The Girl Next Door

The Girl Next Door
Membaik


__ADS_3

Deril berjalan mengikuti Alex, menyusuri lorong rumah sakit. Bau rumah sakit masih melekat di dalam kepalanya. Dia pernah lama berada di sana. Sekarang, saat dia harus kembali ke sana, hidungnya sudah terbiasa.


Alex membimbing Deril menuju lantai lima rumah sakit. Kemudian mereka berbelok ketika melewati pintu kaca dengan sistem keamanan ketat. Rumah sakit itu lumayan mewah untuk ukuran di pedesaan. Apalagi, rumah sakit itu memiliki lima tingkat lantai. Dari piagam yang tergantung di atas meja front office, Deril dapat mengetahui kalau rumah sakit itu sudah berdiri selama sembilan tahun. Cukup baru.


"Apa kamu tahu, rumah sakit ini terbilang lengkap?" kata Alex saat mereka berjalan melewati lorong dengan pintu kamar ruang perawatan di kanan dan kiri mereka.


"Aku kagum sama yang punya. Orang itu berani membangun rumah sakit dengan fasilitas selengkap ini di perbatasan kota," timpal Deril.


Alex mengangguk setuju. "Nah, sampai," tangannya menjulur pada pintu dengan nomor 5041. Alex mendorongnya hingga terbuka. Serena langsung menoleh ketika pintu terbuka. "Halo, Sayang!" sapa Alex penuh sayang.


Deril ikut masuk, lalu memastikan pintu di belakangnya tertutup. "Hai!" sapa Deril, waktu melihat Diana menatapnya dari atas ranjang.


Diana masih tampak pucat. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Kedua tangannya terpasang infus. Satunya berisi cairan putih, sedangkan satunya tersambung botol dengan cairan kuning. Keduanya menetes pelan. Diana hanya tersenyum lemah menyambut kedatangan Deril dan Alex.


"Kamu sehat?" Serena menghampiri Deril. Sebenarnya, mereka selalu bertukar pesan selama Deril berada di rumah. Namun, melihat anaknya secara langsung, jelas membuat Serena rindu. "Sudah makan?"


"Sudah, Bu," jawab Deril. "Ibu tidak akan bisa membayangkan! Ayah buatkan aku nasi goreng empat kali berturut-turut!" protes Deril, namun dengan senyuman puas.


"Ayah, kan, sudah bilang. Ayah cuma bisa buat nasi goreng," Alex membela dirinya sendiri. Alex duduk di kaki ranjang Diana. "Apa kabar, anak Ayah yang paling cantik?" tanya Alex.


"Baik," Diana menjawab, meski tidak yakin apakah Alex mendengar jawabannya atau tidak.


Deril ikut bergabung dengan Alex. Tanpa ragu, Deril menggenggam tangan Diana. Tangan adiknya itu terasa dingin dan semakin kurus. "Kalau kamu sudah pulang nanti, aku akan belikan makanan apapun yang kamu mau," kata Deril.


"Kakak nggak punya uang," sindir Diana.

__ADS_1


"Aku bisa minta Ayah," jawab Deril enteng.


Alex dan Serena hanya menghela nafas mendengar percakapan anak mereka. "Bagaimana keadaan rumah?" tanya Serena, lebih pada Deril. Serena tahu, kalau suaminya tidak mungkin secara suka rela menyapu atau mengepel rumah. Alex akan lebih memilih memanggil jasa asisten rumah tangga untuk hal seperti itu.


"Aku bisa bagi waktu untuk bersih-bersih rumah," jawab Deril.


"Kenapa tidak minta tolong Bu Sonya?" tanya Serena. "Ibu mendapat pesan dari ayahmu, kalau kamu tidak suka saat Bu Sonya datang."


"Aku tidak suka ada orang asing di rumah tanpa ada yang mengawasi," Deril sedikit memberenggut. "Aku juga tidak mau mengawasi orang asing saat bekerja jika ada di rumah," Deril buru-buru menambahkan.


"Biarkanlah anakmu itu, Bu," Alex membela Deril. "Lagipula, ada laki-laki dan wanita dalam satu atap, bisa menimbulkan fitnah."


"Astaga, Ayah! Masa Ayah bilang aku bakalan nafsuan sama Bu Sonya!?" protes Deril.


"Ah, iya, lupa! Deril, kan, sudah punya Mika," goda Alex.


Deril tidak keberatan. Diana memang anak yang dimanja sejak kecil. Dia tidak bisa memaksa orangtuanya untuk melibatkan polisi dalam kasus ini. Apalagi, setelah berdiskusi dengan Alex, mereka tidak memiliki bukti kuat kalau Dokter Stephen yang melakukan semua ini pada keluarga mereka.


Deril akan melakukan semuanya sesuai rencana. Mendekati Mika dan menunggu celah untuk membongkar kejahatan Dokter Stephen pada keluarganya. Dia adalah orang yang harus berdiri paling terakhir saAt semua ini selesai.


Tanpa Deril tahu, Diana banyak menatap kakaknya itu. Potongan demi potongan kejadian malam itu, terus berkelebat di dalam kepalanya. Melihat Ibunya yang lebih banyak diam dan tidak bertanya akan hal mengerikan itu, membuat Diana mempunyai banyak waktu untuk berpikir dan mencerna apa yang sudah terjadi.


***


Diana diam di atas ranjang rumah sakit. Matanya tertuju pada layar televisi yang tertanam di dinding, sementara tangan kirinya menggenggam bel panggilan perawat. Semenjak sadar, Diana tidak mau melepas bel panggilan, meski Serena ada bersamanya. Tidak dapat dipungkiri, dia ketakutan. Tidak banyak yang dia ingat. Karena hal itu, dia menjadi sangat ketakutan.

__ADS_1


Gadis belia itu tahu bagaimana sifat ibunya. Jika dia bicara mengenai apa yang terjadi malam itu, ibunya akan histeris dan tidak akan menyelesaikan masalah.


'Aku harus bicara dengan Kakak,' pikir Diana berulang kali.


Agar tidak menarik perhatian Serena, Diana memilih untuk lebih banyak bungkam. Dia memasang wajah baik-baik saja, meski dihantui mimpi buruk setiap malam. Serena pernah menawarkan sesi konseling dengan spesialis kesehatan jiwa. Namun, bagi Diana, hal itu hanya akan membuatnya tambah frustasi, karena harus mengingat dirinya terbangun di dalam tanah basah.


Diana melirik ke arah sofa. Kakaknya ada di sana. Remaja itu tengah duduk sambil menonton televisi. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan ditinggal berdua saja. Tapi, dia ingin mengadu pada Deril.


'Bagaimana caranya agar Ayah dan Ibu pergi?' batin Diana.


"Yah!" tiba-tiba Deril bersuara. "Kayaknya Ibu perlu menghirup udara luar sejenak."


"Ibu tidak apa-apa," tolak Serena cepat.


"Kamu benar," tapi Alex setuju dengan Deril. "Sayang, kamu sudah tidak keluar rumah sakit semenjak menemaniku rawat inap, kan?"


"Aku mau menemani Diana di sini," Serena masih menolak.


"Ada aku, Bu," Deril mengingatkan. "Aku janji, aku tidak akan pergi ke manapun dan meninggalkan Diana sendirian di sini. Walaupun ada gempa bumi atau ancaman bom."


Serena memandang Deril lama-lama. Dia benar-benar tidak ingin pergi meninggalkan anak gadisnya. Tapi, benar kata suaminya. Pikirannya suntuk karena terlalu lama berada di ruangan rumah sakit. Bahkan, Serena tidak mau meninggalkan anaknya untuk sekedar makan di kantin rumah sakit.


"Ayo," Alex bangkit duluan, lalu menunggu istrinya memutuskan.


Serena akhirnya menurut. Dia berjalan ke luar kamar sambil menggandeng tangan Alex. Diana menunggu sampai pintu ruangannya tertutup sempurna, sampai akhirnya membuka mulut untuk bicara.

__ADS_1


"Tunggu," bisik Deril. "Jangan bicara sekarang. Kita harus pastikan Ibu tidak dengar apapun."


***


__ADS_2