The Girl Next Door

The Girl Next Door
Mimpi


__ADS_3

"Anda sudah terlalu gila," hanya itu yang bisa Deril katakan untuk mendeskripsikan bagaimana sosok orang di hadapannya. "Saya akan mati, kan?"


Dokter Stephen mengangguk, membenarkan apa yang Deril pikirkan. "Nasibmu akan sama dengan anak yang ada di kulkas pertama."


Deril bergerak, memposisikan tubuhnya hingga telentang di lantai. Dia menatap langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba. Tiba-tiba saja dia merindukan sinar matahari. Sedikit banyaknya, Deril menyesal karena ikut campur dalam masalah ini, hanya karena dia jatuh cinta pada Mika.


"A-aku akan lakukan apapun! Tolong, jangan bunuh siapapun lagi..." mendadak Ardi membuka mulutnya.


Sesaat, Dokter Stephen menatap bocah laki-laki kurus kering itu. "Memangnya apa lagi yang bisa kamu lakukan?" ejek Dokter Stephen. "Apa yang kamu punya, sampai berani menawarkan dirimu seperti itu?" Dokter Stephen berjalan cepat ke arah Ardi. "APA LAGI YANG BISA KAMU LAKUKAN!?"


BUG!!!


Sebuah pukulan mendarat tepat di perut Ardi. Ardi langsung terdiam, seperti tidak bisa bernafas untuk beberapa detik. "Uhuk!" Ardi batuk sekali, lalu mulutnya mengeluarkan darah.


"Dengan tubuhmu yang sudah rusak itu, apa yang bisa kamu lakukan untukku lagi? Aku akan memberimu waktu untuk istirahat panjang, sebelum merasakan neraka kembali. Jadi, diam dan tidurlah!" perintah Dokter Stephen.


Tidak ada jawaban lagi dari Ardi. Dia mati-matian menahan rasa sakit di perutnya. Dokter Stephen bahkan tidak berusaha membawanya ke rumah sakit, yang berarti, dia juga tidak peduli jika Ardi mati beberapa jam kemudian.


"Wajah cantiknya memang akan menarik perhatiaan lebih banyak laki-laki. Bisa saja, ke depannya, akan ada banyak mayat di sini." Dokter Stephen kembali pada Deril. "Karena kamu tidak mau mencobanya, jadi, mati sekarang saja, ya?" Dia mengarahkan moncong pistol pada Deril.


Spontan, Deril meraih kaki Dokter Stephen dan menariknya sekuat tenaga. Deril merasa, itu adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk bertahan hidup. Apapun yang terjadi setelahnya, hanya Tuhan yang tahu.


BUAG!!!


Kepala Dokter Stephen membentur tanah akibat serangan dadakan dari Deril. Dia mengerang kesakitan, namun tidak pingsan seperti harapan Deril. Dalam waktu yang singkat itu, Deril merayap, mendekati pistol yang terjatuh tidak jauh dari tangan Dokter Stephen. Dia segera merebutnya dan ganti menodongkan pistol pada Dokter Stephen.


'Sial! Sial! Siaaaaalll! Aku tidak tahu bagaimana cara menembakkan pistol!' batin Deril. Dia ingin menangis, namun keadaan memaksanya untuk bertahan.

__ADS_1


"Aaaarrghhhh!" Dokter Stephen meringkuk, lalu terduduk sambil memegangi kepala belakangnya. "Hahahaha! Apa begini rasanya saat aku memukulimu tadi?"


Deril menelan ludah dengan susah payah. Dari sudut matanya, Deril dapat melihat tongkat bisbol yang tergeletak di anak tangga terakhir. 'Astaga, jika dia berlari dan mengambil tongkat itu, matilah aku!' batin Deril putus asa. Dia meneliti bagaimana sepertinya pistol itu akan berfungsi. 'Apakah ini pistol otomatis? Apakah aku tinggal menarik pelatuknya?'


"Hanya tersisa satu peluru."


Deril membelalak kaget. Dia teringat kalau tadi Dokter Stephen menembakkan peluru beberapa kali ke tubuh Mia.


"Kecuali kamu penembak jitu, cobalah tembak mati aku dengan satu peluru itu." Dokter Stephen bangkit berdiri. Deril sempat gemetaran karena sosok itu. Tapi akhirnya, dia memutuskan untuk menarik pelatuk dan mengarahkan ujung pistol pada perut Dokter Stephen.


DOR!!!


Letusan itu menggema di dalam basement. Dia tidak memberikan waktu untuk Dokter Stephen memprovokasinya lagi. Deril berusaha tidak menutup mata ketika menembak, takut Dokter Stephen berkelit dan malah menerjangnya.


'Kena!' Deril girang bukan main saat darah merembes membasahi kemeja Dokter Stephen. 'Bergerak, Deril! Ambil tongkat itu!' Deril melempar pistol di tangannya jauh-jauh. Dia merangkak secepat yang dia bisa menuju anak tangga. Begitu berhasil mencapai tongkat bisbol, Deril menoleh ke belakang sejenak. Dia harus memastikan bahwa dirinya berada jauh dari jangkauan Dokter Stephen.


Sadar bahwa hidupnya ada di ujung tanduk, Deril segera menaiki anak tangga. Dia harus kabur sebelum Dokter Stephen mengacungkan pistol itu padanya. Setidaknya, separuh badannya harus sudah keluar dari pintu rahasia basement itu.


DOR!!!


Deril menutup mata saat suara tembakan terdengar lagi. Hal terakhir yang dia ingat, tangannya sudah mendorong pintu rahasia hingga terbuka. Dia tidak ingat lagi, apakah dia berhasil mengeluarkan badannya sebelum itu, atau tidak.


***


(Sepuluh tahun lalu)


"Kamu gila! Apa yang kamu lakukan pada tubuh anak kita!?"

__ADS_1


"Dia akan selalu seperti ini."


"Bukan ini yang aku mau!"


"Anakku yang cantik."


"Lepaskan! Jauhkan tanganmu dari tubuh anakku! Aku akan membawanya sendiri ke rumah sakit!"


BUAK!!!


"Kamu bilang, aku harus menolong anakku."


BUAK!!!


"Kamu bilang, aku tidak boleh membiarkan anakku mati."


BUAK!!!


"Kenapa kamu menghalangi niatku untuk membuat anakku tampak seperti ini selamanya?"


BUAK!!!


"Apa kamu tidak marah dengan kelakuan bocah brengsek itu?"


BUAK!!!


"Kalau tidak bisa membantu, lebih baik kamu diam saja!"

__ADS_1


***


__ADS_2