
Lanjuuuuuttttttttkannnnn...........
***
Setibanya di dalam kelas, mereka duduk di kursi masing-masing. Tak lama guru kimia datang masuk kelas. Namun guru itu tak membawa apapun selain buku cetak tebal bertuliskan KIMIA yang di cetak besar dan tebal di bagian depan.
"Selamat pagi menjelang siang anak-anak." sapa guru cantik tapi galak itu.
"Iya buuk" jawab semua siswa serentak.
"Ibu disini gak akan mengajar kalian. Karena ibu ada urusan mendadak dan harus segera pulang sekarang." ucap guru itu dengan tersenyum.
Semuanya pun bersorak dalam hati dan saling pandang dengan senyum bahagia mereka.
"Tapi ibu ada tugas buat kalian."
Seketika senyuman bahagia mereka memudar berganti dengan senyuman yang kecut sekecut jeruk lemon. blweee....pckk.. sshhhhp...
"sekertaris tolong maju kedepan." Desti pun maju ke depan.
"Tolong kamu diktekan materi Hukum-Hukum Dasar Kimia ini. Nanti kamu rangkum saja sebisa kamu ya." pinta guru itu.
"Baik buk." jawab Desti. Ia pun kembali ke kursinya dengan membawa buku tebal itu.
"Nah, jadi anak-anak. Tugas kalian hari ini adalah mencatat materi Hukum Dasar Kimia. Nanti akan di dikte oleh Desti. Dan untuk ketua. Tolong jaga keadaan kelas agar tetap kondusif selama mencatat. Jangan sampai ada yang tak mencatat. Atau nanti akan dapat hukuman di pertemuan yang akan datang. Mengerti.?!" terang bu guru.
"Mengerti buuuk" jawab mereka serentak.
"Bagus. Nanti kalau sudah selesai mencatat, kumpulkan bukunya ke kantor guru ya. Beserta tugas rumah yang pertemuan lalu ibu beri. Dan materi ini akan ibu jelaskan nanti di pertemuan mendatang."
"Baiklah anak-anak, ibu pamit dulu. Sampai bertemu lagi. Selamat siang. Dan, Wassalamu 'alaikum warohmatullahi wa barokatuh."
"Wa'alaikum salam watohmatullahi wa barokatuh." jawab serempak.
__ADS_1
Guru itu pun berjalan meninggalkan kelas. Suasana kelas kembali riuh. Yang tak terima mendapat tugas mencatat mulai bersuara namun tak urung mereka pun tetap melakukannya. Dan yang lain juga sudah siap mencatat. Desti mulai mendikte dengan merangkum yang penting penting saja. Dan semua ikut mencatat, tak seorang pun yang tak mencatat karena takut mendapat hukuman dari guru kuller itu. Sampai semua selesai.
***
Bel tanda waktu pulang telah berbunyi. Semua siswa mulai berhamburan keluar kelas masing-masing menuju parkiran. Mereka berjalan santai seperti biasa. Sampai tiba-tiba dari kelas X IPA2 terdengan teriakan histeris.
"Aaaaaaaaarrgghh......"
Semua siswa yang masih berjalan sontak berlarian menuju kelas tersebut. Dan mendapati seorang perempuan yang sedang menunduk dengan aura yang mistis. Dan di sampingnya sedikit ke belakang ada sosok bayangan hitam yang sedang memegang bahu perempuan itu. Namun, bayangan itu tak dapat terlihat oleh semua orang. Hanya beberapa saja yang dapat melihatnya dan mereka yang melihat seketika merinding disko. Dan seketika berlari menjauh dari kelas itu karena ketakutan.
Tapi masih ada juga beberapa siswa yang menyaksikan perempuan itu di dalam sana, mungkin masih penasaran. Tak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam kelas itu. Sampai beberapa saat kemudian ada 2 orang, lelaki dan perempuan berlari dan masuk ke dalam kelas itu.
"Yan, gimana ini? Kok Wati begini lagi sih?" tanya Karti panik melihat sahabatnya seperti itu dengan menggoyang-goyangkan lengan Rian.
"Kamu tenang dulu Karti. Jangan panik begini. Sebentar ya, aku akan berusaha berkomunikasi sama dia." ucap Rian berusaha menenangkan Karti.
Kemudian Rian maju beberapa langkah mendekati Wati. Iya, perempuan yang bertetiak tadi adalah Wati yang mengalami kerasukan lagi. Atau mungkin lebih tepatnya ketempelan mungkin bahasa kerennya ya. Hehee....
"Assalamu 'alaikum. Maaf mengganggu anda. Tapi saya mohon, tolong lepaskan teman saya. Dia tak bersalah dan dia tak tahu apa-apa. Saya mohon lepaskan dia." pinta Rian pada sosok yang berada di belakang Wati dengan komunikasinya secara batin.
"Siapa kamu? Beraninya kau ikut campur. Ini urusanku dengan gadis ini. Kau jangan coba-coba mengganggu. Atau kau juga ingin berurusan denganku dan kau akan tahu akibatnya" jawab sosok hitam itu.
"Saya tak takut dengan anda. Karena pasti akan ada yang menolong saya. Dan anda sendiri yang pasti akan menyesal karena telah berusaha berurusan dengan kami." sahut Rian.
"Aku tak ingin berurusan denganmu. Aku hanya punya urusan dengan gadis ini. Jadi pergilah kau, dan jangan halangi aku." kata sosok hitam itu.
"Jangan harap urusan anda dengannya akan lancar. Karena ada saya yang akan menghalangi anda." kata Rian semakin serius.
"Jangan kau halangi aku. Atau kau akan melihat gadis ini menderita seumur hidupnya."
"Apa maksud anda.? Lantas apa tujuan dan anda dengan teman saya.? Kenapa dia akan menderita seumur hidup?" rentetan pertanyaan Rian bersamaan dengan perubahan raut wajahnya yang menjadi khawatir.
Dan perubahan raut wajah Rian di sadari oleh Karti dan ia berusaha mendekati Rian dan hendak bertanya. Namun sebelum ia menyentuh tubuh Rian, ia tersentak kaget dengan ucapan Rian yang setengah berteriak.
__ADS_1
"Jangan mendekat. Mau apa kau mendekatiku?" tanya Rian pada Karti.
"Ti..tidakk.. Ak.. aku hanya ingin bertanya, ap..apa yang sebenarnya kalian bicarakan dan ap..apa yang terjadi." tanya Karti gugup, karena takut juga dan khawatir.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang menjauhlah dulu." jawab Rian cepat. Karti mengangguk dan menurut untuk menjauh dari mereka.
"Hmmm. Mungkin aku bisa mengandalkanmu anak muda. Tapii.. tunjukkan dulu kemampuanmu." kata sosok hitam itu.
"Apa maksud anda.? Mengandalkanku, Tunjukkan kemampuanku? Kemampuan apa yang ku miliki.? Bicara apa anda.?" Rian semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka.
"Iyaa.. Aku sebenarnya sudah yakin dengan kau. Tapi aku masih ingin melihat seberapa kemampuanmu itu. Apa kau tahu aku ini siapa? Dan apa tujuanku menahan gadis ini.? Dan apakah kamu tahu siapakah gadis ini sebenarnya.?" tanya nya bertubi-tubi.
Rian semakin mengerutkan kening tanda tak paham dengan apa yang di katakan olehnya.
"Baiklah akan aku jelaskan sedikit saja. Coba kau lihat dulu keadaan di luar gedung ini. Tepatnya bagian belakang kelas ini." perintahnya.
Dan menurut, Rian langsung berjalan menuju jendela yang mengarah langsung ke halaman belakang. Dan betapa terkejutnya Rian setelah melihat apa yang ada di sana. Ia membulatkan mata dan menutup mulutnya dan menggeleng tak percaya dengan apa yang ia lihat ini adalah nyata. Segera ia melangkah mundur dan kembali berhadapan dengan sosok hitam. Baru saja membuka mulut hendak bicara tapi telah di dahului oleh sosok hitam.
"Coba jelaskan apa yang kau lihat di sana.?" pinta sosok hitam.
"Disana.. ada.. banyak sekali. Kenapa ada banyak sekali makhluk seperti itu disana. Dan kenapa mereka semua seolah terjebak dalam sebuah ruang transparan dan mencoba untuk keluar dari sana. Dan juga.. ada banyak sekali tengkorak manusia di sana." jelas Rian dengan terbata-bata.
Tak di pungkiri, saat ini ia merasa merinding melihat itu semua. Tapi tak ia tunjukkan, karena ia harus kuat dan berani demi Wati. Dan mungkin demi seluruh siswa di sini.
"Iya mereka ada makhluk-makhluk yang terjebak disana. Bukan terjebak sebenarnya, terkurung lebih tepatnya. Karena akulah yang mengurung mereka disana. Sebab mereka akan selalu berbuat ulah di tempat ini. Dan aura dari gadis ini bisa menghancurkan kurungan itu. Maka dari itu selama ini aku berusaha menghalangi auranya menembus kurungan itu." jelas sosok hitam itu.
"Maksud anda.? Wati, teman saya ini memiliki aura sekuat itu dan bisa menghancurkan kurungan mereka.? Bagaimana bisa? Tapi selama ini..." ucapan Rian terpotong.
"Iya, karena selama ini aku masih bisa mengurus mereka. Tapi lama kelamaan aku jadi tak sanggup karena mereka jadi semakin berutal. Makanya aku mengurung mereka. Apalagi semenjak kedatangan gadis ini di sini. Memang tak begitu saja auranya keluar. Hanya pada saat ia merasa tertekan dan menahan amarah, maka aura itu akan menguar. Untuk hal ini aku percayakan padamu, aku yakin kau dapat membuat gadis ini selalu nyaman. Jangan biarkan ia tertekan dan marah. Karena hal itu bisa sangat berbahaya bagi dirinya sendiri juga untuk orang-orang di sekitarnya." jelas sosok hitam itu panjang lebar.
"Baiklah. Saya akan berusaha sebisa saya untuk selalu menjaganya selama saya bersamanya. Saya akan mengusahakan semua." ujar Rian menyanggupi permintaan sosok hitam itu.
Setelah itu sosok hitam itu menghilang dan meninggalkan Wati yang ambruk tak sadarkan diri. Rian segera berlari menangkap tubuh Wati yang hampir tersungkur ke lantai. Karti juga berlari mendekat dan membantu Rian mengangkat tubuh Wati ke ruang UKS.
__ADS_1
***
Tak dapat terselesaikan dengan cepat. Niat awal mau doble up. Tapi apalah daya tubuh ini ambruk seketika. 😷😷🤒