The Calm Girl

The Calm Girl
19 Di ikuti


__ADS_3

Saat Wati masuk dapur. Ternyata masakan sudah hampir selesai, tinggal menunggu matang saja. Dan ada Rania disana bersama dengan nenek. Aku mendekati nenek dan Rania sambil cengengesan dan mengusap tengkuk yang tak gatal.


"Ngapain kamu kesini. Pake cengengesan lagi. Udah selesai pacarannya.?" celetuk Rania ketika melihat Wati mendekat.


Seketika Wati merubah muka menjadi datar dan berhenti tepat di depan Rania dan nenek. Sedetik kemudian...


"Aww..." teriak Rania ketika tanpa aba-aba Wati langsung mentoyor kepalanya hingga hampir terjungkal dari kursi yang ia duduki.


"Itu mulut dijaga ya. Baru bantuin nenek sekali aja dah ngoceh kamu. Dan satu lagi ya,, yang tadi itu bukan pacar aku. Dia itu temen aku, dan kebetulan aja aku ada sedikit keperluan sama dia. Jadi sekalian aja tadi di obrolin. Aku mah masih fokus ke belajar dulu, gak kayak kamu yang masih SMP aja udah suka gonta ganti pacar." celoteh Wati panjang pada Rania yang langsung membulatkan mulut dan matanya saat mendengar kalimat terakhir yang Wati katakan.


"Kakak.." geram Rania dengan mengatupkan giginya.


"Apa.? Emang bener kan. Kamu suka mmmm..." belum selesai Wati dengan kalimatnya, Rania sudah membekap mulut Wati.


"Jangan di denger ya nek. kakak emang suka ngomong ngelantur kalo lagi salah. buat nutupin malunya." ucap Rania pada nenek dengan tangan masih membekap mulut Wati.


Nenek yang melihat interaksi dua cucunya hanya tertawa saja, karena menganggap mereka lucu. 'Jarang-jarang kan melihat mereka seperti ini. Biasanya pada sibuk sendiri-sendiri.' gumam nek Surti dalam hati.


Karena merasakan sesuatu yang aneh, dengan paksa Wati melepaskan tangan Rania pada mulutnya. Dia pun sedikit menjauh dari Rania sambil mengusap-usap mulutnya.


"Buset dahh... Kamu abis megang apa sih dek, kok mulut kakak jadi panas." seru Wati.


"Emmm. apa yaa. kayaknyaa.... ahaahaa" bukannya menjawab, Rania malah tertawa terbahak.


"Woy.. paan kok malah ketawa. Bis megang apaan kamu.?" kesal Wati pada Rania, bukannya menjawab malah tertawa sampai dia ingin mendamprat mulut Rania.

__ADS_1


"Hahaa.. iya..iya... aku tadi kan bantuin nenek dan megang-megang cabe juga. Trus aku lupa belum cuci tangan." jelas Rania.


"Apaa.?" kaget Wati dan langsung lari ke kamar mandi untuk mencuci mulutnya.


Dan setelah kepergian Wati, Rania dan nenek malah tertawa bersama....


***


Rian pulang dan mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang seperti biasa. Sampai ketika ia keluar dari gang rumah Wati, tanpa ia sadari ternyata ada yang mengikutinya. Ia berkendara dengan bersenandung pelan. Sampai beberapa puluh meter kemudian ia baru menyadari bahwa dia sedang di ikuti.


"Emm. kok kayaknya ada yang ngikutin aku ya?"


Tanpa pikir panjang, Rian pun mengurangi kecepatan kemudian menepikan motornya ke pinggir jalan dan berhenti. Lalu ia menoleh ke belakang. Tapi tak ada siapa pun di sana. Memang ada mobil di belakang motornya, tapi mobil itu terus melaju saat ia berhenti yang menandakan tak ada hubungannya dengan mobil itu. Karena memang keadaan jalan sangat sepi. Hanya ada beberapa motor dan mobil yang lewat. Ia pun menaikkan kedua bahunya tanda acuh. Dan kemudian ia melanjutkan perjalanannya.


Namun saat ia ingin melajukan motornya, ia merasakan ada yang mengawasinya dari sisi jalan. Disana memang tumbuh pepohonan yang cukup besar dan tinggi. Tapi Rian tak dapat menemukan siapapun disana. Ia pun menghiraukannya dan tetap melajukan motornya.


"Kenapa sih mereka ngikutin aku. Apa coba masalah mereka sama aku. Perasaan aku juga gak pernah ada masalah sama mereka. Ketemu aja gak pernah apa lagi bermasalah." gumam Rian.


Ia berusaha untuk tetap setenang mungkin menjalankan motornya, walau ia tahu jika sedang di ikuti. Sempat ia merasa sudah tak ada yang mengikuti. Namun tak lama kemudian, saat ia memasuki jalanan yang cukup sepi, ia pun merasakan kembali bahwa ia di ikuti lagi.


Sampai beberapa meter kemudian ia merasa sangat tak nyaman jika terus di ikuti seperti ini. Ia pun langsung menepi dan berhenti kembali di pinggir jalan. Rian turun dan segera berbalik ke belakang. Dan benar saja, ia di ikuti oleh sekelompok remaja seusianya yang juga mengendarai motor. Mereka berjumlah 4 orang dengan 2 motor ninja.


"Kalian ngapain ngikutin aku dari tadi." tanya Rian pada mereka setelah mendekati mereka.


Tak ada jawaban dari para remaja itu. Mereka hanya menatap tajam pada Rian. Beberapa kali Rian bertanya pada mereka, namun tak ada satu pun pertanyaan Rian yang mereka jawab. Mereka hanya tetap terdiam dengan menatap Rian dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Rian merasa ada yang aneh pada diri mereka.

__ADS_1


"Tunggu dulu. Kalian ini sebenarnya..." belum sempat Rian menyelesaikan ucapannya, sudah ada salah satu warga sekitar yang kebetulan lewat dan menegurnya.


"Nak. Kau sedang apa disini.? Apa ada perlu di tempat ini.? Jika tak ada segeralah pergi. Dan jika bisa jangan pernah lagi melewati jalanan ini. Lewat jalan lain saja." ucap warga tersebut.


Rian terheran. "Memangnya kenapa pak.? Apa ada yang salah dengan tempat ini.?" tanya Rian penasaran.


"Sudah lah nak. Jangan banyak tanya. Dan segeralah pergi dari sini. Atau kau akan bertemu dengan sosok 4 remaja yang sering mengganggu warga yang lewat jalanan sini." jelas warga itu dan ia pun segera pergi meninggalkan Rian sendiri setelah merasakan sesuatu yang sering ia rasakan saat melewati jalanan itu.


"Apa sih maksud bapak itu.? Gak ngerti deh. Kalian tau gak kenapa bapak ituuu..." Rian terkejut saat menoleh ke arah para remaja itu dan yang dia lihat berbeda dengan saat pertama mereka bertemu tadi, juga dengan keadaan motor yang mereka bawa. Terlihat sangat-sangat.... hmmm.


Rian berusaha menetralkan perasaannya. Walau terkejut, ia berusaha untuk tetap tenang. Karena sudah terlanjur bertemu dan berbicara pada mereka. Itu artinya mereka juga tahu bahwa Rian dapat menyadari kehadiran mereka bahkan bisa berinteraksi dengan mereka.


"Oke.. Aku ngerti sekarang. Jadi yang di bicarakan sama bapak tadi itu kalian.?" tanya Rian, dan mereka pun serempak mengangguk.


"Okey. Dan sekarang saya tanya sama kalian, apa maksud kalian ngikutin saya dari persimpangan jalan sana sampai sejauh ini.?" Rian menatap mereka satu per satu.


Mereka tak menjawab malah saling pandang dan kemudian menatap Rian dan menggeleng. Rian menautkan alis terheran. Apa maksud mereka menggeleng. Rian tampak berpikir sesaat dan kemudian menarik napas dalam dan membelalakkan mata. Kemudian ia menatap mereka dan dengan susah payah ia menelan ludah dalam mulutnya.


"Apa jangan-jangan, ada makhluk lain yang mencoba ngikutin aku sebelum kalian?" tanya Rian pada mereka dan mereka hanya terdiam.


Raut wajah Rian pun menjadi pias memikirkan siapa yang mengikutinya sebelum mereka tadi.


"Jika mereka baru mengikutiku beberapa meter, lalu siapa yang mengikutiku sejak dari persimpangan tadi.?" gumam Rian pelan.


*****

__ADS_1


Hayooo... coba tebak siapa yang ngikutin Rian sebelumnya.?


__ADS_2