
Bola mata Mia bergetar ketika mendengar apa yang Deril katakan sedetik lalu. Tenggorokannya terasa kering, membuatnya sulit untuk mengeluarkan suara. Meski begitu, rasa ingin tahu membuncah di dalam dadanya. Mia berpikir, akhirnya dia mempunyai saksi kunci atas apa yang dia selidiki.
Sebenarnya, Mia sudah mencoba bertanya pada sebagian besar orang di sekitar rumah Deril. Sayangnya, tidak ada orang yang tahu mengenai kasus Alex ataupun Diana. Orang-orang juga tidak mencurigai apapun. Bahkan, tidak ada satu bukti pun yang mengarah pada Dokter Stephen.
Stephen Raharja.
Nama itu mengganjal di kepala Mia. Kasus yang diselidiki kakaknya sepuluh tahun lalu, namun tidak pernah bisa terungkap kebenarannya. Kasus yang membuat kakaknya frustasi, bahkan hingga ajal menjemputnya.
Mia telah membaca semua berkas yang kakaknya punya. Ada setidaknya dua buku catatan kecil peninggalan kakaknya ketika menangani kasus keluarga Dokter Stephen. Mia bekerja sangat keras untuk menambah pengalamannya dalam hal pencarian orang. Kini, berkat koneksi yang dia punya, akhirnya dia dipindahkan ke desa ini dan melepas semua tawaran jabatan di pusat kota.
"Pesta itu... sudah berapa lama?" Mia bertanya dengan suara sepelan mungkin. Dia tidak ingin ada yang mendengar dan malah menjadikannya kambing hitam atas apa yang belum pasti kebenarannya.
Deril menggeleng lemah. "Saya tidak tahu pasti. Saya hanya mengetahuinya belakangan ini. Tapi, itu benar adanya."
"Apa kamu punya bukti?"
Deril menggeleng lagi. "Tapi, suatu hari, akan saya dapatkan."
"Tunggu, tunggu! Dalam hal ini, akan berbahaya kalau kamu bertindak sendirian," tolak Mia. "Saya akan membantumu. Kamu masih di bawah umur. Akan ada banyak masalah kalau kamu banyak terlibat."
Deril mendengus geli. "Memangnya, apa yang bisa Bu Mia lakukan?"
Mia terdiam. Dia sadar, betapa benarnya perkataan Deril. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini, sama seperti sepuluh tahun lalu. Rasa penasaran yang teramat-sangat sampai membunuh kakak tertuanya. Kakak yang paling dia hormati.
"Sayalah yang lebih bisa berperan dalam keadaan ini."
"Kenapa begitu? Apa kamu jago berkelahi dan berpikir bisa memukul muncur Dokter Stephen?" tanya Mia.
"Tidak. Jelas saya akan kalah jika adu otot dengan Dokter Stephen," jawab Deril. "Saya akan mendekati putrinya. Sebagai seorang remaja yang jatuh cinta."
"Kamu akan masuk ke lubang buaya itu sendirian?"
__ADS_1
"Apa Bu Mia mau berpura-pura menyukai Dokter Stephen dan memenangkan hatinya?"
"Eeuuuwww!!!" Mia bergidik. "Saya mempunyai standar tinggi masalah laki-laki!"
"Bu Mia belum menikah?" Deril menoleh. "Jujur saja, sebagai laki-laki saya menganggap Bu Mia lumayan menarik. Apalagi memiliki pekerjaan yang bagus. Tapi, mengetahui Bu Mia belum menikah..."
"Ya, ya, ya! Saya memang belum menikah!" Mia menjadi sedikit kesal. "Kita kembali ke topik pembicaraan!"
"Tidak. Cukup sampai di sini," tolak Deril.
"Kamu ada janji? Kencan?"
"Ibu saya akan pulang dari rumah sakit untuk makan malam. Ibu sudah lama tidak pulang karena memilih menemani Ayah dan adik saya di rumah sakit."
"Lalu, adikmu?"
"Teman-temannya akan datang menjenguk. Katanya, mereka akan berkunjung sampai malam tiba. Adik saya tidak akan sendirian. Makanya, ibu saya memutuskan untuk pulang dan mengecek kondisi rumah," jawab Deril, seraya berdiri dari duduknya. "Terima kasih untuk tehnya. Kita bicara lain kali lagi."
***
"Kenapa belum mulai makan malam, Bu?" sapa Deril.
Serena menoleh dan tersenyum lebar. "Mika mau ke sini," jawabnya senang.
"Kamu darimana, Der?" tanya Alex.
"Jalan-jalan."
Alex baru akan mendebat, namun mengurungkan niatnya setelah melihat ekspresi wajah Deril. "Mandi, sana! Mika sebentar lagi akan datang untuk makan malam bersama."
"Eh? Ini beneran? Mika akan makan malam di sini?" Deril sempat tidak percaya.
__ADS_1
"Buruan, sana!" usir Alex.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Deril langsung melesat ke kamarnya untuk membersihkan diri. Dia harus tampil prima dan tampan di depan Mika. Tidak mungkin dia muncul dengan bau keringat setelah bersepeda seharian.
Hanya perlu waktu sepuluh menit untuk Deril menyiapkan dirinya. Sebenarnya, dia sangat tidak sabar bertemu dengan Mika malam ini. Selain untuk mengukir keakraban lebih banyak, Deril berharap mendapat informasi baru tentang Dokter Stephen.
"Hai!" Mika melambai kecil waktu Deril menuruni anak tangga.
Deril tersenyum canggung. Dia ingat memakai parfum tadi, dan dia menyesalinya karena terasa terlalu berlebihan. "Hai!" Deril berusaha senatural mungkin. "Ayahmu nggak ke sini?"
"Papa kerja. Pulang malam," jawab Mika.
"Ayo, ayo! Makanan sudah siap!" panggil Serena dari dapur.
Deril dan Mika berjalan beriringan masuk ke dalam dapur. Di sana, Alex sudah duduk di belakang meja yang penuh dengan makanan. Serena sudah menyiapkan tiga jenis lauk berbeda. Nasi putih hangat mengepulkan asap tipis di tengah-tengah meja. Wangi masakan Serena membuat cacing di perut Deril menjerit-jerit, ingin diberi jatah.
"Lho? Ibu tidak ikut makan malam?" tanya Deril, ketika melihat ibunya malah menenteng tas kecil yang biasa dia pakai kalau bepergian, alih-alih duduk bersama mereka untuk makan malam.
"Kalian nikmatilah makan malamnya. Ibu akan kembali ke rumah sakit. Diana tidak boleh sendirian," jawab Serena. Dia mengecup kening Alex, kemudian berlalu meninggalkan dapur. Beberapa detik kemudian, mereka bisa mendengar pintu garasi mobil terbuka.
"Oke, karena ada Ayah, suasana menjadi canggung, ya?" Alex nyengir.
Deril ikut tertawa renyah. Jujur saja, kalau tidak ada ayahnya pun, suasana akan tetap canggung. Mika sangat jago dalam menutup mulutnya, hingga Deril kehabisan bahan pertanyaan.
"Silakan dinikmati!" Alex mengambil sesendok besar nasi, lalu Deril mengikuti. Mika bergerak paling akhir.
Dalam hati, Deril sangat tahu kalau saat-saat dirinya bisa bersama Mika adalah saat yang paling berbahaya. Bagaimanapun, Mika adalah anak dari orang yang telah mencelakai keluarganya, meski itu baru dugaan Deril sendiri. Dokter Stephen juga bukannya tidak memiliki dendam pada Deril. Namun, membiarkan anaknya berada di kandang musuh, merupakan tindakan bunuh diri.
'Apa yang Dokter Stephen pikirkan?' batin Deril, seolah sedang dipermainkan dengan rencananya sendiri.
***
__ADS_1