
Deril mengayuh sepedanya semakin lambat begitu dia mendekati rumah. Perasaan bersalah karena tidak bisa melakukan apapun sekarang, membuatnya frustasi. Berkali-kali Deril melirik ke pagar rumah Dokter Stephen. Rumah itu tampak sepi. Lampu halamannya menyala, seperti biasa.
Deril mendorong gerbang rumahnya hingga terbuka, lalu langsung masuk. Dia memarkir sepedanya di dekat pintu keluar. Sayup-sayup, Deril bisa mendengar ayahnya sedang membuat sesuatu di dapur.
"Aku pulang!" sapa Deril sembari membuka pintu.
"Mau jus?" balas Alex dari arah dapur. Di depannya ada potongan buah mangga dan pisang.
"Apa Ayah akan buat jus mangga dicampur pisang?"
Alex mengangkat bahunya. "Hanya ini yang tersisa di rumah," jawab Alex. "Apa obrolanmu berjalan baik?"
Deril merebahkan diri di kursi ruang tamu. "Bu Mia memperlihatkan laporan kasus istri Dokter Stephen sepuluh tahun lalu."
"Apa ada yang janggal?"
"Ya. Semuanya terlihat janggal di mataku. Tapi, tidak ada celah sedikitpun untuk mengorek kebenaran. Dokter Stephen menutup kasus itu rapat-rapat. Bukti di luar sana bahkan hampir tidak ditemukan. Perkiraanku, buktinya ada di dalam rumah."
Alex menatap anaknya dalam-dalam, mencoba menerka apa yang akan anaknya lakukan saat ini.
"Aku tidak akan menerobos masuk seperti anjing liar yang melihat seonggok daging! Ayah tenang saja!" sahut Deril, sadar akan tatapan mata ayahnya. "Hari ini pun, aku tidak bisa menolong Mika. Dokter Rendi akan datang dan..."
"Dokter Rendi?" ulang Alex. "Ah... Sejenak ayah lupa kalau dia juga ada hubungannya."
Mereka berdua terdiam. Alex juga tidak bisa banyak membantu. Melapor hal ini sekarang ke polisi pun, tidak akan ada jalan keluarnya. Dokter Stephen akan menghilangkan bukti secepat yang dia bisa.
"Kembalilah ke kamar. Kamu harus menenangkan diri. Tidak semuanya berjalan seperti apa yang kita inginkan," ucap Alex.
Deril menurut saja. Deril kembali ke kamarnya dengan langkah lunglai. Dia yakin, malam ini, dia tidak akan bisa tidur nyenyak.
Segera setelah membersihkan diri, Deril naik ke loteng rumah. Di sana, dia mengintip ke arah rumah Dokter Stephen. Tirainya tertutup lagi. Tidak ada yang bisa dia lihat. Beberapa menit kemudian, ketika Deril hendak beranjak dari tempatnya, tiba-tiba dia melihat pintu gerbang rumah Dokter Stephen terbuka. Setelah beberapa detik, barulah ada dua mobil yang masuk beriringan. Kedua mobil itu melaju hampir tidak menimbulkan suara. Jenis mobil sport mahal dengan suara semulus mungkin. Mobil itu terparkir sejajar begitu tiba di jalan halaman rumah Dokter Stephen.
Tubuh Deril membeku. Dia bahkan tidak berkedip, memperhatikan pergerakan orang yang keluar dari dalam mobil.
"Dokter Rendi," gumam Deril, saat melihat tubuh tambun laki-laki setengah baya, keluar dari mobil sport berwarna kuning. "Dia benar-benar datang."
Kemudian, dari mobil di belakang mobil Dokter Rendi, keluar seorang laki-laki dengan paras yang sangat tampan. Di setinggi Alex dengan setelah jas hitam yang rapi. Jika ada orang awam yang melihatnya, orang itu akan mengira bahwa laki-laki yang keluar belakangan adalah anak dari Dokter Rendi yang ingin melamar Mika sampai berpakaian rapi begitu. Deril yang tahu semuanya, yakin bahwa itu bukan anak ataupun kerabat Dokter Rendi.
__ADS_1
"Aku pernah melihat orang itu... Di mana, ya?" gumamnya.
***
Akhirnya pagi menjelang. Deril tertidur di loteng rumahnya malam itu. Saat bangun, kepala Deril terasa berputar. Dia hanya tidur selama tiga jam. Dalam waktu singkat itu, Deril terus saja memimpikan Mika. Di mimpinya, Mika terus berteriak minta tolong. Air mata mengalir membasahi pipi pucatnya.
Deril mengusap wajahnya dengan gusar. Perasaannya tidak karuan. Dia merasa tidak kuat untuk berdiri, bahkan ke luar dari rumah sekalipun.
Tok! Tok! Tok!
"Deril, kamu di sini?" suara Alex terdengar.
"Ya, Yah," jawab Deril lemas.
Alex membuka pintu loteng dan mengintip. "Kamu mau mandi dulu, atau sarapan dulu? Ayah buatkan roti panggang dan telur goreng."
Deril menghela nafas. "Mandi," jawabnya singkat. Deril kemudian berdiri. Sebelum beranjak, Deril sempat melirik ke arah jendela yang sedikit terbuka. Dua mobil sport semalam sudah tidak ada.
'Maaf, Mika...' batinnya.
Sepuluh menit kemudian, Deril bergabung dengan Alex di meja makan. Alex sudah menghabiskan setengah sarapannya saat Deril duduk.
"Aku ambil sendiri," Deril sudah mengambil satu lembar roti panggang ke atas piringnya.
"Kamu mau ikut jemput Diana di rumah sakit?"
Deril mengangguk. "Ikut."
"Atau kamu ada kegiatan hari ini?"
"Tidak ada." Deril melahap sarapannya.
"Kamu khawatir dengan keadaan Mika?"
Pertanyaan Alex membuat Deril berhenti mengunyah. Tatapan matanya kosong, sementara kepalanya dipenuhi bayangan Mika yang tengah menangis.
"Mau mampir dulu ke sana sebelum berangkat ke rumah sakit?" tawar Alex.
__ADS_1
Deril menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Aku tidak berani ke sana."
"Ayah tidak akan memaksa. Take your time. Dua jam lagi, kita berangkat ke rumah sakit," jawab Alex yang kemudian melanjutkan makannya.
Deril juga melanjutkan makannya walau tidak berselera. Firasatnya mengatakan, dia harus tetap mengisi perutnya. Entah apa yang bisa terjadi padanya nanti. Setidaknya, perutnya tidak dalam keadaan kosong.
Satu jam berlalu. Matahari mulai merangkak ke atas kepala. Deril sudah siap. Tidak ada yang harus dia kerjakan di akhir pekan seperti ini. Dia sedang tidak selera melukis. Deril memutuskan untuk menunggu ayahnya di teras depan.
Hanya beberapa detik yang lalu dia duduk menikmati teriknya sinar matahari yang menerpa kebun bunga Serena, ketika tiba-tiba ada suara dari arah pagar kayu rumahnya.
"Sibuk?"
Dokter Stephen berdiri di balik pagar rumah Deril. Dia tersenyum lebar dengan air muka cerah. Deril sempat terdiam sejenak. Ada sengatan listrik yang membuat ototnya kaku.
"Aku mau bicara. Sebentar saja."
Deril berdiri dengan sisa-sisa tenaga miliknya. Dia berjalan sempoyongan menghampiri Dokter Stephen.
"Ada apa?" tanya Deril, terdengar kaku.
"Apa kamu mau bertemu dengan Mika?" Dokter Stephen menawarkan dengan lebar senyuman yang tidak berkurang sesentipun, membuat Deril bergidik takut.
"Di mana Mika?"
Dokter Stephen menunjuk rumahnya dengan baju. "Ada di dalam. Tapi dia lagi tidak enak badan."
"Kalau Mika sedang sakit, harusnya Dokter membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa," jawab Deril.
"Hahahaha! Tidak perlu sampai ke rumah sakit. Aku bisa menanganinya sendiri. Dia hanya mau bertemu sebentar dengan kamu."
"Saya harus ke rumah sakit sekarang. Kalau tidak keberatan, saya akan mampir di jam makan malam," Deril masih mencoba untuk tenang.
"Baiklah," Dokter Stephen mengangguk setuju. "Karena Mika sudah patuh semalam, hari ini aku akan membiarkan kalian ngobrol selama dua jam. Tapi di rumahku. Mika tidak boleh keluar satu jengkalpun dari kamarnya."
"Saya berjanji," Deril pasrah. Dia hanya berharap untuk bisa menemui Mika secepatnya. Rasa bersalah mendorong Deril untuk meminta maaf.
"Oke. Dua jam saja, ya!" Dokter Stephen berbalik dan melambai kecil.
__ADS_1
Deril mengusap matanya yang terasa panas. Dia tahu, kalau sebentar lagi, air mata akan meleleh membasahi pipinya. "Mika... Maaf..." ujarnya berkali-kali.
***