
Setelah sampai di rumah, Karti langsung masuk kamar. Ia melempar tasnya ke ranjang dan duduk di tepi ranjang. Dan kemudian merebahkan dirinya ke ranjang dan memejamkan matanya sejenak.
Setelah membuka mata, Karti terkejut karena kak Sony sudah ada di dalam kamarnya. Dan Karti langsung bangun dari tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang, di susul kak Sony yang juga ikut di tepi ranjang.
"Ada apa kakak masuk ke kamar ku? Gak ketuk pintu dulu lagi. Gak sopan." ucap karti dengan memajukan bibirnya.
"Kenapa sih. Emangnya kakak gak boleh masuk kamar adik kakak sendiri.? hmm." tanya kak Sony sambil mengacak jilbab Karti sampai berantakan. Menambah kekesalan Karti dan lebih memajukan bibirnya.
"Isshh. Ada apa.?" tanya Karti degan ketus.
"Hmm. Biasa aja kali tanya nya." kata kak Sony
"Udah deh. Gak usah basa basi. Cepetan mau tanya apa. Kalo gak aku tinggal loh." ucap karti hendak berdiri.
"Tunggu bentar" Kak Sony menahan dan membuat Karti jatuh terduduk kembali.
"Ya udah cepetan mau ngomong apa? Aku mau mandi. Dah sore nih." kata Karti dengan melipat kedua tangan di dada nya.
"Iya... Kakak tanya dikit doang kok. Kakak cuma mau tanya soal temen kamu tadi. Si Wati."
"Iya ada apa dengan Wati. "
"Emm. Menurut kamu, Wati itu orang nya gimana?" tanya kak Sony kemudian.
"Apanya yang gimana" Karti bingung apa maksud dari kakaknya.
"Yaa. Maksudnya, sifat atau kepribadian dia menurut kamu itu gimana?" kata kak Sony.
"Emm. Gitu... Yaa menurut aku sih, selama aku deket sama dia, Wati itu cukup penutup ya orangnya. Dia tuh sebenernya enak di ajak ngobrol. Tapi gak semua orang mau ngobrol sama dia yang gak begitu responsif pada semua orang. Dia hanya mau ngobrol sama orang-orang tertentu aja."
"Tapi kalo udah deket sama dia sih, sebenernya dia orang yng asyik gitu. Dia itu pendengar yang cukup baik. Dan menurut aku, dia itu cocok buat temen curhat. Karena dia akan memberi sedikit solusi ataupun nasihat kepada yang curhat ke dia."
"Tapi ya awalnya harus sabar-sabar ngadepin dia sih. Karena mungkin awalnya dia gak akan terlalu merespon kata-kata kita. Dan lama kelamaan dia bisa jadi penasihat yang cukup baik lah. Sudah ada sih beberapa anak yang mencoba deketin dia untuk curhat dan dapet solusi dari dia."
__ADS_1
"Tapi balik lagi. Harus sabar di awal, dan pada akhirnya mereka bisa dapetin saran yang lebih baik dari si Wati. " jelas Karti panjang lebar kepada sang kakak.
"Udah jelas kan?" tanya Karti.
"Iiyyaaa cukup jelas sih. Tapi ada satu lagi yang mau kak..." ucapan kak Sony terpotong karena melihat Karti bangun dri duduknya.
"Udah dulu ya kakakku sayang. Aku mau mandi dulu. Tadi kan katanya mau tanya dikit doang. Udah itu aja cukup ya untuk hari ini. Bye.." ucap karti meninggalkan kakaknya di kamarnya setelah menyambar handuk dan membawanya ke kamar mandi.
"Ihh.. Anak ini ya. Bener-bener..." kata kak Sony sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya itu.
Kak Sony pun ikut keluar dari kamar Karti dan masuk ke kamarnya sendiri. Setelah masuk ia langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang. Ia pun memejamkan mata dan merasakan kenyamanan .
"Menurutku, Wati ini orangnya cukup misterius ya. Karti bilang gk semua orang bisa bicara sama dia. Tapi dia itu pendengar yang baik untuk teman curhat dan bisa memberi solusi terhadap masalah orang. Aneh sih sebenarnya." kata kak Sony pada dirinya sendiri masih dengan menutup matanya.
Setelah selesai mandi, Karti membantu ibunya untuk menyiapkan makan malam. Dan tak lama semua sudah siap di atas meja makan. Bapak dan ibu serta Karti sudah duduk bersama di ruang makan dan siap untuk makan malam. Namun masih ada yang kurang.
"Lah. Nduk, dimana kakakmu. Kok dia belum keluar. Dari tadi juga bapak gk liat kakakmu itu." kata bapak Karti. Karti sedikit mengingat kapan terakhir dia bersama kakaknya.
"Coba kamu lihat di kamarnya sana nduk. Sapa tau kakakmu ada di kamar." kata ibu Karti.
"Baik bu. Karti akan lihat ke kamar kakak." jawab Karti dan berlalu menuju kamar kakaknya.
Dan benar saja. Setelah membuka pintu kamar sang kakak, Karti langsung menggeleng. Karena mendapati sang kakak yang sudah di tunggu untuk makan malam bersama malah sedang asyik tertidur di kamarnya.
"Ya ampun kak Sony. Di Tunggu - tunggu malah asyik molor. hmmm." Karti pada dirinya sendiri.
Ia melangkah masuk dan mendekati ranjang kakaknya. Karti mencoba membangunkan kakaknya dengan sedikit mengguncang tubuh kakaknya.
"Kak. kak Sony. .. Ayo bangun. Ayo makan malam dulu. Bapak sama ibu udah nunggu di meja makan tuh." kata Karti sambil terus mengguncang tubuh kakaknya.
Kak Sony masih tak bergeming. Membuat Karti jadi gemas. Ia semakin kencang mengguncang tubuh kakaknya sampai sedikit menariknya. Dan berhasil membuat kakaknya terbangun. Kak Sony terkejut karena merasa ada yang menarik kakinya.
"Woahhh. Apa ini." teriak kak Sony seolah ingin menendang sesuatu. Dan...
__ADS_1
"Aww.." Karti memekik. Ia terkena tendangan kak Sony.
"Ya ampun dek. Sorry..sorry... Kakak gak sengaja." panik kak Sony.
"Isshh. Apa sih kakak ini. Dah susah di bangunin, di bangunin malah nendangin orang." mulut Karti mengerucut.
"Ya maaf. Kakak kan gak sengaja. Lagian kamu nya bangunin kakak pake tarik kaki segala. Kakak kan jadi refleks nendang aja gitu" jawab kak Sony sewot.
"Yee.. kok kakak malah jadi sewot gitu sih sama aku. Aku kan di suruh sama ibu." Karti tak kalah sewot.
"Ya udah sana keluar duluan. Nanti kakak nyusul." kata kak Sony kemudian.
"Ya udah. Bye..." ucap karti dengan menekankan kata terakhirnya.
Karti berlalu keluar kamar kakaknya dengan mulut manyun dan membuat bapak dan ibu heran.
"Kamu kenapa nduk, kok manyun gitu.?" tanya bapak.
"Laah kakak mu mana?" sambung ibu.
Karti menarik kursinya lalu mendudukkan diri di sana. Melipat kedua tangannya dan menyendiri di senderan kursi makan.
"Di kamar." jawab Karti singkat.
Tak lama kak Sony pun keluar kamar dan bergabung di meja makan. Keluarga Karti pun makan malam bersama setelah ada sedikit insiden penendangan yang tak tersengaja tadi.
Di rumah Rian.......
*****
Nah.. scroll lagi ya. Nanti masih ada 1 bab lagi yess...
THANKS. 😊
__ADS_1