The Girl Next Door

The Girl Next Door
Angkuh


__ADS_3

Deril berlari ke loteng rumah, tanpa memperdulikan panggilan dari Alex. Lantunan suara piano itu sangat pelan, namun terdengar begitu memekakkan telinga bagi Deril. Dia mengetahui nada itu. Lantunan nada riang yang sebenarnya membawa malapetaka.


Deril menutup pintu loteng dengan hati-hati. Dia juga berjalan ke arah jendela tanpa menimbulkan suara. Setibanya di depan jendela, Deril sedikit menyingkap tirai jendelanya. Sayang sekali, tidak terlihat apapun. Kali ini, Dokter Stephen memastikan jendela rumahnya tertutup tirai rapat-rapat.


"Lagu ini... Lagu sebelum minum teh," bisik Deril. "Akan ada pesta minum teh lagi. Mika akan--" Deril terhenti. Matanya terpejam dengan kening berkerut. "Tidak, itu belum pasti," Deril ingin menyingkirkan pikiran buruk dari kepalanya. "Bagaimana ini? Apa yang sebenarnya harus aku lakukan?" Deril duduk dan meringkuk sambil memeluk lututnya. "Bagaimana orang sepertiku bisa menyelamatkan Mika?"


"Nak?" Alex memanggil dari luar loteng. Meski itu rumahnya, dia tidak berniat melewati wilayah teritorial anak-anaknya.


Deril mengusap wajahnya dengan frustasi. Dia lekas berdiri dan menghampiri ayahnya. "Ya?"


Alex tidak bicara selama beberapa detik. Dia sadar dengan perubahan ekspresi anaknya. "Apa kamu melihat mereka?" tanya Alex.


Deril menggeleng lemah. "Aku tidak bisa melihat apapun dari sini. Kali ini, tirainya tertutup."


"Apa itu membuatmu frustasi?"


"Ya. Sangat." Deril menyibak rambutnya ke belakang. "Aku ini cuma anak remaja yang sangat lemah. Aku bisa apa untuk menolong Mika?"


Alex bersandar di daun pintu loteng. "Ayah ingin memastikan satu hal padamu."


"Apa itu?"


"Mungkin saja, dugaan kita benar," Alex memulai. "Obrolan kita tentang pesta minum teh yang sebenarnya adalah pesta s*ex yang melibatkan Mika."


Tangan Deril mengepal ketika Alex mengucapkan apa yang dia pikirkan, namun tidak sanggup dia katakan.


"Jika benar begitu, artinya hal ini sudah berlangsung sangat lama, bahkan sebelum kita ada di sini. Mika, anak gadis itu, pastinya memiliki rasa trauma yang dalam. Itu bukanlah hal mudah untuk kamu. Mungkin saja sekarang kamu merasa tidak apa-apa. Cintamu masih membara. Tidak ada yang kamu takutkan. Tapi, nanti, ketika kamu sudah dewasa dan pikiranmu lebih matang, kamu akan memikirkannya lagi. Berkali-kali lipat. Mungkin juga, kamu akan menyesal dengan apapun keputusan yang akan kamu pilih."


"Apa yang ingin Ayah katakan sebenarnya?"


Alex menghela nafas panjang. "Ayah hanya ingin bilang, Ayah akan mendukungmu. Benar ataupun salah. Semuanya tergantung bagaimana cara kita melihat kondisi ini." Alex menepuk pundak Deril. "Apa perlu ayah mendobrak pintu rumah sebelah untuk menyelamatkan gadismu?"

__ADS_1


"Tidak!" Deril menjawab dengan cepat. "Tidak perlu, Ayah!" ulangnya, seolah memastikan Alex benar-benar tidak perlu ke sana. "Ayah, jangan lakukan apapun saat ini. Aku yakin, apa yang Ayah katakan adalah benar. Kita tidak bisa masuk begitu saja ke rumah itu. Masalah akan menjadi sangat besar."


"Jadi?"


Deril menoleh ke arah jendela, walau tidak ada yang bisa dia ihat dari tempatnya. "Saat ini, yang ada di kepalaku hanyalah ingin menyelamatkan Mika. Dia harus keluar dari rumah terkutuk itu. Tubuh kecilnya itu... tidak mungkin bisa menanggung beban seperti itu terlalu lama."


Alex mengangguk setuju. "Kamu harus menemukan jalan itu. Tapi, kalau kamu perlu bantuan Ayah, kamu bisa langsung mengatakannya. Ayah ada untuk membantumu."


"Aku akan mencoba merusak acara pesta minum teh itu, sampai memastikan bahwa itu bukanlah hal yang merugikan Mika," ujar Deril, lebih kepada dirinya sendiri. "Ayah, bersikaplah seperti biasa. Aku juga akan bersikap biasa, selayaknya anak remaja yang sedang jatuh cinta pada Mika. Kita berlaku biasa saja."


Alex mengangguk, mengerti. "Kalau begitu, Ayah akan kembali ke kamar. Cobalah untuk menenangkan dirimu. Kamu masih harus berpikir jernih."


Deril terdiam. Memang mudah menyuruh orang lain untuk tenang. Namun, sangat sulit untuk melakukannya di saat separuh tubuhnya ingin mendobrak rumah sebelah. Deril hanya menyaksikan ayahnya turun ke lantai bawah dan kembali ke kamar utama. Lantunan piano masih terdengar, membuat Deril membeku. Makin lama, dadanya semakin terasa sakit.


***


Deril berjalan cepat menuju kamar Diana dirawat. Tangan kirinya menenteng roti bakar yang adiknya inginkan. Deril bahkan langsung membelinya begitu pulang sekolah. Dia tidak kembali ke rumah untuk berganti pakaian, melainkan langsung menuju rumah sakit dengan sepedanya.


BRUG!


Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Deril bahkan tidak sadar sudah menabrak seseorang sampai dirinya terjengkang ke belakang. Hal pertama yang Deril periksa adalah roti bakar yang dia bawa. Dia merasa bersyukur karena roti itu aman di dalam tempatnya.


"Kamu tidak apa-apa?"


Suara bariton yang membuat Deril merinding, membuatnya mendongak untuk tahu siapa orang yang telah dia tabrak.


"Wah, wah, wah! Lihat siapa ini?" Dokter Rendi berdiri sambil berkacak pinggang. Dia tersenyum lebar dengan wajah angkuh.


"Apa Dokter kenal dengan Deril?" salah satu perawat yang berdiri di sebelah Dokter Rendi bertanya.


"Kamu tidak apa-apa?" perawat lainnya buru-buru membantu Deril berdiri. "Ada yang sakit?"

__ADS_1


"Sa-saya tidak apa-apa," jawab Deril sambil berdiri.


"Kamu di sini untuk menengok adikmu yang masih dirawat?" tanya Dokter Rendi.


"Iya," Deril menjawab, tapi malah seperti geraman. Dia mati-matian agar amarahnya tidak meledak. Begitu melihat Dokter Rendi di hadapannya, ingatannya selalu kembali pada waktu memergoki Mika bersama Dokter Rendi.


Dokter Rendi menoleh pada dua perawat yang mengikutinya. "Kalian kembali saja ke meja perawat duluan. Saya akan tulis laporannya sebentar lagi. Saya mau ngobrol sebentar dengan Deril."


"Baik, Dok," pamit kedua perawat bersamaan.


"Nah," Dokter Rendi memulai, begitu kedua perawat sudah cukup jauh dari tempat mereka. "Bagaimana kabar ayahmu? Perutnya baik-baik saja?"


"Ya. Ayah saya baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya."


Dokter Rendi tersenyum. "Adikmu juga sebentar lagi akan kembali sehat," tambah Dokter Rendi. "Aku sendiri kaget dengan apa yang terjadi pada keluargamu. Tapi, semua ini terjadi, pastinya karena kamu membuat marah seseorang?"


"Saya tidak mengerti maksud Dokter."


"Hahahahaha! Kamu persis diriku ketika masih muda. Naif. Seolah tidak mengerti apapun."


"Saya tidak sama seperti Dokter," jawab Deril cepat.


Dokter Rendi hanya membalasnya dengan senyuman yang semakin lebar. Wajah angkuhnya tetap terpampang, membuat Deril terintimidasi. "Apa kamu mendengar suara piano kemarin?"


Deril membeku. Matanya tidak berkedip mendengar pertanyaan itu. "Apa maksud Dokter?"


"Jangan pura-pura tidak tahu," jawab Dokter Rendi. "Sebaiknya, kamu jangan mengganggu. Aku membayar mahal untuk saat-saat berkesan seperti itu. Lagipula, tidak mudah memenangkan 'pesta' itu."


"Apa maksud Dokter?" geram Deril.


"Kamu tahu maksudku. Kamu sendiri terpikat dengan gadis itu, kan? Dia memang cantik. Tapi, jangan tertipu. Kamu masih sangat muda untuk terjebak dalam hal seperti ini. Biarkan kami yang sudah mulai lelah ini bermain sedikit."

__ADS_1


***


__ADS_2