
Deril tidak melepas pandangannya sampai Bu Sonya menghilang dari pandangan. Wanita paruh baya itu tampak santai, seolah tidak memperdulikan atmosfer dingin yang tercipta karena Deril lebih banyak menutup mulutnya.
Setelah motor Bu Sonya menghilang di belokan dan membaur dengan kendaraan lainnya, barulah Deril bisa bernafas lega. Deril langsung mengunci pintu depan rumah. Setelah itu, dia berlari menuju pintu belakang yang menuju kebun dan langsung memastikan pintu itu juga terkunci.
"Aku harus tambahkan kunci dari dalam, supaya kejadian seperti dulu tidak terulang lagi," bisik Deril. Dia masih tidak sanggup jika harus melihat gundukan tanah di kebun belakang.
Deril berjalan menyusuri rumahnya sendiri. Dia masuk ke dalam ruangan, satu demi satu, memastikan setiap jendela terkunci dan tidak ada kerusakan apapun pada kuncinya. Bu Sonya memiliki banyak waktu sendirian di rumah ini, sampai Deril pulang sekolah tadi. Deril harus ekstra hati-hati.
Setelah memastikan lantai dua dan loteng rumahnya aman, Deril pergi ke kamarnya untuk mengganti seragam sekolah. Dia masih harus menggunakannya esok hari. Handphone-nya berdering tepat saat Deril menggantung seragam sekolahnya di belakang pintu kamar.
"Halo, Yah?" sapa Deril riang.
"Kamu sudah di rumah?" tanya Alex.
"Ya, sudah. Ayah di mana?"
"Sebentar lagi sampai. Tidak sampai lima menit."
Deril buru-buru menuruni anak tangga. "Oke, Yah! Aku tunggu di depan," kata Deril, lalu memutus sambungan teleponnya. Hampir lima hari dia tidak bertemu dengan ayahnya. Setelah mengalami kejadian mengerikan itu, dan juga melihat ayahnya terkapar di ranjang UGD, Deril akhirnya mengerti betapa berartinya waktu yang dia miliki bersama dengan keluarganya.
Meskipun Deril tahu kalau Alex tidak mungkin langsung muncul di ambang pintu begitu Deril tiba di depan, Deril seperti tidak sabar dengan kedatangan Alex. Akhirnya, sosok ayah yang selalu kuat dan bijaksana itu, akan kembali ke rumah ini.
Benar saja. Sekitar tiga menit kemudian, barulah sebuah mobil bercat putih muncul mendekati rumah Deril. Deril tersenyum lebar, menyambut ayahnya pulang.
Alex melambai kecil waktu melihat Deril ada di teras depan. Wajah anaknya cerah, membuat suasana hati Alex menjadi teduh. Selesai membayar taksi online, Alex segera masuk ke rumah dengan sebuah ransel hitam di punggungnya.
"Apa kabarmu, Nak?" sapa Alex, ketika dia tiba di depan Deril.
"Apa Ayah tidak tahu jawabannya?" goda Deril. Senyumannya semakin melebar. "Aku sudah memesan makanan untuk makan malam kita. Ayah bisa mandi dulu dan ada waktu untuk istirahat sebentar."
__ADS_1
Alex mengikuti Deril yang masuk ke dalam rumah. "Ayah memang perlu mandi. Tidak ada yang lebih nyaman daripada kamar mandi sendiri," Alex setuju. "Oh, ya, Ayah dengar, kamu menemui Mika untuk berterima kasih."
"Apa Ibu yang bilang?"
"Iya. Apa semua baik-baik saja?"
"Hhh..." Deril menghela nafas panjang. "Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan pada Ayah. Tapi, rasanya sekarang bukan waktu yang tepat."
Alex mengacak-acak rambut Deril penuh sayang. "Kalau bukan sekarang, apa menurutmu ada waktu yang lebih tepat?"
Deril setuju dengan perkataan ayahnya. Mereka memang sudah terlibat dengan masalah Dokter Stephen. Sedikit demi sedikit, mereka merasakan adanya kejanggalan yang terjadi di rumah sebelah. Meskipun itu adalah rumah dari orang berpendidikan dengan kekayaan yang luar biasa, itu tidak bisa dijadikan alasan Deril menutup mata dengan apa yang dia tahu.
"Jadi, Ayah akan mandi dan kembali lagi ke dapur. Kita ngobrol di meja makan?"
"Setuju."
***
"Sebenarnya Ayah sudah tahu kalau itu ada racunnya. Walaupun Ayah cuma bekerja sebagai administrator di kepolisian, ada banyak hal yang Ayah dengar mengenai banyak kasus."
"Tapi, kenapa Ayah tidak melapor ke polisi!?" Deril tiba-tiba marah. "Teman Ayah pasti akan membantu Ayah, kan!?"
Alex mengangguk. "Teman-teman Ayah memang akan membantu. Tapi, apa kita punya bukti?"
"Dari pemeriksaan darah Ayah, bukannya mereka bisa menemukan sesuatu?"
"Tapi, tidak ada jejak di rumah ini," kilah Alex. "Kamu sendiri tahu, kondisi keluarga kita sedang buruk. Ayah kembali ke pekerjaan lama Ayah, setelah selama ini berjuang untuk membuka usaha sendiri. Bagi mereka, Ayah yang sedang 'jatuh', akan lebih mudah mendapatkan vonis 'percobaan bunuh diri' ketimbang 'diracuni'."
Deril tidak bisa membuka mulutnya. Keadaan mereka sekarang memang tidak menguntungkan. Apalagi, Dokter Stephen adalah lawan yang kuat.
__ADS_1
"Yah, apa menurut Ayah, Mika dijual oleh Dokter Stephen?" suara Deril terdengar sangat pelan ketika bertanya.
Alex menatap anaknya dalam-dalam. Jujur saja, dia merasa kasihan pada anak laki-lakinya yang masih remaja, namun harus memikirkan hal serumit ini. Dia mengajak keluarganya pindah ke sini, bukan untuk mengalami kejadian seperti ini. Tetapi, Alex tahu. Meminta Deril mundur sekarang, tidak akan ada gunanya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Aku sering kasus-kasus kejahatan. Salah satunya adalah kasus pemerkosaan." Deril menatap jauh ke luar jendela. "Bu Sonya bilang, Mika sering punya bekas lebam di pahanya. Pada kasus-kasus pemerkosaan, bukankah itu tanda jelasnya?"
"Apa mungkin orang-orang dewasa yang datang, adalah orang yang membeli Mika untuk ditiduri?"
"Bukannya itu terlalu kejam untuk ukuran seorang ayah yang punya anak semata wayang?" tanya Deril.
Alex mangangguk. Dia juga merasa kalau hanya orangtua yang tidak waras yang akan melakukan hal keji semacam itu. "Tapi, kalau benar begitu, kenapa? Apa alasan Dokter Stephen sampai melakukan hal terkutuk begitu?"
"Apa mungkin karena kehilangan istrinya?" terka Deril.
"Bisa saja. Tapi, menjual anak untuk dinikmati sembarang pria itu, benar-benar menjijikkan. Ayah yakin, alasannya bukan faktor ekonomi," Alex bergidik, ngeri sendiri dengan apa yang dia katakan.
"Ya. Dokter Stephen tidak terlihat kekurangan kekayaan. Kalau benar Dokter Stephen menjual Mika, pastinya ada alasan yang sangat kuat."
"Kasihan anak itu. Dia masih sangat muda. Ayah bahkan tidak bisa membayangkan kalau Diana yang mengalami nasib begitu."
"Makanya, karena aku punya adik perempuan, aku jadi iba sama apa yang menimpa Mika," sambung Deril. "Aku akan berusaha mendekati Mika dan Dokter Stephen. Suatu saat, pasti ada celah, lalu aku bisa membantu Mika."
Alex diam sejenak mendengar pemikiran anak sulungnya. "Apa... kamu tidak merasa kalau ini terlalu berbahaya?" Alex sangsi.
"Lalu, menurut Ayah, harus bagaimana lagi?" Deril balik bertanya. "Apa Ayah mau melaporkan Dokter Stephen begitu saja? Bukannya Ayah sendiri yang bilang kalau kita tidak punya bukti apapun? Atau, Ayah sendiri yang mau mendekati Mika?"
"HAHAHAHAHA! JANGAN KONYOL!"
__ADS_1
***