The Calm Girl

The Calm Girl
14


__ADS_3

"Tapi apa, Yan?"


"Tapii... Aku sendiri masih belum mengerti dengan semuanya, sehingga Desti beranggapan seperti itu." jawab Rian.


"Bukan itu Rian." ucapan Karti membuat Rian menoleh menatapnya, begitu pun dengan Wati yang juga menatap bingung ke Karti.


"Maksud kamu apa neng?"


"Maksudnya apa?"


Ucap mereka bersamaan membuat mereka saling pandang sejenak lalu menunduk dan Rian kembali menatap ke danau.


Karti yang melihat pemandangan langka itu langsung ter senyum. Ingin tertawa tapi ia tahan.


'Tuh kan. Ini yang mau aku tanyakan, sebenarnya kalian ini sama-sama punya perasaan yang sama kan. Tapi kalian sama-sama gak mau mengakuinya atau bahkan mengungkapkannya.' batin Karti.


"Ehemmm..." Karti memecah keheningan diantara mereka.


"Maksud aku, bukan itu jawaban yang aku mau."


"Lalu apa?" tanya Rian dan Wati lagi-lagi bersamaan kemudian saling lirik.


"Hahahaa...." Karti tak bisa lagi menahan tawanya. Tak lama ia berhenti dan langsung menatap tajam ke arah Wati yang langsung menunduk, kemudian menatap Rian.


"Rian." panggil Karti tegas.


Yang di panggil hanya diam namun menatap yang memanggil.


"Bagaimana sebenarnya perasaan kamu kepada Wati. Apakah ada beda dari teman-teman yang lainnya.?" tanya Karti dengan menatap tepat ke iris mata milik Rian. Seolah ia mengintrogasi Rian dan menuntut jawaban darinya.


Rian terpaku. Lidahnya seperti tercekat dan terasa kelu seolah tak dapat berkata-kata lagi. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri.


Lalu seseorang muncul dari balik pohon di belakang mereka secara tiba-tiba dan berkata,


"Dia mendapat tempat yang spesial untuk Rian."


Mereka bertiga terkejut dan memandang sekitar mencari sumber suara. Lalu mereka melihat Yasha sudah berada tepat di belakang mereka.


"Iya. Aku sudah cukup lama mengenal siapa Rian. Bahkan sejak kami masih kecil. Jadi,, yaa sedikit banyaknya aku tahu bagaimana dia. Aku tahu perasaan dia kepada setiap orang. Dan jika ada sedikit saja perubahan dari dia aku pasti mengetahuinya. Karena aku ini salah satu orang yang cukup peka tentang dia, selain Bundanya." terang Yasha panjang lebar setelah ikut duduk bersama mereka.

__ADS_1


Karti mengangguk mengerti. Wati ternganga mendengar perkataan Yasha yang cukup banyak tahu tentang Rian. Karena yang Wati tahu bahwa Yasha itu termasuk orang yang tak begitu peduli terhadap orang lain. Dan termasuk cowok yang dingin atau biasa disebut coolboy apalagi sama cewek. Atau mungkin lebih tepatnya tak mau ikut campur urusan orang lain. Hanya kepada orang-orang tertentu saja seperti kepada Rian, sahabatnya. Dan kepada Desti yang ia ketahui sebagai kekasih Yasha.


Sedang kan Rian sendiri, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Karena mungkin yang di katakan Yasha itu benar. Dan memang selama ini Yasha orang yang paling peduli dan mengerti dia selain Bundanya.


"Dan kamu Wati." Yasha menjeda ucapannya dengan menatap Wati. Membuat Wati menegang.


'Apa... Apa yang dia tahu dari aku. Sedangkan dia kan tak begitu dekat denganku' batin Wati mulai bersuara.


"Wati.. Mungkin aku gak terlalu mengenalmu Aku juga gak dekat dan tak tahu banyak tentang kamu. Tapi selama aku tahu kamu, sejak aku tahu Rian ada ketertarikan kepadamu. Jujur saja sejak dari saat itu aku juga mulai memperhatikanmu juga. Tapi bukan berarti aku suka sama. Maksud nya, bukan berarti aku ada perasaan sama kamu. Tapi lebih kepada aku memperhatikanmu untuk Rian." Yasha menghentikan kalimatnya dan menatap Rian. Dan kembali menatap Wati.


'Apa.. Jadi selama ini Yasha juga perhatiin aku untuk Rian. Ini sebenarnya ada apa sih. Kok aku jadi bingung sendiri ya.' batin Wati.


"Iya. Aku memperhatikan Wati untuk Rian. Karena setelah Rian berkenalan denganmu, aku lihat ada sedikit yang berbeda darinya. Dari sikapnya saat bersamamu. Cara dia memandangmu. Cara dia berbicara denganmu. Semua berbeda jika itu berhubungan denganmu."


"Dan aku juga melihat hal itu dari kamu ke Rian. semua sama. Kamu juga menganggap Rian orang yang spesial kan?"


Pertanyaan Yasha membuat Wati terkejut dan membuatnya mati kutu. Tak bisa bergerak apalagi berkata. Ia terdiam.


'Bagaimana bisa Yasha berkata seperti itu. Padahal aku saja tak tahu perasaanku. Dan aku juga tak pernah mengatakan apapun padanya. Jangankan bercerita, untuk sekedar ngobrol santai saja gak pernah. Malah kalau berpapasan denganku, dia itu seolah tak mengganggap aku ada di depannya. Tapi kenapa sekarang dia bisa berkata seperti itu.' batin Wati berkecamuk.


Yasha diam menatap Wati menunggu jawaban datinya. Begitu pula dengan Karti dan juga tentu saja dengan Rian. Yang keadaan itu tentu saja membuat Wati makin gugup dan tak bisa berkutik. Seolah seperti seorang kriminal yang sedang di introgasi tentang kejahatannya.


"A..Aku.. Akuu.... juga gak tahu sih. Ka.. karena aku rasa.. se..semua sama saja." jawab Wati terbata-bata karena gugup.


Rian menghela nafas pelan kemudian menunduk. Ada rasa kecewa disana. Tapi dia juga lega karena dia sudah tahu perasaan Wati tanpa harus ia tanya. Dan ia bisa fokus pada niat awalnya yang hanya ingin menyelidiki kemisteriusan Wati saja tanpa harus melibatkan perasaan. Semoga saja.


Yasha tak melanjutkan pertanyaannya. Ia tahu bagaimana perasaan Wati saat ini. Sedangkan Karti, ia juga tak ingin bertanya apapun. Ia tak ingin sahabatnya semakin tersudut.


***


Setelah keadaan yang menegangkan di halaman belakang sekolah tadi, kini mereka berempat sudah duduk di hadapan meja yang sama di kantin. Karena saat ini sudah jam istirahat.


Mereka semua memesan makanan yang sama, yak mie ayam milik Pak Suhar. Mereka makan bersama sambil bersenda gurau. Banyak mata menatap mereka heran. Sebab tak biasanya mereka makan di satu meja yang sama. Tapi mereka berempat tak menghiraukan hal itu.


Setelah selesai makan, mereka masih duduk disana sambil mengobrol santai.


"Eh, ntar kan mapel kimia. Ada tugas kan? Kalian udah ngerjain belum?." tanya Karti membuka obrolan mereka.


"Belum" jawab Yasha singkat dan dengan santainya. Membuat Karti dan Wati melongo.

__ADS_1


"Ihh.. Kamu itu Sha. Belum ngerjain tugas kok malah santai-santai aja gini. Gimana jadinya.?" Wati berkata keheranan dengan sikap Yasha yang dengan santainya belum mengerjakan tugas mapel dengan guru paling killer itu.


"Biasa aja. Guru itu kalo sama aku mah mana berani." jawab Yasha enteng.


Karti menggeleng, "Behh.. Emang ya si Yasha ini selain dingin dan cuek sama semua orang. Tapi dia juga sepertinya sama kayak kamu neng." ia menjeda ucapannya dan melirik ke Wati. "Misterius" lanjutnya dengan suara lirih namun masih terdengar oleh ketiganya.


Yasha dan Wati serempak menatap tajam ke arah Karti dan reflek Karti pun langsung nyengir kuda dan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya ke udara membentuk huruf V. "hehee.. pisss"


Sedangkan Rian hanya tersenyum. Ia sudah paham dengan hal itu. Karena ia tahu hubungan antara Yasha dan guru kimia itu. Dan itu masih menjadi rahasia antara mereka. Karena memang tak ada atau belum ada yang mengetahui hal itu.


"Udah-udah... kalian ini jangan seperti itu. Kasihan kan Karti sampe mengkeret begitu. Udah paling kecil, jangan disiksa terus lah. Makin ciut dia nanti." lerai Rian dengan sedikit bergurau.


Namun membuat Karti membulatkan mata ke arah Rian. "Kamu nih ya...Malahh... Main ejek-ejekan nih ceritanya." sahut karti dengan menepuk lengan Rian cukup keras.


"Auwww..." pekik Rian.


Mereka akhirnya tertawa bersama seolah tak ada lagi beban dalam hidup mereka. Sampai bel tanda masuk kelas kembali berbunyi. Mereka pun beranjak dan gegas berjalan menuju kelas mereka setelah membayar makanan dan minuman mereka.


Di perjalanan menuju kelas mereka masih lanjut ngobrol.


"Eh. Gimana tadi. Tugas kalian udah belum." tanya Karti.


"Udah aku bilang kan tadi. Kalo...." belum selesai Yasha bicara, Karti sudah memotong.


"Aku gak nanya kamu Sha. Tapi Rian sama Wati" dengus Karti kepada Yasha.


Rian dan wati hanya tersenyum , kemudian...


"Udah." jawab mereka bersamaan.


Mereka berempat pun menghentikan langkah. Saling melempar pandang, sedetik kemudian mereka tertawa bersama. Semua siswa yang masih diluar menatap mereka keheranan dan menggelengkan kepala. Dan kemudian mereka melanjutkan langkah menuju ke kelas mereka.


***


Up


Up


Up

__ADS_1


Hufftt.


__ADS_2