
Happy Reading. 😊
*****
Di kantin sekolah
Rian dan Yasha sedang asyik menikmati sarapan mereka. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Rian dan berhasil membuat Rian tersedak.
"uhuk..uhuk..uhuk..." Rian terbatuk-batuk.
"Eh.. sorry..sorry.." ucap Wati dan buru-buru mengambil air untuk minum Rian.
Rian menerima air minum tersebut dan segera meminumnya. Ia sedikit kesal dan hampir memarahi orang yang sudah membuatnya tersedak. Namun setelah melihat orangnya, ia urungkan. Karena jika Rian memarahinya, mungkin akan mempengaruhi rencananya nanti.
"Emm. gak apa-apa Wati. udah mendingan kok." kata Rian setelah melihat Wati.
"Maaf ya Yan. Aku gak sengaja bikin kamu tersedak." kata Wati
"Iya. Emang ada apa perlu apa sama aku" tanya Rian.
"Sebenarnya aku cuma mau tanya sesuatu sama kamu." ucap Wati.
"Mau tanya apa, tanya aja." ucap Rian lalu melanjutkan makannya.
"Aku mau tanya, apa kamu..." ucapan Wati terputus karena mendengar suara bel masuk berbunyi.
Buru-buru Rian menghabiskan makannya dan segera membayar. Lalu mereka berjalan masuk kelas bersama-sama.
*
Di kelas belum ada guru. Pelajaran di jam pertama adalah pelajaran sejarah. Walau belum ada guru, tapi sudah ada tugas yang di titipkan kepada ketua kelas. Dan kini mereka sedang mengerjakan tugas itu di meja masing-masing dengan tenang.
Tak lama keadaan menjadi ramai, karena tak ada guru yang mengawasi jadi mereka bebas untuk bermain di dalam kelas. Hanya sisa beberapa yang masih tetap mengerjakan tugas.
Wati terlihat seperti orang bingung. Ia masih penasaran dengan kotak bekal yang ada di lacinya. Apakah benar milik Rian? Atau bukan.? Dan kebingungan nya itu tertangkap oleh pandangan Desti.
__ADS_1
Desti jadi penasaran pada sikap Wati yang seperti itu. Sesekali ia melirik pada Desti saat mengerjakan tugas. Ia selalu saja seperti itu, selalu kepo dengan segala kegiatan dan perubahan Wati. Ia selalu ingin mencari titik kelemahan Wati.
Sampai ia merasa aneh pada sikap Wati yang selalu saja diam dan tanpa ada gerakan seperti saat ini. Tiba-tiba Wati menoleh ke arah Desti saat ia melihat ke arah Wati. Desti tersentak kaget. Namun anehnya Desti seperti tak bisa bersuara dan waktu seakan berhenti. Karena ia melirik sekitarnya juga tak ada pergerakan. Seperti hanya ada dia dan Wati saja.
Desti melihat mata Wati menghitam dan semakin menghitam kala terus memandangnya. Desti terus berusaha untuk bisa bergerak dan bersuara. Namun nyatanya tubuhnya sulit untuk di gerakkan.
Desti benar-benar ketakutan. Ingin sekali berteriak tapi bibirnya tercekat tak bisa di gerakkan. Ia melihat Wati berdiri dan mendekatinya, membuatnya membulatkan mata. Wati semakin mendekat lalu Desti menutup matanya. Ia takut akan terjadi sesuatu padanya.
*
Semua siswa masih asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang menyadari sikap aneh Desti. Desti terlihat menatap ke arah wati namun pandangannya kosong seperti orang ketakutan.
Wati memberi kode kepada teman di belakang Desti seakan bertanya ada apa dengan Desti. Dia pun mengangkat bahu dan menggeleng tanda tak mengerti apa pun. Wati mencoba mendekati Desti dan Desti malah membulatkan mata. Membuat Wati makin kalang kabut.
Rian yang hanya melihat saja sudah mengerti apa yang terjadi pada Desti. Rian menahan lengan Wati membuat Wati berhenti dan menoleh ke Rian.
"Kenapa yan?" tanya Wati.
"Kamu hati-hati." ucap Rian membuat Wati mengerutkan keningnya.
"Udah.. Kamu hati-hati aja. Jangan sembarangan nyentuh orang yang sedang seperti itu" jelas Rian. Wati mengangguk saja.
Wati kembali mendekati Desti dan menggerakkan telapak tangannya di hadapan Desti. Desti tak bergeming dan malah menutup matanya. Wati semakin heran dengan sikap Desti. Tak biasanya Desti seperti ini. Ada apa sebenarnya yang terjadi pada Desti.
Wati mencoba menyentuh Desti namun Rian menahannya kembali.
"Jangan. Ini bahaya juga untuk kamu. Biar aku aja." ucap Rian.
Rian mengerti Wati khawatir pada desti. Namun Rian juga khawatir keadaannya malah akan berpindah pada Wati. Karena Rian tau Wati memiliki kelainan atau kelebihan pada dirinya.
Rian mengambil alih posisi Wati. Wati mundur dan bersembunyi di belakang punggung Rian. Rian mencoba menyentuh Desti.
"Bismillah..." ucap Rian sebelum mengangkat tangan dan perlahan menyentuh Desti.
"Arghhh. " Desti berteriak dan menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya seperti menghindari sesuatu.
__ADS_1
Rian dan yang lainnya langsung melihat ke arah Desti. Mereka heran, apa yang sebenarnya terjadi pada Desti. Hanya Rian yang tau keadaan seperti ini. Jelas Desti sedang di ganggu oleh makhluk tak kasat mata.
Rian langsung memegang kedua bahu Desti dan mulai mengguncang nya agar Desti tersadar. Awalnya guncangannya pelan. Namun Desti masih tetap histeris dan akhirnya Rian mengguncang sedikit lebih keras. Dan berhasil membuat Desti sadar.
"Arghhh. Hahh." seru Desti.
Desti terkejut setelah sadar dan melihat semua orang memandang ke arahnya. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia msih bingung dengan yang ia lihat tadi. Apakah itu benar nyata atau hanya ilusinya.
Tapi hal ini sebelumnya belum pernah terjadi padanya. Ia berfikir ini semua pasti gara-gara Wati. Lalu ia berdiri dan menghampiri Wati.
"Eh Wati. Kamu itu sebenernya manusia bukan sih?" tanya Desti tiba-tiba dengan mendorong salah satu bahu Wati.
Semua terkejut dengan sikap Desti yang secara tiba-tiba marah kepada wati yang tak salah apapun. Rian mencoba menghentikan Desti dan menghalangi Desti agar tidak mencelakai Wati. Begitu juga dengan Karti. Karti langsung menghampiri Wati dan meraih lengan Wati.
Desti yang melihat reaksi Rian pun tersenyum sinis. Ia paham dengan sikap Rian yang seperti itu sudah pasti dia menyukai Wati.
"Eh Rian. Kamu sadar gak sih. Kamu itu kenapa akhir-akhir ini jadi lebih perhatian sama Wati. Apa kamu ada sesuatu sama Wati." ucap Desti.
Rian tercekat dan terdiam. Dia tidak bisa menjawab ataupun mengelak dari perkataan Desti. Karena hal itu benar adanya. Namun ia belum bisa mengatakan hal itu sekarang sebelum ia menyelesaikan misteri yang Wati alami.
Karti dan Wati juga heran dengan perkataan Desti. Mengapa bisa dia bicara seperti itu. Karena Rian memang tipe orang yang simpatism. Dia juga baik pada semua orang. Tetapi memang tak semua temen cewek yng ia perhatikan.
Dari kata-kata Desti, Karti juga merasa bahwa Desti memang benar. Rian memang selalu bersikap berbeda saat dengan Wati.
"Kenapa kamu diam Rian. ?" tanya Desti.
Rian masih tak menjawab. Karti dan Wati juga menatap ke arah Rian menunggu jawaban Rian.
Sebenarnya Rian. ....
*****
Duh habis vaksin jadi sering ngantuk dan badan juga pegal-pegal. Al hasil tulisan gak selesai-selesai.
I'm so sorry readers. 😌
__ADS_1