The Girl Next Door

The Girl Next Door
Malam Mencekam


__ADS_3

"Jadi, kamu berhasil jadi dekat sama dia?"


Angin pukul empat sore terasa agak panas ketika berhembus. Deril memutuskan untuk kembali ke kantor polisi. Sebenarnya, dia tidak terlalu berharap bahwa Mia ada di sana. Tapi, ternyata Mia bisa dia temui semudah itu.


"Saya tidak yakin, apa ini bisa dikatakan dekat atau masuk perangkap," jawab Deril.


"Apa anaknya juga tampak mencurigakan?" tanya Mia.


"Bukan. Mika anak yang baik, walau dia tidak lancar bicara." Deril meneguk tehnya beberapa kali sebelum melanjutkan. "Saya pernah bilang, kalau saya akan mendekati Mika, kan?"


"Ya, rencanamu memang begitu. Lalu?"


"Ini malah saya yang didekati oleh Mika."


Mia mengusap-usap dagunya yang runcing. "Apa orang itu juga berniat menggali informasi tentang kamu dengan perantara anaknya?"


"Saya tidak tahu," Deril menjawab jujur. "Meski Mika sering ke rumah saya, dia tidak bertanya apapun."


"Satu hal pun?" Mia memastikan.


Deril menggeleng dengan tatapan yakin. "Bahkan, Mika sama sekali tidak terlihat tertarik dengan kondisi rumah saya. Dia tidak menengok ke sana-sini, atau terlihat mencari sesuatu. Jika datang untuk melukis, dia hanya akan fokus pada kanvasnya. Jika datang untuk makan malam, dia akan menyelesaikannya lalu pulang. Hanya itu."


"Apa mungkin, Mika bilang pada ayahnya kalau dia suka kamu?" Mia menduga-duga.


"Hahahaha! Mana mungkin!" sahut Deril cepat. "Dokter Stephen bukan orang yang akan melepas putrinya begitu saja. Tidak ada kemungkinan dia mengizinkan Mika datang ke rumah saya."


"Tapi Mika datang," Mia menegaskan.


Deril langsung terdiam. Isi kepalanya bercampur-aduk. Dia bahkan tidak mempunyai rencana untuk menyelamatkan Mika di pesta teh malam ini. "Saya takut untuk pulang."


"Kamu takut makan malam dengan Mika lagi?"

__ADS_1


"Bukan. Hari ini, dia tidak akan datang."


Mia menelengkan kepalanya. "Kenapa?"


"Pesta teh itu, malam ini."


"Hah? Sudah seminggu?"


Deril mengangguk lesu. "Saya tidak akan bisa menyelamatkannya sekarang. Terlalu gegabah jika saya mendobrak pintu itu malam ini."


"Biar saya yang lakukan!" Mia menjawab dengan mantap.


"Bukannya itu juga tindakan ceroboh? Atas dasar apa Bu Mia masuk ke sana? Lagipula, Dokter Stephen orang yang sangat pintar. Dia akan membersihkan TKP saat mobil Bu Mia berhenti di depan rumahnya."


"Astaga! Ternyata yang aku hadapi bukan sekedar penjual anak biasa?" Mia terdengar frustasi.


Deril mengangkat kepalanya, menatap langit yang mulai tampak kemerahan. "Mika akan melewati malam bagai neraka hari ini. Karena saya tahu kenyataannya, hal itu membuat saya makin merasa bersalah."


Mia tidak bisa menjawab. Dia memahami perasaan remaja berwajah lesu di sebelahnya itu. "Apa tidak apa-apa kalau kamu pulang telat malam ini? Mau lihat kasus istri Dokter Stephen di kantorku?"


Mia menatap Deril lama-lama. Hatinya merasa kasihan pada anak laki-laki yang masih bingung mau melakukan apa. Rasa ingin menolong seperti itu yang sebenarnya membuat Mia takut. Dia takut, kalau nantinya Deril akan membuat keputusan bodoh, sehingga Deril terjebak dalam tipu muslihat musuhnya.


***


Ini adalah pertama kalinya Deril masuk ke dalam kantor Mia. Ruangan itu agak kecil dengan hamparan kertas di segala penjuru. Deril dapat melihat foto-foto orang di beberapa halaman pertama kertas itu.


"Semua itu adalah kasus yang harus aku pecahkan. Sebagian sebelah sana sudah beres. Aku hanya perlu menulis laporannya. Kalau yang sebelah sini, masih menunggu putusan pengadilan."


"Ternyata Anda orang yang sibuk, ya?" Deril berniat menyindir, berhubung Mia banyak berkeliling atau mengobrol dengannya.


Tapi, Mia malah tersenyum bangga dengan lubang hidung melebar. "Aku ini orang penting!" jawabnya angkuh.

__ADS_1


Deril mengangguk meng-iya-kan. Dia berjalan ke salah satu sisi, lalu mengambil kertas paling atas.


Di sana terpampang foto seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun. Menurut Deril, orang itu memiliki ekspresi wajah sayu dan lelah. "Orang seperti ini melakukan kejahatan?"


Mia yang duduk di mejanya mendongak. "Kasusnya ada di halaman selanjutnya," jawab Mia lalu kembali tenggelam ke depan komputernya.


Tangan Deril membalik halaman. Di sana tertulis bahwa laki-laki itu telah mencekik istrinya hingga tewas. Alasannya karena istrinya tidak mau membuatkannya kopi di pagi hari.


"Jangan percaya dengan orang yang baru pertama kali kamu lihat. Kamu harus kenal dulu untuk memutuskan akan membuka diri atau tidak. Itu lebih aman," tambah Mika. "Ah, ini dia! Sini, sini!" Mika melambaikan tangannya pada Deril.


Deril meletakkan kembali kertas itu di tempatnya, kemudian menghampiri Mia. "Kasus ibunya Mika?"


"Iya. Karena sudah lama, kami simpan sebagai softcopy. Lebih praktis." Mia berdiri dan mempersilakan Deril duduk di kursinya.


Mata Deril membaca berkas yang sudah Mia buka. Tertulis di sana bahwa kepolisian tidak bisa menemukan jejak Xiao Ying di manapun. Dia bagaikan ditelan bumi. Tidak ada bukti yang cukup untuk menangkap Dokter Stephen, walau dia sempat terjadi tersangka. Mika juga tidak bisa ditemui ketika berada di luar negeri. Kasus ini menemui jalan buntu.


"Sudah sepuluh tahun kasus itu ditutup sebagai orang hilang. Bukti-bukti juga sudah semakin menipis. Kami belum bisa memutuskan apa penyebab ibunya Mika sampai menghilang."


"Apa tidak bisa menggunakan alasan ini untuk menggeledah rumah Dokter Stephen?" tanya Deril.


"Tidak bisa, kecuali ada bukti baru yang muncul."


"Tidak akan ada bukti baru yang muncul." Tidak tahu kenapa, Deril merasa yakin dengan ucapannya. Deril meneruskan bacaannya. Tidak ada hal yang bisa membuat Deril curiga atau mereka-reka, apa hal selanjutnya yang bisa dia lakukan. Dokter Stephen memang menutupi kasus itu dengan baik. "Pasti ada sesuatu di dalam rumahnya, kalau di luar rumahnya sangat bersih."


"Aku juga curiga seperti itu," sahut Mia.


Deril tidak banyak bicara setelahnya, begitupun dengan Mia. Mereka asyik dengan dunia mereka masing-masing. Deril membaca setiap laporan bukti dan saksi yang tercantum pada kasus Xiao Ying. Sementara Mia, duduk di sofa yang tidak tertimbun kertas, dan membaca kasus-kasus lainnya.


Tepat ketika jam menunjukkan pukul delapan malam, Deril pamit pada Mia. Beberapa petugas polisi yang berdinas malam, menyapa Deril karena Mia pernah memperkenalkannya. Deril berjanji akan menceritakan kejadian selanjutnya beberapa hari lagi. Dia tidak bisa datang besok, karena harus pergi ke rumah sakit bersama Alex. Diana akan pulang besok.


Dalam perjalanan pulang, Deril mengayuh sepedanya dengan dada yang terasa sesak. Dia ingin menangis. Bayangan Mika yang minta pertolongan, terus saja menyiksa pikirannya.

__ADS_1


"Maaf... Maaf..." bisik Deril seraya mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


***


__ADS_2