The Girl Next Door

The Girl Next Door
Film


__ADS_3

'Apa ini? Apa yang sebenarnya ingin dia katakan? Apa dia berharap, aku akan percaya begitu saja dengan apa yang dia katakan? Gila! Tidak mungkin!'


Deril bergelut dengan pikirannya sendiri. Kata demi kata yang keluar dari mulut Dokter Stephen, terdengar sangat meyakinkan. Deril hampir terbujuk untuk percaya. Namun, dia buru-buru menepis keyakinan itu.


Matanya mengarah pada Mika yang terpaku di kursinya. Hanya dengan melihatnya saja, Deril yakin kalau Mika akan pingsan. Bintik-bintik keringat mulai terlihat di pelipisnya.


"Mika, kamu baik-baik saja?" tanya Deril, khawatir dengan keadaan Mika.


Dokter Stephen menoleh dan menepuk punggung Mika pelan-pelan. "Pasti kamu lelah setelah pesta teh kemarin."


Tanpa sadar, rahang Deril mengeras. Dia hampir tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melayangkan tinju ke arah Dokter Stephen. Wajah tersenyum menyebalkan milik Dokter Stephen, benar-benar ingin dia kubur.


"Sebagai hadiahnya, sesuai permintaanmu, kamu punya waktu satu jam untuk berbincang-bincang dengan Deril," kata Dokter Stephen pada Mika. "Jangan terlalu tegang. Nanti kamu sakit."


Tidak ada jawaban dari Mika ataupun Deril. Dokter Stephen merapikan piringnya, kemudian membelai lembut kepala Mika. Dia berbisik sesuatu sebelum pergi dari ruang makan.


"Jadi..." Deril memulai percakapan, walau sebenarnya dia enggan bertanya. "Apa semuanya benar?"


Mika tidak menjawab. Dia malah merapikan piringnya. "Mau makan camilan sambil nonton?" tawarnya.


Deril sadar kalau Mika sengaja tidak menjawab apa yang dia tanyakan. Dalam situasi seperti itu, mustahil Mika berpura-pura tidak mendengar. Seperti sebelumnya, Deril menduga bahwa Dokter Stephen memasang banyak alat penyadap di sekitar mereka. Bertamu ke rumah itu untuk mendapat informasi, adalah suatu tindakan yang bodoh.


Akhirnya, Deril memutuskan untuk mengikuti alur permainan Dokter Stephen. Dia juga tidak akan bertanya secara terang-terangan pada Mika. Deril harus memikirkan cara agar mereka bisa berkomunikasi tanpa diketahui Dokter Stephen.


Deril mengikuti Mika saat meletakkan piring kotor ke dalam bak cuci piring. Baru saja dia mau mencuci semua piring kotor, Mika menghentikannya.


"Bu Sonya akan datang. Besok. Cuci piring," kata Mika.


Deril menurut saja. Kemudian mereka pergi ke ruang tengah, di mana terdapat televisi setinggi tubuh Deril. Ada sound sistem yang tidak kalah besarnya berdiri di kanan dan kiri televisi.


"Duduk!" Mika berkata seolah itu perintah.


Deril duduk di sofa berwarna hitam berukuran besar yang sangat empuk. Saking empuknya, dia seperti akan tenggelam di dalam sofa itu. "Apa kamu suka menghabiskan waktu dengan menonton film?" tanya Deril.


Mika bersimpuh di depan televisi dan membuka laci yang penuh dengan kaset film. "Papa suka."

__ADS_1


"Apa kamu pernah nonton film sama orang lain?"


"Tidak."


"Kamu mau nonton film apa?"


"Hantu."


Deril menelan ludah. Sebenarnya, dia cukup penakut dan tidak menyukai hal-hal mistis. Namun, tidak mungkin dia mengatakan hal itu pada Mika saat ini. Kalau dia minta mengganti ke genre romantis, itu akan terlihat seperti dia sedang modus saja. Apalagi jika ada adegan romantis, suasana di antara mereka pasti menjadi canggung.


"Mau minum apa?" tanya Mika sembari memasukkan kaset DVD ke dalam alatnya.


"Apa saja."


Mika berlari kecil kembali ke arah dapur. Hanya beberapa detik, dan dia kembali tepat saat film akan dimulai. Mika meletakkan dua kaleng minuman soda dan toples camilan yang tadi Deril bawa.


"Apa Dokter Stephen tidak ikut nonton?" Deril memastikan.


"Tidak. Ini hadiahku. Kemarin sudah jadi anak baik. Aku minta hadiah nonton sama kamu." Mika duduk di sebelah Deril.


Hal semacam ini tidak sering terjadi di dalam hidupnya. Deril tidak suka dengan keramaian ataupun acara di luar sekolah. Dia tidak pandai jika berdekatan dengan lawan jenis.


Namun, saat ini, dia merasa sangat bahagia ketika Mika ada di sebelahnya. Dia merasakan isi perutnya ingin keluar saking bahagianya. Sejenak, dia bisa melupakan kejahatan yang Dokter Stephen lakukan. Deril sempat melupakan tekadnya untuk mengobrol secara rahasia dengan Mika untuk beberapa saat.


Mika meraih kaleng minuman lalu mengopernya pada Deril. "Suka?"


"Y-ya!?" Deril salah tingkah. "Oh, minumannya? Ya, aku suka!" jawab Deril sambil menerima pemberian Mika.


'Astaga, Deril! Fokuslah! Jangan sampai kamu lupa, apa tujuanmu ke rumah ini sebenarnya!' batin Deril.


Film dimulai. Deril berusaha untuk tidak terlalu terbawa dengan suasana film. Namun, selama film berlangsung, ternyata Dokter Stephen tidak mengganggu sama sekali. Dia benar-benar memberikan Mika waktu hanya berdua bersama Deril.


"Papa nggak akan jahat sama kamu," bisik Mika tiba-tiba.


Deril menoleh. Tatapan Mika lurus ke arah layar, seolah dia menikmati film di depannya. "Kenapa?"

__ADS_1


"Aku janji jadi anak baik. Jadi Papa janji nggak jahat sama kamu."


Pipi Deril bersemu merah. Perasaannya melambung. Bagaimanapun, perkataan Mika barusan seolah memberinya harapan.


"Tolong aku."


Kalimat Mika selanjutnya malah membanting Deril ke kenyataan. Deril akhirnya bisa berpikir jernih saat mendengar Mika meminta tolong. Mika berjanji akan menjadi anak baik di depan ayahnya, tidak lebih karena ingin Deril aman sebagai penyelamatnya. Saat ini, hanya Deril yang tahu kenyataan bahwa Mika tidak baik-baik saja. Hanya Deril yang Mika percayai untuk menariknya keluar dari neraka yang selama ini menghantui hidupnya.


"Aku akan cari cara," Deril balas berbisik. Deril melirik ke sekitar tanpa melakukan gerakan aneh. Di sekitar mereka, tidak ada perabotan sama sekali. Mika juga berani bicara. Artinya, mereka dalam radius aman untuk saling berbisik, selama tidak tampak mencurigakan.


"Dua minggu lagi. Pesta teh."


"Aku akan cari cara sebelum dua minggu lagi."


Dari ujung matanya, Deril bisa melihat Mika tersenyum kecil. Deril menggigit bibir bawahnya, agar tidak lupa diri.


"Besok. Mau melukis?"


"Boleh," jawab Deril cepat. "Di rumahku?"


"Di sini."


Tiba-tiba Deril terpikir suatu cara untuk berkomunikasi dengan Mika. "Oke. Di sini saja. Tapi, aku mau melukis di dekat jendela."


"Banyak jendela."


"Lantai satu saja. Dekat dengan ruang tamu. Cahayanya bagus di sana. Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Deril.


Mika mengangguk setuju. "Aku punya alat. Kamu datang saja."


Deril ikut mengangguk. Deril ingat dengan lorong lantai satu rumah Mika yang ada di dekat ruang tamu. Di sana, ada titik buta CCTV. Deril sangat yakin dengan titik buta itu, karena dia sudah melewatinya beberapa kali. Akan aman bicara di sana dengan Mika, walau mereka tidak mengatakan sepatahkatapun.


"Kata Papa, kamu suka aku?" tanya Mika.


***

__ADS_1


__ADS_2