The Calm Girl

The Calm Girl
22 Keresahan Hati


__ADS_3

Triririringgg...


Lagi-lagi Bunda dan Rian kembali di kejutkan dengan suara dering ponsel Rian yang ada di sakunya. Bunda dan Rian sama-sama mengelus dada.


"Huufft.. Ngagetin aja hp km tuh." sungut bunda pada Rian.


"Ya maaf bun. Rian juga kan gak tau kalo ni hp mau bunyi." ucap Rian sambil mengambil hp di kantongnya.


"Siapa,?" tanya Bunda setelah Rian melihat layar ponselnya.


"Emmh.. ini temen Rian bun." jawab Rian.


"Ya udah. Angkat dulu, siapa tahu itu penting."


Rian mengangguk dan menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.


"Assalamualaikum."


***


Wati masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang dan melihat-lihat ponselnya. Tiba-tiba perasaannya tak tenang kembali. Dadanya terasa berdenyut nyeri. Sepertinya memang ada hal yang tak beres telah terjadi.


Ia mengutak atik ponselnya lagi. Masuk ke ikon panggilan. Ia ingin menelpon seseorang, tapi saat hendak menekan nomor yang hendak ia telpon tiba-tiba ia berhenti. Ia jadi ragu untuk melakukan panggilan telepon.


"Emm. Gak jadi ah. Takutnya ntar ganggu dia lagi." gumam Wati pada dirinya sendiri.


Wati meletakkan ponselnya ke ranjang dan berdiri hendak kembali ke ruang makan. Saat hendak membuka pintu ternyata pintu dibuka dari luar sehingga kepala Wati terbentur pintu.


Dukkk..


"Aawww....." rintih Wati sambil memegangi dahinya yang terbentur pintu. Ia mundur dan duduk kembali di tepi ranjang.


Rania yang terkejut dengan rintihan kakaknya yang cukup keras saat membuka pintu lun ikut terkejut. Ia langsung menghampiri sang kakak dan hendak memegang dahinya tapi malah tersandung kakinya sendiri dan al hasil malah menekannya dengan kuat.


"Aww..." lagi, Wati berteriak.

__ADS_1


"Adu-duh.. maaf kak. Gak sengaja. maaf...maaf." ucap Rania gelagapan sekaligus khawatir dan takut akan kakaknya.


"Maaf..maaf. Enak amat lo ngomong. Sakit ini. Udah di jedukin ama pintu, ini di pencet lagi. Kamu ini emang ya,, adik durhaka." sarkas Wati.


"Ya.. ma..maaf kak. Rania gak sengaja. Rania gak tahu kalo kakak ada di belakang pintu. Trus tadi juga Rania kesandung, jadi malah neken yang sakitnya. Maaf..." ucap Rania penuh penyesalan.


Wati juga melihat keseriusan dalam perkataan Rania. 'Dia pasti memang tidak sengaja dan tidak tahu bahwa aku ada di belakang pintu' batin Wati.


"Ya udah iya..iya. Kakak percaya. Kakak maafin kamu." ucap Wati.


"Makasih ya kak" balas Rania dengan menggenggam tangan Wati.


Wati mengangguk, tapi detik kemudian dia memikirkan sesuatu. Wati tersenyum miring tanpa sepengetahuan Rania dan ia berniat mengerjai adiknya ini.


"Iya.. Aku maafin kamu. Tapi sebagai gantinya, karena kepala kakak lagi sakit. Dan kaki juga tadi kebentur + keinjek juga sama kamu kan tadi. Jadi, sebagai tanda maafnya,,, kakak minta tolong boleh.?" kata Wati dengan menekankan kata maaf.


"Boleh..boleh... Kakak mau minta tolong apa.?" tanya Rania antusias demi mendapat maaf kakaknya.


Tanpa pikir panjang dan tanpa ada rasa curiga sama sekali pada sang kakak, Rania mengangguk begitu saja. Dan ini kesempatan Wati untuk memberi sedikit pelajaran pada adiknya yang satu ini agar bisa lebih hati-hati lagi dan tidak ceroboh.


"Emmm... okey. Akan aku bawain kesini." segera Rania berbalik hendak keluar kamar.


"Eh dek..dek... tunggu bentar."


"Apa lagi kak.?" tanya Rania sambil tersenyum.


"Jangan banyak-banyak ya ngambilnya. Kamu tahu kan porsi makan kakak seberapa.?" tanya Wati.


"okey. Aku tahu kok porsi kakak seberapa. Kakak tenang aja." ucap Rania yakin dengan jari tangan membentuk huruf "OK".


Dan Rania pun berlalu dari kamar. Setelah kepergian Rania, seketika senyum Wati memudar. Bersamaan dengan kembalinya perasaan tak menentu di dalam hatinya. Ia kembali teringat pada Rian.


'Apakah ada terjadi sesuatu ya pada Rian. Kok dari tadi aku merasa khawatir akan dirinya. Ahh... semoga saja ini hanya perasaan ku saja.' batin Wati berkecamuk sambil mengibaskan tangannya di depan wajah untuk mengusir kegundahan hatinya.


Lalu ia menarik kedua kakinya untuk naik ke atas ranjang dan ia bersandar ke dinding bagian atas kepala ranjang. Lalu ia kembali mengutak atik ponselnya. Ia benar-benar ingin menelpon Rian untuk menanyakan keadaanya agar ia bisa tahu apakah Rian benar-benar baik-baik saja atau tidak, seperti perasaannya.

__ADS_1


Dan saat jari Wati hendak menekan tombol panggilan di nomor Rian, pintu di ketuk. Wati mendongak dan Rania masuk ke kamar dengan membawa sepiring nasi dan segelas air. Lalu ia meletakkannya di atas nakas di samping ranjang dekat kakaknya.


"Makasih ya dek." ucap Wati tulus.


Ia letakkan kembali ponselnya dan segera mengambil piring makan nya. Tak menunggu lama, Wati segera melahap sajian yang telah berada di tangannya. Sementara Rania masih berdiri melihat sang kakak yang sangat lahap makan. Tak ingin mengganggu acara santap malam kakaknya, Rania segera keluar setelah pamit pada kakaknya dan di angguki oleh Wati.


Dan setelah melihat kepergian Rania dari hadapannya, Wati buru-buru menelan makanan yang telah ia kunyah dan mengambil air minum untuk membantu memperlancar masuknya makanan yang ia telan melalui tenggorokan. Setelah memastikan sisa-sisa makanan yang masih ada dalam mulut telah ia telan semua, ia lalu mengambil ponselnya kembali dan segera menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan telepon.


Cukup lama Wati menunggu sambungan telepon tersambung. Sebegitu resahnya hati Wati memikirkan Rian. 'Entah kenapa hati kecilku berkata Rian tidak baik-baik saja. Pasti terjadi sesuatu padanya.' batin Wati berkecamuk.


Panggilan tersambung, ketar ketir Wati menunggu panggilannya di terima oleh Rian. Tak enak hati sebenarnya ia menelpon malam-malam begini. Takut mengganggu. Tapi ia juga takut terjadi sesuatu pada Rian. Entah apa sebenarnya yang ia rasakan. Entah ini ada keterkaitannya dengan kemampuan yang Rian miliki dan juga tentang obrolannya sore tadi. Atau memang Wati memiliki perasaan lain pada Rian.


Panggilan di terima dan terdengar suara Rian dengan jelas, membuat Wati menghela napas dan menahannya sesaat. Ia bingung harus berkata apa. Apa yang harus ia katakan pada Rian. Apakah ia harus jujur tentang keresahannya memikirkan keadaan Rian.


"Assalamu'alaikum. Hallo... Wati. Watiii. Apa kau di sana.?" terdengar suara dari seberang sana.


Masih tak ada respon. Wati masih bingung dengan pemikirannya sendiri. Lalu ia tersadar setelah berkali-kali namanya di panggil dari seberang telepon.


"Ahh iya.. Ma-maaf-maaf aku tadi... aku tadii.. lagi... emm lagi itu... aa. iya. aku tadi lagi ke dapur ambil minum. Aku pikir tadi teleponnya belum tersambung. Jadi aku tinggal bentar gitu. Iyahh.. iya gitu." jawab Wati gelagapan sambil mengelus tengkuknya sendiri yang tak terasa apa-apa sambil cengar-cengir sendiri.


"Emm. Begitu iya gak pa-pa. Maaf, ada perlu apa ya.?" tanya Rian.


"Emm. Aku... aku cuma mau..."


tut..tut..tut.


Tiba-tiba sambungan terputus. Wati membulatkan matanya terkejut. Dadanya berdebar makin kencang.


*****


Apa yang sebenarnya terjadi kali ini.?


Tunggu kelanjutannya yaa....


Dukung terus karya otor. like komen yang membangun.

__ADS_1


Thangs reader. 😘


__ADS_2