
Deril hanya terdiam saat mendengar apa yang Mika katakan. Deril sangat tahu, kalau Mika tidak bicara lancar, seperti anak seusianya. Tapi, caranya membicarakan ibunya seperti itu, membuat Deril curiga.
'Tidak. Aku tidak boleh membuat Mika tertekan saat ini. Dia harus bicara lebih banyak lagi,' pikir Deril, yang melihat Mika bertingkah seperti ingin kabur dari tempatnya.
"Aku tidak akan bertanya kalau kamu tidak mau cerita," Deril mencoba mengurai suasana di antara mereka. Dia berbalik, kembali menghadap ke kanvas di depannya. Deril berusaha sebaik mungkin agar terlihat rileks. Tangannya kembali melukis.
Mika mengangkat wajahnya. Nafasnya yang memburu, mulai teratur lagi. Dia juga ikut melanjutkan gambarnya. Kali ini, lebih diam dari sebelumnya. Saking sepinya, Deril sampai bisa mendengar suara goresan kuas mereka berdua.
"Diana masih di rumah sakit," Deril mencoba memulai percakapan. "Dia adikku satu-satunya. Walaupun anaknya agak menyebalkan, tapi dia adalah saudaraku satu-satunya. Aku sangat menyayangi adikku."
Mika mengangguk. Mungkin Mika sendiri tahu kalau Deril menyayangi adiknya, setelah melihat bagaimana paniknya Deril tempo hari.
"Syukurnya, Diana adalah anak yang kuat. Dia akan sembuh dalam beberapa hari. Aku janji akan mengajaknya makan enak kalau dia sudah keluar dari rumah sakit." Deril menoleh pada Mika. "Apa nanti kamu mau ikut makan bersama?"
Mika tidak menjawab. Tangannya sibuk menyelesaikan lukisannya. Matanya berkilat saat menggores kuas di atas kanvas.
Deril menghela nafas pelan. Sepertinya Deril tahu, kalau Mika tidak akan banyak menjawab pertanyaannya kali ini. "Apa lukisanmu sudah mau selesai?"
Mika mengangguk. "Jangan tanya apa-apa. Lihat ini. Aku tidak punya waktu lagi," bisik Mika tanpa menggerakkan bibirnya saat bicara.
Tidak ada tanggapan dari Deril, karena dari ujung matanya, Deril dapat melihat sekelebat sosok orang yang Deril kenal. Orang itu muncul dari balik pintu rumah Mika.
"Mika!"
Panggilan itu membuat mereka menoleh. Benar saja dugaan Deril. Dokter Stephen akhirnya muncul juga. Dia tersenyum sambil melambai kecil pada Mika yang duduk di sebelah Deril.
"Aku harus pulang," Mika mengemas cat airnya.
"Bilang saja pada Dokter Stephen, kalau aku banyak bicara tentang sekolah dan teman-temanku," gumam Deril.
Mika langsung beranjak begitu dia selesai mengemas barangnya. Mika sempat berbalik saat membuka pintu pagar. Dia tersenyum kecil. Senyuman manis khas milik Mika. Deril melambai riang untuk membalasnya. Matanya tidak teralihkan, sampai Mika masuk ke dalam rumah.
Klek!
__ADS_1
Deril menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka di belakangnya. Kepala Alex menyembul sambil tersenyum lebar, penuh arti.
"Kenapa, Yah?" tanya Deril, sambil mulai merapikan alat melukisnya.
Alex keluar rumah, kemudian menghampiri anak laki-lakinya. "Ayah sampai tidak berani keluar, karena lihat ada Mika di sini."
"Bukannya itu aneh?" tanya Deril.
Alex duduk di tempat Mika tadi duduk. "Menurutmu begitu?"
"Iya," jawab Deril. "Sangat aneh, Dokter Stephen memberi Mika izin untuk datang ke sini, setelah apa yang kita lalui. Bukannya harusnya Dokter Stephen lebih berhati-hati? Mika bisa saja membocorkan kejahatannya."
Alex mengelus-elus dagunya yang mulai memiliki janggut. Berdiam diri di rumah membuatnya agak malas membersihkan diri. "Mungkin Dokter Stephen berubah pikiran tentang kamu."
"Hahaha," Deril tertawa sumbang. "Tidak mungkin orang seperti itu tiba-tiba berubah pikiran, kecuali aku juga terlibat dalam tindakan kotornya."
***
Deril menaikkan kakinya ke atas meja belajar, sambil bermain handphone. Tangannya asyik memainkan game baru. Sejenak, dia melupakan hal-hal buruk di dalam kepalanya.
"Aaakh! Kalah lagi!" erang Deril, ketika tokoh yang dia mainkan berakhir di tangan musuh. Deril melempar handphone-nya ke atas tempat tidur. "Apa aku sedikit belajar saja, ya?" gumamnya sambil memutar kursi.
Saat itu, matanya terpaut pada kanvas lukisan Mika. Lukisan itu Deril bawa ke dalam kamarnya sebagai kenang-kenangan. Menurut Deril, itu adalah kencan pertamanya dengan Mika, walau Mika tidak menganggapnya begitu. "Membaca lukisan, ya?"
Deril berdiri, lalu berjalan menuju kanvas Mika yang tersandar ke dinding kamarnya. Lukisan itu sangat indah, berapa kalipun Deril melihatnya. Mika memang jago. Deril mulai berpikir untuk menonton cara membaca lukisan dari youtube.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk saja!" jawab Deril dari dalam kamar, begitu ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Lagi apa?" tanya Alex yang muncul.
"Kenapa? Ayah bosan nonton televisi seharian?" Deril balik bertanya, seraya tersenyum mengejek pada ALex. Dia masih mengingat ketika Alex mengatakan akan hidup santai sampai dia harus kembali bekerja. Memang itu yang dilakukan ayahnya belakangan ini. Menonton televisi seharian, makan, tidur, lalu kembali menonton apapun acara di televisi.
__ADS_1
Alex melenggang masuk ke dalam kamar Deril dan duduk di atas tempat tidur anaknya. "Ayah tidak tahu kalau menganggur itu sangat tidak menyenangkan. Ayah pikir, ini yang selalu ayah inginkan saat lelah dalam bekerja. Tapi, tidak lagi."
Deril tertawa pelan mendengar keluhan ayahnya. "Jadi, Ayah ke sini untuk menggangguku?"
Alex melirik ke arah kanvas Mika. "Oooh, jadi kamu sibuk memandangi lukisan pacarmu?"
"Bukan pacar!" koreksi Deril cepat.
"Calon pacar?" Alex menggoda. "Lukisan calon pacarmu bagus sekali. Seperti kata ayah, kamu memang tidak sebanding dengan Mika. Apa kelebihanmu selain tampang bulemu itu?"
Deril berdecak mendengar ocehan ayahnya. "Harusnya Ayah memberiku semangat. Bukannya malah mengkritikku!"
"Kritik ayah ini membangun, kan?"
Deril tidak bisa berkata-kata lagi. Tapi, jelas dia tidak menanggapi perkataan ayahnya dengan cara negatif. Deril tahu bahwa Alex hanya bercanda. "Yah, apa Ayah bisa membaca lukisan?"
"Hahahahaha! Pertanyaan macam apa itu?" Alex malah terbahak-bahak. "Apa Mika bisa membaca lukisan? Hebat sekali anak itu!"
"Sepertinya bisa," jawab Deril. "Dia memintaku membaca lukisannya. Apa itu salah satu tes untuk bisa dekat dengannya?"
"Ck ck ck. Kalau benar itu adalah tes, kamu tidak ada harapan!" ejek Alex.
Deril berpaling pada lukisan Mika. "Apakah lukisan ini begitu penting, sampai aku harus membacanya?"
Alex ikut memperhatikan lukisan yang sedari tadi dipandang anaknya. "Lukisan yang bagus. Padahal cuma melukis orang-orang berkumpul di bawah hamparan bunga sakura yang mekar. Apa dia pernah ke Jepang sebelumnya, sampai tahu detail tentang pemandangan seperti ini?"
"Orang-orang berkumpul?" ulang Deril. Barulah dia memperhatikan kumpulan titik hitam kecil di pojok kiri kanvas. Deril berjongkok, menyipitkan matanya agar bisa lebih jelas memandang maksud Alex. "Benar! Ini kumpulan orang!" ujar Deril. Dia menyipitkan matanya lagi. Ada tiga titik hitam yang membentuk siluet manusia. Tapi, ada yang lainnya. Satu orang terbaring di antara tiga orang itu. Titik yang berbaring memiliki rambut panjang. Deril bangkit. Dia agak menjauh dari kanvas. Matanya meneliti setiap hamparan bunga sakura yang Mika gambar.
"Ada apa?" tanya Alex, heran tiba-tiba mendapati anaknya diam seribu bahasa.
Mata Deril membelalak. Dia tidak percaya kalau dia tidak menyadari hal itu sebelumnya. Lukisan bunga itu memang sangat indah, hingga membuat siapapun buta akan keindahannya. Tetapi, jika jeli, pasti akan ditemukan sebuah pesan di dalamnya. Hamparan bunga itu membentuk kata 'TOLONG'.
"Oh! Dokter Stephen bermain piano lagi!" celetuk Alex.
__ADS_1
***