
Perlahan Wati membuka mata dan beberapa kali Wati mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya. Ia tersadar dan melihat sekitar menyadari berada di ruang UKS sekolahnya. Lalu ia mencoba bangkit untuk duduk namun tak kuat karena sakit yang menyerang kepalanya dan ia pun terbaring kembali di brankar UKS. Karti yang mendengar suara dari dalam langsung lari masuk ruangan.
"Wati. Kamu dah sadar neng. Sebentar ya." ucap Karti setelah masuk ruangan dan mendapati Wati yang telah sadar dan memegangi pelipisnya dengan mata terpejam.
Karti kembali keluar setelah kantong plastik yang tadi di bawa dari luar ia letakkan di atas nakas. Mungkin ia habis membeli makanan dari kantin. Tak lama kemudian ia kembali lagi bersama dengan Rian dan seorang guru.
"Wati. Kamu gak apa-apa kan.?" tanya bu Indah.
Wati hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Gimana perasaan kamu? Apa yang kamu rasakan.?" tanya bu Indah lagi.
"Masih sedikit pusing saja buk." sahut Wati dengan suara yang lirih.
"Baiklah, kamu istirahat dulu sebentar. Nanti kalau sudah merasa lebih baik atau pusing nya sudah berkurang, kamu boleh pulang. Tapi jangan di paksakan ya. Mengerti?" ucap bu Indah lalu pergi meninggalkan mereka ber-3 setelah berpamitan.
Karti duduk di sisi brankar tempat Wati terbaring. Rian mengambil kursi dari balik meja pencatatan daftar pengunjung UKS dan duduk di sebelah dekat brankar. Wati kembali menutup matanya sambil memijat pelipisnya sendiri.
"Neng..." belum sempat Karti bicara, Rian sudah memberi isyarat supaya tak banyak bicara dulu. Apalagi menanyakan apa yang terjadi tadi. Karena Rian takut Wati kembali merasa tertekan. Karti mengangguk mengerti apa yang di maksud Rian.
"Neng, kamu mau makan? Tadi aku udah belikan siomay kesukaan kamu di kantin tadi." ucap Karti kembali membuka suara.
Wati hanya menggeleng tanpa bersuara dan masih dengan mata terpejam.
"Kalau gitu, kamu minum dulu. Dari setelah tersadar tadi kan kamu belum minum." Wati mengangguk.
Karti turun dan berjalan sedikit menuju nakas dan mengambil air mineral yang tadi sudah ia beli juga. Ia membuka tutup botolnya dan memasukkan pipet yang tadi dibawa dari kantin juga, supaya Wati lebih mudah meminumnya. Karti mendekatkan pipet ke mulut Wati dan perlahan Wati meminumnya. Mungkin hanya dua teguk ia minum.
__ADS_1
Setelahnya, Karti meletakkan kembali botol air mineral itu ke atas nakas. Wati belum menyadari jika disana juga ada Rian. Sebab terhalangi oleh tubuh Karti, karena Rian berada di belakang Karti berdiri. Sampai ia membuka suara.
"Wati,." Karti yang kemudian menggeser tubuhnya ke samping dan memberi akses untuk Rian bicara dengan Wati.
Wati yang mendengar suara orang lain langsung membuka mata lebar memandang lurus ke depan seraya berpikir, "Rian juga ada disini" gumamnya dalam hati. Lalu kembali memejamkan mata karena masih merasa pusing di kepalanya.
Karti memandang Rian yang tak melanjutkan bicaranya. Dan mengangkat dagunya seolah bertanya, "Kenapa diam?".
Rian menoleh ke arah Karti dan menggeleng pelan. Ia tahu apa yang di rasakan Wati saat ini. Makanya ia memilih diam kembali tanpa melanjutkan bicara.
Karti menghela nafas, " Neng, aku pulang duluan ya. Soalnya kak Sony udah nungguin di depan sekolahan dari tadi."
Wati menoleh menatap tajam pada Karti seolah berkata, "Apa kamu bilang, pulang.?! Terus aku gimana?" ucapnya dalam hati.
Karti langsung meringis. Ia mengerti, walau Wati berbicara tanpa suara. Tapi Karti mengerti apa maksud dari tatapannya yang tajam barusan.
"Ehehe.. Iya aku ngerti. Makanya aku izin dulu sama kamu untuk aku yang mau pulang duluan." Wati memalingkan wajahnya. Karti menoleh ke arah Rian bersamaan Rian juga menoleh ke Karti. Mereka saling pandang melempar tanda tanya tanpa suara.
Pernyataan dan pertanyaan Karti sukses membuat Wati dan Rian menatapnya tajam seolah mereka berkata, "Maksud kamu apa?"
Lagi, Karti meringis mendapat tatapan itu dari dua orang sekaligus. Karti menggaruk kepalanya yang tak gatal dari balik jilbabnya.
"Iya,, iya... Aku ngerti kok. Tapi... kamu pulangnya di antar sama Rian ya.?" kembali mereka berdua melotot pada Karti.
"Aduduhh... kalian ini kompak banget ya kalo urusan melototin orang." Wati menghela nafas kasar dan Rian menunduk menatap lantai.
"Maksud aku itu, kamu kan bawa motor sendiri, tapi kamu juga kan masih lemes neng. Nanti kalo kamu bawa itu motor sendiri terus jatuh gimana.? Mending kamu di anter Rian. Dia kan boncengan sama Yasha dan Yasha yang bawa motor hari ini. Yasha juga masih nunggu di luar sama kakakku. Nanti kita ikutin kalian dari belakang deh. Yaa..." terang Karti panjang lebar.
__ADS_1
Wati kembali memejamkan matanya seraya berpikir apakah dia terima usulan Karti barusan atau tidak. Karena memang dia masih merasakan pusing di kepalanya. Dari pada dia harus istirahat disini dan di tinggal berdua saja dengan Rian. Ia akan lebih memilih di antar pulang saja dan akan istirahat di rumah.
Rian mendongak menatap Wati yang terlihat sedang berpikir. Lalu menatap Karti yang sama-sama menunggu jawaban dari Wati.
"Jangan lama-lama mikirnya neng. Kalo kelamaan aku pulang duluan loh ini." ucap Karti memecah keheningan di antara mereka.
Wati segera membuka mata, "Iya..iya. Aku mau... Aku mau pulang aja dan lanjut istirahat di rumah."
"Nah gitu dong dari tadi kek jawabnya. Mau ngomong gitu aja lama bener mikirnya, sampe lumutan nih yang nungguin." sempet-sempetnya Karti melempar candaan.
Wati mengulas senyuman tipis dan hal itu membuat Rian menarik sudut bibirnya. Ia pun merasakan lega karena Wati sudah tersenyum lagi. Karena sedari ia sadar tadi kan Wati tidak tersenyum sama sekali.
Karti segera mengambil tas milik Wati yang berada di sofa dalam ruangan. Kemudian membantu Wati untuk bangkit dan turun perlahan dari brankar. Mereka berjalan le parkiran setelah laporan ke kantor guru bahwa mereka akan pulang.
Sesuai rencana tadi, Wati pulang di bonceng dan dia antar oleh Rian. Karti sudah berjalan ke luar area sekolah untuk menemui kakak nya juga Yasha, dan mereka pun melaju beriringan di belakang setelah motor yang membawa Wati melaju di depan.
Rian mengendara motor begitu pelan, takut Wati akan terjatuh juga sih. Jadi terasa sangat lama untuk sampai di rumah Wati. Dan selama di perjalanan, tak ada yang memulai bicara di antara mereka berdua. Hingga 15 menit kemudian, mereka sampai di rumah Wati. Wati segera turun namun perlahan karena pandangannya masih melayang. Ia turun dengan memegang kepalanya dan satu tangan lagi berpegangan pada motornya.
Karti ikut turun dan membantu Wati untuk masuk ke dalam rumah. Nek Surti yang kebetulan berada di luar rumah segera menghampiri dengan raut wajah yang khawatir.
"Nduk, Wati. Kenapa ini nduk.?" tanya nenek pada Karti setelah membukakan pintu kemudian masuk dan mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu yang sempit itu.
"Wati tadi pingsan nek." jawab Karti.
"Ya Allah. Kok bisa, kenapa bisa pingsan nduk?" tanya nek Surti.
*****
__ADS_1
rewang.. nyumbang...
rewang.. nyumbang... 😌😌😌