
happy reading...
*****
Wati terlihat sangat penasaran dengan kelanjutan dari penjelasan Rian. Sampai lekukan di dahinya terlihat jelas dan ia menaikkan sebelah alisnya untuk menunggu kalimat selanjutnya. Tanpa Wati sadari, ternyata Rian memperhatikan pergerakan dan perubahan wajah Wati. Rian ingin tertawa karena melihat keseriusan Wati dalam mendengarkan kata demi kata yang ia sampaikan. Namun ia menahannya karena takut nanti Wati jadi malu karena ia tertawakan.
Kemudian Rian berdehem dan sedikit merubah posisi duduknya supaya lebih nyaman dan rileks. Ternyata Wati ikut berdehem dan merubah posisi duduknya juga. Dan itu membuat Rian tak bisa lagi menahan tawa yang sedari tadi telah mati-matian ia tahan.
"hahahaaa..." Rian tertawa sambil memegang perutnya.
Wati memautkan alisnya terheran, "kenapa Rian tiba-tiba tertawa. Emangnya ada yang lucu ya. Atau ada yang aneh.?" gumam Wati dalam hati sambil menggaruk kepala yang jadi gatal.
Tak lama Rian menghentikan tawanya. Susah payah ia berusaha agar tak tertawa lagi karena melihat tingkah laku Wati yang aneh dan menggemaskan menurutnya. Lalu ia berdehem kembali untuk menetralkan suasana.
" Emmm. maaf ya Wati. Aku jadi tertawa lepas banget kayak tadi." ucap Rian sambil menautkan kedua telapak tangan di depan dada.
"I-iya.. gak pa-pa kok Yan. Santai aja. Emm. emangnya kamu tadi ngetawain apa sih.? kok kayaknya lucu banget ya sampe kamu ketawa lepas banget gitu.?"
Rian hanya tersenyum lalu menunduk menahan agar senyumnya tak berkembang jadi tawa lagi. Ia takut tawanya jadi menyinggung Wati.
"Ehemm. iya maaf-maaf... Jadi, sampe mana pembicaraan kita tadi?" Rian memilih mengalihkan pembicaraan daripada harus menjawab apa tertawa tadi.
"Oiya aku ingat." selak Rian saat Wati baru buka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi karena Rian sudah bicara lagi, ia berhenti dan mendesis serta menaikkan bibir bawahnya.
Melihat Wati begitu membuat Rian ingin tertawa lagi. Tapi sebisa mungkin ia tahan.
"Lanjutkan" kata Wati.
"hehee.." Rian tertawa ringan dan menunduk. Lalu ia angkat lagi pandangannya pada lawan bicara dan melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus.
"iya... Jadi sedari dulu aku sering mengalami hal aneh. Yaa mungkin sebagian orang ada yang menyebutku anak indigo. Tapi menurutku ini bukan indigo. Malah menurutku ini kemampuan yang aneh dan sebenarnya aku tak ingin memilikinya. Awalnya, setelah aku sadar bahwa aku memiliki kemampuan ini. Aku bingung dan takut. Aku bingung kenapa hanya aku yang bisa memiliki ini. Dan aku takut karena kemana pun dan dimana pun aku, pasti mereka juga ada. Jadi aku merasa mereka ini selalu mengikuti aku. Padahal tanpa kita sadari mereka ini memang ada di sekitar kita. Sampai aku jadi terbiasa dengan kehadiran mereka walau aku tak bisa melihat wujud mereka."
"Lalu..."
__ADS_1
"Sampai saat aku ketemu sama kamu, semua jadi lebih aneh. Dan aku jadi bingung lagi akan hal itu."
"Bingung kenapa lagi.? Memangnya kamu kenapa setelah ketemu aku.?"
"Yaa... seperti yang aku katakan tadi. Semua jadi makin aneh menurut aku. Semua hal yang awalnya hanya bisa aku rasakan kini jadi lebih jelas wujudnya. Bahkan aku jadi bisa berinteraksi dengan mereka walau masih melalui perantara. Seperti melalui media orang lain. Kayak sama kamu tadi."
"Emm. Kalo boleh tahu, emangnya seperti apa wujud dari yang gangguin aku tadi.?" tanya Wati penasaran, walau sebenarnya dalam hati ia merasa takut untuk mengetahui sosok yang mengganggunya.
"Memangnya kamu mau tahu seperti apa wujud sosok tadi.?" tanya Rian.
"I-iya mau tahu sih." jawab Wati ragu.
"Yakin.?" tanya Rian makin membuat Wati bimbang untuk memilih antara penasaran atau takut.
"Emmm... i..yaa... gak usah deh. mending aku gak tahu aja sama sekali. Dari pada aku kepikiran terus." akhirnya Wati menyerah dan memilih untuk tidak mau tahu.
Rian menarik sudut bibirnya. Ia gemas dengan tingkah Wati yang terkadang terlihat sangat serius. Terkadang juga terlihat jenaka.
"Ya udah deh. Kalo kamu gak mau tahu. Iya memang lebih baik kamu gak usah tahu ya." sontak perkataan Rian membuat Wati merinding.
"Katanya gak mau tahu. kok masih di tanyain lagi" sahut Rian dan langsung mendapat cengiran dari Wati.
"hehee.. oiya deng. lupa." ucap Wati sambil menggaruk kepala yang tak gatal. "Trus-trus gimana kelanjutannya?" sambung Wati.
Rian lanjut cerita tentang kehidupannya yang bersangkutan dengan kemampuan yang dia miliki. Begitu juga Wati. Dia juga cerita soal gangguan-gangguan yang akhir-akhir ini ia dapatkan. Sampai tanpa mereka sadari mereka suda berbincang sampai sore.
"Emmm ya jadi, menurut aku sih kemampuan aku bisa jadi berkembang sampai seperti ini, itu karena aku bertemu sama kamu." simpulan Rian.
"Emmm apakah memang seperti itu?" tanya Wati masih tak percaya.
Tak lama, orang tua Wati datang. Mereka baru pulang dari bekerja. Wati dan Rian pun akhirnya tersadar jika mereka sudah berbincang terlalu lama sampai lupa waktu.
"ohh ya ampun, jam berapa ini. kok bapak sama ibu dah pulang. Mana aku belum masak lagi." sibuk Wati mencari benda penunjuk waktu.
__ADS_1
"Memangnya kamu udah bisa masak?" tanya Rian.
"Iya udah. Walau cuma masakan sederhana. Tapi kalo masak yang lebih sulit aku cuma bantu siapin bumbu aja. Sisanya yang masak nenek."
Rian mengangguk. Kemudian ia melongo melihat keluar rumah mencari keberadaan orang tua Wati yang tadi sudah datang tapi tak kunjung masuk. Namun ia tak melihat siapa pun di luar sana.
"Kamu ngapain Yan.?" tanya Wati yang heran melihat Rian yang celingukan.
"Nggak. Itu lho,, bapak ibu mu kemana, kok di luar dah gak ada. Perasaan belum lewat deh.?" Rian celingukan mencari.
"ahahaha.." Wati malah tertawa dan dalam sekejap langsung membekap mulutnya dengan tangannya sendiri. "Upss. Maaf.. Iya, bapak sama ibu emang gak masuk lewat pintu depan kalo dari kerja. Kotor. Jadi masuknya lewat pintu samping langsung ke belakang.
"Oowwh..." Rian mengangguk-angguk mengerti.
Tak lama kemudian, bapak muncul dari dalam.
"Wahh. Ada tamu ternyata. Tamu dari mana ini" tanya bapak berbasa basi.
"Emm. Iya pak. ini temen sekolah Wati. Namanya Rian." Wati berdiri dan memperkenalkan Rian pada bapaknya. Rian pun ikut berdiri lalu menyalami dan mencium punggung tangan pak Wawan.
"Nak Rian dari mana.?" tanya bapak sambil mempersilahkan mereka duduk kembali. Mereka pun duduk kembali.
Mereka pun berbincang cukup lama. Sampai waktu menunjukkan pukul 16.40 sore. Rian pun pamit pulang kepada pak Wawan dan juga Wati.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu pak. Sudah sore, dan bapak juga perlu istirahat kan sepulang dari kerja. Maaf menyita waktu istirahat bapak." ucap Rian.
"Gak apa nak Rian. Jarang-jarang kan ada temen Wati yang maen ke rumah. Ya sudah. Hati-hati di jalan ya." sahut pak Wawan.
"Iya pak. Kalau begitu, saya permisi. Assalamualaikum." pamit Rian sambil menyalami pak Wawan dan mengangguk pada Wati. Dan ia pun berlalu dengan motornya.
Wati segera berbalik hendak ke kamar untuk meletakkan tas dan sepatunya yang belum ia bereskan sedari pulang sekolah tadi. Setelah itu ia langsung ke dapur dan membantu nenek masak seperti biasanya.
*****
__ADS_1
Mohon dukungan karya otor ya readers. 😘