The Calm Girl

The Calm Girl
06


__ADS_3

Karti ikut pulang bersama Wati karena kakaknya terlambat untuk menjemputnya. Daripada ia menunggu di sekolah dan tak ada teman, ia pun akhirnya ikut dengan Wati.


"Kamu udah kabarin kakakmu kalo kamu ikut sama aku.?" tanya Wati.


"Udah kok neng. Tenang aja." jawab Karti.


'Neng' adalah panggilan akrab diantara mereka berdua. Sejak beberapa hari bersama,mereka memutuskan untuk bersahabat. Dan panggilan itu muncul dengan sendirinya. Tanpa ada rencana ataupun kesepakatan. Dan yang memanggil 'neng' pertama kali adalah Karti dan Wati pun mengikuti.


"Beneran ya.? Awas aja nanti kalo kakakmu marah sama aku karena bawa kamu kerumah tanpa izin darinya....." ancam Wati.


"Iya, Neng. Tapi aku udah kirim pesan ke kakakku." jawab Karti.


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Wati. Karti dan Wati turun dari motor lalu menuju pintu masuk yang didahului Wati, dan diikuti oleh Karti di belakangnya.


"Assalamualaikum. " salam Wati sambil menekan handle pintu untuk membukanya.


"Waalaikumsalam " jawab suara dari dalam.


Wati terus masuk. Karti hendak melepas sepatunya tapi Wati melarang. Karena lantai rumah masih berlantai semen kasar, belum halus. Dan mereka lanjut masuk ke dalam.


Dari dalam ada yang muncul. Ternyata nenek Surti, neneknya Wati. Beliau mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Wati dan menciumnya.


"Dah pulang, Ti. ?" tanya nenek. Belum di jawab, nenek sudah bertanya lagi. "Loh ini siap Ti? Temen kamu?" tanya nenek lagi setelah melihat Karti muncul dari belakang Wati.


"Iya Nek" jawab Wati sambil sedikit mundur memberi ruang agar nenek dan Karti bertemu.


"Iya nek. Saya karti. Temen Wati di sekolah" jawab Karti tersenyum kemudian menyambut tangan nenek dan di cium punggung tangannya.


"Owh. Iya nak. Alhamdulillah. Akhirnya Wati bisa berteman dengan orang lain. Biasanya dia kalo bukan teman sekampung belum tentu bisa dekat. Tapi ini malah sampe di ajak pulang bareng." terang nenek kepada Karti.


Karti pun mengangguk dan ber-ohh saja. Dia juga berfikir benarkah sifat sahabatnya seperti itu.


"Tapi klo di sekolah kayaknya dia biasa aja gitu. Sama yang lain juga kadang dia bicara." gumam Karti dalam hati.


Nenek mempersilahkan Karti untuk duduk menunggu kakaknya datang. Sementara Wati masuk kamar untuk berganti pakaian. Tak lama Wati kembali menemui Karti yang menunggu di ruang tamu.


"Kakakmu belum dateng neng?"tanya Wati sambil mendudukkan dirinya di kursi di sebelah Karti.


" Belum neng. Ini katanya masih di jalan" jawab Karti sambil mengutak atik ponselnya.

__ADS_1


Wati mengangguk, "Emm.. oiya emang kakakmu udah tau dimana rumah aku." tanya Wati lagi.


Menoleh ke Wati, dan menggeleng. "Oiya ya. Kakakku kan belum tau rumah kamu. Trus gimana dia kesininya. Nyasar gak ya dia nanti. Ntar kalo nyasar gimana?" deretan pertanyaan Karti.


"Udah.. kamu jangan langsung khawatir gitu. Kakakmu kan bisa tanya-tanya sama orang." jawab Wati menenangkan Karti.


"Iya sih neng. Tapi kan kakakku belum pernah ke daerah sini." risau Karti.


"Udah. kamu tenang aja. Kakakmu pasti gak akan nyasar kok." sahut Wati.


Tak lama kemudian ada suara deru motor di depan rumah Wati.


"Itu kakakku bukan?" tanya Karti memastikan sambil melongokkan kepala ke arah pintu.


Dan benar. Itu kak Sony. Karti pun melangkah cepat melewati Wati menuju kakaknya sebelum kakaknya benar-benar berada di depan pintu.


"Kakak kok lama banget sih. Ngapain aja coba sampe telat jemput Wati. Pasti lupa ya. Atau main dulu. Atau..." cerocos Karti pada kakaknya sebelum kakaknya membuka mulut untuk mengucap salam. Yang membuat kak Sony hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah adiknya ini.


Wati yang duduk di ruang tamu ikut nyusul keluar karena mendengar Karti berkata tanpa jeda dan menyerang kakaknya dengan berbagai pernyataan. Kemudian membekap mulut Karti dengan tangan kanannya dari belakang agar Karti berhenti berkata dan diam lalu mendengarkan penjelasan dari kakaknya.


Karti yang tiba-tiba di bekap dari belakang langsung berontak mencoba melepaskan tangan Wati dari mulutnya dan ia berhasil.


"Mau ngomong apa.?" tanya Wati singkat.


"Ya aku mau tanya sama kak Sony kenapa dia telat jemput aku. Kenapa dia lama datengnya. kenapa dia mmmm" suara Karti tertahan lagi karena Wati menutup mulut Karti lagi.


Dan berhasil membuat Karti memajukan bibirnya menahan kesal pada sahabatnya itu. Kak Sony yang melihat interaksi dan reaksi kedua sahabat itu hanya cekikikan sendiri. Dan akhirnya gelak tawanya tak tertahan lagi.


"Hahahaha. . Kalian ini bersahabat apa bermusuhan sih. kok malah kaya kucing sama tikus gitu.. " kata kak Sony.


"Apaan sih. Ini nih si Wati.." kata Karti.


"Udah diem." telunjuk Wati menutup mulut Karti dan dengan cepat ditepis oleh Karti. Membuat kak Sony menahan tawanya lagi. Takut nanti mengganggu orang lain.


"Seenggaknya kamu kasih kesempatan kakakmu ngomong dulu. Ayo masuk dulu kak." kata Wati pada Karti kemudian ke kak Sony.


Kak Sony mengangguk dan mereka masuk ke dalam. Kemudian Wati mempersilahkan duduk dan izin ke belakang untuk membuatkan minuman. Sementara Wati masih ke belakang untuk membuat minum, Karti dan kak Sony berbincang.


"Coba jelasin ke aku, kakak kenapa bisa telat jemput Karti sih ?" tanya Karti membuka perbincangan.

__ADS_1


"Iya. Jadi tadi itu kakak udah berangkat dari rumah seperti bias. Tapi di tengah jalan motor kakak ban nya bocor. Jadi kakak nembel ban dulu."


"Trus hp kakak lupa gak dibawa. jadi kakak tadi ke sekolahan. Tapi kamu udah gak ada. Kakak bingung. Untungnya masih ada anak yang belum pulang. Trus kakak dikasih tau kalo kamu pulang sama Wati. "


"Tapi kakak bingung lagi."


"Bingung kenapa lagi kak? " tanya Karti.


"Ya bingung lah. Kakak kan belum tau rumah Wati dimana."


"Trus kakak kok bisa sampe sini?" tanya Karti lagi.


"Ya untungnya anak yang tadi kasih tau kakak. Dia juga tau rumah Karti dimana. Jadi dia juga tadi nganterin kakak sampe sini." jelas kak Sony panjang lebar pada Karti.


Wati kembali dengan baki di tangan. Berisikan 2 cangkir teh dan 1 toples camilan. Dan Wati juga mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan kak Sony.


"Dia siapa kak? Kok dia tau rumah aku. Di daerah sini kan cuma Wati yang sekolah disana." tanya Wati kemudian meletakkan baki di meja dan mempersilahkan kak Sony dan Karti untuk minum teh dan makan camilan itu.


"Makasih Wati. Iya tadi anak itu bilang kalo dia sayang taman di sekitar sini dan dia sering main ke daerah sini. Makanya dia tau rumah kamu karena dia sering lihat kamu disini" jawab kak Sony.


Karti ngangguk paham. Tapi Wati diam dan berfikir siapa dia dan di tanyakan pada kak Sony.


"Emangnya anak itu siapa kak? Namanya siapa?" tanya Wati.


"Namanya..." plak, kak Sony menepuk jidatnya. "Duh kakak lupa tadi gak tanya namanya" sambungnya.


"Lah gimana bisa lupa nanya nama? " tanya Karti.


"Iya soalnya tadi kakak udah khawatir sama kamu. Dan dia bilang kalo dia tau kamu pulang bareng Wati. Ya udah kakak suruh dia anterin kakak kesini karena dia tau rumah Wati. Trus abis itu udah dia pergi lagi. Dia juga gak nyebutin namanya. Dia cuma bilang kalo dia temen kalian. Gitu aja" jelas kak Sony.


Karti dan Wati ber-ohh saja dan mengangguk - anggukan kepala.


*****


Sorry readers. Author abis rewangan. Jadi gak sempet nulis. ini aja Author usahain nulis dulu.


Tetep suport karya author ya.


Like dan komennya.

__ADS_1


Thank you. 😙


__ADS_2