
happy reading... 😊
"Bunda gak pa-pa?" tanya Rian khawatir pada bunda yang tiba-tiba terjatuh.
Rian membawa bunda untuk duduk di sofa yang terdapat pada ruang tengah.
"Bunda tunggu di sini saja. Rian akan berusaha mengatasi ini" ucap Rian yang kemudian berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari sang bunda.
Melihat punggung Rian yang semakin menjauh, bunda menghela nafas. Lalu dengan perlahan ia berjalan menuju sudut ruangan dimana ada sebuah lemari kaca untuk menyimpan berbagai pajangan disana. Ia menekan tombol yang terdapat dalam lemari tersebut, tepatnya berada di balik figura sang ayah, kakek Rian.
Klekk. Terdengar suara pintu yang terbuka.
Setelah menekan tombol itu, ia kembalikan lagi figura pada tempatnya seperti semula. Lalu bunda berjalan mendekati sebuah pintu. Dimana pintu itu adalah pintu dari ruangan yang selama ini ia rahasiakan dari sang putra. Ruangan yang tak pernah siapapun masuk selain dirinya. Ia pun memasuki ruangan itu lalu menutupnya kembali.
Setelah masuk ruangan itu, kosong...
Memang tak ada apapun di dalam ruangan itu, hanya ada 1 lampu yang tak begitu terang yang berada tepat di tengah-tengah ruangan yang luasnya hanya 3×3 meter tersebut. Dan tepat di bawah lampu itu terdapat karamik yang coraknya berbeda walau tak begitu mencolok perbedaannya dari keramik yang lain.
Lalu bunda mendekati keramik itu dan berjongkok di dekat keramik itu. Bunda mengamati setiap sudut dari keramik yang berbeda itu, lalu menekan salah satu sudutnya. Muncullah handel kecil di salah satu sisinya. Bunda mengamati pintu yang berada tepat di belakangnya. Setelah yakin tak ada siapapun yang melihat, bunda menarik handel kecil itu dan terbuka.
Dari balik keramik itu terdapat tangga yang menuju ruangan bawah tanah yang gelap gulita yang membuat siapapun takkan berani memasuki tanpa alat penerangan, kecuali bunda. Bunda masuk dan menuruni anak tangga dengan perlahan. Kemudian ia tarik lagi keramik tadi untuk menutupnya kembali. Dan setelah di tutup, maka otomatis lampu dalam ruangan tersebut mati dan ruang bawah tanah menjadi sangat terang.
__ADS_1
Setelah Bunda berada di dasar anak tangga, bunda berhenti. Ia melihat sekeliling ruangan bawah tanah itu dengan takjub. Walau bukan sekali ini saja ia ke tempat itu. Tapi untuk selalu kagum dengan ruangan itu mungkin takkan ada bosannya.
Ruangan itu di desain sangat unik. Terdapat banyak sekali barang-barang peninggalan sang ayah. Ya. Ruangan itu adalah ruangan rahasia yang merupakan kepemilikan sang ayah. Bunda juga baru saja mengetahui ruangan itu beberapa tahun lalu, saat sang ayah masih ada.
Awalnya tak ada yang tahu bahwa ada ruangan bawah tanah di rumah itu. Tapi bunda juga selalu merasa heran dan curiga dengan ruangan yang selalu tertutup bahkan terkunci di rumahnya.
Sampai pada suatu hari, bunda mengetahui rahasia ruangan misterius itu karena mengikuti sang ayah yang terlihat mencurigakan.
Flashback On
Fatimah berjalan hendak menuju dapur untuk mengambil minum. Tetapi di tengah perjalanan menuju dapur, langkahnya terhenti karena pandangannya terganggu dengan gelagat seorang pria yang sedang berjalan dengan mengendap. Sehingga ia memutuskan untuk mengikutinya secara diam-diam.
Pria itu berjalan ke sudut ruangan dimana ada sebuah lemari hias disana. Kemudian ia mendekati sebuah figura yang tak lain adalah figuranya sendiri. Ia menggeser sedikit figura itu lalu tangannya terulur ke arah belakang figura tersebut. Dan...
Terdengar suara dari pintu yang selalu terkunci di rumahnya itu. Lalu pria itu kembali membenarkan letak figuranya dan berjalan menuju ruang misterius itu. Sebelum masuk ke dalam ruangan, ia terlebih dulu memperhatikan sekitar. memastikan tak ada orang yang melihatnya. Tapi, tanpa ia ketahui ternyata ada orang yang mengikutinya dan tak lain adalah Fatimah, putrinya sendiri.
Setelah ia rasa aman, perlahan ia membuka pintu dan masuk kedalam dan tak lupa pula menutup pintunya kembali.
Fatimah yang masih penasaran pun terus mengikuti ayahnya. Ia mendekat ke pintu ruangan itu dan membukanya perlahan. Namun setelah membuka pintu, ia terkejut karena ruangan itu sangat gelap gulita. Sehingga mengurungkan niatnya untuk terus masuk.
"Duh kok gelap banget sih ruangannya. Aku kan jadi takut mau ikut masuk." ucapnya seraya menutup kembali pintu itu dan berbalik hendak ke tujuan awalnya, yakni dapur.
__ADS_1
"Yaahh, sudahlah. Mungkin memang belum saatnya aku tau tempat ini. Tapi aku benar-benar penasaran sama ruangan ini. Kenapa pula ayah menyembunyikan dari semua orang. Benar-benar mencurigakan. Sudahlah... Suatu saat aku akan mencari tau sendiri kalo ayah masih tetap menyembunyikannya dan tak ingin memberi tahu." gumamnya sambil berjalan ke dapur.
Setelah sampai ia gegas membuka kulkas dan membukanya. Ia mengambil sebuah botol minuman lalu meminum setelah membuka tutupnya. Lalu ia bawa sisanya kembali ke kamarnya. Namun saat berjalan kembali ia berhenti karena melihat sang ayah telah keluar dari ruangan dengan membawa sesuatu. Namun pria itu tak juga menyadari keberadaan Fatimah disana.
Lantas Fatimah mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar. Lantas ia kembali mendekati ruangan itu dan hendak membukanya. Namun, lagi-lagi ia gagal memasuki ruangan itu karena mendengar seruan yang memanggil namanya.
"Imah."
"Iya ayah." jawab Fatimah sambil menjauh dari pintu ruangan mistrius itu.
"hemm... Memang belum saatnya sekarang aku tahu. Tapi aku aku akan tetap mencari tahu apa yang sebenarnya ada di dalam ruangan itu. Sampai-sampai ayah menutup ruangan itu dengan sangat misterius dan merahasiakan hal itu dari semua orang." gumam Fatimah sambil berjalan ke arah sumber suara ayah.
Flasback off
***
Setelah mengenang kembali betapa sang ayah menyembunyikan tempat seindah ini dari semua orang, tak ayal ia pun kembali meneteskan air mata mengagumi keindahan tempat yang ia pijaki saat ini.
"Kenapa ayah tak pernah memberi tahu kami tentang tempat ini. Mungkin jika Imah tak mengikuti ayah waktu itu, Imah tak akan pernah mengetahui tempat seindah ini sampai kapanpun." monolognya menyusuri ruangan.
Tanpa ia pikirkan hal lain lagi selain mengagumi keindahan ruangan rahasia sang ayah yang yang bernuansa klasik dengan di penuhi dengan koleksi barang-barang antik dan juga estetik. Dan belum ia ketahui bahwa jika di dalam ruangan itu ternyata masih ada yang tersembunyi. Memang selama beberapa kali ia memasuki ruangan itu, bunda Fatimah sangat jarang sekali menyentuh barang-barang yang ada disana.
__ADS_1
Seperti biasanya yang sering ia lakukan di dalam ruangan itu hanyalah membersihkan tempat itu agar tetap bersih dan sesekali ia duduk di salah satu kursi dan membaca buku-buku yang telah usang. Buku-buku di sana banyak yang merupakan buku sejarah dan ilmu pengetahuan. Ada juga buku tentang pengobatan alternatif dan juga obat-obatan herbal.