
"Kamu bilang apa tadi?" Deril membeku di tempatnya. Gadis dengan paras cantik jelita yang berdiri di sebelahnya, memandangnya balik. "Kamu lagi bercanda? Nggak lucu!"
"Harus keluar! Listrik bentar lagi hidup," jawab Mika.
Deril menggeleng keras. Dia berusaha sadar dan kembali ke kenyataan. "Lemari keempat!"
"Kosong!" sahut Mika cepat. "Keluar! Keluar!"
Deril sempat ragu dalam beberapa detik, namun akhirnya dia setuju untuk keluar dari ruangan basement itu. Dia harus memastikan mereka masih dalam keadaan aman. Masih ada hari esok untuk kembali lagi.
"Deril? Kamu tidak apa-apa? Aku dengar Mika bicara. Apa yang dia katakan?" Mia bertanya dari seberang.
"Kita bicarakan nanti. Kami harus keluar sekarang," jawab Deril. Dia langsung memutus telepon dan memasukkan handphone-nya ke saku celana.
Mereka berjalan cepat menuju tangga yang mengarah ke atas. "Bagaimana bisa polisi tidak menemukan tempat ini?" tanya Deril.
"Sidik jari. Papa dan aku saja. Aku harus pastikan kulkas hidup terus." Mika mengikuti di belakang Deril.
"Kenapa kulkas keempat kosong?"
"Buat kamu."
"Hah?"
"Cepat naik!"
Deril sudah hampir sampai di puncak tangga dan akan keluar dari balik minibar, ketika tiba-tiba muncul wajah seorang laki-laki paruh baya tepat di depannya.
"Tertangkap!" ujar laki-laki itu, lalu dalam sekejap mata langsung mendorong Deril hingga jatuh menggelinding. Mika yang ada di belakang Deril juga ikut terjatuh.
"Aarrghhh!" Deril mengerang. Kepalanya berdenyut menyakitkan. Dia merasa ada cairan hangat yang keluar dari hidungnya. Sedetik kemudian, dia sadar akan apa yang terjadi. "Mika!" serunya dan langsung mengangkat kepala, mencari sosok Mika.
"Kamu masih bisa mengkhawatirkan keadaan orang lain?" sindir suara berat yang selama ini membuat Deril merinding.
Deril menemukan Mika tergeletak tidak jauh dari tempatnya. Mika tidak bergerak. Namun Deril dapat melihat dadanya naik-turun, pertanda dia masih hidup.
"Apa saja yang kamu lihat?" langkah kaki Dokter Stephen yang menuruni anak tangga, menggema memenuhi ruang basement.
"Semuanya." Deril berusaha menggerakkan kakinya. 'Sial! Kakiku terkilir!' batinnya. 'Aku tidak akan bisa melawannya.'
"Jadi, kamu sudah tahu kalau dia bukan anakku?"
__ADS_1
Deril melihat Dokter Stephen membawa sebuah tongkat bisbol di tangan kanannya. Sementara, tidak ada apapun di basement itu yang bisa digunakan Deril untuk membela diri.
'Jika aku mengambil handphone-ku sekarang, Dokter Stephen akan langsung menyerangku,' pikir Deril. Jadi, dia memilih untuk diam dan memikirkan cara lain. Jika Tuhan berpihak padanya, dia bisa saja menyelinap dan kabur dari tempat itu.
"Mika!" panggil Deril lagi.
"Aku bilang," suara Dokter Stephen tiba-tiba berubah menjadi geraman, "DIA BUKAN ANAKKU!!!"
Deril terlonjak kaget. Teriakan Dokter Stephen menggema di dalam kepalanya. Dia bisa melihat wajah Dokter Stephen memerah seperti banteng yang siap menyeruduk.
"Bocah itu bukan anakku," ulang Dokter Stephen.
"Saya tahu. Dia Ardi. Anak gelandangan yang diberitakan hilang sepuluh tahun lalu," jawab Deril. "Kenapa dia bisa jadi seperti ini?"
"Tentu saja aku merubahnya," aku Dokter Stephen. "Bakatku yang bisa membuat siapapun menjadi cantik, aku terapkan pada bocah itu. Dia menjadi mirip sekali dengan Mika. Sayangnya, semakin besar, dia semakin maskulin. Itu sedikit membuatku repot."
"Di dalam kulkas--"
Dokter Stephen tersenyum lebar. "Oooh, sudah lihat? Kaget?"
Mata Deril hampir keluar saking kesalnya, melihat Dokter Stephen tersenyum seperti tidak ada hal salah terjadi.
"Kenapa di simpan?"
Deril mual mendengar jawaban Dokter Stephen. Dia melirik ke arah Mika yang masih tidak bergerak. Tubuh kurusnya tergeletak di atas lantai.
"Saya mau memastikan Mi-ah, Ardi, masih hidup atau tidak," ujar Deril. Dia merasakan rasa bersalah, karena secara tidak langsung, tadi dia menimpa Mika yang ada di belakangnya. Jika dibandingkan dengan Mika, tubuh Deril lebih besar dua kali lipat.
"Matipun, tidak apa," jawab Dokter Stephen. "Tapi, silakan saja! Aku hanya merasa lucu, melihatmu tertarik dengan bocah busuk seperti dia."
"Saya tidak tahu bahwa dia Ardi," Deril menjawab dengan polosnya. Dia merayap menghampiri Mika. Deril bisa merasakan nyeri di kaki kanannya setiap dia bergerak. "Hei!" panggilnya saat sampai. Masih aneh bagi Deril untuk memanggil Mika dengan sebutan Ardi.
Deril mengecek nadi Mika. Untung saja Mika kurus, jadi dia dengan mudah bisa merasakan nadinya.
"Masih hidup?" tanya Dokter Stephen. "Baguslah. Aku jadi tidak perlu membeli kulkas tambahan. Jika bocah itu bertahan sampai aku selesai denganmu, aku akan membawanya ke rumah sakit. Lagipula, dia tidak akan membuka mulutnya sesentipun atas kejadian ini."
"Apa sebenarnya tujuan Anda?"
Dokter Stephen mengangkat bahunya. "Tidak ada," jawabnya.
"Apa cerita Dokter tentang Mika yang diperkosa waktu kecil, adalah sebuah kebohongan?"
__ADS_1
"Tidak. Aku berkata yang sebenarnya. Mika meninggal waktu diperkosa oleh bocah itu. Istriku menggila. Mengatakan aku tidak bisa menyelamatkan putriku. Jadi, aku buat jiwa putriku tetap hidup, bagaimanapun caranya."
"Itu alasan Dokter mengubah Ardi?" tanya Deril. Tidak tahu kenapa, dia merasa mengulur waktu adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan. Setidaknya, dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, sebelum ajal menjemputnya.
Atau seseorang menolongnya.
"Tidak akan ada yang mencari bocah itu, sekalipun dia menghilang tanpa jejak. Dia hanya gelandangan yang tidak bernilai. Tapi," air muka Dokter Stephen berubah menjadi mengerikan, "beraninya bocah tidak berarti seperti dia, merusak anakku yang sangat berarti. Beraninya dia melakukan hal buruk pada anakku, sampai anakku kehilangan nyawanya. Beraninya..."
Deril bisa melihat kilat kebencian di mata Dokter Stephen. Tidak dipungkiri lagi, orang itu ingin sekali membunuh Ardi yang kini berperan sebagai Mika.
"Tapi, bocah itu tidak bisa mati begitu saja," lanjut Dokter Stephen. "Dia harus merasakan neraka yang sebenarnya, kan? Mati terlalu mudah baginya."
"Jadi, Dokter menghukumnya sendiri?"
"Benar!" Dokter Stephen mengangguk. "Aku membuatnya merasakan sakitnya sayatan operasi plastik dengan bius minimal. Lalu, rasanya digunakan dengan paksa oleh orang yang tidak dia sukai. Aku membuatnya menikmati setiap rasa sakit yang dirasakan anakku selama sepuluh tahun ini. Dia pantas menerimanya."
"Bukankah itu cukup?"
"Tidak. Sebelum dia mati saat diruda paksa oleh tua bangka yang haus akan tunas muda."
'Gila! Orang ini gila! Dia benar-benar terobsesi untuk melukai Ardi,' pikir Deril.
"Walau begitu, ternyata anak ini kuat. Dia punya tekad untuk bertahan hidup. Mungkin, dia sudah terbiasa merasakan sakit, karena tinggal dengan ayah yang suka berprilaku kasar."
"Kalau begitu, apa hubungan semua ini dengan istri Anda?" Deril sudah tidak menyembunyikan emosinya lagi. Dia tidak sudi memanggil psikopat di depannya dengan sebutan 'dokter' lagi.
"Wanita itu terlalu banyak mulut. Dia mengoceh mengkritik tindakanku yang mengubah Ardi. Jadi, aku bungkam saja dia sekalian. Sudah tidak ada yang berarti lagi dalam hidupku ini. Kesempurnaan yang sangat indah, semuanya ternodai."
"Remaja laki-laki di kulkas itu, Anda juga yang membunuhnya?"
"Ya. Dia sama sepertimu. Seenaknya mencampuri urusanku. Bahkan mau mencuri mainanku. Orang tidak punya sopan santun seperti itu, lebih baik sirna dari muka bumi ini," jawab Dokter Stephen, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dia malah tampak bangga dengan apa yang sudah dia perbuat. "Kulkas terakhir, untukmu. Orang yang paling ingin tahu hidupku."
Deril berdoa dalam hati, agar ajalnya bukan hari ini. Dia sangat ketakutan, sampai air matanya tidak bisa keluar. Namun, jika harus, dia akan melawan hingga akhir.
"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama. Aku janji, ini tidak akan terlalu sakit." Dokter Stephen maju dengan cepat, dan langsung mengayunkan tongkat bisbolnya ke arah Deril.
Refleks, Deril mengangkat tangannya untuk melindungi bagian kepala. Rasa nyeri seperti sengatan listrik langsung menjalar di lengannya.
BUAK! BUAK! BUAK! BUAK!
Pada pukulan kelima, Deril sudah kehilangan kesadarannya. Kegelapan menyelimuti matanya dan dia tersungkur di lantai.
__ADS_1
***