
happy reading my readers. 😊
*****
Mobil SUV putih memasuki halaman sebuah rumah minimalis namun terlihat begitu indah. Dengan halaman rumah yang terdapat begitu banyak macam bunga yang indah, juga pepohonan yang tertata rapi menjadi seperti pagar, walau tembok pagar juga ada, menambah suasana asri dan menyejukkan.
Seorang wanita turun dari pintu kemudi dengan pakaian rapinya kemudian berjalan menuju pintu utama. Ia memasuki rumah dan berjalan dengan begitu elegan. Walau sudah memasuki usia kepala 3, namun pesonanya tetap tak kalah dengan para gadis usia 20-an.
Wanita yang telah berstatus janda anak 1, wanita karier yang begiu sukses dengan menjadi designer ternama di daerahnya. Juga memiliki sebuah butik yang cukup besar dengan beberapa cabang di beberapa kota besar.
Suaminya sudah lama telah berpulang. Kini ia hanya tinggal bersama putranya yg sudah berusia 15 tahun dan bersekolah di sekolah agama / Madrasah Aliyah (MA). Serta turut tinggal bersama 1 asisten rumah tangga dan 1 tukang kebun yang kebetulan mereka sepasang suami istri.
Fatimah namanya. Cantik, berhijab, pintar, penyayang, ramah namun juga tegas, dan ntah kata apa lagi yang bisa saya sampaikan untuk menguraikan sifat dan karakter Bunda Fatimah, begitu anaknya memanggil.
Bunda memasuki rumah dan langsung menuju ke kamar di lantai atas. Ia segera mandi supaya tubuhnya lebih segar setelah seharian sibuk di butik. Setelah mandi dan berpakaian, ia turun ke bawah dan langsung masuk ke dapur. Lalu membuka kulkas dan mengambil air mineral dingin, meminumnya beberapa teguk dan kemudian ia letakkan di meja makan setelah menutupnya kembali.
Bunda memanggil asisten rumah tangganya untuk membantunya menyiapkan makan malam. Benar sekali,,, walau ada asisten rumah tangga, tapi bunda selalu memasak sendiri menu sarapan dan makan malamnya dengan putranya. Terkadang juga, jika bunda masak cukup banyak, maka sang asisten tak perlu memasak lagi untuk dirinya dan suami. Asistennya hanya turut membantu. Hanya makan siang dan pada saat darurat atau saat bunda sedang keluar kota saja, baru asistennya yang memasak.
Kali ini bunda akan memasak menu favorit putranya. Yakni capcay seafood. Juga dengan menu lainnya. Dibantu dengan asistennya, bunda sangat senang saat memasak bersama asistennya. Karena asistennya pun juga pandai memasak dan cukup cekatan di dapur. Di sela-sela kesibukan memasak, bunda dan asistennya, sebut saja bik jumi, mereka terkadang tertawa dengan candaan-candaan dan cerita lucu yang bik jumi lontarkan. Jadi acara memasaknya tak terasa membosankan.
90 menit berlalu. Semua menu makan malam kali ini sudah siap dan tertata rapi di meja makan. Bunda beranjak dan berjalan menuju kamar sang putra untuk bersiap makan malam.
"Riannn... Sayang, kau sedang apa.?" panggil bunda sambil memutar knop pintu.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya bunda saat membuka pintu tapi tak menemukan keberadaan putranya di dalam. Ia pun segera kembali ke dapur untuk bertanya pada bik jumi.
"Bik, apa Rian tadi sudah pulang?" tanya bunda.
"Belum nyonya. Sejak tadi siang bibik belum melihat kedatangan den Rian." jawab bik jumi.
Seketika bunda di landa kepanikan. Ia segera mengambil ponsel dan hendak menghubungi anaknya. Tapi belum juga panggilan terhubung ia langsung memutuskannya ketika menyadari bahwa anaknya tak pernah membawa ponsel ketika ke sekolah. Hanya pada saat-saat tertentu saja. Seperti saat ada acara di sekolahnya.
Bunda bingung harus bagaimana sekarang. Tak biasanya Rian pulang telat sampai larut begini. Bunda berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa untuk menenangkan diri. Ia berfikir bagaimana caranya ia bisa menghubungi anaknya. Biasanya Rian akan menghubungi bundanya dengan nomor temannya jika ada keperluan mendadak yang mengharuskannya pulang terlambat.
Tapi ini tak ada kabar apa pun dari Rian. Bunda mencoba menghubungi nomor teman-teman Rian yang di punya. Tapi mereka semua tak bersama Rian dan tak ada yang mengetahui keberadaan Rian. Bunda masih bingung. Ia khawatir dengan keadaan putra semata wayangnya. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan menyangga pada kedua lututnya.
Bunda menurunkan tangannya dan mengambil ponsel di atas meja. Mata bunda membulat karena terkejut. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.50., namun Rian masih belum kunjung pulang. Ke-khawatiran bunda semakin menjadi. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada putra tunggalnya itu.
"Assalamu..." belum selesai ia mengucap salam, Rian terkejut dengan keberadaan bunda yang tepat berada di depan pintu. Ia pun mengusap-usap dadanya.
Sesaat ia menatap seram pada sang bunda yang menatapnya tajam namun dengan mata yang telah memerah. Susah payah ia menelan salivanya. Sedetik kemudian Bunda berhambur memeluk sang putra yang telah sejak tadi ia khawatirkan keadaannya. Tak dapat terbendung lagi. Air mata pun tumpah di pipi sang bunda hingga menetes ke seragam Rian. Lagi-lagi Rian terkejut dengan Bunda yang tiba-tiba memeluknya.
Bunda mengurai pelukannya dan segera menarik Rian ke kamar. Bunda menarik tas yang berada di bahu Rian dan melemparnya ke atas ranjang. Lalu menariknya lagi ke dalam kamar mandi kemudian memutar kran dan menyalakan shower. Kemudian bunda mengguyur Rian dengan air shower yang sangat dingin, karena bunda memang memutar kran ke mode air dingin.
Rian terperanjat kaget dan berusaha menarik shower yang bunda pegang. Namun guyuran air menghalangi penglihatannya hingga ia kesulitan meraih shower tersebut. Karena tak dapat meraih shower yang memang terus diarahkan tepat ke kepala Rian, akhirnya Rian memutuskan untuk mendekat ke dinding dan meraba-raba mencari kran showernya. Dan ia pun mematikan aliran shower tersebut.
Rian mengusap-usap wajahnya yang penuh dengan air. Lalu ia juga mengusap-usap lengannya karena kedinginan, sambil ia menatap heran pada sang bunda. Bunda yang di tatap pun ikut menatap tajam pada Rian. Lalu Rian memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.
__ADS_1
"B-Bunda kenapa.?" tanya Rian dengan bibir bergetar karena kedinginan.
Bunda masih terdiam. Tapi beberapa saat kemudian, shower yang masih di pegangnya ia buang lalu berlari memeluk Rian kembali. Tak peduli pakaiannya yang ikut basah. Bunda memeluk Rian dengan berurai air mata. Rian hanya terdiam. Ia tak berkutik, bahkan untuk membalas pelukan bunda pun tidak. Rian hanya diam dengan kedua tangan yang mendekap tubuhnya sendiri.
Lalu Bunda mengurai pelukannya. Masih dengan wajah yang basar karena air mata, bunda berkata;
"Maafkan bunda. Bunda tak bermaksud menyakitimu dengan mengguyurmu dengan air dingin. Bunda.....Bunda hanya khawatir saja dengan keadaanmu sayang." jelas bunda susah payah dengan bibir bergetar karena tangisnya.
Rian masih terdiam. Ia berusaha mencerna ucapan Bunda barusan. Karena kedinginan, ia jadi sedikit lambat berpikir. Detik kemudian Rian mengangguk paham. Bunda memeluknya kembali, sesaat lalu melepaskannya dan berlari mencari handuk. Bunda mengeringkan tubuh Rian sebisanya. lalu ia mengambil handuk lagi untuk di berikan pada Rian.
"Keringkan tubuhmu, dan segeralah turun setelah sholat. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bunda akan menunggumu di ruang makan." titah bunda setelah memyerahkan handuk. Ketegasannya kembali walau dengan mata yang sembab karena tangis.
Sebenarnya Rian....
*****
good reader... good heart... good finger...
hehehehee.....
Apa sih... gajee...
tetap dukung karya otor yaa....
__ADS_1
Luv yu all....