The Girl Next Door

The Girl Next Door
Sadar


__ADS_3

"Jadi, Ayah setuju denganku kalau kita tidak punya pilihan lain, selain aku yang terjun langsung dalam mengatasi masalah ini, kan?" tanya Deril.


Malam belum tiba, namun Deril merasa percakapan mereka akan menjadi alot. Alex tidak mungkin dengan senang hati membiarkan Deril terjun ke lubang buaya sendirian. Namun, jika dia lebih ikut campur, Dokter Stephen akan curiga pada mereka. Tidak masuk akal juga jika Alex sendiri yang mendekati Mika dan menyelamatkannya dari rumah itu.


"Apa kamu sebegitu sukanya dengan Mika?" tanya Alex.


"Ayah, kita tidak sedang membicarakan hal itu."


"Bukan begitu," Alex bersandar. "Ayah sedang memikirkan cara paling mudah untuk menyelamatkan Mika."


Alis Deril terangkat. "Cara paling mudah?"


"Kamu menikah saja dengan Mika," Alex menjawab enteng. "Kalau dia jadi keluarga kita, tentu saja Mika tidak akan tinggal di rumah itu lagi. Dia akan bebas dari penderitaannya."


"Ayah!"


"Tapi, itu juga kalau Dokter Stephen merestui kamu. Dia punya anak perempuan paling cantik yang pernah ayah lihat. Lalu, jika disandingkan dengan kamu, itu tidak sebanding. Kamu memang punya darah campuran. Tapi, otak dan kekayaanmu tidak sebanding dengan Dokter Stephen."


"Makanya! Itu bukan cara yang paling mudah!" protes Deril dengan wajah memerah. "Satu-satunya cara adalah membongkar semua rahasia tetangga sebelah!"


Alex mengangguk-angguk. "Deril, berjanjilah satu hal pada Ayah."


"Apa?"


"Apapun yang mau kamu lakukan dan apapun berita terbaru yang kamu punya, Ayah mohon, kamu harus beritahu Ayah. Kalau ada yang dirasa janggal dan kamu dalam bahaya, hubungi Ayah segera. Ayah akan selalu mengangkat telepon dari kamu."


"Aku tahu. Aku juga bukannya tidak sayang sama nyawaku," jawab Deril. "Tapi, kalau keadaannya memburuk, aku akan hubungi Ayah."


Mendapati dukungan dari Alex, adalah satu hal yang Deril perlukan saat ini. Setidaknya, ada orang dewasa dalam rencananya. Dia juga tidak boleh gegabah dan terlalu menganggap enteng Dokter Stephen. Meski Mika membantunya tempo hari, itu tidak menjelaskan bahwa Mika bukan bagian dari rencana Dokter Stephen.

__ADS_1


"Ayah, bisa Ayah bicara dengan Ibu masalah Bu Sonya?" tanya Deril, memulai percakapan baru.


"Kamu yakin?" Alex balik bertanya. "Dari ceritamu yang mengatakan bahwa Bu Sonya berkata mengenai kondisi Mika, bukannya sepertinya dia tidak ada sangkutpautnya dengan Dokter Stephen? Mungkin saja sebenarnya dia tidak tahu apa yang terjadi?"


"Tapi aku tidak yakin dengan hal itu. Bu Sonya memang menceritakan kondisi Mika ketika dia datang ke rumah Dokter Stephen untuk bersih-bersih. Bagaimana kalau ternyata, itu adalah jebakan?"


"Kamu bisa mengorek informasi dari Bu Sonya ke depannya," Alex masih berpendapat.


"Itupun kalau dia memberitahu informasi yang sebenarnya," kilah Deril. "Kalau dia bersekongkol dengan Dokter Stephen untuk menjebakku, semua akan selesai."


Alex bergidik mendengar ucapan putranya. "Deril, kamu kebanyakan nonton film detektif," komentarnya.


"Jadi, Ayah setuju lagi denganku?" tanya Deril.


"Logikamu bagus," jawab Alex. Dia akhirnya menyerah. "Ayah akan beritahu Ibu untuk berhenti meminta Bu Sonya datang. Apapun agar membuat kamu tenang dalam melancarkan rencana menjadikan Mika istrimu."


***


Deril mengintip rumah sebelah dari loteng rumahnya. Entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu. Deril sudah melapisi jendela loteng itu agar sulit dilihat dari luar rumah, apalagi jika di luar dalam keadaan terang. Harusnya, dia melanjutkan hobinya di sana. Menggambar tanpa memperdulikan waktu. Pindahnya mereka ke pedesaan, harusnya membuatnya mempunyai banyak inspirasi. Apalagi, di sekitar rumahnya banyak pemandangan indah.


Deril dapat mendengar sayup-sayup suara televisi di lantai dua, tepatnya dari kamar Alex. Sepertinya, Alex sedang bersantai dan menikmati waktu sendirinya. Alex memang masih harus istirahat. Tiga hari ke depan, Alex hanya akan berdiam diri di rumah.


Tangan Deril menyentuh jendela loteng yang dingin. Malam di luar sana terasa sepi. Lampu rumah sebelah masih menyala. Tidak banyak orang berlalu-lalang. Dari tempatnya, Deril dapat melihat pemilik warung yang ada di ujung jalan sudah mulai mengemasi barang dagangannya. Artinya, jam sebentar lagi menunjukkan pukul sepuluh malam.


'Tidak ada yang mencurigakan,' pikir Deril, setelah memata-matai rumah sebelah selama satu jam. Mika juga tidak terlihat melintas di lorong lantai dua. Dokter Stephen kembali dari rumah sakit tepat waktu. Sepertinya tidak ada jawal operasi hari ini.


"Aku harus siap-siap tidur. Besok harus nyontek PR juga," Deril menutup tirai jendela lotengnya. Dia merapikan kanvas yang tidak jadi dia pakai. Tidak ada gunanya memaksa tangannya untuk melukis, sementara pikirannya jauh. Itu hanya akan membuat lukisannya terlihat buruk.


"Yah!" Deril muncul dari balik pintu kamar orangtuanya. Alex sedang menonton salah satu acara komedi yang tayang hingga tengah malam. "Aku mau istirahat duluan, ya?" pamitnya.

__ADS_1


"Oke, oke! Selamat tidur!" Alex melambai tanpa menoleh. Dia sibuk tertawa dan mendengar orang yang sedang mengoceh di dalam televisi.


***


Deril terbangun karena mencium wangi masakan. Sudah lama rasanya dia tidak mencium bau makanan rumahan. Beberapa hari ini, selama dia sendirian di rumah, Deril hanya memesan makanan secara online atau memasak mie instan.


Tanpa mencuci wajah terlebih dahulu, Deril langsung keluar dari kamarnya. Dia menuruni anak tangga dan segera menuju dapur. Tidak diragukan lagi. Ayahnya sudah ada di sana. Pemandangan seperti itu tidak setiap hari bisa Deril saksikan. Jadi, Deril duduk di kursi minibar dan menonton ayahnya memasak sesuatu.


"Astaga!" Alex terlonjak ketika mendapati Deril duduk di belakangnya. "Kamu ini! Bikin Ayah jantungan aja!"


Deril nyengir persis kuda. "Ayah masak apa?" tanya Deril.


Alex hanya bisa mengelus-elus dadanya. "Nasi goreng. Cuma ini yang Ayah bisa," jawabnya. Kemudian, Alex meletakkan dua porsi nasi goreng ke atas meja minibar. "Silakan dimakan, Tuan Muda!" sindirnya.


Deril yang tidak merasa tersinggung sama sekali, langsung meraih sendok dan melahap nasi goreng buatan Alex banyak-banyak. "Uenaaakkk!!!" pujinya sambil mengangkat jempol. "Akhirnya aku makan makanan manusia!"


"Memangnya selama ini kamu makan apa? Rumput liar kayak kambing?" Alex tertawa kecil, lalu bergabung dengan Deril di meja.


Mereka menyantap sarapan mereka dalam diam. Masing-masing menikmati waktu yang mereka punya. Sebenarnya, Deril merindukan kehadiran Serena dan Diana di rumah ini. Meski keduanya berisik, berkat mereka, setiap pagi tidak terasa sepi. Ibunya yang baik hati dan adiknya yang bawel, membuat hidupnya hangat.


"Apa Diana sudah membaik, Yah?" tanya Deril.


"Oh, iya! Ayah lupa bilang!" Alex menepuk jidatnya. "Kemarin malam, Ayah dapat kabar dari ibumu. Katanya, Diana sudah sadar baik. Dia akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa sore ini."


Deril tersenyum lebar. "Apa Ayah mau ke rumah sakit nanti malam?"


"Boleh."


***

__ADS_1


__ADS_2