
Ella masuk dengan membawa Air putih, diserahkannya kepada Liona lalu diraihnya air putih itu dan diminumnya hingga tandas.
"Ella. panggil Dalton kesini!" ucap Ethan.
"Baik tuan," Ella pun keluar dari sana.
Tok
Tok
Tok
"Tuan" panggil Dalton.
"Panggil paman jayden kesini!" ucap Ethan.
"Baik" lalu Dalton keluar dari sana.
Tuuuttt.....tuuuutttt.......
suara telpon tersambung tidak berselang lama telpon pun diangkat.
"Halo tuan Jayden," sapa Dalton.
"Ya Dalton ada apa?" jawab Jayden.
"Tuan Ethan membutuhkan anda!" sambung Dalton.
"Baiklah saya akan segera kesana," setelah mengatakan itu sambungan telpon terputus.
sepuluh menit berlalu Dokter Jayden sampai di unit apartemen Ethan. Karna tempat praktek Dokter jayden yang dekat.
Ting tong
Ting tong
Suara bel pintu berbunyi.
Ella dengan cepat membuka pintu itu dan mempersilahkan Dokter Jayden masuk ke kamar Ethan. Setelah masuk, Dokter jayden melihat Ethan memeluk seorang wanita.
"Siapa dia Ethan?" tanya Dokter Jayden.
"Paman cepat periksa dia, dan ada beberapa luka kecil di lutut serta dilengannya!" kata Ethan yang tidak menjawab pertanyaan dari Dokter tersebut.
Ethan Lalu melepaskan pelukannya dan membiarkan Dokter Jayden memeriksa keadaan Gadis itu.
Saat Liona mengangkat wajahnya seketika itu Dokter Jayden kaget melihat wajahnya.
__ADS_1
"Ethan bukankah dia!" Dokter Jayden tidak melanjutkan ucapannya saat melihat kode dari Ethan.
Dokter Jayden memeriksa serta membersihkan luka dilutut dan di lengan Gadis itu. Setelah selsai Dokter Jayden meminta untuk berbicara dengan Ethan diluar, setelah kepergian Dokter Jayden, Ethan pun mendekat ke arah Liona dan berkata.
"Aku akan keluar, istirahatlah," setelah mengatakan itu Ethan lalu keluar dari sana.
"Paman" panggil Ethan.
"Ethan kenapa dia bisa ada disini, bukankah dulu" ucapan Dokter Jayden terputus karna Ethan menyela.
"Paman dia orang yang berbeda, penampilan serta sifatnya jauh bertolak belakang, dan Aku sudah menyelidiki latar belakangnya." ucap Ethan.
"Apa yang terjadi dengannya sepertinya dia mengalami trauma ringan?" tanya Dokter Jayden.
"Dia baru saja jadi korban penculikan, setelah dia berada dilingkungan ku hidupnya dalam bahaya," tutur Ethan.
"Dari yang Paman lihat dia begitu lugu dan polos, jangan lengah untuk menjaganya, karna kau yang membawanya masuk kedalam lingkaran berbahaya jagalah dia, dan ini berikan obat ini biar dia tenang" sambil menyerahkan sebotol obat.
"Terimaksih Paman, sampaikan salamku kepada Bibi Ansely," setelah obrolan singkat itu Dokter Jayden pamit pergi.
Ethan beranjak dari sana menuju pantry.
"Ella buatkan makanan untuk Liona dan bawa ke kamar," ucap Ethan.
"Baik Tuan"
"Dalton kau bisa kembali ke kantor, dan untuk urusan ini biar Boston yang menanganinya." setelah mengatakan itu Ethan berlalu dari sana.
Dalton akhirnya pergi meninggalkan apartemen Ethan, Ella yang melihat Dalton akan pergi menghampirinya.
"Tuan apakah anda tidak sarapan dulu?" tanya Ella.
Dalton hanya melihat sekilas "Tidak" setelah menjawab diapun berlalu dari sana.
"Kaku sekali dia" gumam Ella melihat bayangan Dalton yang berlalu dari sana, setelah itu dia menyiapkan makanan dan membawanya ke kamar tuannya.
"Tuan sarapannya?"
"Hm kemarikan" Ethan mengambil nampan yang berisi makanan lalu menyuruh liona membuka mulutnya.
"Makanlah, setelah itu kau harus minum obat." sambil menyuapkan makananan itu.
Liona menerima suapan itu tanpa bantahan, setelah selsai lalu dia meminum obat yang di berikan oleh Ethan.
"Istirahatlah aku akan mandi dulu." ucap Ethan menarik selimut sebatas dada. Setelanya Ethan berlalu ke kamar mandi.
Liona memejamkan matanya dan tertidur pulas karna efek obat yang diminum. Tidak berselang lama Ethan selsai dengan urusan mandi dan sudah berganti pakaian, dia lalu naik ke tempat tidur ikut bergabung bersama Liona, dipandangnya wajah lelap Liona, disibaknya rambut yang menutupi setengah wajah gadis itu ditelusurinya mata, hidung, lalu turun ke bibirnya, tidak ingin berlama-lama Ethan menarik tangannya dari wajah gadis itu, lalu memejamkan matanya karna Dia hanya tidur cuma beberapa jam dan sekarang dia begitu lelah, tidak berselang lama dia pun terlelap.
__ADS_1
......................
"Bodoohhh!" umpat James sambil melemparkan gelas yang berisi anggur mahal.
"Hanya menculik seoarang wanita saja tidak becus!" lanjut James dengan kesal.
"Baiklah untuk permulaan biarkan dia bernafas lega, tapi tidak untuk yang kedua kalinya!" ucapnya menyeringai.
Saat dua tau wanita yang bersama Ethan saat ini begitu mirip dengan wajah mantan calon istri Ethan, Dia pun begitu berambisi untuk mengambil apa yang menjadi milik Ethan.
"Tuan, anak buah yang meculik gadis itu semuanya mati!" lapor tangan kanan James.
"Kirim anak buah kita lebih banyak! untuk mengawasi pergerakan Ethan dan gadis itu, jika ada celah sedikit manfaatkan untuk menghancurkan Ethan" tukas James.
"Baik Tuan" lalu tangan kanannya keluar dari rungan tersebut.
"Bersiaplah Ethan! Aku akan menghancurkan mu seperti kau menghancurkan kehidupan Adik ku!" ucap James di sela-sela giginya, sambil memandang poto mendiang Adiknya.
Setelah mengucapkan itu, James keluar dari ruangannya, dia keluar mengendarai mobilnya setelah dua puluh menit sampailah James di sebuah pemakaman, di bawanya setangakai bunga anyelir putih, ditaruhnya diatas gundukan tanah yang terawat, James hanya diam memandang gundukan yang bertuliskan nama Evelyne Leovarnost. Setelah sepuluh menit menit berlalu dia pergi dari sana.
......................
Di Russia.
Dikediaman Lawrence, Emma bersiap-siap untuk pergi ke apartemen anaknya. Setelah menanyakan kepada pelayan kalau Ethan sudah tidak ada disana, diapun begitu geram akan kelakuan anak semata wayangnya itu. Selalu menghilang tanpa kabar dan tidak pernah berpamitan jika keluar dari rumah.
Emma mengendarai mobilnya sendiri, setelah perjalanan yang begitu lumayan lama, karna jalan yang begitu padat, akhirnya ia sampai dipelantaran apartemen anaknya, Dia keluar dari dalam mobil dengan begitu anggun, berjalan masuk menuju lantai atas dimana tempat anaknya tinggal, setelah sampai ia langsung masuk karna sudah pasti tau Password pintu tersebut.
Ella yang mendengar suara langakah kaki keluar dari dapur dan dilihatnya perempuan paruh baya berjalan ke arahnya.
"Maaf anda siapa Nyonya?" tanya Ella.
"Aku Emma Mommynya si anak nakal itu!" tunjuk Emma ke arah figura yang ada didinding.
"Ah maafkan saya Nyonya, saya tidak tahu silahkan duduk biar saya ambilkan minuman," ucapnya sopan.
"Kau baik sekali, siapa namamu?" tanya Emma.
"Nama saya Ella" jawab Ella.
"Baiklah Ella sekarang dimana anak nakal itu?"
Ella menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Anu itu Nyonya ada didalam kamar sedang istirahat" ucap Ella.
Emma langsung berjalan menuju kamar Ethan, setelah sampai ia langsung membuka pintu kamar anaknya, yang dilihat hanya gelap, dicarinya sklar lampu setelah nyala pemandangan yang begitu indah, dimana Ethan mendekap Liona dan tangan Ethan yang menjadi bantal kepalanya.
__ADS_1