The Girl Next Door

The Girl Next Door
Serangan


__ADS_3

Deril merayap di lantai kamarnya. Meski kakinya tidak bertenaga, dia berusaha mati-matian untuk mencapai jendela kamarnya. "Tenanglah!" Deril memukul lututnya yang gemetar, seolah tidak mau bekerja sama. Dengan sisa kekuatan yang dia punya, Deril berdiri kembali di samping jendela. Dia mengintip dari balik tirai.


Pemandangan yang membuatnya hingga jatuh terjengkang, masih bisa dia saksikan. Pemandangan mengerikan dari jendela rumah tetangga sebelah. Keringat dingin mengalir dari pelipis Deril. "Apa... Apa yang dia lakukan pada anaknya?" gumam Deril tidak percaya. Namun, Deril hanya bisa diam mematung dengan mata yang tidak berkedip sekalipun. Dia terlalu kaget untuk keluar kamarnya dan memanggil Alex.


Di sana, di jendela yang pernah menjadi saksi bisu saat Mika meminta tolong pada dirinya, Dokter Stephen tengah menyet*ubuhi Mika dari arah belakang. Mika menggigit tirai. Dia tampak sangat kesakitan. Deril bisa melihat bagaimana pucatnya Mika. Berbeda dengan Mika, Dokter Stephen tersenyum lebar. Sinar matanya seperti seekor serigala yang berhasil menangkap rusa gemuk untuk mengganjal perut laparnya. Dokter Stephen meraih rambut Mika, lalu menjambaknya ke belakang. Deril dapat melihat lekuk tubuh kurus Mika. Dia menggeliat, mencoba melepaskan diri walau akhirnya gagal. Dokter Stephen terlalu kuat untuknya.


"Bagaimana ini? Bagaimana ini?" pertanyaan itu terus berulang di dalam kepala Deril. Dia tidak bisa menerima bagaimana Mika kesakitan dan diperlakukan seperti itu dengan ayahnya sendiri. Deril sangat ingin berlari dan meninju Dokter Stephen.


"Tunggu! Tahan!" Deril menggeleng keras. Dia berhenti melihat pemandangan mengerikan itu. Dia mencoba membawa kembali kewarasannya. "Kenapa dia melakukan hal itu di sana? Rumahnya sangat luas. Kenapa dia malah memilih jendela itu?"


Seakan tahu keinginan Dokter Stephen, Deril menarik nafas panjang berkali-kali untuk menenangkan diri. Dia memang tidak mau melihat Mika kesakitan seperti itu, namun dia tidak boleh masuk ke dalam perangkap Dokter Stephen. "Pasti ada yang orang itu rencanakan. Kalau aku ke sana dan membuat keributan, dia bisa menuntutku karena sudah dua kali membuat keributan di dalam rumahnya. Parahnya lagi, dia bisa saja memasukkanku ke penjara remaja. Dia pasti ingin tidak ada penghalang dalam rencananya menjajakan Mika," akhirnya Deril berpikir rasional.


"Tunggu saja, Mika. Bertahanlah sedikit lagi. Aku akan menemukan cara menyusup ke dalam rumah itu dan mencari bukti yang bisa menjatuhkan iblis berwujud ayahmu itu!"


***


"Kenapa matamu merah begitu?" tanya Serena, saat Deril turun dari lantai dua untuk bergabung dengan keluarganya di meja makan. "Begadang main game lagi?"


"Ssst!" Alex menyenggol lengan Serena. "Jangan ganggu Deril! Cepat selesaikan mencuci piringnya!"


Deril duduk di sebelah Diana. Adiknya itu sibuk dengan handphone-nya. Entah apa yang dia lihat sampai dia tersenyum-senyum seperti itu. "Jusmu bakal membusuk karena kamu terus melihat handphone," sindir Deril.


Diana meliriknya sekilas, lalu mencibir. "Jangan buat masalah denganku. Apa mood Kakak jadi jelek setelah ditolak Mika?"


Deril melotot mendengar perkataan Diana. Lalu dia menoleh cepat pada Alex yang langsung menggeleng, tanda bukan ayahnya yang membocorkan kisah Deril semalam.


"Siapa ditolak siapa?" Serena menyambar informasi itu dengan cepat.

__ADS_1


"Kak Deril, ditolak Mika," ulang Diana tanpa rasa bersalah.


"Itu tidak benar!" Deril membela diri.


"Jadi, Kakak diterima jadi pacar Mika?" Diana menatap Kakaknya lurus-lurus.


"Bisa kita ubah topik pembicarannya? Ini masih pagi!" Deril menghindar.


"Jadi, benar ditolak." Diana menghela nafas dan kembali bermain handphone.


Deril meremas udara di depannya, gemas dengan tingkah adiknya sendiri. Alex hanya bisa geleng-geleng kepala. Tidak mungkin dia membela Deril, sementara dia sendiri tidak tahu bagaimana cerita kemarin.


"Ceritakan pada Ibu!" Serena sudah siap melahap gosip pagi. Dia duduk anteng di depan Deril dengan celemek yang masih menempel di dadanya. "Apa kurangnya anak Ibu ini, sampai Mika bisa menolakmu?"


"Apa Ibu tidak berpikir kalau Mika terlalu sempurna untuk Kakak?" sindir Diana.


Diana menggeleng. "Dari sudut pandang seorang remaja perempuan, Kakak banyak banget kurangnya."


"Contohnya?" tantang Serena. Alex sudah ikut duduk di sebelahnya. Dia tidak bisa melewatkan cerita menarik seperti ini.


"Kakak terlalu kaku, tidak pandai bicara, temanpun sedikit. Kakak juga bukan orang yang pintar di sekolah. Cuma jago melukis. Tidak punya selera humor, bahkan--"


"Cukup, cukup!" Deril menengahi. "Apa kamu mau melihatku menangis pagi-pagi?"


Diana tersenyum penuh kemenangan. "Jangan khawatir. Beberapa temanku naksir Kakak, kok! Mereka juga tidak keberatan dengan Kakak yang membosankan. Tapi, untuk ukuran Mika, Kakak jauh di bawahnya! Jangan berharap!"


"Benar juga," jawab Alex. "Sudah Ayah duga, menjadikan Mika menantu di rumah ini adalah hal yang sulit."

__ADS_1


"Padahal Ibu suka sekali dengan Mika," Serena menimpali. "Apa kamu tidak bisa berusaha lebih keras lagi?"


Deril mendengus kesal. Dia sudah cukup sakit kepala dengan kejadian yang dia lihat kemarin. Pagi ini, keluarganya malah mengungkit sakit hatinya karena sudah ditolak Mika. "Aku mau lari pagi!" Deril buru-buru pergi.


"Nak, ini sudah terlalu siang untuk lari pagi!" panggil Serena.


Deril tidak peduli. Dia mengambil sepatunya, kemudian memakainya secepat kilat. Matahari memang sudah muncul dan menerangi puncak atap rumah mereka. Udara juga semakin hangat. Tapi, Deril memilih pergi untuk menjernihkan pikiran. Jika di rumah saat ini, keluarganya tidak akan berhenti bicara, seolah-olah ditolak Mika adalah akhir dari segalanya.


Niat untuk menjernihkan pikiran baru saja membuat Deril bersemangat kembali, ketika tiba-tiba terdengar suara gerbang rumah Dokter Stephen terbuka, bertepatan dengan Deril menutup gerbang rumahnya. Mobil Dokter Stephen muncul beberapa detik setelahnya.


"Pagi!" sapa Dokter Stephen dari dalam mobil. "Mau ke mana di akhir pekan begini?"


"Lari pagi," Deril berusaha menarik ujung bibirnya ke atas. Dia harus rileks, meski separuh tubuhnya ingin menerjang dan melayangkan pukulan ke wajah menyebalkan milik Dokter Stephen.


"Bagus sekali! Anak muda memang harus banyak melakukan aktifitas fisik agar tetap bugar!" Dokter Stephen tertawa kecil di akhir kelimatnya, hampir membuat Deril tidak bisa menahan diri. "Aku tidak punya waktu olahraga di pagi hari. Jadi, aku melakukannya di malam hari. Olahraga memang membuat kita segar bugar!"


Tangan Deril mengepal. Dia mengerti dengan jelas apa maksud Dokter Stephen. Dia melihat apa yang Dokter Stephen lakukan semalam pada Mika. "Semoga Dokter sehat selalu," hanya itu jawaban yang bisa Deril beri.


"Oh, ya! Mika sedang tidak enak badan. Apa kamu mau menjenguknya? Kalian bisa melukis bersama."


'Dasar iblis! Dia berkata Mika sedang tidak enak badan, tapi menyuruhku untuk melukis dengan anaknya!? Bukannya istrahat!?' Deril berteriak di dalam hati. 'Tentunya bukan tidak enak badan sungguhan, kan? Pastinya dia memberiku izin untuk bertemu Mika, karena Mika sudah melayaninya dengan baik semalam! Dasar iblis mengerikan!!!'


"Jam berapa saya boleh menjenguk?" tanya Deril. Dia menelan makiannya bulat-bulat.


"Setelah kamu olahraga?" Dokter Stephen menyipitkan matanya sambil tersenyum. Senyum ejekan yang bahkan bisa Deril sadari tanpa diberitahu.


***

__ADS_1


__ADS_2