
HAPPY READING
*****
Di rumah Wati jadi lebih ramai. Karena kehadiran Karti dan kak Sony. Mereka berbincang dan bercanda ria di ruang tamu. Mereka tertawa bersama karena lelucon-lelucon dari kak Sony dan cerita-cerita lucu mereka.
Sementara mereka bercengkerama di dalam rumah, ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Dia bergabung dengan para remaja yang sedang bermain di depan rumah salah satu dari mereka.
"Woy, broo. Bengong aja. Kesambet lu ntar." kata salah satu dari mereka mengejutkan.
"Eh. Sorry - sorry." jawabnya.
"Woy, Yan. Lu mikirin apa sih. Kok dari tadi bengong mulu. Liatin ke arah sana lagi. Liatin apaan sih lu?" tanya Rahmat.
"Eh. Iya btw nama lu siapa sih. Lu sering ikut kumpul disini bareng kita-kita tapi gue belum tau nama lu siapa. Gue tau nya si Rahmat manggil lu 'Yan'. Emang nama asli lu siapa?" tanya Wahyu, salah satu teman Rahmat yang ikut kumpul disana.
"Oh iya. Gue lupa belum ngenalin dia sama lu orang." kata Rahmat yang duduk di kursi. Kemudian dia berdiri mendekati mereka.
"Kenalin nih gays. Dia ini Rian, temen smp gue." kata Rahmat memperkenalkan Rian kepada teman-temannya.
Iyeahh. Dia lah Rian. Rian emang sering datang ke kampung itu. Hanya sekedar mengikuti dan menyelidiki kasus Wati. Dan untuk menghindari kecurigaan warga setempat, Rian mencari kumpulan anak remaja yang ada disana. Dan tak di sangka , ada Rahmat disana. Rahmat adalah teman Rian waktu masih duduk di bangku SMP. Mereka sempat berteman baik. Tapi mereka harus berpisah saat setelah lulus. Karena mereka melanjutkan ke sekolah yang berbeda.
"Rian." kata Rian kepada mereka sambil mengulurkan tangan.
"Owh. Rian. Kenalin, gue Wahyu. Gue juga temen Rahmat sekarang. Kita satu kelas." kata Wahyu dengan menyambut uluran tangan Rian. "Jadi sekarang, kita juga teman ya." sambungnya kemudian mengepalkan tangan ke arah Rian dan Rian mengepalkan tangan juga kemudian menyatukannya.
Dan bergantian dengan teman-teman yang lain. Mereka juga memperkenalkan nama mereka masing-masing kepada Rian. Kemudian mereka bercengkerama bersama. Nongkrong sambil main game dan ngobrol - ngobrol.
Tak lama kemudian terlihat kak Sony dan Karti lewat depan rumah rahmat, tempat mereka kumpul. Dan Rian juga akhirnya ikut pamit pulang tak lama setelah Karti dan kakaknya lewat.
"Temen-temen, saya pulang duluan ya. Besok kita sambung lagi ngobrolnya. " kata Rian kepada mereka.
"Yah, mau kemana sih lu. Baru juga jam segini udah pamitan aja." kata seorang dari mereka.
"Iya, mau kemana sih? Buru-buru amat" tanya seorang lagi.
"Iya , Yan. Lu mau kemana kok buru-buru amat mau pulang. Apa ada acara?" tanya Rahmat kepada Rian.
__ADS_1
"Iya, Mat. Saya lupa tadi, saya mau beli bahan buat kaligrafi" jawab Rian sekenanya.
"Oohh... Ya sudah. Lu ati-ati di jalan ya." ucap Rahmat. Di tanggapi anggukan oleh Rian.
"Oiya, Yan. Kalo jatoh bangun ndiri ya." canda Wahyu. Yang lain tertawa dan Rian hanya tersenyum.
"Canda broo. Ya udah ati-ati ya." kata Wahyu kemudian.
Rian pun menaiki motornya dan bergegas meninggalkan tempat nongkrong itu. Rian masih tidak tenang karena memikirkan Wati. Tanpa sadar dia belok dan berhenti di toko ATK dan fotocopy.
"Lah, kenapa saya berhenti di sini ya" tanya Rian pada dirinya sendiri.
Ia bingung kenapa tiba-tiba dia malah berhenti di toko ATK. Sedangkan dia tadi masih memikirkan tentang Wati. Tapi ia pun memikirkan sesuatu dan masuk ke toko itu.
"Ahaa. Saya tau saya mau beli apa disini." gumam Rian.
Rian akhirnya memutuskan masuk toko untuk membeli sesuatu. Dan dia terlihat mondar mandir memilah sesuatu yang tak tau apa yang hendak dia beli.
Kira-kira apa ya yang mau di beli Rian. 😉
*
Iya, dengan neneknya. Karena ibunya akan pulang menjelang petang. Ibunya Wati bekerja bersama bapak dan kakaknya, anak sulung dari bapak dan ibu.
Wati membantu nenek memotong sayur dan nenek menyiapkan bumbunya. Setelah semua siap, Wati yang melanjutkan memasak. Nenek hanya memberi arahan cara memasaknya sampai selesai.
Setelah selesai memasak dan menata di meja makan, Wati membersihkan diri. Setelah ia selesai ia menyuruh adik-adiknya untuk membersihkan diri mereka juga.
Tak lama, bapak dan ibu serta kakak sudah pulang. Mereka terlihat begitu lelah. Wati melihat mereka dari jendela kamarnya. Iya merasa sedih dengan keadaan keluarganya. Tak terasa air mata pun mengalir dari pelupuk matanya melewati pipi.
Secepatnya ia mengusap air matanya dn beranjak menghampiri orang tua dan kakaknya. Ia tidak mau orang tuanya melihat kesedihan dari wajahnya.
"Pak, buk. Udah pulang." sapa Wati.
"Iya. Kamu udah mandi?" tanya bawak Wati.
"Udah pak."
__ADS_1
"Adik-adikmu juga udah mandi"
"Raina udah mandi, sekarang lagi pakai baju. Kalo Vina lagi mandi belum selesai. "
"Emm. Ahmad mana?" tanya ibu.
"Lagi asyik main tuh sama Angga. Dari tadi di panggil gak mau pulang."
"Hmm. Anak itu kalo udah main pasti sampe lupa waktu. " kata ibu sambil geleng-geleng kepala.
"Ya udah bapak sama ibu mandi aja dulu. Nanti Wati panggil lagi si Ahmad."
Percakapan Wati dan orang tuanya sore itu. Lalu mereka mandi. Sementara Wati kembali mencari Ahmad.
"Eh, Mad. Tuh ada kak Wati. kayaknya dia nyariin kamu tuh." kata Angga pada Ahmad saat melihat Wati celingukan di depan rumahnya.
"Ahh.. Iya udah deh. Aku pulang dulu ya. Besok kita lanjut main lagi." kata Ahmad.
"Ya udah sana. Ntar kena semprot lagi kamu kalo gak cepet pulang."
"Oiya. Mungkin juga bapak sama ibu udah pulang. Waduhhh. Bahaya nih." Ahmad langsung beranjak pulang kala mengingat waktu sudah sore dan sudah saatnya orang tuanya pulang.
Ahmad langsung berlari menuju rumah. Tak peduli ia melewati kakaknya, Wati. Ia takut kalau orang tuanya sudah pulang dan dia belum pulang dari main apalagi belum mandi. Dia pasti bakal di marahi lagi oleh bapak.
Wati yang dilewati begitu saja hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya yang satu ini. Biar bagaimana pun Wati tetap menyayanginya. walau dia sering membuat orang marah, tapi terkadang dia juga bisa buat lelucon. Dan dia itu anak bungsu, makanya lebih sering membuat kesalahan. Biasa lah, cari perhatian orang lain. 😁
Kemudian Wati berjalan kembali ke rumah sendiri. Karena sang adik yang di cari sudah berlari pulang mendahuluinya.
*****
Dukung terus karya author.
Dengan ringan memberi like.
Komennya juga.
Vote juga ya..
__ADS_1
Thank you. 😙