
Deril duduk di atas bangku kecil yang terletak di lorong lantai satu rumah Dokter Stephen. Mika diam di sebelahnya. Wajah cerahnya yang kemarin sudah menghilang. Deril tidak bertanya. Dia tahu apa yang terjadi. Dokter Stephen memang memberikannya izin untuk bertemu Mika, bahkan menghabiskan waktu bersama. Namun, dengan suasana tegang di sekitar mereka, membuat Deril mual.
"Apa seperti ini sudah benar?" Bu Sonya meletakkan kanvas di depan Mika.
Mika mengangguk saja.
"Kalau begitu, saya permisi balik ke dapur, ya?" Bu Sonya yang seperti sudah hafal dengan kekakuan Mika, berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua.
"Mika..." Deril ragu sejenak. "Apa... kamu tidak apa-apa?"
"Kenapa?" Mika balik bertanya.
Deril meremas lututnya. Dia tidak ingin Mika mengatakan apa yang terjadi semalam dengan mulut manisnya itu.
"Sudah biasa," kata Mika tiba-tiba. "Papa akan begitu. Kalau lagi senang."
Deril hampir pingsan setelah mendengar pengakuan Mika. "Artinya... kemarin bukan pertama kalinya?"
Mika menoleh kaget. "Kemarin?"
"Kemarin... aku lihat... dari jendela..."
Mata Mika melebar. Wajahnya semakin pucat. "Aku dan Papa di jendela. Kemarin. Lihat?"
Deril mengangguk membenarkan. "Aku tahu niat ayahmu sehingga melakukan itu di jendela. Dia sengaja agar aku melihatnya. Dia memprovokasi, ingin aku kehilangan akal sehat sehingga masuk ke sini tanpa izin."
Tiba-tiba saja air mata mulai menggenang di pelupuk mata Mika. Bibirnya bergetar. Tapi, dia hanya diam di tempatnya.
"Eh? Eh? Mika?" Deril gelagapan. "Aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf jika itu menyinggungmu! Itu tidak sengaja! Aku mendengar teriakan, lalu--" Deril terhenti. Tangan Mika membekap mulutnya.
"Kamu benar. Papa ingin kamu lihat. Papa bilang, supaya kamu ke sini lagi."
Deril hampir tidak bisa bernafas. Dugaannya benar. Terlebih, dia mendengar langsung dari mulut Mika. Tangan kecil Mika yang menempel di bibirnya, terasa dingin. Deril ingin sekali menggenggam tangan itu, membuat Mika merasa aman dan nyaman. Tentu saja itu mustahil, karena Mika tidak menyukainya. Jika Deril melakukan itu, jarak antara mereka akan semakin melebar.
"Tidak apa-apa. Itu sudah sering. Aku cuma malu. Kamu tidak salah." Mika buru-buru mengusap air matanya. "Kita mulai melukis?"
Deril mengangguk. Dia juga tidak berminat melanjutkan perbincangan sensitif seperti ini. Deril dapat merasakan udara hangat di punggungnya. Jendela yang ada di belakang mereka terbuka lebar. Tirainya melambai pelan. Tangannya mulai mencampur cat air di atas papan. Kanvas putih di depannya sudah menunggu untuk dihias.
Dua menit berlalu. Deril menggeser kanvasnya agar Mika bisa melihat hasilnya. "Mika, lihatlah!" pinta Deril.
Mika menoleh. Sejenak, dia tertegun. Namun, cepat-cepat dia mengendalikan diri. Mika menangkap maksud Deril untuk melukis bersama di sana. Dia membaca pesan yang tertulis di bawah goresan hamparan padang hijau dengan cepat.
KAPAN AYAHMU TIDAK ADA DI RUMAH LAGI?
"Kamu bisa memperlihatkan lukisanmu," ujar Deril sambil mengembalikan kanvasnya ke posisi semula. Dengan cepat, Deril menumpuk pesannya dengan goresan warna coklat.
__ADS_1
"Lihat!" ganti Mika yang menggeser kanvasnya.
2 HARI LAGI. KERJA SAMPAI PAGI
"Bagus! Kamu memang pintar melukis. Apa tidak mau ikut kontes melukis?" tanya Deril.
"Tidak. Aku suka di rumah," Mika menolak.
Lima menit berlalu. Deril kembali menggeser kanvasnya. "Apa ini bagus?" tanyanya.
AKU AKAN MASUK KE SINI. BISA MATIKAN CCTV?
Mika diam sejenak. Dia menatap lama lukisan Deril. Matanya terpaku pada akhir kalimat yang Deril tulis. Mika mendekap tangannya di depan dada. "Bagus."
Deril tersenyum. Jawaban dari Mika dia artikan sebagai persetujuan untuk menyusup ke dalam rumah ini dua hari lagi. Deril hanya akan melihat sekeliling dengan cepat. Mencoba mendapatkan bukti besar ataupun kecil di dalam rumah itu. Jika polisi tidak menemukan bukti di luar, pastinya Dokter Stephen menyimpan semuanya di dalam rumah.
***
Deril kembali berkunjung ke kantor polisi. Seperti biasanya, Mia ada di sana. Dengan penampilan yang lebih urakan dari biasanya, Mia menghampiri Deril yang duduk di trotoar seberang kantor polisi.
"Apa kabar?" sapa Mia.
"Tidak baik."
"Apa akhir pekanmu sebegitu beratnya?"
Mia mengedarkan pandangan ke sekitar. Setelah keadaan dirasa aman, dia menjawab. "Lalu?"
"Ayahnya juga."
"Ayahnya juga apa?"
Deril mendengus. "Ayahnya juga 'memakainya'."
Mia melongo, tidak percaya. "Apa mungkin? Memang Dokter Stephen itu gila! Tapi, kalau sampai 'memakai' anaknya sendiri, apa itu tidak keterlaluan?"
"Saya melihatnya," Deril menoleh pada Mia dan menatapnya lurus-lurus, "dengan mata kepala saya sendiri."
"Gila!"
"Saya benar-benar ingin meninjunya dengan tangan saya sendiri," Deril mengepalkan tinjunya di depan wajah. "Mika yang begitu rapuh, harus mengalami hal seperti ini."
"Aku paham perasaanmu," jawab Mia. "Hal seperti itu yang dilakukan oleh orangtua sendiri, adalah kasus langka. Memang ada beberapa kasus pemerkosaan yang dilakukan anggota keluarga. Namun, itu dilatarbelakangi oleh status sosial dan kejiwaan. Tapi, apa yang mendasari Dokter Stephen sampai melakukan hal itu?"
"Mungkin dia terpukul dengan kehilangan istrinya?" Deril mengatakan dugaannya.
__ADS_1
Mia malah menggeleng, tidak setuju dengan jawaban Deril. "Dia terlalu stabil. Saat istrinya menghilang, Dokter Stephen memang menunjukkan bentuk kehilangannya. Namun, dia bekerja dengan baik. Dia tidak hiatus dari jadwal operasinya. Hal itu menunjukkan bahwa Dokter Stephen mempunyai pengendalian diri yang baik, sehingga dia bisa memisahkan antara urusan pribadi dan pekerjaan."
"Terlalu rumit untuk saya," Deril menyibak rambutnya ke belakang. Dia tersadar bahwa rambutnya sudah terlalu panjang saat ini. Dia perlu memangkasnya. "Tapi, menurut saya, Dokter Stephen adalah psikopat yang sebenarnya. Dia bisa tersenyum lebar, bahkan setelah melukai anaknya. Seolah, Mika bukan darah dagingnya. Padahal, hanya Mika yang dia miliki di dunia ini."
"Tunggu!" Mia menghentikan perkataan Deril. "Aku tidak memikirkan kemungkinan itu!"
"Kemungkinan apa?"
"Bahwa Mika bukan darah dagingnya!"
Alis Deril berkerut. "Itu mustahil!"
"Tidak ada bukti yang mengatakan kalau mereka ayah dan anak."
"Hahahaha! Itu terlalu dibuat-buat!"
"Ayo kita singkirkan dugaan yang dibuat-buat itu!" usul Mia. Matanya berkilat penuh semangat. "Kamu bisa ambil sehelai rambut Mika dan Dokter Stephen?"
"Bagaimana bisa?"
"Atau barang yang mereka pakai sehari-hari?"
Deril terdiam dengan mulut terbuka. "Apa Bu Mia benar-benar ingin saya mengambil barang mereka?"
"Aku bisa melakukan tes DNA," bisik Mia.
"Apa itu sah?"
Mia tersenyum miring. "Tidak, jika dilakukan seperti ini."
"Jadiiiii, kenapaaaa Anda meminta sayaaaa melakukan iniiiiiii?" Deril kesal sendiri.
"Kita hanya menghilangkan segala kemungkinan. Kalaupun Dokter Stephen tahu, hanya dua hal yang akan terjadi."
"Apa itu?"
"Pertama, kita akan tahu sebenarnya Mika anaknya atau tidak. Kedua, aku akan diberhentikan sebagai polisi," Mia menjawab dengan enteng.
Deril menatap wajah Mia yang tampak santai. Dia mengemukakan pendapat seolah tidak takut dengan apa yang terjadi besok. Deril mengakui keberanian polisi wanita di sebelahnya. "Saya pernah ngobrol dengan ibu-ibu kompleks sebelumnya."
"Ya, kamu pernah cerita."
"Mereka tidak mengatakan kalau wajah Mika berbeda dari sebelumnya. Hanya sifatnya saja yang berubah. Itupun karena syok setelah ibunya menghilang."
"Kamu percaya itu?"
__ADS_1
Pertanyaan Mia seakan menampar Deril dan membuatnya tersadar. Seorang ayah yang dikatakan sangat mencintai putrinya, tega melakukan hal tidak terpuji seperti itu. Kecuali Dokter Stephen memiliki penyimpangan s*eksual, seorang ayah tidak akan menjadi iblis di depan putrinya.
***