
Brakkk.
Pintu ruangan misterius itu tiba-tiba tertutup sendirinya dengan cukup keras. Sehingga membuat Rian tersentak dan hampir melompat karena terkejut.
"Heyyy... Kenapa pintunya menutup sendiri. Mengagetkan saja. Semakin aneh saja ruangan ini. Aku yakin pasti ada sesuatu di balik pintu ini." monolog Rian.
Kemudian ia berbalik hendak mencari keluat rumah. Namun setelah berbalik badan, kembali ia di kejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba berada di depannya.
"Astaghfirulloh..."
"Hehee.."
Rian mengusap dadanya demi menetralkan kembali detak jantungnya yang berdegup 2 kali lebih cepat karena terkejut. Selang beberapa detik kemudian ia baru menyadari ada sebuah keganjalan yang ia lihat di depannya dan membeliakkan matanya karena lagi-lagi ia di kejutkan oleh kenyataan yang sedang terjadi.
"heyy.. wait wait wait.... kamu.." Rian mengucek-ucek matanya dengan tangannya demi memperjelas apakah yang ia lihat di depannya ini nyata atau tidak. Dan juga ia menepuk-nepuk pipinya perlahan untuk lebih meyakinkan lagi.
Dan apakah yang sedang di pandang oleh Rian? Ya. Dia adalah sosok manusia berbentuk perempuan yang ia kenal. Dan anehnya kenapa perempuan ini bisa ada di rumahnya di waktu sekarang ini.
"Ke-kenapa kau bisa ada disini." tanya Rian gugup saking kagetnya.
Yang di tanya bukannya menjawab malah tersenyum menampakkan deretan giginya sambil mengusap usap tengkuknya.
Rian mengerutkan keningnya karena bingung. 'Ada apa dengan makhluk yang ada di depanku ini?' gumamnya dalam hati.
"Heyyy... Apa yang kau pikirkan..? Tadi kan aku tanya, kenapa kau bisa ada disini..? Mengapa kau tak menjawabnya." tanya Rian lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari makhluk yang ada di depannya ini.
"hemm.."
"kau..."
Ucap mereka berdua hampir bersamaan. Lalu Rian memberi isyarat tangan untuk memberi kesempatan yang ada di depannya untuk bicara.
"Emmm. Aku khawatir Yan. Tadi sebelum sambungan telepon terputus aku mendengar suara yang aneh sebelum suara dentuman yang cukup keras. Jadi aku buru-buru datang kemari. Apa ada hal yang sedang terjadi? Dimana bunda? Sedari tadi aku tak melihatnya. Bunda gak apa-apa kan.? Kenapa kau diam saja? Apa yang terjadi? Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku? Riannn" jelasnya dengan di sertai rentetan pertanyaan yang membuat yang di tanya malah bingung sendiri.
'Apa yang sedang terjadi? Siapa makhluk ini? Kenapa ia sangat mirip dengan dia? Apa aku berhalusinasi? Sepertinya tidak. Tapi kenapa dia bisa ada disini di waktu petang begini? Tunggu dulu. Sepertinya yang sedang berkunjung ini bukanlah raga nya. Tapi,, ini sukma. Iyaaa... ini sukmanya. Tapii... Bagaimana bisa ia melakukannya. Apa dia juga memiliki ilmu itu. Mana mungkin, seorang yang di kenal banyak orang sebagai gadis pendiam tapi dia memiliki ilmu yang sangat langka ini dan yang aku tau gak sembarang orang bisa melakukannya.' gumam Rian dalam hati dengan berbagai spekulasi dan anggapan-anggapan yang memenuhi pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Riann" sentaknya yang membuat Rian tersadar dari lamunannya.
Sedikit terkejut, namun sedetik kemudian Rian dapat menguasai dirinya dan kembali dengan ekspresi datarnya. "Iya. Ada apa.?" tanya nya dingin seperti tanpa dosa.
Padahal sejak tadi namanya dipanggil-panggil tapi tak ada sahutan. Sekalinya menjawab dengan nada yang dingin juga dengan ekspresinya yang datar. Sungguh menyebalkan.
'Apa-apaan orang ini.? Dari tadi di panggilin di tanyain gak ngejawab. Sekalinya jawab datar gitu. Kayak gak ada dosa aja nih orang.' gumamnya.
"Apaan?" tanya Rian kemudian.
"Ehh. Kamu tuh ya. Dari tadi aku tuh manggil-manggil kamu nanyain kamu tapi kamu diem aja. Ngelamun kamu..? Sekalinya jawab datar gitu. Kek gak ada dosa aja kau." sungutnya kemudian.
"Hemm. Iya maaf. Ada apa sih? Apa yang mau kamu tanyain."
"Ahh... malas aku jadinya mau tanya-tanya lagi." ujarnya kesal.
"Heyyy kamu ini. Tadi katanya mau tanya sampe bentak-bentak katanya gak di dengerin. Giliran udah mau dengerin malah begitu. Mau kamu apa sih sebenarnya." kesal pula Rian jadinya.
"ishh.. Kamu tuh.... Nyebelin." akhir kata sebelum dia pergi meninggalkan Rian yang diam mematung karena tiba-tiba makhluk yang sejak tadi ada di depannya kini telah menghilang.
"Tadi itu nyata gak sih.? Tapi kok sakit ya. Berarti kan emang nyata. Tapi sekarang dia di mana.?" monolog Rian.
Kemudian dia berjalan hendak mencari makhluk tadi seraya meneriakkan nama seseorang yang ia yakini nama dari makhluk itu. Karena wajahnya memang sudah tak asing lagi baginya.
***
"Kak." seru Raina ketika membuka pintu kamarnya.
"Ehh. lagi sholat toh. Ya udah deh langsung aku pake aja. Ntar kalo kakak udah selesai baru aku ngomong." gumam Raina seraya berjalan masuk.
Raina menatap kesana kemari mencari sesuatu. "Dimana ponsel kakak ya?" tanya nya lebih pada diri sendiri. Dan saat ia berbalik badan..
"Heyyy. kamu ngapain?" tanya Wati tiba-tiba dan berhasil membuat Raina terjingkat.
"Astaghfirullah. Kakak ngagetin aja." ucap Raina sambil mengusap dada akibat terkejut dengan keberadaan kakaknya yang tiba-tiba berada di belakangnya.
__ADS_1
"Ishh. Kamu ngapain.? Nyariin apa..?" tanya Wati lagi.
"Emm. itu... Hp kakak mana.? Raina pinjem bentar dong." pinta Raina dengan menengadahkan tangan ke hadapan sang kakak.
"Memangnya kamu mau ngapain.? Kalo gak penting mending gak usah." jawab Wati.
"Ishh... Ayolah kak. pinjemin bentaran doang kok. Gak lama. Janji deh." katanya dengan menunjukkan kedua jarinya, telunjuk dan jari tengah membentuk huruf v.
"Iya buat apa dulu. Yang jelas alasannya kamu mau pinjem hp itu mau buat apa.? Kalo gak jelas ya gak akan kakak kasih." ujarnya sambil balik badan menuju meja belajarnya.
"Kakaaakk" rengek Raina menarik lengan Wati.
"Kamu tuh ya. Dari pada kamu merengek mau minjem hp untuk hal yang gak jelas. Mending kamu duduk di sana, buka buku kamu, belajar. Emang tugas sekolah kamu udah selesai.? hemmm" ujar Wati panjang.
"Tapi kaakkk..."
"Udah belum tugas kamu" tegas Wati.
"Lumm" jawab Raina singkat.
"Ya udah kalo gitu kerjain dulu itu tugas kamu sampe selesai. Nanti kalo udah baru boleh ku kasih pinjam hp kakak"
"Tapi bantuin ya. Susah soalnya.. Makanya Raina tinggalin tadi." pinta Raina memelas pada sang kakak.
"hhhh. iya udah iya ntar kakak bantuin dikit-dikit." akhirnya Wati mengalah dan mau mengajari Raina walau sebenarnya urusannya masih belum selesai. "Udah buruan.. Sebelum kakak berubah pikiran nihh" sambungnya.
"Iya-iya... " Raina.
*****
Terus dukung karya otor ya gaesss..
Walaupun otor jarang up. Tapi nanti otor usahain lebih sering up lagi abis ini.
Lup yu all.😘
__ADS_1