
"Tanda vitalnya stabil. Hasil pindai MRI juga bagus."
"Ini hasil lab darah pagi ini, Dok."
"Hmm, kita lapor ke dokter penanggung jawab dulu. Apakah MRI perlu diulang lagi, berhubung efek sedasi akan segera habis karena sudah mulai dikurangi."
"Baik, Dok. Saya akan panggilkan orangtua pasien begitu kita tahu rencana selanjutnya."
"Tolong, ya, Sus."
Deril membuka matanya, setelah mendengar dua suara asing dari sebelah kirinya. Bau obat-obatan langsung menyeruak masuk, memenuhi rongga parunya. Deril bisa melihat langit-langit putih bersih dan beberapa kantong infus di atas kepalanya. Dia tahu, bahwa dia sedang berada di rumah sakit saat ini.
Matanya kembali terpejam. Pikirannya kacau. Dia tidak bisa langsung mengingat apa yang terjadi dan bagaimana dirinya bisa ada di rumah sakit sekarang. Deril mengecap bibirnya. Tenggorokannya terasa sangat sakit, seperti terluka akan sesuatu. Ada yang mengganjal ketika Deril ingin menelan ludah. Sedetik kemudian, Deril sadar bahwa sesuatu terpasang lewat hidungnya.
"B--" suaranya tercekat. Matanya semakin lama, semakin berat untuk membuka. Namun, Deril memutuskan untuk tetap sadar dan mencari tahu bagaimana keadaannya saat ini. Deril membuka mata dengan segenap kekuatannya. Suara bip yang sedari tadi menemani sejalan dengan degup jantungnya yang terpacu.
"Dok! Dok! Pasien bed dua sudah sadar!"
"Telepon dokter penanggung jawabnya! Dan kamu, cek tanda vitalnya!"
Deril melihat seorang laki-laki berumur awal tiga puluhan dengan jas putih mendekati tempat tidurnya. Wajahnya tampak ramah dengan kantong mata tebal. Dia melihat ke sana ke mari terlebih dulu, sebelum akhirnya pandangan matanya mengarah membalas tatapan Deril.
"Mau air?"
Deril langsung mengangguk. Dia bersyukur karena itu pertanyaan pertama yang dia berikan, karena tenggorokan Deril sangat kering saat ini. Dokter itu langsung menyodorkan gelas lengkap dengan sedotan ke mulut Deril.
"Pelan-pelan saja. Tenggorokanmu mungkin tidak nyaman dan kamu bisa tersedak. Ada selang di dalamnya."
Deril menurut saja. Dia menyesap sedikit saja, kemudian berhati-hati saat menelannya. 'Lebih baik,' pikir Deril ketika tenggorokannya sudah sedikit basah.
"Kamu tahu namamu?"
Deril mengangguk sekali. "De...ril..."
"Kamu tahu ini di mana?"
"Rumah... Sa...kit..."
__ADS_1
Dokter itu mengangguk. Deril melirik pada nametag yang dia kenakan. Dokter Bram. "Kamu tahu, kenapa kamu bisa ada di sini?"
Deril menggeleng kali ini. Dia ingin tahu apa jawaban atas pertanyaan itu.
Dokter Bram berpaling pada perawat yang sedang mengecek tetesan infus Deril. "Sus, tanda vital baik?"
"Semuanya bagus, Dok."
"Deril, apa kepalamu terasa sakit?"
Deril tidak langsung menjawab. Dia merasakan kepalanya terlebih dulu. Deril ingat, kepalanya itu pernah dipukul oleh Dokter Stephen. "Ukh! Dok... Dokter Step-uhuk! Uhuk!"
"Tenanglah! Kamu bisa dengar saya? Tenanglah!"
Kepala Deril terasa berputar begitu mengingat sosok Dokter Stephen yang mengarahkan pistol padanya. Dadanya terasa sesak. Tubuhnya menggigil ketakutan.
"Suster, suntikkan diazepam lima miligram secara perlahan sampai pasien tenang!"
"Diazepam lima miligram, masuk pelan!" jawab suster, dengan sigap memberikan obat penenang pada Deril yang kejang.
"Sudah aku duga. Traumanya akan berpengaruh pada kondisinya saat ini. Lebih baik kita diskusikan ini dengan dokter kesehatan jiwa."
***
Rasa hangat yang menjalar di tangan kanan Deril, membangunkan Deril yang tertidur pulas. Udara dingin ruangan itu benar-benar membuatnya ingin tidur terus. Matanya mengerjap, karena sekelilingnya tampak redup. Matahari yang tadi menyeruak masuk dari jendela kecil, kini sudah menghilang.
"Deril?"
Deril menoleh ke arah kanannya. Serena duduk sambil memeluk tangan Deril. Air matanya sudah jatuh membasahi pipi. Wajah Serena lebih pucat dari yang pernah Deril ingat. Rambutnya terikat sembarangan. Serena tampak tidak merawat dirinya.
"Deril?" Serena memanggil lagi. "Kamu lihat Ibu?"
Deril mengangguk. "A...ir..."
Serena meletakkan tangan Deril kembali ke sisi Deril, lalu mengambil segelas air dan menyodorkan sedotan ke mulut Deril. "Pelan-pelan saja minumnya," kata Serena.
Setelah selesai minum, Deril kembali memejamkan mata. Dia merasa lelah. Rasa aman dan nyaman tiba-tiba saja menyergap dirinya, sewaktu melihat Serena berada di sana.
__ADS_1
"Nak... Apa kamu merasa lebih baik?" bisik Serena.
Deril mengangguk. Masih sulit baginya untuk mengeluarkan suara. Ketika matanya kembali membuka, dia menatap ibunya dalam-dalam. Deril dapat merasakan kekhawatiran yang luar biasa dalam dari mata ibunya.
"Kita harus berterima kasih pada Mika. Ah... maksud Ibu, Ardi," lanjut Serena, masih dalam nada pelan. "Dia menyelamatkanmu."
Deril tidak bisa menjawab. Dia tidak ingat apa yang terjadi setelah suara letusan pistol itu. Entah sudah berapa lama dia berbaring di ranjang rumah sakit yang empuk itu.
"Ayah dan adikmu ada di luar. Diana menangis setiap hari karena kamu tidak kunjung membuka mata."
'Setiap hari? Artinya aku sudah lumayan lama di sini?' batin Deril.
"Ibu akan menceritakan semuanya, setelah kamu benar-benar pulih. Saat ini, aku istirahat dan tenang saja."
Deril setuju. Dia tidak mau buru-buru mengetahui apa yang terjadi. Dari perkataan ibunya yang mengharuskan dia berterimakasih pada Ardi, Deril dapat menyimpulkan kalau Ardi selamat. Tidak ada lagi yang dia perlu pikirkan sekarang ini.
"Tidurlah..." Serena membelai kepalanya penuh sayang. "Ibu akan selalu di sisimu sekarang. Semuanya baik-baik saja. Kuatlah, Anakku..."
Deril kembali memejamkan mata. Dalam hitungan detik, dia sudah tertidur pulas. Kali ini, dia bermimpi sangat indah. Mimpi tentang hari-harinya di rumah sambil melukis, seperti biasa.
***
(Sepuluh tahun lalu)
Laki-laki itu membersihkan tubuh istrinya yang sudah tidak bernyawa. Dia membersihkannya seteliti mungkin. Dia sengaja tidak menyerang wajah istrinya, karena merasa tidak sanggup jika harus melukai orang yang dia sangat cintai.
Setelah cukup, dia menggendong tubuh istrinya ke dapur, lalu mendorong pintu rahasia ke ruangan basement hingga terbuka.
"Tolong! Tolong! Tolong!"
Jeritan itu tidak mengganggunya. Dia sudah mulai terbiasa dengan teriakan minta tolong dari seorang bocah lima belas tahun yang dia sekap sejak beberapa hari lalu.
"Pak! Tolong lepas saya! Saya salah! Maaf!"
Laki-laki itu tidak mengindahkan permintaan bocah laki-laki yang sedang terikat di atas kursi kayu jati.
Dia meletakkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati di depan sebuah kulkas besar. "Sudah aku duga. Kulkas ini berguna juga."
__ADS_1
***