
HAPPY READING. 😊
*****
Setelah mengambil motornya,Wati mendekati Karti dan kakaknya. Mereka pun pulang bersama karena arah tujuan mereka sama sampai setengah jalan. Dan mereka berpisah di persimpangan jalan buwana 2. Wati mengambil jalan lurus sedangkan Karti dan kakaknya belok ke kanan menuju jalan semanggi. Karti pun melambaikan tangan tanda berpisah kepada wati. Wati pun mengangkat tangannya dan mengangguk.
Wati melanjutkan perjalanan menuju rumahnya sendiri. Kemudian masuk gang yang hanya selebar 2 meter. Tak jauh Wati pun masuk ke sebuah pekarangan rumah yang tak begitu luas dengan rumah ukuran 6×9. Beratapkan genteng dan berdinding setengah bata setengah papan. Sederhana namun terlihat rapi dan indah di halaman rumah yang di hiasi berbagai jenis tanaman bunga disana.
Wati pun menyetandarkan motornya dan turun. Kemudian berjalan menuju pintu rumah. Tapi sebelum menyentuh gagang pintu ia berhenti dan berbalik badan.
"Kok kayak ada yang ngikutin ya. Tapi siapa ya?" tanya Wati pada dirinya sendiri sambil melihat kesana kemari namun tak melihat satupun orang disana yang dia kira mengikutinya.
"hmm. Ntah lah." ucapnya kemudian dengan menaikkan bahu dan menarik sudut bibirnya ke bawah. Ia pun berbalik badan dan masuk ke dalam rumah.
Disana, di balik pohon jati yang tak jauh dari rumah Wati. Ada seorang yang muncul dan memperhatikan kediaman Wati yang tak ada sesiapa pun disana.
"Ternyata disini rumahmu, Wati." ia pun tersenyum dan pergi meninggalkan tempat itu.
Flashback Off
***
Beberapa menit kemudian semua orang berhamburan meninggalkan kelas itu. Termasuk Desti, Yasha dan Firman. Tinggallah Wati, Karti dan Rian di dalam kelas itu.
Rian masih pada posisinya, berdiri dan tetap diam melamun. Karti dan Wati hanya saling melempar pandangan. Mereka tak mengerti apa yang sedang di lamunkan oleh Rian.
Tak lama, Karti pun menatap tajam kepada Wati. Wati pun bingung karena ditatap seperti itu oleh sahabatnya. Kemudian Karti pun tersenyum jahil. Ia berniat mengerjai Rian. Wati yang telah mengerti maksud dari pandangan dan senyuman Karti, hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala atas kelakuan sahabatnya itu.
Kemudian Karti membisikkan rencananya kepada Wati. Dan Wati pun mengangguk setuju. Dan mereka mulai menjalankan rencananya.
"Rian.. Rian.. Tolongin Wati, Yan. Wati kelihatan aneh lagi." kata Karti sedikit berteriak dengan ketakutan sambil menepuk-nepuk lengan Rian dari belakang.
Rian pun tersadar dari lamunannya dan ikut tegang lagi. Namun secepatnya Rian menyadari kejadian sebenarnya. Dan dia malah ikut bersandiwara.
"Ya ampun Wati. Kamu kenapa lagi sih." ucapnya dengan mengusap wajahnya. Padahal dia menyembunyikan senyumnya disana. hehe...
Rian mendekati Wati dan mulai seperti membaca mantra-mantra apa lah. Mulutnya komat kamit. Dan kedua tangannya menengadah. Dan kemudian menggerakkan tangannya seolah membasuh wajah Wati dengan satu tangan dan 1 tangan lagi memegang tengkuknya.
Karti yang menyaksikan aksi Rian hanya melongo. Ia tak mengira kalau Rian sampai benar-benar melakukan hal itu. Karti melihat Wati seperti gelagapan. Dan saat Karti ingin menghentikan aksi Rian, Rian menghalaunya.
__ADS_1
Rian mengerti jika Karti ingin membantu membebaskan Wati dari tangan jahil Rian. Saat Karti mendekat, dengan cepat Rian menggelengkan kepala tanda melarang Karti mendekat.
"Jangan dekat-dekat Karti. Nanti kamu ketularan." bisik Rian kepada Karti.
"Tapi, Yan. Itu Wati cum..." belum Karti menyelesaikan ucapannya Rian pun menggelengkan kepalanya lagi.
Wati yang sudah tak tahan dengan kelakuan Rian pun menyerah.
"Adu-du-du-duhhhh... Udah donk. udah. Aku nyerah deh.." ucap Wati sambil berusaha melepaskan tangan Rian dari tengkuknya. Tapi Rian malah sengaja semakin menekan tekanan tangannya di tengkuk Wati.
"Aww.. Rian udah donk. Sakit tau." Wati terus berusaha melepaskan tangan Rian dari tengkuknya. Ia memukul-mukul tangan Rian.
"Ah-ah-ah.. Iya-iya. ampun Wati. iya udah aku lepasin nih." rian kesakitan dan akhirnya melepaskan tangannya dari tengkuk Wati. Rian mengusap-usap perut dan lengannya bergantian karena mendapat capitan dari jari-jari Wati. "Sakit tau" sambungnya.
"Makanya dibilang udah tuh ya udah. Jangan malah tambah di kencengin nekennya. Dasar." sungut Wati.
"Ya habisnya kalian.." ucapan Rian terhenti saat melihat Wati memandang karti lalu menoleh ke Karti pun sama sedang memandang Karti. Mereka bertiga saling bergantian pandangan. Lalu mereka bertiga pun tergelak bersama.
***
Desti, Yasha dan Firman berjalan di koridor menuju kantin kembali setelah meninggalkan kelas dengan kejadian horor itu.
"Gak tau" jawab Yasha singkat.
"Tapi kayaknya beneran deh. Soalnya Rian aja reaksinya kayak gitu. Rian kan bisa merasakan hal-hal yang begituan." sambung Yasha.
Desti menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Yasha.
"Yang bener Sha." tanya Desti memastikan.
Yasha hanya mengangguk membenarkan ucapannya.
"Aku sama Rian kan udah lama temenan. Tetanggaan dan selalu sekolah di tempat yang sama. Makanya aku tau kebiasaan dan keahlian dia" terang Yasha lalu merendahkan suaranya di akhir kalimat dan mengangkat kedua tangan dan menggerakkan kedua jari telunjuk dan tengahnya seperti tanda kutip.
Desti manggut-manggut tanda faham kemudian berbalik dan melanjutkan berjalannya menuju kantin sambil berkata "ternyata Rian punya keahlian khusus kayak gitu ya."
Yasha pun mengikuti langkah Desti. Tanpa mereka sadari ternyata firman sudah tak berada bersama mereka. Firman memilih berjalan lebih dulu meninggalkan mereka berdua saat membicarakan Wati dan Rian tadi.
Dan setelah sampai di kantin, mereka berdua baru menyadari bahwa Firman tak bersama mereka. Karena mereka melihat Firman sudah duduk disana.
__ADS_1
"Loh.. Man. Kamu udah disini aja. Kapan kesininya." kata Yasha.
"He-em." sambung Desti.
"Ya, aku duluan lah kesininya. Dari pada jadi nyamuk di antara kalian berdua." jawab Firman sewot.
"Yee. Nyamuk apaan sih Man." sahut Desti. "Kita tadi kan cuma ngomongin si Wati sama Rian" sambungnya.
"Ho-oh. Nyamuk -nyamuk apaan sih. Kamu aja yang baperan, Man. " ejek Yasha.
"Serah kalian lah." kata firman sambil mengibaskan tangan kepada Desti dan Yasha.
Mereka bertiga pun makan bersama di kantin . Sambil berbincang-bincang ringan sampai bel tanda masuk berbunyi. Dan mereka berjalan bersama menuju kelas mereka.
Dan mereka belajar kembali seperti biasa. Sampai saat bel tanda pulang pun berbunyi. Setelah guru keluar dari kelas, di susul semua siswa berhambur keluar kelas dan menuju parkiran dan ada yang langsung keluar menuju gerbang untuk menunggu angkutan umum. Dan ada beberapa yang berjalan kaki.
Seperti biasa, Karti menunggu kakaknya di depan gerbang. Wati yang telah mengambil motor menghampiri Karti.
"Kakakmu belum dateng, Neng?" tanya Wati kepada sahabatnya.
"Belum nih. Kok tumben ya belum jemput. Biasanya gak pernah telat." jawab Karti.
"Emm. Mau nunggu?" tanya Wati lagi.
Karti mengangguk. Tapi kemudian berkata, "Eh. Aku ikut kamu dulu aja deh. Ntar kakakku aku kabarin lewat pesan aja. Ntar aku bilang kalo aku pulang sama kamu"
"Ya udah ayo." ajak Wati.
Lalu Karti naik ke motor Wati dan mereka pun pulang ke rumah Wati setelah mengirim pesan kepada kak Sony, kakaknya Karti.
Di rumah Wati.....
*****
Like
Komen
Vote karya aku ya.
__ADS_1
THANKS dear... 😙