
"Sekarang coba ceritain ke bunda, apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai kamu pulang seterlambat seperti tadi.?" tanya bunda.
Makan malam sudah selesai. Kini bunda dan Rian sudah berada di ruang keluarga. Rian duduk di hadapan Bunda dengan meja sebagai pembatasnya.
"Emm. iya Bunda. Rian akan cerita. Tapi apa bunda mau percaya sama cerita Rian ini.?" jawab Rian juga dengan balik tanya.
Bunda mengerutkan kening bingung. Lalu bunda berusaha menetralkan dirinya. Bunda tersenyum dan mengangguk.
"Katakan saja. Apapun ceritanya, Bunda akan berusaha untuk menerimanya jika masuk akal." ucap bunda.
"Tuh kan. Bunda aja udah bilang gitu. Pasti nanti bunda gak akan percaya. Karena cerita ini menurut logika emang gak masuk akal. Tapi inilah yang Rian alami." sahut Rian.
"Okey..okey... Bunda akan percaya apapun cerita kamu. Yang penting kamu ceritain dulu apa yang sebenar-benarnya tanpa ada yang kamu tutupin atau kamu ilangin." ucap bunda.
"Iya bunda. Lagian emangnya Rian pernah gak cerita yang sebenarnya ke bunda. Kan emang selama ini juga Rian cerita apapun ke bunda. Kalo gak ke bunda, Rian mau cerita ke siapa lagi." wajah Rian menjadi sendu setelah mengatakan ini.
Bunda mengerti apa yang di rasakan putranya kini. Bunda beranjak mendekati Rian dan duduk di sebelahnya. Bunda memeluk Rian dan mengelus punggungnya agar tak berlarut dalam kesedihan.
Bunda tahu bahwa anaknya selama ini hanya berusaha tetap kuat di luar. Tapi Bunda mengerti bahwa anaknya ini tak sekuat itu. Setelah kepergian ayahnya beberapa tahun lalu, bunda sering memergoki Rian diam-diam menangis di dalam kamarnya sambil memeluk figura sang ayah.
Rian tersadar dan segera melepas pelukan sang bunda. Ia menatap sang bunda dan sedikit menggeser duduknya sehingga ada jarak antara dirinya dan bunda.
"Bunda kenapa?" tanya Rian saat menyadari bahwa bunda telah menangis.
Segera bunda mengusap sisa air mata dari pipinya kemudian tersenyum dan menggeleng.
"Bunda gak apa-apa. Sekarang kamu cerita aja apa yang harusnya kamu ceritakan." jawab bunda.
"Tapi bunda. Bunda beneran gak pa-pa. Tapi kenapa bunda nangis.?" tanya Rian lagi.
__ADS_1
Bunda hanya menggeleng. Lalu mengusap lengan Rian untuk meyakinkan anaknya bahwa ia benar-benar tidak apa-apa. Rian memegang tangan bunda yang mengusap lengannya lalu menggenggamnya. Rian menatap mata bunda lamat-lamat. Ia merasa ada yang di sembunyikan oleh sang bunda. Tapi ia tak ingin ambil pusing soal itu, ia akan mencari tahu secara perlahan.
"Okey. kalo bunda emang gak pa-pa, Rian akan cerita sekarang." Rian mengalah dan segera menceritakan yang sebenarnya terjadi.
Berawal dari sepulang sekolah ia mengantar Wati kerumahnya karena pingsan, dan ngobrol cukup lama disana serta sempat bertemu dengan orang tua Wati juga. Berlanjut pada saat ia jalan pulang dan merasa di ikuti sejak dari persimpangan setelah keluar dari gang perumahan Wati. Sampai ia bertemu dengan 4 sosok remaja yang meminta bantuannya.
"Maksud kamu, 4 sosok remaja itu minta bantuan dari kamu karena cuma kamu yang bisa lihat mereka dengan jelas dan sadar.?" tanya Bunda keheranan dan sedikit khawatir pada anaknya.
"Ia bunda. Jadi mereka itu awalnya ngikutin Rian dengan sosok manusianya. Awalnya juga Rian kira mereka itu manusia, sama seperti Rian. Tapi ternyata wujud mereka berubah menjadi wujud mereka yang sebenarnya setelah ada warga yang negur Rian untuk gak lama-lama di daerah situ. Rian kira mereka udah ngikutin Rian sejak di persimpangan. Tapi ternyata tidak. Mereka sosok lain yang memang ngikutin Rian sejak masuk daerah situ aja. Lalu mereka meminta pada Rian untuk membantu mereka." jelas Rian.
"Memangnya mereka minta bantuan apa.?" tanya bunda.
"Mereka minta Rian bantu mereka untuk..."
gubrakkkk...
Rian dan Bunda terjingkat karena tiba-tiba mendengar suara dentuman yang cukup keras seperti benda jatuh. Serentak Bunda dan Rian menoleh ke arah kamar Rian, karena suaranya seperti berasal dari sana. Lalu mereka saling tatap dan sama-sama kesulitan untuk menelan saliva masing-masing.
Perlahan mereka mendekati kamar Rian. Setelah berada di depan kamar, mereka berhenti dan saling tatap. Bunda memberi kode supaya Rian segera membuka pintunya. Awalnya Rian menolak karena ia juga merasa takut. Namun akhirnya ia mengalah dan berusaha membuka pintunya. Dengan tubuh yang sedikit tegang dan tangan gemetar, perlahan Rian memegang knop pintu lalu memutarnya.
Dannn....
***
Wati membantu Nenek dan Rania yang sudah lebih dulu menata makan malam di meja makan. Terasa sunyi, karena Wati terlihat murung. Biasanya Wati akan banyak komentar tentang tata letak sayur dan lauk yang di tata di meja. Namun kali ini tidak, Wati lebih banyak diam seperti sedang memikirkan sesuatu, tapiii.. ntah apa yang di pikirkannya. Nenek dan Rania saling senggol menatap Wati. Lalu Rania berusaha mencairkan suasana dengan bertanya pada Wati.
"Eh kak..kak... Kakak tau gak. Ntar malem, k-movie favorit kakak tayang loh di jam 23.30. Kakak mau nonton gak.? Kalo mau nonton, ajak-ajak Rania ya. Rania juga pengen nonton. Pengen liat oppa Ji Chang Wook. Ya kak..yaa." ucap Rania.
Tak ada tanggapan dari Wati. Dia melamun dan sama sekali tak mendengarkan perkataan Rania barusan. Rania hanya menggeleng. Ia heran dengan kakaknya yang kini malah melamun. Lalu Rania bermaksud untuk mengerjai kakaknya itu. Ia pun menarik sudut bibirnya sambil menjentikkan jari. Lalu ia pergi meninggalkan kakak dan neneknya di ruang makan.
__ADS_1
Ntah apa yang akan di lakukan oleh Rania. Tapi tak begitu lama, kemudian ia kembali dengan membawa ponsel sang kakak. Lalu ia mencoba berpura-pura untuk menelpon seseorang.
"Halo kak... Iya ini Rania adiknya kak Wati. Kakak bisa kesini gak. Tolongin kak Wati. Dia kelihatan aneh tau kak. Kak Rian bisa kan kesini sekarang."
Seketika Wati mendongak menatap Rania. Ia sedikit terkejut setelah Rania mengebut nama Rian. Iya..Rania berkata demikian karena dia sudah tahu bahwa selama ini Rian sudah sering membantu kakaknya saat sedang di ganggu makhluk. Apalagi tadi siang dia sempat melihat kakaknya yang mengobrol santai (menurutnya) dan dapat tertawa lepas dengan orang lain setelah kakaknya pernah mengalami kekecewaan dalam cinta semasa SMP dulu.
Dengan begitu, Rania berpikir bahwa Rian adalah orang yang bisa merubah kakaknya menjadi pribadi yang ceria seperti dulu. Tidak lagi pendiam dan tertutup seperti saat ini. Maka dari itu Rania menggunakan nama Rian untuk memancing kakaknya bicara saat ini. Dan itu berhasil.
Wati yang mendengar nama orang yang sedang ia pikirkan langsung mendongak menatap Rania. Iya,, Wati tadi sedang memikirkan Rian. Lalu dia beranjak mendekat dan hendak merebut ponselnya dari tangan Rania. Namun Rania mengelak.
"Dek. Kemarikan ponsel kakak. Dan kenapa kamu bicara seperti itu pada Rian.?" ucap Wati.
"Siapa yang bicara pada kak Rian.?" elak Rania.
"Lantas,, barusan kau bicara pada siapa.?" tanya Wati lagi.
"Aku tak bicara pada siapa pun" jawab Rania dengan memperlihatkan ponselnya yang masih dalam keadaan terkunci dan tidak sedang melakukan panggilan.
Wati berdecak kesal. Dia berusaha merebut ponsel itu. Beberapa saat kemudian dia menang. Dia mendapatkan ponsel tersebut. Lalu dia memeriksa ponselnya dan juga catatan panggilannya. Memang tak ada catatan panggilan yang baru saja terjadi. Dia menghela napas lega dan segera pergi ke kamarnya.
Setelahh ituu...
*****
Bagaimana dengan Rian dan Bunda.?
Apakah Wati bisa merasakan apa yang di rasakan Rian dari kejauhan.
Bagaimana kelanjutannya.?
__ADS_1
Baca terus karya otor ya.
Luv yu all.