The Calm Girl

The Calm Girl
17


__ADS_3

".....Kenapa bisa pingsan nduk?" tanya nek Surti.


"Tadi Wati...." belum selesai Karti bicara ucapannya sudah terpotong.


"Kecapekan aja kok nek." sela Wati cepat.


Wati mengangguk sekali memberi isyarat pada Karti dan Rian supaya tidak memberi tahu kejadian yang sebenarnya pada nenek. Mereka pun hanya bisa diam. Rian memandang le bawah dan membuang napas sedikit kasar. Namun tak disadari yang lainnya.


Rian menggeleng pelan. Ia sedikit kecewa kepada Wati yang tak ingin mengatakan yang sebenarnya pada neneknya. Tapi Rian tak ingin ikut campur lebih dalam lagi untuk urusan keluarga Wati. Walau sebenarnya dia masih sangat khawatir dengan keadaan Wati.


"Emm. Ya udah kita pulang dulu ya neng. Kamu istirahat yang cukup biar cepet pulih." pamit Karti seraya tersenyum pada Wati lalu sedikit membungkukkan badan memberi tanda hormat pada nenek.


Lalu Karti berbalik, melirik dan mengajak Rian keluar rumah Wati untuk segera pulang. Namun belum sampai mereka berdua keluar, langkah mereka terhenti saat salah satu nama di panggil dari belakang mereka dengan suara pelan namun masih bisa di dengar karena keadaan yang sunyi.


"Yan."


Rian dan Karti berhenti dan menoleh ke belakang dan kemudian saling tatap. Karti yang mengerti mengangguk pelan seraya tersenyum. Lalu Karti menepuk bahu Rian pelan dan berlalu meninggalkan kediaman Wati setelah pamit pulang lebih dulu.


Rian mendekat. Nenek segera masuk ke dalam hendak mengambil minum di dapur. Wati mempersilahkan Rian untuk duduk di kursi di hadapannya. Awalnya Wati ragu akan mengatakannya pada Rian. Tapi ia tak ingin lebih lama lagi dengan rasa penasaran yang ia rasakan selama ini. Dan setelah beberapa menit saling diam, Wati memberanikan diri membuka suara.


"Yan.." diam sejenak. Rian mendongak menatap Wati yang ingin bicara. "Iya." jawabnya.


"Emmm... Sebenarnya aku mau tanya beberapa hal ke kamu. Tapi aku takut pertanyaanku ini mengganggumu." ragu Wati mengatakannya.


"Tak apa. Insha Allah aku takkan terganggu. Apa yang hendak kamu tanyakan padaku, aku akan berusaha menjawab selama masih bisa aku jawab." jawabnya dengan senyuman.


Respon Rian cukup membuat Wati sedikit tenang dan yakin untuk lanjut bicara. Dia sedikit merubah posisi duduknya supaya benar-benar menghadap pada lawan bicaranya, yakni Rian. Wati berdehem untuk menghilangkan rasa gugup yang menjalar di seluruh tubuhnya. Rian yang menyadari kegugupan Wati sedikit mengulas senyum tanpa Wati sadari hal itu.


'Ternyata Wati lucu juga ya kalo lagi gugup begini. Sungguh menggemaskan.' gumam Rian dalam hati.


"emm. iya.. Kalau begitu yang pertama, aku mau tanya ke kamu soal... Apakah kamu benar-benar punya kemampuan spiritual.?" tanya Wati dengan dahi berkerut karena harap-harap cemas dengan jawaban apa yang akan Rian berikan.


Rian menaikkan sebelah alisnya dan kemudian tertawa ringan. Awalnya ia terkejut dengan pertanyaan Wati, tapi sebisa mungkin ia tutupi karena ia tak ingin membuat Wati jadi merasa bersalah dan tak ingin Wati kecewa.

__ADS_1


Melihat reaksi Rian seperti itu, Wati menautkan alisnya keheranan dengan sikap Rian. Apa maksud dia yang malah tertawa itu. 'Apa aku salah bertanya hal itu ya' batin Wati.


"Nggak..nggak.. Maaf..maaf. Maksud kamu, aku punya keahlian supranatural kaya paranormal-paranormal gitu?" Rian balik tanya dan diangguki oleh Wati membenarkan pertanyaannya tadi.


"Nggak.."


"Haahh.."


"Nggak. Jawabannya nggak."


"Maksud kamu... Tapi kenapa kamu sering nolong aku waktu aku di ganggu.. ahh tidak.. sebut aja kesurupan. Iya.. Kenapa?"


Diam sejenak, Rian memikirkan jawaban apa yang tepat dan meyakinkan yang akan ia berikan pada Wati. Ia pun angguk-angguk untuk meyakinkan jawaban yang akan ia utarakan.


"Emm... Sebenarnya, aku juga gak tau. Tapi sejak kecil aku emang udah sering melihat.. emh lebih tepatnya sih merasakan ya. Hanya sebatas merasakan tanpa pernah tau apalagi melihat hal-hal yang.. gaib seperti itu." jelas Rian. Ia berhenti sejenak sebelum lanjut untuk melihat respon Wati yang sepertinya masih serius untuk mendengarkan penjelasan dari Rian.


"Iya, jadi aku hanya merasakannya tanpa bisa melihatnya. Tapi..." kalimat Rian menggantung.


"Tapi apa, Yan?" sahut Wati cepat. Raut wajahnya berubah seketika, ntah ia takut, cemas, kecewa, penasaran atau apalah yang dia rasa karena kalimat Rian yang gantung.


"Hal aneh apa itu?" tanya Wati lagi.


Tanpa Wati sadari, rasa lemas dan pusing di kepala yang ia rasakan sejak sadar di ruang UKS sekolah tadi telah lenyap.


"Emm... Ya hal aneh, seperti... aku jadi lebih sensitif untuk hal-hal yang berhubungan dengan dunia lain. Dan juga..." Rian menghentikan kalimatnya membuat Wati mengerutkan kening karena penasaran dengan kelanjutan kalimat Rian.


"Dan juga,, apa Rian?" tanya Wati tak sabar mendengar kalimat Rian yang selanjutnya.


"Dan jugaa... Aku jadi bisa melihat mereka. Walau mungkin gak semua dari mereka dapat ku lihat. Tapi ini sungguh membuatku cukup heran dan terkejut akan hal itu." lanjut Rian menjelaskan.


Wati terkejut mendengar penuturan Rian barusan. Ia sedikit menegang hingga nenek datang dengan minuman dan cemilan hingga dapat mencairkan suasana. Mereka sama-sama tersenyum ketika nenek memasuki ruang tamu agar nenek tidak khawatir.


"Ini Le (sebutan untuk anak laki-laki). Diminum tehnya. supaya lebih santai ngobrolnya. Jangan tegang-tegang." ucap nenek dengan senyum sambil meletakkan teh dan camilan ke atas meja.

__ADS_1


"Iya. Makasih ya nek." jawab Rian juga dengan senyuman.


Nenek hanya tersenyum menanggapinya dan berlalu meninggalkan mereka berdua. Kecanggungan kembali menghinggapi antara mereka. Hingga Rian berdehem untuk mencairkan suasana.


"Eheemmm... Sampai mana kita tadi.?" tanya Rian membuka suara.


Wati diam sejenak mengingat obrolan mereka sebelumnya. "Emm.. oiya. Tadi kata kamu, sebelumnya kamu hanya bisa merasakan kehadirannya saja. Tapi setelah ketemu.. aku. kamu jadi lebih sensitif akan kehadiran bahkan wujud mereka. Maksudnya bagaimana ya.. kok aku jadi bingung."


Rian menatap Wati sejenak lalu ia turunkan pandangan ke bawah seraya menjawab, " iya... aku juga gak tahu dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi... setelah aku pikir-pikir lagi dari awal pertemuan kita saja. Aku sedikit memiliki kesimpulan yang ntah apakah ini masuk akal atau tidak tapi aku pikir ini benar." jawab Rian.


"Memangnya... kesimpulan apa yang kau dapat?" tanya Wati.


"Emm. Begini ya... Awalnya, sejak kecil kata bunda aku memang sudah sering mengatakan hal-hal aneh seperti... saat di perjalanan aku mengatakan bahwa ada yang tinggi besar di persimpangan jalan yang barusan kami lewati. padahal disana gak ada yang melihat apapun disana. Lalu.. pernah juga aku mengatakan bahwa banyak sekali temanku bermain saat berada di taman belakang rumahku yang dulu. Padahal disana hanya ada aku dan Dion, sepupuku. Dan masih banyak kejadian mistis dan aneh yang aku alami sampai saat ini. Tapi ya seperti yang ku katakan tadi. Ada perbedaan saat sebelum dan sesudah aku bertemu denganmu." diam Rian setelah berkata.


Kemudian.....


*****


Apa yang terjadi selanjutnya....


Bagaimana reaksi Wati setelah mendengar penjelasan Rian. Dan apakan Rian akan mengatakan bahwa selama ini ia mengikuti Wati.


Tunggu cerita selanjutnya ya...


Maaf baru bisa up cerita lagi. Karena baru isi paket kuota, dan juga karena puasa dan kesibukan menggadapi lebaran.


Oiya, omong-omong lagi lebaran. Sekalian aja otor ucapin..


"MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIN DAN BATIN".


Maaf ya kalo selama ini otor ada salah dalam pembuatan cerita dan penyampaiannya. Maaf juga sering telat up ( maklum belum kontrak 😊) hehe..


Di maapin yaakk..

__ADS_1


sekali lagi... MAAF LAHIR BATIN...


__ADS_2