
Waktu satu jam yang Deril lalui bersama Mika, menjadi moment membahagiakan di dalam hidup Deril. Walaupun tidak tahu kenapa Mika bisa duduk berdampingan dengannya sambil melukis seperti tidak mempunyai masalah di antara mereka. Deril mengesampingkan kenyataan itu. Diam-diam, Deril melirik Mika sesering mungkin. Dia merekam setiap detik yang dia miliki. Jarang sekali Deril bisa melihat Mika dari sudut pandang ini.
Seperti yang Mika katakan tadi, dia menggambar bunga-bunga yang indah. Tanpa contoh apapun, Mika dengan leluasa menggambar bunga, seolah itu ada di depan matanya. Warna yang Mika pilih, sangatlah serasi dan indah. Perpaduannya membuat mata menjadi segar. Deril tidak keberatan jika harus memandang lukisan itu berlama-lama.
"Hebat! Lukisanmu bagus sekali!" puji Deril. "Apa kamu pernah ikut kelas melukis?"
Mika menggeleng. "Setiap hari menggambar," jawab Mika.
Deril mengangguk mengerti. Memang, semakin kita banyak belajar, maka semakin lihai tangan kita dalam melukis sesuatu. "Kamu bilang setiap hari menggambar?" ulang Deril.
"Iya."
"Apa kamu tidak sekolah?"
Tangan Mika berhenti bergerak. Dia menoleh pada Deril yang menatapnya terang-terangan. "Tidak."
"Kenapa? Apa Dokter Stephen menyekolahkanmu di rumah?"
Mika diam sejenak. Kemudian dia menggeleng sekali. "Aku tidak sekolah."
Jawaban itu terasa janggal di telinga Deril. Dia ingin sekali terus bertanya 'kenapa' sampai mendapatkan jawaban yang jelas. Namun, dia menelan pertanyaan itu bulat-bulat. Mika tidak akan memberikan alasan yang sebenarnya. Caranya bicara saja sudah aneh.
"Apa kamu tidak suka suasana sekolah?" Deril mengubah caranya bertanya. "Aku juga sebenarnya tidak terlalu suka. Sekolah itu berisik. Anak-anak suka berkumpul dan melakukan banyak hal. Itu terlalu aktif bagiku. Aku lebih suka suasana tenang dan menghemat tenaga."
"Sekolah berisik?"
"Iya. Berisik."
Mika menelengkan kepalanya. "Apa itu 'berisik'?"
"Hah? Oh, itu artinya 'ribut'. Orang-orang menimbulkan banyak suara yang mengganggu. Itu namanya 'berisik'," jelas Deril. Dia agak kaget karena Mika tidak mengerti kata mudah seperti itu.
Mika tidak terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental. Dia menguasai keadaan dengan baik, mampu mengatur ekspresinya, dan juga sopan di depan orang lain. Tetapi, caranya bicara cukup aneh. Deril seperti bicara dengan anak tiga tahun yang baru belajar merangkai kata. Lebih aneh lagi ketika Mika mengatakan bahwa dia tidak sekolah. Mana mungkin seorang anak kesayangan dokter spesialis, dibiarkan tidak mengenyam ilmu sama sekali. Bahkan, di film-film, orangtua dengan pendidikan dokter, menuntut anak mereka untuk menjadi dokter juga secara turun-temurun.
__ADS_1
"Apa kamu tahu, kalau keluargaku hidup berpindah-pindah? Mungkin Dokter Stephen pernah cerita ke kamu?" tanya Deril, kembali mengubah topik pembicaraan. "Ibuku orang yang suka bercerita. Pasti dia sudah bicara tentang keluargaku ke mana-mana."
"Tidak tahu," jawab Mika singkat.
"Jadi, aku sempat tinggal di banyak tempat. Ayahku sebenarnya orang baik dan perhatian. Hanya saja, nasib baik tidak berpihak pada keluarga kami."
Mika melanjutkan gambarnya.
"Tapi, aku bersyukur punya kesempatan tinggal di sini, walau ini rumah tua yang perlu renovasi di sana-sini," tambah Deril. "Aku bersyukur bisa kenal sama kamu."
"Kenapa?"
Deril diam ketika diberi pertanyaan seperti itu. Dia menimbang, haruskah dia mengatakan yang sejujurnya, bahwa dia mmenyukai Mika. Tidak mungkin ada orang yang tidak menyukai paras cantik Mika. Hanya dengan perangai lembutnya, hati laki-laki dibuat berantakan oleh Mika. "Tidak banyak teman yang bisa melukis," jawaban ini yang akhirnya Deril pilih. Memuju wajah cantik Mika, bisa menjadi senjata makan tuan untuknya. Mungkin saja Mika akan merasa mati rasa setelah mendengar kalau Deril menyukai wajahnya juga.
Mika menoleh pada lukisan Deril yang setengah jadi. "Laki-laki keriting. Datang ke sini. Siapa?"
Deril memutar otaknya agar mengerti dengan apa yang Mika bicarakan. "Oooh! Maksudmu si Bayu? Dia anaknya Bu Febi. Masa kamu tidak kenal?" Deril balik bertanya.
Mika menggeleng. "Aku tidak kenal siapa-siapa. Kata Papa, tidak boleh keluar. Bahaya."
"Orang."
"Apa aku tidak termasuk orang yang berbahaya?"
Mika menoleh, membiarkan tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Deril menyukai bola mata Mika yang besar. Kulit putihnya tanpa cacat sedikitpun. Gadis itu benar-benar seperti ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
"Aku tidak tahu," Mika menjawab sambil memalingkan wajah.
Deril menghela nafas panjang. Rupanya, Mika lebih pintar tarik-ulur. Dia jago membuat perasaan seseorang terombang-ambing. "Apa kamu tidak kangen ibumu?" Deril memulai topik baru, berharap bisa mengenal Mika lebih jauh lagi.
"Tidak."
Alis Deril terangkat saat mendengar jawaban Mika. "Aku dengar dari cerita ibu-ibu sini, kamu dekat sekali dengan ibumu sewaktu kamu kecil. Ibumu pasti orang yang baik hati, karena ibu-ibu di sini banyak yang menyukainya. Seperti apa ibumu?"
__ADS_1
"Tidak tahu."
Aneh.
Hanya itu yang bisa Deril pikirkan. Seorang anak gadis, pastinya sangat dekat dengan sosok ibunya. Apalagi, Mika adalah anak satu-satunya. Tidak mungkin Mika melupakan sosok ibunya begitu saja. Setidaknya, dia pasti bisa menggambarkan bagaimana ibunya dulu. 'Atau, dia sengaja melupakan ibunya, karena kesedihan yang teramat sangat dalam?' batin Deril, mencoba membuat semuanya terasa logis.
"Apa sampai sekarang, kamu ataupun Dokter Stephen, tidak tahu keberadaan ibumu?"
Mika menoleh cepat. "Jangan bicara. Jangan tanya Mama. Papa bilang, tidak boleh bicara Mama."
"Maksudnya, Dokter Stephen tidak memberimu izin untuk membicarakan ibumu?" Deril berbisik.
Mika mengangguk saja.
Deril menyimpan banyak pertanyaan mengenai ibu Mika di dalam kepalanya. Mungkin memang belum saatnya dia tahu. "Aku dengar, kamu sempat ke luar negeri? Buat apa?"
Mika memekik pelan waktu Deril bertanya. Tangan yang awalnya rileks memegang kuas, tiba-tiba mengepal. Wajah Mika berubah pucat pasi. "Tidak boleh bicara hal itu!" desis Mika.
"Kenapa?" Deril malah tidak mengontrol dirinya.
Mika memegang kepalanya. Matanya melotot, ketakutan. "Di sana, neraka!" dia berbisik. "Jangan bicara itu! Nanti Papa dengar!"
Deril melirik ke arah rumah Mika. Mobil Dokter Stephen memang ada di sana. Tapi, dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Dokter Stephen di sekitar mereka. "Apa benar ibumu hilang waktu mengejar kamu ke luar negeri? Kenapa sampai dikejar? Memangnya kamu kabur dari rumah?"
Mika membekap mulutnya sendiri. Dia menggeleng keras. "Dia tidak mengejar aku," suara Mika terbenam dalam bekapan tangannya sendiri, tapi masih jelas terdengar di telinga Deril. "Dia tidak pergi. Dia di sini. Tidak pernah ke mana-mana."
"Siapa maksud kamu dengan 'dia'?" tanya Deril, tidak begitu mengerti.
"Mamanya Mika."
"Ibumu?"
Mika menggeleng. "Mamanya Mika," ulangnya.
__ADS_1
***