
Happy reading.
*****
Setelah cukup lama mencari kesana kemari, akhirnya Rian menyerah. Ia tak dapat menemukan siapa pun di rumahnya. Dan saat sampai di pintu hendak keluar rumah untuk mencari di luar, tiba-tiba ada yang memanggilnya dari arah belakangnya.
"Rian.."
Rian segera memutar balik tubuhnya demi untuk melihat pemilik suara yang telah memanggilnya. Dan benar saja, itu adalah suara bunda. Langsung saja ia mendekat pada bunda. Memeluknya sejenak lalu melepaskan pelukan dan tangannya mencengkeram kedua lengan bunda.
"Ya ampun bunda... Bunda dari mana aja.? Dari tadi Rian tuh dah bolak balik kelilingin seisi rumah tapi gak nemuin keberadaan bunda dimana pun dan Rian berniat mau cari bunda keluar rumah. Tapi ternyata bunda ada disini. Tahu gak Rian itu bener-bener khawatir sama bunda. Rian takut terjadi sesuatu sama bunda. Tahu gak apa yang ada di pikiran Rian kala Rian gak bisa nemuin bunda lagi di dalam rumah ini. Rian takut bunda kenapa-kenapa. Rian takut.... Ahh iya. Bunda dari tadi kemana aja.?" omel Rian panjang lebar.
Tak biasanya Rian mengeluarkan kalimat sepanjang itu. Biasanya dia akan mengatakan hal-hal penting saja atau baru bersuara jika ada yang mengajak bicara ataupun bertanya. Tapi lain hal lagi jika ini menyangkut keluarganya apalagi bundanya. Karena ia tak ingin terjadi hal buruk terjadi pada sang bunda. Sebab ia tak memiliki keluarga lagi selain bunda sekarang. Jadi jika ini menyangkut bunda maka ia akan sangat protektif.
Rian menatap lekat pada bunda sambil menunggu jawaban dari bunda.
"Emm... Bunda tadi... bunda darii..." gugup bunda menjawab pertanyaan dari anaknya yang tiba-tiba berubah over protektif seperti ini.
Menyadari kegugupan bunda, Rian meregangkan cengkraman tangannya pada lengan bunda. Lalu ia segera memeluk bunda kembali.
"Ahh. Sudahlah. Bunda tak perlu menjawabnya. Yang terpenting saat ini adalah bunda udah ada di hadapan Rian dan dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Maaf jika Rian udah berkata dan berlaku kasar pada bunda." ujar Rian di balik punggung sang bunda.
Tanpa sadar keduanya meneteskan air mata yang lolos begitu saja hingga ke lantai. Dan sedetik sebelum Rian melepas pelukannya ia segera menghapus sisa air mata dari pipinya. Begitu pun juga dengan sang bunda yang langsung menghapus jejak air mata di pipinya dengan punggung tangannya.
"Udah ya. sekarang yang paling penting bagi Rian adalah melihat bunda baik-baik saja. Bunda gak kenapa-napa kan.?" tanya Rian usai mengurai pelukan mereka.
"Ehh.. Iyaa. Seperti yang kau lihat sayang. Bunda gak apa-apa." bunda berusaha bersikap biasa saja agar Rian tak curiga.
"Baiklah. Kalau bunda tak apa-apa." lega Rian. "Yuk masuk aja bunda. Udah malem juga nih. Gak baik kan udara malem gini." ajak Rian dengan menggandeng lengan sang bunda untuk masuk ke rumah dan tak lupa menutup pintu sebelumnya.
__ADS_1
Bunda juga merasa lega karena Rian tak banyak bertanya. Namun kelegaannya tak bertahan lama karena Rian kembali membuka suara karena masih saja penasaran dengan bundanya.
"Eh-ehh.. Tapiii.... Tadi bunda dari mana sih. Soalnya Rian udah kelilingin rumah tapi gak nemuin bunda dimana pun. Terus Rian baru mau cari di luar, makanya tadi Rian mau keluar."
"Emmm. bunda tadi cuma lagi nenangin diri di taman samping rumah aja." jawab bunda dengan sedikit berbohong.
"Owhh... pantes saja Rian cari-cari keliling di dalem rumah gak ketemu. Mau sampai kapan pun juga gak bakal ketemu. Orang yang di cari aja ada di luar rumah." ujar Rian.
"Emm ya udah deh. Bunda mending istirahat aja dulu. Rian,,, emm Rian masih ada urusan yang belum selesai. Jadi mau Rian selesaikan dulu." Rian sambil menuntun bunda menuju kamarnya, lalu ia segera kembali meninggalkan bunda setelah memastikan bahwa sang bunda sudah masuk ke dalam kamarnya.
Tapi baru beberapa langkah dari kamar bunda, Rian menghentikan langkahnya karena baru menyadari bahwa ada kejanggalan dari alasan bundanya tadi. Lantaran semua pintu yang menuju keluar rumah masih dalam keadaan terkunci. Lantas dari mana bundanya keluar. Namun Rian tak ingin ambil pusing. Ia mengibaskan tangan ke depan wajahnya dan kemudian berlalu begitu saja tak mau ambil pusing. 'Yang penting bunda udah ada ini kan'. Ia lalu mengedikan kedua bahunya dan berlalu begitu saja...
***
"Udah buruan. Yang mana..? Keburu berubah pikiran nih" tanya Wati tidak sabaran.
"Ishhh.. iya-iya, sabar napa. Ini juga lagi di buka bukunya." jawab Raina sewot sambil membuka bukunya dengan sedikit kasar.
Segera Wati mendorong kursinya dan berlalu meninggalkan Raina tanpa permisi.
"Isshhh,, di tinggal lagi kan aku. Baru juga jawab 1 soal. Ehh dia malah minggat gitu aja." gerutu Raina tatkala di tinggal pergi begitu saja oleh sang kakak.
Sementara Wati berjalan menjauhi Raina menuju sisi lain dalam ruangan kamarnya. Jendela tujuannya. Lalu ia segera menggeser ikon hijau di layar ponselnya sembari satu tangannya membuka jendela. Kemudian ia tempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.
"Assalamualaikum" Wati membuka dengan salam.
"Waalaikumsalam." suara dari seberang sambungan telpon.
"Iya. Ada apa ya Yan. Kok malem-malem gini telpon. Apa ada hal penting" tanya Wati datar karena ia masih merasa kesal dengan sikap anak itu tadi.
__ADS_1
"Emm. Begini Wati. Aku mau tanya sama kamu beberapa hal, boleh.?" tanya Rian.
"Em. Boleh kok. Tanya aja" masih dengan suara yang datar.
"Bentar-bentar. Kok kamu jawabnya gitu sih. Kek gak biasanya kamu ngomong begitu. Apa ada sesuatu hal yang terjadi"
Sejenak Wati terdiam tak menjawab pertanyaan Rian barusan. Lalu ia menghela dan menghembuskan napas dengan sedikit kasar. Lalu ia bergumam pelan.
"Kamu itu gak tau apa pura-pura gak tau apa gimana sih Yan. Kenapa masih tanya begitu coba" gumam Wati dengan sangat pelan, sehingga Rian tak dapat mendengarnya dengan jelas.
"Wati, kamu ngomong apa sih. Yang jelas dong kalo ngomong. Kok kayak orang ngedumel gitu."
"Hemmm" jawab Wati malah hanya dengan deheman.
"Kamu kenapa sih Sep" tanya Rian lagi dengan menyebut nama depan Wati, yaitu Septiawati.
Wati sejenak terkesiap karena panggilan Rian yang memanggilnya dengan sapaan 'Sep'. Karena yang ia tau sangat sedikit orang yang memanggilnya dengan nama depannya. Kebanyakan orang dan teman-temannya selalu memanggilnya dengan nama 'Wati'. Tapi ini,, tiba-tiba Rian memanggilnya dengan nama itu.
"Septiawati... Helloowww. Kamu masih disana.? Atau udah tidur nih kok gak ada suaranya dari tadi" tegur Rian karena ia tak kunjung mendapat jawaban dari lawan bicaranya di seberang sambungan sana.
"Iya... Aku masih disini." jawab Wati.
*****
Hellow readers....
Yuk terus dukung karya otor ya...
Klik tombol like, love. Dan vote- nya ya.
__ADS_1
Terima kasih...