
Gubrakkkk
Rian berbalik dan segera mematikan sambungan telepon lalu ia berlari mendekati Bunda yang berada di depan kamarnya. Tiba-tiba saja bunda jatuh tersungkur ke lantai. Rian mendekati bunda dan membantu bunda untuk bangkit.
"Bunda gak pa-pa.?" tanya Rian khawatir sambil membantu bunda berdiri.
Bunda hanya menggeleng, namun dari raut wajahnya bunda terlihat sangat ketakutan. Rian membawa bunda ke sofa dan mendudukkannya disana. Tubuh bunda bergetar. Rian benar-benar khawatir. Ia duduk di sebelah bunda dan mengusap punggung bunda supaya bunda bisa lebih tenang.
"Bunda... bunda disini saja ya. Rian akan mencoba mengatasi ini dulu." ucap Rian dengan menggenggam tangan bunda.
Lalu Rian beranjak setelah melihat anggukan dari bunda. Rian berjalan mendekati kamarnya kembali. Setelah berada di depan pintu kamarnya, ia berhenti. Rian mengatur nafas seperti biasa saat sebelum menghadapi situasi seperti ini.
Memang sudah tak asing situasi seperti ini, karena Rian sudah sering mengalami situasi ini. Bahkan sejak ia berusia 7 tahun. Tapi saat itu ia masih belum bisa mengatasi sendiri. Untung saja ada sang kakek yang bisa mengatasi hal seperti ini saat itu. Dulu kakek dan nenek dari bunda memang ikut tinggal bersama di rumahnya. Sehingga mereka bisa membantu ketika ada dalam situasi seperti ini.
Namun, di usia Rian yang ke 10 tahun, sang kakek tutup usia karena penyakit yang di deritanya sejak lama. Dan sejak saat itu, ia berusaha untuk mengatasi situasi seperti ini sendiri seperti yang pernah kakeknya ajari sebelumnya. Sampai-sampai ia pernah sampai jatuh sakit setelah bersinggungan dengan hal yang berasal dari dunia lain.
Sebelumnya memang Rian tidak dapat berkomunikasi dengan 'mereka yang dari dunia lain'. Tetapi ia jadi bisa melakukan komunikasi dan bahkan melihat mereka setelah membacakan ayat-ayat yang telah di ajarkan sang kakek padanya untuk dapat bersinggungan langsung dengan mereka.
***
Wati membelalakkan mata dan nafasnya tercekat setelah mendengar suara sebelum sambungan teleponnya di putus. Sekian detik lalu ia menetralkan perasaannya. Ia mencoba memutar otak memikirkan bagaimana caranya ia bisa membantu Rian yang sedang dalam bahaya dari kejauhan.
Lalu ia turun dari ranjang dan berlari ke arah meja belajarnya. Lalu ia mencari-cari sesuatu di antara buku-bukunya yang ada di sana. Dan saat ia menemukannya, Wati tersenyum senang. Ia kembali ke ranjang dan mendudukkan diri disana. Kemudian ia duduk bersila dan meletakkan buku itu di pangkuannya.
__ADS_1
Perlahan ia membuka lembar demi lembar dari buku itu. Lalu ia menemukan halaman yang ia cari. Halaman dimana terdapat sebuah bacaan yang akan ia gunakan untuk melakukan telepati.
Tak menunggu waktu lama. Wati segera mengambil air wudhu kemudian naik ke atas kasur dan duduk bersila disana. Ia letakkan buku itu di hadapannya. Lalu mengucap basmalah sebelum memulainya dan setelahnya ia membaca ayat demi ayat untuk bisa telepati. Ia ulang ayat itu beberapa kali supaya ia tak salah membaca nanti.
Tak lupa pula ia membaca dan menghafal ayat untuk kembalinya sukma kepada raganya. Supaya nanti ia bisa kembali dengan selamat. Dan setelah beberapa menit menghafalnya, ternyata wati sudah bisa hafal ayat-ayat itu.
Ia beberapa kali menarik napas dalam dan menghembuskannya untuk mengurangi kegugupannya. Karena ini pertama kalinya ia melakukan telepati. Setelah yakin ia bisa, wati turun dari atas kasur dan segera mengambil mukena dan memakainya. Tak lupa ia gelar sajadah dan kemudian duduk di atasnya.
Wati sholat isya' dulu karena tadi belum sholat isya'. Setelah selesai sholat barulah Wati akan melakukan telepati atau dalam bahasa jawanya 'ngerogo sukmo'. Yang maknanya adalah, melepas sukma atau roh dari raga atau tubuhnya. Jadi nanti setelah sang sukma keluar dari raganya, maka raga atau tubuhnya tak kan bisa bergerak persis seperti orang lagi tidur atau pingsan. Yang ada lemas lunglai yaaa seperti orang tidur gitu lah.
***
Di lain tempat. Rian mendekat ke pintu kamarnya, tepat di depat pintu Rian berhenti dan mulai membaca ayat demi ayat yang tak banyak orang tahu artinya. Lalu ia dengan perlahan memutar handle pintu dan mendorongnya. Perlahan pintu di buka dan setelah dirasa cukup untuk tubuhnya, perlahan Rian melangkahkan kaki memasuki ruangan itu kemudian menutupnya kembali.
Setelah berada di dalam ruangan itu, yang tak lain adalah kamarnya sendiri. Perasaan yang pertama kali ia rasakan ialah sunyi. Tak ada aktivitas apapun di sana dan ia juga tak merasakan apapun disana. Sedetik kemudian perasaan takut menerpa dirinya. Detak jantungnya berdegup lebih cepat.
Rian bingung. ia kalang kabut. Tak terasa air matanya menetes. Rian berlari ke seluruh penjuru rumah. Ia cari ke semua tempat namun bundanya tak juga di temukan. Sampai pada tempat terakhir yaitu kamar yang selama ini ia tak boleh memasukinya. Awalnya Rian ragu untuk memasukinya, namun rasa penasaran yang besar dan juga karena ini demi menemukan sang bunda. Akhirnya dengan perlahan ia mendekati ruangan tersebut dan mencoba memegang handel pintu untuk membukanya.
Klek.
Terbuka.
"Tak di kunci? " tanya Rian pada diri sendiri dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Pasalnya, ruangan itu biasanya akan selalu dalam keadaan terkunci. Karena memang sudah beberapa kali Rian mencoba untuk memasuki ruangan itu namun selalu gagal karena pintunya terkunci. Dia juga sudah berusaha mencari kuncinya ke semua tempat, namun tak juga menemukan kunci ruangan itu. Dan kali ini pintunya tak terkunci, itu sebabnya Rian terheran.
"Apa bunda ada di dalam?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
Perlahan Rian membuka pintu dan memasuki ruangan misterius itu. Kesan pertama yang ia dapat adalah. Gelap. Iya,, ruangan itu begitu gelap dan sunyi. Tak ada cahaya yang masuk sedikit pun. Rian mencoba mencari saklar lampu di ruangan itu dengan menggunakan senter yang terdapat pada ponselnya. Ia berjalan perlahan menyusuri dinding di ruangan tersebut untuk mencari dimana saklar lampunya berada.
Sampai ia menemukan sebuah pintu. Rian pikir pintu itu adalah pintu menuju ruangan lainnya lagi. Tapi setelah dibuka, ternyata itu pintu keluar menuju ruang utama rumahnya.
"Aneh. Perasaan tadi pintunya gak ku tutup deh." gumamnya pelan.
Rian melangkah keluar dari ruangan aneh itu. Setelah berada di luar, ia berbalik arah menatap ruangan misterius dan aneh itu seraya berpikir kembali.
'kalau di dalam ruangan itu gak ada saklar lampunya, lalu dimana tombol saklar nya. Apakah ruangan itu memang tak memiliki lampu. Tapi, ku rasa tak mungkin kalau ruangan itu tak memiliki lampu, karena saat tadi aku menyusuri temboknya saja terlihat begitu bersih. Tak ada kotoran sedikit pun, yang menandakan bahwa ruangan itu pasti sangatlah terawat. Tapi bagaimana bisa merawat dan membersihkan ruangan itu jika tak ada lampu. Sedangkan ruangan itu sangat gelap gulita.' gumamnya panjang memikirkan betapa janggalnya ruangan itu.
"Ahh.. Sudahlah. Aku tak bisa mendapatkan jawaban apapun dari ruangan misterius itu. Aku tutup lagi saja." ujar Rian seraya menarik handel pintu untuk menutupnya.
Brakkk.
"Heyyy..."
*****
Apa yang terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Dan apa sebenarnya misteri dalam ruangan itu.
Temukan jawabannya di episode berikutnya ya.