The Calm Girl

The Calm Girl
02


__ADS_3

Hai readers yang budiman. Yang insya Allah di rahmati oleh Allah SWT. 😊


Mohon dukungannya ya. Karena disini aku masih baru dalam dunia NT. Dan ini karya pertama aku. Jika berkenan berikan krisan yang membangun. yang bisa membuat karya aku jadi lebih baik lagi kedepannya. 😊😍


HAPPY READING. AND THANKS.. πŸ˜™


***


"Baiklah anak-anak. Untuk mereka yang berada di 3 besar nilai rata-rata ujian akhir ini, dari pihak sekolah akan memberikan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya" ucap Bu Yanti, kepala sekolah.


Dan seketika itu Wati pun langsung menekuk lututnya dan bersujud syukur atas apa yang ia dapatkan. Ia akan melanjutkan sekolah tanpa harus merepotkan orang tuanya soal biaya sekolah. Dan sikap Wati berhasil menarik perhatian para guru dan mereka sangat bersimpati pada Wati yang notabene seorang gadis yang sangat tertutup. Dia tak banyak bicara pada kebanyakan temannya, kecuali teman 1 kampungnya.


Dia juga merupakan anak yang aktif dalam setiap pelajaran. Tak banyak bertanya karena memang ia cepat tanggap. Namun anehnya ia tak pernah mendapat peringkat di saat-saat ujian semester. Dan malah mendapat hasil terbaik di ujian akhir kelulusan ini. Itulah yang membuat para guru heran sekaligus kagum terhadap Wati saat ini.


setelah bersujud, Wati pun segera bangkit kemudian ia menyalami dan memeluk guru-guru sambil mengucapkan terima kasih kepada mereka. karena berkat mereka Wati bisa sampai di titik ini.


Pemandangan itu pun menarik perhatian para siswa yang lain. dan mereka pun ikut terharu dengan apa yang mereka lihat. Namun tidak bagi Destiana, gadis yang merasa dirinya tersaingi oleh Wati. Dan dia merasa hanya dia yang pantas mendapat peringkat pertama.


"Harusnya aku yang ada disana. Bukan kamu, Wati." gumam Desti. "Lihat saja. Suatu saat nanti, saat kita bertemu lagi. Aku akan mengalahkan mu dalam segala hal." sambungnya dalam hati dengan tawa penuh misteri.


Beberapa saat kemudian, siswa siswa sberhambur membubarkan diri masing-masing karena acara pengumuman kelulusan telah usai. Mereka pun pulang dengan hati gembira, termasuk Wati.


*****


Beberapa tahun kemudian di sebuah MA (sederajat SMA). Tempat dmana Wati melanjutkan sekolahnya. Dia bertemu dengan teman barunya dan kemudian bersahabat dengannya. Namanya Kartika. Gadis berperawakan kecil dan tingginya sebahu Wati.


Mereka selalu bersama saat di sekolah. Di kelas. Di kantin. Dan saat bersama Kartika, Wati bisa merasa sedikit lebih percaya diri.


Di dalam kelas guru sedang menjelaskan pelajaran matematika.


"Bagaimana anak-anak. Apakah sudah paham dengan yang Ibu jelaskan barusan.?" tanya Bu Indah, guru matematika.


"Udaaaahhh buuuuuu,"jawab murid-murid dengan serentak.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu buka halaman 89, kerjakan tugas B nomor 1-5." perintah Bu Indah pada semua murid di kelas.


"Baik buu" jawab beberapa murid. Dan beberapa yang lain hanya mendesah karena tak ingin ada tugas. Sisanya hanya diam sambil membuka halaman yang di ucapkan Bu Indah.


Di sela-sela mengerjakan tugas, ada yang sedikit kebingungan. Kemudian dia mencubit tangan Wati.


"Aww.. Apaan sih Des. Sakit tau." tanya Wati kebingungan karena tiba-tiba di cubit.


"Nomor 4 donk. gimana caranya. Aku masih rada bingung nih sama yang ini." ucap Desti dengan santainya tanpa rasa bersalah dan meminta maaf. "Kamu kan pinter. Jadi dah pasti tau lah sama jawabannya." sambungnya.


"Ya kamu juga kan pinter, Des. Masa gitu doang gak bisa." jawab Wati sambil tersenyum.


"Iya. Tapi aku masih bingung di bagian yang ini." kata Desti. "Kasih tau aku di bagian yang ini aja."sambungnya.


"Tapi kan ini....


"Pliissssss" ucap Desti kemudian. Tapi sambil ia mencubit-cubit kecil lengan Wati.


"Isshh. Iya-iya... Baiklah. aku jelasin lagi" Wati pun menjelaskan ulang metode penyelesaiannya karena ia tak tahan dengan sikap Desti yang selalu mencubitnya saat meminta bantuannya.


Memang Desti dan Wati satu kelas. Dan Desti duduk tepat di samping kiri Wati. Sehingga Desti akan leluasa senantiasa melakukan hal itu kepada Wati.


Dan di sisi kanan, tepat di sebelah Wati juga. Ada Kartika, sahabatnya. Dan diam-diam Kartika mengetahui kelakuan Desti kepada sahabatnya, Wati. Dia sebenarnya tidak terima akan hal itu. Tapi dia pun diam karena Wati pun hanya diam dan tak marah kepada Desti.


Sampai pada suatu hari, saat jam pelajaran sejarah. Ada tugas dari Bu Tari. Ada 1 pertanyaan yang jawabannya tak terdapat dalam catatan di buku. Namun harus mencari di internet. Wati pun bingung, karena ia tak memiliki gadget. Sedangkan yang lain sudah sibuk mencari di internet dengan gadget mereka.


Wati melihat ke sebelah kanan, disana Kartika sudah join dengan teman di sebelahnya. Wati pun bingung mau join dengan siapa. Dia pun menoleh ke sebelah kiri.


"Des, join donk cari jawabannya. Aku kan gak punya gadget." kata Wati kepada Desti.


"Emm.. Wati. kamu kan bisa join sama Rian. yang ada di belakang kamu itu." dengan santai Desti menjawab.


Wati pun terkejut dengan reaksi dan jawaban Desti. Dia sedikit kecewa. Namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja.

__ADS_1


Dengan perlahan dan ragu-ragu Wati pun menoleh ke arah belakang. Ia pun berusaha untuk bicara pada Rian. Siswa laki-laki yang menurutnya cukup tampan di kelasnya.


"Emm. Rian." perlahan Wati memanggil.


"Rian." panggil Wati sekali lagi karena Rian tak menjawab.


"Eh.. Iya Wati. Ada apa.?" sahut Rian. "Maaf aku terlalu fokus cari jawabannya. Kenapa ya?" sambung Rian kemudian dengan senyuman. Membuat Wati sedikit malu karena kelembutan Rian dalam berbicara.


Biarpun sudah beberapa bulan mereka 1 kelas. Tapi baru kali ini Wati berbicara pada Rian secara langsung dan sedekat ini.


"Wati. Ada apa ya.? Apa kamu tak memiliki gadget untuk mencari jawabannya.?" tanya Rian.


Yang ditanya masih terdiam karena takjub akan senyuman Rian dan membuatnya melamun.


"Wati." panggil Rian sekali lagi. Wati pun tersadar dari lamunannya dan membuatnya semakin malu-malu.


"Emm. Oh iya. Rian, bolehkah aku join sama kamu untuk mencari jawabannya.?" kata Wati dengan sedikit menunduk. Ia malu untuk menatap langsung mata Rian.


"Pasti boleh dong. Dengan senang hati kamu boleh join untuk cari jawabannya. Karena aku juga masih bingung untuk memilih dan mengambil artikel mana yang tepat untuk tugasnya."ucap Rian dengan senyuman.


Wati pun menangkap senyuman itu, walau tidak secara langsung menatap Rian. Namun ia masih bisa melihat senyuman Rian yang begitu manis baginya. Membuat Wati semakin meleleh akan pesona Rian.


*****


Jangan lupa ya...?


Like πŸ‘


KomenπŸ“


Share πŸ”€


Vote karya aku.

__ADS_1


supaya aku semangat nulis ceritanya. πŸ˜™πŸ˜™


__ADS_2