
Kantor polisi itu tampak menakutkan bagi Deril. Gedungnya berdiri kokoh dengan tiga lantai. Jika dilihat dengan mata telanjang, tidak ada yang aneh dengan bangunan itu. Namun, orang-orang yang berlalu-lalang keluar-masuklah yang menjadikan penampakannya lumayan menyeramkan.
Dua orang laki-laki bertubuh tinggi besar keluar dari pintu utama gedung. Mereka tertawa keras sambil memegang gelas kertas yang mengepulkan asap tipis. Tawa mereka saja, mampu membuat kaki Deril gemetar. Dua orang dengan nametag polisi itu, malah terlihat seperti preman bagi Deril.
"Mereka teman saya. Namanya Pak Roy dan Pak Bagus. Aslinya baik, kok!"
Deril menoleh cepat, kaget dengan suara yang tiba-tiba terdengar di belakang telinganya. "Bu Mia!?" cicitnya.
Mia nyengir, memamerkan giginya yang tidak rata, namun terlihat cukup manis untuk wanita seusianya. "Apa kabar, Dik?"
"Nama saya Deril," Deril mengoreksi. Dipanggil 'adik' dalam usia remaja, membuat Deril tidak senang. "Bu Mia ngapain tiba-tiba nongol di belakang saya?"
"Habis keliling," jawab Mia enteng. "Daripada duduk di belakang meja dan membuat perut saya buncit, saya memilih berkeliling dan mencegah terjadinya kejahatan di sini. Ternyata desa ini lumayan luas ya."
"Apa Bu Mia baru di sini?"
Mia mengangguk. "Saya baru dipindahkan ke sini sekitar seminggu lalu," jawabnya. "Kamu kenal daerah sini?"
"Tidak begitu. Saya juga orang baru di sini, dan saya tidak begitu suka berkeliling."
"Jadi, kamu ke kantor polisi bukan karena sekedar lewat, ya?" Mia tiba-tiba mendesak. "Apa sebenarnya yang mengganggu pikiranmu, sampai kamu ke sini?"
Deril menggigit bibir bawahnya. Masih ada keraguan yang dia rasakan. Ditambah, dia masih di bawah umur. Omongannya belum bisa dipercaya. "Saya belum bisa cerita."
"Apa ini masalah adikmu yang bernama Diana?" Mia langsung mengutarakan pikirannya, tanpa berbasa-basi. "Maaf, saya tidak begitu pintar memulai percakapan. Saya tidak suka buang-buang waktu."
Deril tidak menjawab. Matanya membelalak lebar. Dia ingin berteriak menceritakan semua yang dia tahu di depan Mia, tapi juga ingin diam seribu bahasa. Deril belum begitu mengenal Mia. DIa tidak tahu, apakah orang ini bisa dia percaya, atau malah menendangnya ke dalam jurang.
"Tidak apa. Saya tidak memaksa kamu untuk bicara sekarang. Saya juga belum tahu garis besar kejadian ini," Mia bicara dengan santainya. "Kamu mau coba mampir masuk? Saya bisa kenalkan kamu ke beberapa teman saya."
"Tidak usah. Saya pulang saja."
"Bukannya perjalananmu jadi sia-sia? Apa tidak sayang, kamu sudah ke sini beberapa kali, tapi tidak ada kemajuan?"
Deril diam lagi. Sebenarnya, dia bingung. Dia ingin membuat kemajuan dalam langkahnya. Tapi, dia selalu kalah dengan Dokter Stephen. Dia bahkan tidak tahu harus apa setelah mendengar lantunan piano yang Dokter Stephen mainkan.
Mia tidak bicara lagi. Jelas dia tidak memaksa Deril untuk mengikutinya. Dia meninggalkan Deril begitu saja di belakang. Deril yang mendapati Mia pergi, langsung memarkir sepedanya di dekat gerbang gedung kepolisian. Lalu, dia mengekor pada Mia yang berjalan dengan penuh percaya diri.
"Sudah selesai jalan-jalannya?" Pak Roy menyapa sambil tersenyum.
"Dapat sesuatu?" timpal Pak Bagus.
"Nih!" Mia menunjuk Deril yang membuntutinya. "Dapet cowok bule ganteng."
__ADS_1
Perhatian Pak Roy dan Pak Bagus langsung mengarah pada Deril. Mata mereka setajam elang, hingga mampu membuat Deril menunduk. Deril merasa mereka bisa membaca isi kepala Deril, kalau dia berani membalas pandangan mereka.
"Wih! Ganteng!"
"Siapa namamu, Dik?"
"Deril!" jawabnya cepat.
"Kamu anak bule yang baru pindah, kan?" tanya Pak Bagus. "Kalau tidak salah, yang rumahnya di sebelah rumah Dokter Stephen?"
"Kamu kenal?" tanya Pak Roy.
"Bu Serena pernah datang ke rumah, buat kenalan sama istriku. Pasti pernah juga ke rumahmu, tapi kamunya nggak ada," jawab Pak Bagus. "Orangnya ramah sekali. Pintar masak juga. Beruntung yang rumahnya dekat sama mereka, bisa curi-curi resep masakan ke Bu Serena.
"Waaaah, rumahku yang jauh di pojokan, bakalan susah, dong!" keluh Pak Roy. "Tapi, aku kenal sama Pak Alex." Pak Roy menoleh pada Deril. "Bapakmu namanya Pak Alex, kan?"
Deril mengangguk saja.
"Aku lihat, ada permintaan atas nama Alexander untuk pindah ke bagian administrasi ke kantor sini. Padahal gaji di pusat lebih banyak daripada di sini."
"Apa kamu yang mewawancarai Pak Alex?"
"Iya," jawab Pak Roy.
"Hhh, kamu ini. Lebih muda daripada kita, tapi santai sekali menanggapi banyak hal," sindir Pak Roy.
"Biarlah anak muda seperti dia yang masih punya banyak tenaga. Kita bergeraknya waktu genting saja," tambah Pak Bagus sambil tertawa pelan.
"Makanya aku yang jadi atasan kalian," Mia balas menyindir.
Pak Roy dan Pak Bagus hanya menanggapi dengan geleng-geleng kepala saja. "Apa kamu mengajak Deril ke sini untuk lihat-lihat kantor? Deril mau jadi polisi kedepannya?"
"Pantas saja hampir setiap hari ke sini," sambung Pak Bagus. "Masuk saja. Saat ini lagi tidak ada kasus apapun. Kami senggang. Kamu boleh tanya-tanya."
"Yuk?" ajak Mia, kemudian melangkah masuk ke dalam. Deril mengikutinya, persis seperti anak bebek yang mengikuti induknya.
***
Mereka duduk berdua sambil meminum teh di dalam gelas kertas. Mia tidak banyak bicara selama duduk, benar-benar memberikan Deril waktu untuk berpikir lama. Mungkin Mia juga merasa, tidak ada gunanya jika dia memaksa Deril membuka mulut.
"Saya yakin, keluarga saya dicelakai," bisik Deril.
Mia menoleh sekilas. Dia meneliti air muka Deril, untuk memutuskan apakah Deril sedang bicara jujur, atau hanya ingin memancing reaksinya.
__ADS_1
"Semuanya terlalu jelas."
"Kenapa tidak melapor ke polisi?" tanya Mia.
"Ibu saya terlalu takut."
"Lalu, kamu setuju?"
Deril menggeleng keras. "Harusnya, saya memaksa orangtua saya untuk mengusut tuntas kasus ini," jawab Deril. "Tapi, laporan awal bahwa ayah saya celaka karena makanan basi dan adik saya ditemukan di halaman belakang karena memergoki pencuri yang masuk rumah, membuat saya tidak bisa bicara."
"Bagaimana menurut ayah kamu?" Mia bertanya lagi.
"Ayah menduga, jika kami bertindak lebih dari ini, akan ada bencana lainnya. Saya setuju tentang hal itu."
Mia meneguk tehnya banyak-banyak sebelum bertanya kembali. "Apa ada yang kamu curigai?"
"Tetangga saya."
Alis Mia terangkat. "Maksudmu, dokter bedah plastik itu?"
"Iya. Dia sangat mencurigakan."
"Kenapa kamu bisa bilang begitu? Apa dokter itu jelas-jelas mengancam kamu atau salah satu keluarga kamu?"
Deril menggeleng kali ini. "Awalnya, saya membuat keributan. Saya menyelinap ke rumahnya, karena anak gadisnya meminta bantuan saya."
"Kamu juga kenal anaknya? Bantuan apa yang anaknya minta ke kamu?" Mia semakin tertarik. Dia sudah yakin sejak kasus kecelakaan ayah Deril dilimpahkan ke timnya, bahwa kasus ini bukan sekedar kecelakaan biasa. Kehadiran Deril di sekitar kantor polisi, merupakan jackpot untuknya. Dia tidak akan melepaskan anak ini sampai mendapatnya semua informasi yang hilang dari pandangan matanya, sebab Serena dan Alex menolak untuk bicara. Seementara Diana, masih memerlukan wali karena di bawah umur.
"Waktu itu dia hanya bilang 'tolong'. Saya tidak begitu mengerti. Jadi, saya menyelinap ke rumah Dokter Stephen. Saya mengacaukan acara--" Deril menelan ludahnya dengan susah payah. Dia hampir tersedak.
"Ada acara apa?" Mia bicara pelan, seolah tidak ingin orang lain mendengar percakapan mereka.
Deril menoleh dengan mata nanar. "Acara minum teh."
"Hanya karena itu, dia marah sama kamu?" Mia memperjelas.
"Itu bukan pesta minum teh biasa. Itu hanya kedok. Sebenarnya, itu adalah pesta s*ex."
"Wow! Wow! Wow!" Mia menoleh ke segala arah, memastikan mereka hanya berdua, duduk di trotoar seberang kantor polisi. Setelah yakin tidak ada yang menguping, Mia kembali pada Deril. "Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan? Jika kamu berbohong, saya bisa saja mengirimmu ke penjara anak-anak."
"Apa saya kelihatan berbohong?" balas Deril.
***
__ADS_1