
Diana menuruti apa kata Deril. Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, seakan takut akan merusak sesuatu jika berkutik.
Deril bangun dari duduknya tanpa suara. Kakinya melangkah sangat pelan menuju pintu ruangan Diana. Perlahan, Deril menarik daun pintu hingga terbuka sedikit. Dia memeriksa keadaan, memastikan bahwa tidak ada yang mendengar percakapan antara dia dan adiknya.
Setelah semuanya dirasa aman, Deril kembali pada Diana. Dia duduk di tempat orangtuanya duduk tadi, sengaja tidak membelakangi pintu, agar tahu jika ada orang yang masuk. Terutama Serena.
Sama seperti Diana yang mengkhawatirkan ibunya, Deril juga tidak mau membuat hubungan antara Serena dan Dokter Stephen merenggang. Apalagi dia belum mempunyai cukup bukti untuk menjerat Dokter Stephen. Ibunya cukup khawatir dengan keadaan Alex dan Diana. Tidak perlu memperumit keadaan lagi. Cukuplah Serena percaya bahwa Alex keracunan karena makan sembarangan, sementara Diana kena apes karena sendirian di rumah dan memergoki maling yang masuk.
"Apa itu Dokter Stephen?" sambar Deril.
Keningnya terangkat ketika mendengar Deril menyebutkan nama Dokter Stephen. "Siapa?" tanya Diana kembali.
"Orang yang sudah menguburmu," desis Deril dengan mata terpicing. "Apakah itu Dokter Stephen?" Kali ini Deril bertanya lebih pelan.
"Bukan."
Jawaban dari Diana membuat Deril kaget, lebih dari perkiraannya. Dia sudah sangat yakin kalau pelakunya adalah Dokter Stephen. "Apa? Kamu yakin?"
Diana mengangguk sekali. Wajahnya malah tampak kebingungan. "Kenapa Kakak bisa menduga Dokter Stephen yang melakukannya? Nggak mungkin orang sebaik itu melakukan hal kejam."
Deril menelan ludah. Otaknya berhenti berpikir. Dia tidak punya pelaku lain dalam kepalanya, selain Dokter Stephen.
'Ah, iya...' tiba-tiba Deril teringat akan sesuatu. Ketika dia membawa Diana ke rumah sakit, Dokter Stephen juga ada di sana. Tidak mungkin Dokter Stephen muncul begitu saja di rumah sakit. Lagipula, Dokter Stephen tampak kaget saat tahu Deril berhasil menyelamatkan Diana.
"Kak?" panggil Diana, karena Deril malah bengong.
Deril mengerjap. Dia takut dengan apa yang dia pikirkan. Orang sekaya Dokter Stephen akan mudah saja membayar orang untuk melakukan pekerjaan kotornya. Terlalu banyak orang yang dibutakan masalah uang.
"Apa kamu ingat kejadian yang menimpamu?" tanya Deril pada akhirnya.
"Ingat," Diana menjawab dengan suara tegas. Deril kagum pada mental adik perempuannya itu. "Waktu itu, aku tidur seperti biasa. Kakak tahu, kan, kalau aku tidur, pasti selalu pakai headset. Aku bakalan tidur pulas kalau sambil dengar musik."
"Iya, aku tahu," jawab Deril. "Apa kamu tahu apa yang terjadi sama Ayah?"
__ADS_1
Diana menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku saja kaget waktu Ibu bilang, kalau Ayah juga dirawat di sini karena keracunan makanan."
"Lalu, apa yang terjadi waktu kami di rumah sakit?" tanya Deril.
"Tiba-tiba ada yang membekapku."
"Membekap?"
"Iya. Ada orang yang membekapku. Saking takutnya, suaraku bahkan tidak mau keluar. Aku meronta untuk melepaskan diri, tapi semuanya sia-sia. Dia sangat kuat." Diana memeluk dirinya sendiri. Rasa takut yang datang saat hari itu, kembali dia rasakan. "Dia membekapku sampai aku lemas. Aku masih sadar waktu itu. Lalu, dia menggendongku ke halaman belakang. Dia menggali lubang. Saat itu, aku berusaha untuk kabur. Tapi, dia sadar dan malah memukul kepalaku. Setelah itu, aku tidak ingat apapun," ujar Diana. "Hal berikutnya yang aku ingat, adalah Kakak yang menggendongku." Diana mengakhiri ceritanya.
"Apa kamu ingat ciri-ciri orang itu?" desak Deril.
"Ya," Diana masih menjawab dengan mantap. "Dia laki-laki. Tubuhnya kurus. Kira-kira, dia setinggi Ayah."
Seingat Deril, tidak banyak orang setinggi Ayah di desa mereka. Akan mudah menemukan siapa orang itu, jika dia berasal dari sekitar sana. "Apa ada ciri khas lainnya?"
Diana mengusap dagunya, mencoba mengingat apa yang penting dari orang itu. "Aku ingat suaranya. Dia hanya bicara satu kata, tapi aku ingat suaranya."
Diana bergidik. Tidak mungkin kalau dia merasa tidak takut jika harus berhadapan lagi dengan orang itu. "Aku tidak mau kalau harus bertemu lagi dengan dia."
Deril tidak berkomentar. Orang gila mana yang mau bertemu lagi dengan pelaku kejahatan terhadap dirinya?
"Apa benar Ibu menolak polisi yang datang untuk bertanya?" Diana mengubah topik pembicaraan.
Deril mengangguk. "Sepertinya begitu. Ibu sangat khawatir dengan kesehatan mentalmu. Ibu memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini, dan menganggapnya sebagai kasus pencurian semata."
"Aku juga tidak berencana mengatakan hal yang sebenarnya pada Ibu," sambung Diana.
"Kenapa?"
"Kasihan Ibu. Dia terlihat kelelahan karena terlalu khawatir."
"Benar," Deril setuju dengan apa yang Diana katakan. "Aku akan bicarakan ini dengan Ayah saja. Kamu cukup jaga diri baik-baik, dan jangan terlihat dengan siapapun."
__ADS_1
"Apa ini perbuatan orang di desa kita?"
Deril mengangkat bahunya. "Pokoknya, jangan percaya siapapun. Jangan juga pernah ke manapun sendirian. Ayah dan Ibu bisa melindungi kita. Mereka berdua adalah satu-satunya orang dewasa yang akan berpihak pada kita."
"Aku mengerti," jawab Diana kalem. "Tapi, apa Kakak tahu, kenapa orang itu sampai berbuat begitu? Ayah dan Ibu tidak pernah punya musuh. Aku pun begitu. Lalu, Kakak juga tidak terlalu menarik perhatian. Apa ini semua terjadi karena ada yang iri dengan keluarga kita?"
"Bisa jadi," Deril menjawab secara ambigu. "Jangan khawatir. Pasti ada jalan keluar yang baik untuk keluarga kita."
***
Seorang wanita berusia awal empat puluhan, tengah duduk di kantin rumah sakit sambil menyesap kopinya yang mulai dingin. Rambut wanita itu terpusung berantakan di atas kepalanya. Kantung mata menggantung tebal di bawah kedua mata coklatnya. Entah sudah berapa hari dia tidak mengganti kemeja hitamnya itu.
Matanya menangkap semua gerakan yang terjadi di sekeliling kantin rumah sakit. Tempat itu menjadi tempat favorit orang-orang untuk bercengkrama, sehingga wanita itu lebih mudah mendapatkan informasi yang dia mau.
Dia meregangkan tubuhnya yang mulai lelah. Jam tidurnya bahkan bisa dihitung dengan jari dalam tujuh hari belakangan. Wanita itu sadar, kalau otaknya sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dia sudah hampir menyerah, kalau saja tidak melihat Serena masuk ke dalam kantin rumah sakit.
Matanya langsung berbinar. Wajahnya kembali segar. Tapi, dia tidak menerjang begitu saja ke arah mangsanya. Dia mencoba bersikap senatural mungkin agar tidak menarik perhatian.
Serena dan Alex berdiri di depan kasir. Mereka memutuskan memesan makan malam dan beberapa snack untuk dibawa ke kamar Diana.
"Ayo, kita duduk sebentar di sini. Kamu harus makan dengan tenang," usul Alex. Dia membimbing istrinya ke salah satu meja, seraya membawa senampan penuh makanan. "Diana aman bersama Deril. Jangan terlalu cemas. Deril adalah anak yang bisa diandalkan."
"Aku tahu, anak itu akan memegang kata-katanya. Dia terlalu baik untuk jadi anakku," puji Serena.
Alex menggenggam tangan Serena penuh sayang. "Kamu pantas. Kamu adalah ibu yang baik, Sayang," Alex balik memuji.
"Hhh... Bagaimana bisa anak semanis Diana mengalami kejadian seperti ini," keluh Serena. "Aku tidak mau anakku frustasi karena pertanyaan polisi. Jadi, aku menolak diinterogasi dan menutup kasusnya begitu saja. Tapi, apa aku salah? Aku pernah berasa di meja interogasi dan itu membuatku--" Serena terhenti. Matanya nanar.
"Aku tahu, aku tahu," jawab Alex. "Aku ada di sana saat kejadian itu menimpamu."
Wanita itu bergerak untuk lebih mendekati tempat duduk Serena dan Alex. Percakapan sepasang suami-istri itu, terdengar menarik baginya.
***
__ADS_1