
Yasha yang masih duduk di tempat, juga memperhatikan interaksi yang terjadi di depannya itu. Ia berusaha biasa saja saat mendengar Desti bertanya seperti itu pada Rian. Walau nyatanya dia sedikit memanas karena menganggap bahwa Desti cemburu akan perhatian Rian kepada Wati.
'Ngapain sih si Desti tanya seperti itu ke Rian. Apa aku masih kurang dalam memperhatikannya?' batin Yasha bertanya.
"Kenapa kamu diam Rian?" tanya Desti lagi. Namun tetap tak mendapat jawaban dari Rian.
Wati dan Karti pun menatap ke arah Rian menunggu jawabannya. Tapi yang di tanya tak kunjung menjawab.
"Hmmhh... Berarti bener kan dugaanku. Kamu diam aja gak bisa jawab pertanyaanku. Berarti kamu ada apa-apa sama Wati 'kan Rian" Desti terus mencecar Rian, memaksanya untuk menjawab pertanyaannya.
Mendengar pertanyaan Desti yang sepertinya terus menyudutkan Rian, Yasha ingin membantu Rian karena Yasha sedikit tahu apa alasan Rian bersikap berbeda kepada Wati. Dan saat Yasha berdiri dan mulai berkata.
"Sebenarnya Rian itu..." belum sempat ia menjelaskan, tetapi Rian sudah berbalik dan menuju ke pintu untuk keluar ruangan.
Semua siswa menatap kepergian Rian dan mulai berisik dengan argumen mereka masing-masing yang tak begitu di hiraukan oleh Wati. Kemudian Wati kembali menatap Desti dengan tajam.
"Eh Desti. Apa maksud kamu tanya kayak gitu ke Rian. Dia kan emang orang yang peduli ke semua orang. Gak cuma aku doang kok yang dia perhatiin. Malah hampir semua dia perlakukan demikian. Dan gak seharusnya kamu bertanya pertanyaan yang menyangkut hal pribadi ke orang lain. Apa lagi memaksanya untuk menjawab. Itu gak baik Desti." baru kali ini Wati bicara panjang lebar.
Semua orang di kelas pun memandang Wati takjub akan sikap Wati karena biasanya Wati hanya berkata satu atau dua kalimat saja. Atau mengatakan hal-hal yang penting saja. Kecuali pada saat-saat tertentu. Tapi kali ini mereka melihat sisi lain Wati.
"Memangnya apa masalah nya untuk kamu jika Rian perhatian pada orang lain.?" Wati menjeda kalimatnya dan melanjutkannya. "Apa jangan-jangan kamu yang ada apa-apa ke Rian.? Kamu suka sama Rian? Begitu?" tebak Wati dan berhasil membuat Desti tersentak kaget dengan pernyataan Wati itu.
Namun segera ia menjawab, "Mana ada seperti itu. Aku gak ada apa-apa sama Rian. Lagi pula aku kan udah ada sama Yasha. Jadi aku gak peduli yang lain. Apalagi sama Rian. Dan juga apapun yang bersangkutan sama kamu" Desti menunjuk tepat ke depan wajah Wati dengan menekankan kata-katanya pada kalimat terakhir.
Karti langsung menyelak dan menepis tangan Desti dari hadapan Wati seraya berkata, "Eh tuan putri Desti yang terhormat. Kita semua tahu kamu disini emang orang yang berada dan dari keluarga terpandang. Tapi gak sepantasnya kamu bersikap demikian. Seolah-olah kamu paling berkuasa di sini. Seharusnya kamu itu bersikap lebih elegan dan lembut selayaknya tuan putri yang terhormat. Gak urakan kayak gini. Gak ber-etika."
Desti hendak menjawab berkataan Karti yang seolah merendahkannya. Tapi saat ia baru membuka mulut bahkan sebelum ia berucap apapun, Karti sudah menarik lengan Wati dan berjalan menuju ke pintu keluar ruang kelas dengan berucap,-
"Sudahlah. Ayo Wati. Mending kita keluar aja daripada harus dengerin nenek lampir ngomong. Gak penting."
Hal itu pun berhasil membuat Desti makin geram dan mengeratkan rahangnya menahan amarah. Dia pun menghentakkan kaki dan kembali mendudukkan pantatnya ke kursinya dengan kasar.
"Huhh.." menghembuskan nafas dengan kasar. Namun tak urung juga, ia pun menarik salah satu sudut bibirnya dengan sinis. Ia merasa menang dari Wati dan mendapat rencana buruk untuk Wati dan juga Rian.
***
Setelah berada di luar kelas Wati berusaha menghentikan langkah mereka dengan menahan tangan Karti.
"Kita mau kemana sih , neng?" tanya Wati kemudian setelah berhenti.
"Mau nyamperin Rian. Kita butuh penjelasan yang pasti dari tuh anak" jawab Karti sambil menarik kembali lengan Wati untuk lanjut berjalan.
"Emang kamu tahu dimana Rian sekarang?" tanya Wati tanpa menghentikan langkahnya mengikuti Karti.
"Tahu." jawabnya singkat.
"Emang dimana Rian sekarang?"
"Di taman belakang dekat danau."
__ADS_1
"Sok tahu kamu"
Seketika Karti menghentikan langkahnya membuat Wati terkejut dan hampir menabrak Karti.
"Kenapa berhenti mendadak sih. Hampir aja kan kamu ketabrak." ucap Wati dan mundur selangkah.
Karti berbalik lalu sedikit mendongak untuk bisa menatap Wati karena memang Wati lebih tinggi dari Karti. Sehingga membuat Karti mendongak ke atas hanya untuk menatap wajah Wati. Apalagi dengan jarak sedekat ini. Yang di tatap hanya nyengir saja.
"Kamu ini gimana sih. Tanya, udah di jawab malah bilang 'sok tahu'. Lagian dia kan juga pernah bilang ke kita kalo tempat itu tempat favorit dia. Apalagi kalo lagi ada masalah. Selain perpus, dia pasti langsung lari kesana." terang Karti panjang lebar.
"Apa iya ya.? Aku pikir dia akan langsung terjun ke danau nya" tebak Wati sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.
"Ishhh... Nih anak masih bisa bercanda ya. Ntar kalo beneran dia nyebur ke danau gimana.? Emang kamu mau tanggung jawab. Kan dia juga kayak gitu karena belain kamu dari si nenek lampir itu." sungut karti sambil memukul-mukul lengan lengan Wati sedikit keras.
"Aww... Iya-iya... jangan donk. Aku gak mau lah kalo dia nyebur cuma gara-gara masalah ini. Trus nanti kalo dia nyebur ntar gak ada lagi donk yang belain aku di depan Desti." goda Wati akhirnya dengan memainkan alisnya naik turun sambil menahan senyumnya.
Karti yang sedang emosi bertambah emosi karena terus-terusan di goda Wati. Akhirnya Wati menyerah karena ternyata Karti malah semakin menghujaninya dengan cubitan-cubitan maut karena gemas dengan sikap Wati yang terkadang sulit di tebak sekaligus membuat sahabatnya itu heran dan tak percaya akan hal itu. Hal yang tak biasa ia lakukan pada kebanyakan orang.
Bercanda.
Menggoda.
Bahkan sampai berkata-kata yang cukup panjang seperti saat menghadapi Desti tadi.
Setelah Wati kalah. Mereka melanjutkan berjalan menuju tempat dimana di duga Rian berada.
***
Rian menyusuri lorong kelas yang sepi karena memang masih jam belajar. Setelah sampai ujung lorong, lalu ia berbelok menuju halaman belakang. Tujuannya adalah danau. Dan setelah sampai, ia langsung duduk bersila di tepi danau. Ia duduk di hamparan rumput yang hijau setelah mengambil beberapa kerikil yang tak jauh dari sana.
Ia melemparkan kerikil-kerikil itu satu per satu ke danau sambil memikirkan pertanyaan dari Desti tadi. Ia juga memikirkan, kira-kira jawaban apa yang harus ia sampaikan apabila nanti Wati juga mempertanyakannya. Tanpa Rian sadari, Wati dan Karti sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu ngapain malah lari kesini sih ,Yan.?" tanya Karti tiba-tiba.
Rian yang kaget namun tak sampai terlonjak, lalu menoleh ke asal suara dan mendongak. Lalu ia kembali menatap danau fan melemparkan kerikil kembali.
"Maaf." jawabnya singkat.
Karti dan Wati mendesah bersama. Bukan kata atau jawaban itu yang mereka harapkan. Lalu mereka melangkah dan duduk di sebelah Rian.
"Bukan kata itu yang aku ingin dengar Rian. Tapi penjelasan kenapa kamu malah keaini dan gak menjawab Desti." kata Karti dengan sedikit mendorong bahu Rian agar dapat melihat ke arahnya.
Wati hanya mengangguk di sebelah Karti membenarkan perkataan Karti. Rian menatap mereka sekilas dan kembali melihat hamparan danau di depannya.
"Aku bukannya lari. Tapi aku belum punya jawaban dari apa yang di tanyakan Desti tadi." Rian menjeda kalimatnya. Karti dan Wati mulai serius dan memasang telinga untuk mendengar penjelasan Rian selanjutnya.
"Aku masih belum yakin sih. Karena menurut aku, selama ini aku bersikap biasa saja. Baik itu ke Wati. Ataupun kepada teman-teman yang lain. Tapii..." Rian menggantung kalimatnya. Membuat Karti dan Wati saling tatap keheranan sekaligus penasaran. Lalu kembali menatap Rian. Tanpa mereka sadari, ada orang lain yang juga mulai mendengarkan obrolan mereka.
"Tapi apa, Yan?" tanya Wati kemudian.
__ADS_1
***
Yasha yang sudah duduk lagi setelah tadi hampir ingin membela Rian, tapi gak jadi. Memutuskan untik kembali berdiri dan menghampiri Desti. Ia duduk di kursinya Wati. Sementara yang lain kembali mengerjakan tugas, dan ada juga yang bermain-main dan mengobrol.
"Des." panggil Yasha.
"hmmm." Desti menyahut hanya dengan deheman.
"Desti." panggil Yasha sekali lagi.
"Apa Yasha?" sahut Desti dan menoleh kepada Yasha.
Yasha sedikit berpikir dengan pandangan menatap lantai, lalu mendongak menatap Desti.
"Desti, apa kamu tahu, apa alasan Rian bersikap demikian.?" tanya Yasha.
Desti membuang nafas sedikit kasar dan kembali menatap kedepan dengan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Kenapa kamu tanya itu?" tak menjawab, Desti malah balik tanya.
"Ya.. Aku pengen tau aja apa menurut pandangan kamu." jawabnya.
Desti hanya manggut-manggut saja.
"Jadi bagaimana. Menurut kamu, kenapa Rian demikian.?" tanya Yasha lagi.
"Emmh. Menurut aku sih kayaknya dia naksir si Wati. Makanya dia selalu ngebelai Wati sampe segitunya." jawabnya dengan kembali menatap Yasha.
"Bukan" sanggah Yasha cepat. Membuat Desti menaikkan sebelah alisnya keheranan.
"Emm. Maksud aku. Bukan itu alasan Rian seperti itu.Tapi ada maksud lain yang hanya Rian saja yang tahu. Bahkan aku pun gak di kasih tahu sama dia. Apa sebenarnya alasannya seperti itu." jelas Yadha.
Desti mengangguk percaya.
"Lagian aku gak peduli, dia mau gimana pun juga gak masalah sih buat aku. Asalkan gak ada hubungannya sama aku aja." sahut nya.
Yasha mengangguk paham. "Yaudah. Aku keluar dulu ya cari si Rian." pamit Yasha sambil berdiri dan meninggalkan Desti setelah ia mengangguk mengizinkan.
Kemudian Yasha menyusuri lorong kelas menuju halaman belakang. Ia tahu pasti Rian berada disana. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah dimana ada 3 orang disana. Namun sebelum ia sampai disana, ia berhenti dan memilih bersembunyi di balik pohon di dekat mereka. Ia mendengarkan percakapan mereka dari balik pohon itu.
"Tapi apa, Yan?"
"Tapiii..."
*****
>>>>>
Hampura readers. baru bisa Up lagi.
__ADS_1
Mohon untuk tetap dukung karya Otor ya.
Pliiisssss....