The Girl Next Door

The Girl Next Door
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Setelah hampir sebulan dirawat di rumah sakit, akhirnya Deril diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Pemulihannya berjalan lebih cepat dari yang para dokter perkirakan. Mungkin karena tekadnya sangat kuat untuk segera sembuh.


Selama di rawat, tidak ada yang berani membuka mulut mengenai apa yang terjadi. Trauma yang Deril alami lumayan parah, hingga dia harus diberi suntikan penenang beberapa kali saat teringat dengan Dokter Stephen. Karena hal itu, kepolisian menunda investigasi terhadap Deril sebagai saksi. Keluarga juga tidak memberikan informasi apapun pada wartawan saat berkunjung. Semua tutup mulut. Deril melewati pengobatannya dengan tenang.


"Ini ke arah mana?" tanya Deril, merasa asing dengan jalan yang dia lewati.


Mobil Alex melaju cepat melintasi jalan besar yang tidak begitu padat, berhubung siang ini masih dalam jam kerja. Semua anggota keluarganya ada di dalam mobil. "Kita akan ke suatu tempat?"


Alex berdeham untuk memecah keheningan. Dia berusaha menyembunyikan kepindahan mereka selama mungkin, lalu menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Deril. "Bu, kamu saja yang jawab," bisik Alex pada Serena yang duduk di sebelah kursi kemudi.


Serena menghela nafas sebelum menoleh ke belakang. "Kita pindah rumah," jawabnya dengan nada pelan.


"Pindah? Ke mana?"


"Ibu tidak berpikir kalau kamu akan baik-baik saja jika tetap tinggal di sana. Jadi, kita pindah ke tempat yang jauh dari sana."


Diana tiba-tiba menggenggam tangan Deril, meski dia membuang wajahnya ke arah lain. Deril bisa melihat air mata yang menetes melewati pipi kurusnya. Dia tidak sadar, sejak kapan adiknya menjadi sekurus itu.


"Kita akan tinggal di kota lagi," lanjut Alex.


"Bagaimana dengan pekerjaan Ayah?" tanya Deril.


"Ayah mendapat rekomendasi khusus karena kejadian itu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."


Deril diam. Tangan Diana terasa hangat. Adiknya tidak melepas tangannya untuk waktu yang lama. Deril berterima kasih karena memiliki keluarga yang bisa diandalkan seperti mereka. "Bagaimana dengan Ardi?"


Pertanyaan itu sontak membuat Alex, Serena, dan Diana menoleh kaget. Mereka bertiga menutup mulut rapat-rapat untuk tidak membahas masalah Ardi dan Dokter Stephen. Tapi, ketika Deril sendiri yang memulai percakapan, mereka merasa takut setengah mati. Trauma Deril belum sembuh sepenuhnya dan dia bisa kambuh kapanpun.


"Aku hanya ingin tahu kabarnya," Deril menambahkan.


"Suatu hari, Ayah akan membawamu bertemu dengan dia," ujar Alex.


"Kakak, jangan pikirkan apapun saat ini, aku mohon! Istirahat yang benar saja! Aku tidak suka melihat Kakak ada di rumah sakit seperti itu!" protes Diana, yang langsung mengurungkan niat Deril untuk bertanya lebih jauh.


***

__ADS_1


(Seminggu kemudian)


"Apa kamu sudah siap?"


Seorang terapis bertanya pada Deril. Wanita itu berumur hampir lima puluh tahun dengan wajah ramah dan sudut bibir selalu terangkat. Sorot matanya tajam, bagaikan burung elang yang mencari mangsa. Dia memakai kardigan berwarna salem dipadu dengan celana kain khas rumahan. Wanita itu mampu membuat Deril merasa nyaman, seperti ada di rumah seorang nenek tua yang sangat tenang, bukan seperti di tengah ruangan terapis psikologi di dalam gedung kepolisian.


"Ya!" Deril menjawab mantap.


"Baiklah... Silakan tutup mata dan cobalah untuk rileks," pinta Bu Agnesa.


Deril menurut. Dia merebahkan kepalanya dan menutup mata. Wangi sabun yang memenuhi ruangan, membuatnya segar sekaligus mengantuk. Tidak lama kemudian, dia hanya mendengar sayup-sayup suara Bu Agnesa yang bicara dari sebelah sofanya.


***


Dokter Stephen tertawa penuh kemenangan ketika dia melihat Deril tersungkur di puncak tangga. Dia mengenai sasarannya dengan satu kali tembak. Dengan penuh percaya diri, dia menghampiri tubuh Deril dan menariknya kembali ke bawah. Dia melempar tongkat bisbol dan pistol menjauh dari tubuh Deril, saat dia melempar tubuh yang kini berlumuran darah di kaki Ardi.


"Diam!" bentaknya pada Ardi yang mulai menangis. Dokter Stephen membuka tali yang membelit leher Ardi. Dia menarik tali itu ke arah Deril.


"Dia mati?" tanya Ardi.


"Jangan bunuh dia," pinta Ardi putus asa.


"Lalu, apa yang bisa aku lakukan kalau tidak menghabisi nyawanya? Membuatnya menjadi perkedel?" sindir Dokter Stephen. Dia bangkit setelah memastikan tali di leher Deril terikat dengan sempurna. "Kamu lebih baik diam dan tidak membuat masalah la--"


BUAK!!!


Sebuah pukulan keras melayang ke arah kepala Dokter Stephen, tepat mengenai bagian dahinya ketika dia berbalik saat bicara dengan Ardi. Tubuhnya terhuyung, sedetik kemudian kakinya tersandung tubuh Deril dan dia jatuh terjengkang.


"SIALAN!!!" raungnya penuh amarah.


Ardi maju, masih dengan tongkat bisbol di tangan kurusnya. Dia mengayunkan tongkat itu lagi. Kali ini, Dokter Stephen sempat mengangkat tangannya, namun tidak ada waktu untuk menahan pukulan Ardi. Dia melayangkan pukulan demi pukulan secara membabi-buta, hingga akhirnya Dokter Stephen kewalahan dan jatuh.


"Aku minta... Jangan bunuh dia..." Ardi mulai menangis lagi. Tangannya gemetar, tetapi masih kuat menggenggam tongkat. "Dia temanku. Jangan bunuh dia." Ardi mengusap air matanya cepat-cepat, waktu dia melihat tangan Dokter Stephen bergerak lagi.


"Bocah... Sialan..." gumam Dokter Stephen.

__ADS_1


Ardi maju. Dia mengayunkan tongkat di tangannya. "Jangan--"


BUAK!!!


"--bunuh--"


BUAK!!!


"--temanku!!!"


BUAK!!! BUAK!!! BUAK!!! BUAK!!!


"Hhh... Hhh... Hhh..." Ardi berhenti. Dia merasakan tubuhnya sangat panas, seperti terbakar api. Melihat Dokter Stephen tidak bergerak, dia malah menjadi senang. Ada rasa bebas yang entah datang dari mana. Meski langkahnya tertatih, Ardi menghampiri Deril, lalu membuka jeratan tali di lehernya. Dia ganti memasang tali itu di leher Dokter Stephen. Begitu selesai, Ardi berjalan ke arah katrol dan mulai memutar tuasnya.


Sedikit demi sedikit, tubuh Dokter Stephen terangkat ke atas. Dia terbatuk, lalu kesadarannya kembali. Dokter Stephen meronta, berusaha sekuat tenaga melepas tali yang menjerat lehernya. Sayang, tenaganya tidak cukup besar untuk membuka ikatan itu. Ardi tertawa terbahak-bahak saat pandangan mereka bertemu.


DOR!!!


Ardi terdiam saat mendengar suara letusan tembakan. Dia menoleh ke asal suara itu, dan mendapati ujung pistol mengarah padanya. Sedetik kemudian, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di bagian paha kirinya.


"AAARRRGGGHHH!!!" Ardi terjatuh.


Deril menggunakan kesempatan itu untuk mengambil handphone yang tadi dia sembunyikan di bawah kulkas. Hal terakhir yang bisa dia pikirkan, hanya menghubungi ayahnya dan meminta bantuan, meski dia tidak yakin, apakah bantuan akan datang di saat dia masih hidup atau sudah mati.


"Uhuk! Hek! Hek!"


Deril berbalik setelah berhasil mengirim pesan untuk Alex. Dia melihat Dokter Stephen berusaha untuk tetap hidup dengan berjinjit. Jika Ardi menarik tuasnya sedikit lagi, Dokter Stephen pasti sudah tergantung tidak bernyawa.


"Kenapa... Kenapa!?" seru Ardi. Dia memegangi paha kirinya yang terus mengeluarkan darah.


"Jangan ada yang mati lagi," jawab Deril. "Apa semuanya akan beres kalau salah satu dari kalian mati?"


"Dia menyiksa aku!"


Deril melihat ekspresi gila di wajah Ardi. "Itu karena kamu membunuh anaknya," Deril menjawab setenang mungkin. "Kalian harus hidup. Hiduplah untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!"

__ADS_1


***TAMAT***


__ADS_2