya Mom" jawab Liona.
Liona hanya menganggukan kepalanya.
"Setelah kalian resmi menikah kamu ubah aja warna kamarnya dengan warna kesukaanmu." ucap Emma.
Mana berani Aku. batin Liona.
"Apakah tidak apa-apa Mom?" tanya Liona.
"Tentu saja tidak apa-apa sayang." ucap Emma sambil mengembangkan senyumnya.
......................
Sedangkan diruang kerja terdapat dua laki-laki yang berbeda usia sedang membahas perkembangan pemasok senjata.
"Bagaimana pemasok senjata yang dari Germany?" ucap Mr.Dean kepada anaknya.
"Ada kendala kemarin Dad tapi udah di tangani oleh Boston." jawab Ethan.
"Lalu bagaimana kerja sama dengan Mr.Madison?" tanya Mr.Dean lagi.
__ADS_1
"Sudah mulai pembangunan" jawab Ethan.
"Serahkan semua pekerjaan mu sama Dalton dan juga Boston, ambilah cuti dan fokus ke pernikahanmu." ucap Mr.Dean.
"Aku tidak perlu cuti dan juga Aku bisa menghendel pekerjaan ku Dad." seru Ethan.
Mr.Dean menatap anaknya yang tidak bersemangat saat membahas pernikahannya.
"Apa kau tidak serius untuk menikah?" tanya Mr.Dean.
Mendengar ucapan Daddynya tentu saja Ethan terkejut.
"Apa maksud Daddy?" tanya Ethan.
"Sepertinya kau enggan untuk menikahi gadis itu" tebak Mr.Dean.
Mendengar ucapan Daddynya Ethan terdiam. Karna sejujurnya Ethan enggan untuk berkomitmen karna ini permintaan Ibu serta tanggung jawabnya yang membawa gadis itu dalam lingkaran bahaya maka dia terpaksa mau menikah.
"Kenapa? Bukankah dia mirip dengan mantan calon istrimu?" tanya Mr.Dean.
"Aku menikahinya karna paksaan Mommy dan rasa tanggung jawab ku yang membawanya kedalam lingkungan ku" jawab Ethan.
Tanpa disadari ada seseorang yang mendengar percakapan mereka karna pintu yang tidak tertutup rapat. Ya dia adalah Liona, saat sudah puas bercengkrama di kamar Ethan mereka kembali ke bawah dan kebetulan Emma menyuruh Liona untuk mengantar kopi yang dia buat ke ruang kerja suaminya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" ucap Mr.Dean.
Liona masuk membawa dua cangkir kopi lalu ditaruhnya didepan meja kerja Mr.Dean lalu setelah itu tanpa mengucapkan sepatah kata Liona keluar dari ruangan itu.
Melihat itu seketika wajah Ethan pias apakah Liona mendengar percakapannya bersama sang Daddy.
Melihat wajah Ethan yang pias membuat Mr.Dean langsung tersenyum penuh arti.
"Daddy perhatikan calon istrimu type wanita penurut tidak banyak menuntut" ucap Mr.Dean sambil mengangkat cangkir kopinya lalu meminunya secara perlahan.
"Hm." ucap Ethan.
Sekarang dia merasa resah memikirkan Liona, melihat raut wajah Liona yang berbeda dia yakin gadis itu mendengar ucapannya.
__ADS_1
Sedangkan Liona yang telah keluar dari ruangan itu matanya berkaca-kaca dan hatinya begitu sakit mendengar jawaban Ethan yang terpaksa menikahinya. tapi kenapa mesti sakit hati bukankah dia tidak memiliki perasaan terhadap laki-laki itu.