The Girl Next Door

The Girl Next Door
Pamit


__ADS_3

Alex dan Deril sudah tiba di rumah sakit ketika matahari agak condong ke Barat. Mereka akhirnya mendapatkan kabar baik, bahwa hari ini Diana bisa pulang dan dinyatakan sembuh. Serena yang paling senang mendengar kabar itu.


Setelah dua orang dokter spesialis yang menjadi penanggung jawab Diana berkunjung untuk kali terakhir, Alex pergi ke bagian kasir untuk menyelesaikan administrasi, sementara Serena merapikan barang bawaan mereka.


Deril duduk di sebelah Serena sambil mengupas jeruk, sisa makan siang Diana. Diana tidak suka jeruk. Dia tidak pernah menyentuh sedikitpun buah berwarna oranye itu.


"Aku makan, ya?" Deril meminta izin sekali lagi, sebelum buah jeruk itu benar-benar masuk ke dalam mulutnya.


"Kalau nggak mau, dibuang aja!" Diana menjawab dengan ketus. "Cepat habiskan! Aku tidak suka baunya!"


"Ck ck ck," Deril hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang kembali menyebalkan. Meski begitu, Deril tetap beranjak pergi ke dekat jendela dan menghabiskan jeruk di sana.


"Bu, apa aku akan langsung sekolah?" tanya Diana.


"Dokter Siska minta kamu istirahat selama lima hari lagi di rumah," Serena menjawab sambil memasukkan piyama Diana ke dalam tas.


"Ayah akan mulai kerja lusa," timpal Deril, teringat dengan ayahnya.


"Ibu akan masakkan makan malam yang enak hari ini."


"Mmm, aku tidak usah, Bu," bisik Deril.


Serena menoleh dan mendapati Deril tersenyum kecil. "Mau ke mana kamu?" tanya Serena.


"Mmm..." Deril tampak ragu menjawab. "Ke... sebelah."


Alis Serena terangkat mendengar jawaban anaknya. "Sebelah? Ke mana maksud kamu?"

__ADS_1


"Ibu, masa nggak ngerti?" sindir Diana. Tiba-tiba saja dia bertingkah seperti detektif yang tahu kalau lawan bicaranya menyembunyikan sesuatu.


"Apa? Memangnya ke mana?" Serena masih terlihat seperti tidak bisa menduga.


"Rumah Mika," Deril menjawab pelan sekali. Diana langsung terkikik geli mendengar jawaban Deril. Lalu Serena tersenyum lebar mendengarnya. "Dokter Stephen minta aku datang. Mika lagi tidak enak badan."


Tidak sepenuhnya perkataan Deril itu adalah bohong. Mika memang sedang sakit karena pesta s*ex semalam. Dokter Stephen mengundangnya untuk datang, bukan karena mengkhawatirkan keadaan Mika. Namun karena ingin pamer pada Deril, bahwa Deril tidak bisa melakukan apapun jika itu sudah menjadi kehendaknya.


"Kamu makin dekat sama Mika?" Serena memancing percakapan dengan Deril.


"Tidak dalam hal romantis," jawab Deril.


"Ayahmu cerita, kamu sering melukis dan makan sama Mika, ya?"


"Tidak. Ayah melebih-lebihkan," koreksi Deril.


"Tidak, bukan begitu!"


"Oke, oke, sebaiknya Ibu tidak mengganggu hubungan kalian, kan?" Serena menoleh pada Diana. "Kamu juga, jangan goda kakakmu seperti itu!"


"Maaf, Kak~" Diana malah semakin menggoda.


"Hhh..." Deril melahap sisa buah jeruk di tangannya sekaligus. "Capek ngobrol sama perempuan!" gerutunya dan segera keluar dari kamar rawat Diana.


***


Dalam perjalanan pulang, Deril tidak banyak bicara, seperti biasanya. Dia memilih untuk diam, ketimbang kembali dijejali pertanyaan-pertanyaan dari ibu atau adiknya.

__ADS_1


Alex sempat melirik ke belakang, di mana Deril diam. Dia juga tidak berniat mengganggu Deril. Alex hanya agak memikirkan tentang cerita Deril tadi, selama perjalanan mereka menuju rumah sakit. Tentu, Alex merasa khawatir. Dia tahu rahasia apa yang dimiliki Dokter Stephen. Sebenarnya Alex tidak mau membiarkan Deril ke sana sendirian. Namun, mengirim Diana bersama Deril malah akan memperburuk keadaan. Apalagi jika mengirim Serena bersama Deril. Bisa-bisa, muncul isu miring tentang hubungan mereka. Kalau Alex sendiri yang ke sana, hanya akan terasa suasana kaku dan dengan cepat Dokter Stephen bisa mencium rencana mereka.


Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan pulang, mobil Alex menepi di depan rumah mereka. Deril buru-buru membukakan gerbang, agar mobil Alex bisa masuk ke dalam garasi.


'Masih terlalu awal untuk berkunjung,' pikir Deril setelah mengintip jam tangannya.


"Kalau kamu mau siap-siap, duluan saja," Serena muncul dari dalam mobil. Rupanya sadar dengan tingkah Deril.


"Tidak apa-apa. Aku bantu angkat barang." Deril berlari kecil ke arah bagasi mobil, kemudian dengan cepat menenteng tas Diana.


Sesampainya di kamar Diana, Deril terdiam sejenak. Kamar itu ternyata sudah dibersihkan oleh Alex sebelumnya. Deril berpikir, apakah Diana berani untuk kembali ke kamar itu lagi?


"Minggir! Kenapa Kakak malah bengong di depan pintu kamar orang lain?" Diana berkacak pinggang di belakang Deril.


'Percuma aku khawatir. Ternyata sikap angkuhnya sudah kembali seperti semula,' batin Deril kesal. "Sesukamu sajalah!" sahut Deril, lalu pergi ke lantai bawah.


Begitu sampai di dasar tangga, Alex tiba-tiba muncul dari balik dinding ruang tengah. Gelagatnya mencurigakan, dan Deril yang menyadarinya langsung menghampiri Alex.


"Ada apa, Ayah?" bisik Deril.


Alex mengedarkan pandangannya ke segala arah sebelum menjawab. "Kamu yakin akan ke sana?" tanya Alex.


Deril mengangguk yakin. "Kalau aku tidak kembali sebelum jam sepuluh, tolong cari aku."


"Jangan bilang begitu!" desis Alex. Dia tidak menyukai perkiraan-perkiraan mengerikan seperti itu. "Kembalilah dengan selamat!"


Deril hanya menjawab perkataan ayahnya dengan senyum tipis. "Kalau begitu, aku pamit pada Ibu dulu."

__ADS_1


***


__ADS_2