The Girl Next Door

The Girl Next Door
Penolakan


__ADS_3

"Kata Papa, kamu suka aku?"


Mendengar pertanyaan itu, Deril hampir tersedak. Minuman kaleng di tangannya bahkan sampai berbunyi karena dia menggenggamnya terlalu erat.


"Jangan. Jangan suka aku."


Tubuh Deril langsung terasa seperti jatuh dari gedung pencakar langit. Dia bahkan belum mengutarakan isi hatinya pada Mika. Tapi, saat ini jelas Mika sedang menolaknya, kan? Siapapun yang mendengar hal ini, pasti menganggapnya begitu.


"Kita fokus pada pelarian dirimu dari sini saja dulu," bisik Deril dengan suara bergetar. Dia mengutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol suara di saat seperti ini.


"Bagus begitu," Mika menjawab. Dia mulai menikmati camilan dan sodanya.


Selebihnya, mereka hanya diam. Deril tampak seperti menikmati film malam itu, tetapi sebenarnya dia tidak berada di sana. Pikirannya melayang jauh. Hatinya terluka. Dia belum pernah menyukai seseorang sampai seperti itu.


Deril ingin berlari pulang. Dia ingin mengadu pada orangtuanya bahwa hatinya sakit. Tapi, jika seperti itu, tindakannya akan seperti anak kecil yang merengek. Harga dirinya menolak hal begitu.


"Apa sekolah menyenangkan?" tanya Mika saat film mencapai *******.


Setengah diri Deril bersyukur karena Mika mengajaknya mengobrol, dan Deril bisa berpaling dari layar televisi. "Lumayan."


"Aku tidak pernah sekolah."


"Sama sekali?"


"Iya. Aku di rumah. Terus."


"Tapi kamu pernah ke luar negeri," Deril mencari sisi positif kehidupan Mika. "Aku tidak pernah ke luar negeri. Memikirkannya saja, tidak berani."


"Kenapa?"


Deril menghela nafas. Dia ragu, apakah menceritakan masalah keuangan keluarganya pada Mika, adalah hal yang pantas? Mereka bahkan bukan sepasang kekasih. Untuk apa terlalu menceritakan dirinya pada orang lain?

__ADS_1


"Kita bicarakan hal lain saja," kilah Deril.


"Diana pulang?"


"Ya. Diana sudah pulang tadi. Dia benar-benar sehat, sampai bisa mengusirku begitu saja karena sudah tidak dibutuhkan lagi."


"Diana baik. Aku suka Diana."


Deril menoleh saat Mika mengatakan menyukai Diana. "Aku agak kaget. Anak-anak perempuan mudah sekali bilang suka pada teman perempuannya. Diana juga begitu. Dia bilang suka sama Lilia, tapi tidak suka dengan Praba. Aku bahkan tidak tahu siapa mereka."


"Diana banyak teman."


"Dia mudah berteman." Deril kembali memperhatikan televisi. Dia sudah terlewat jauh dengan alur cerita film itu, hingga tidak tahu kenapa pemeran utamanya berada di dalam hutan saat ini, dengan tangan mengais-ngais tanah seperti sedang mencari sesuatu. "Bisa dibilang, Diana itu kebalikan dariku. Dia persis seperti Ibu."


"Tante Serena cantik. Baik." Mika tersenyum.


'Astaga, Mika! Kalau kamu tidak berniat menerima cintaku, kenapa kamu memuji keluargaku di depanku? Jangan teralu dekat dengan mereka, kalau kamu hanya akan mematahkan hati mereka!'


"Datang saja ke rumah kalau kamu perlu teman bicara. Ibuku orang yang tepat," malah kalimat undangan yang keluar dari mulutnya. 'Yah, setidaknya, aku bisa menjadi teman yang paling dekat dengannya,' batin Deril.


"Waktu akan habis."


Deril mencerna sejenak, memikirkan apa maksud dari Mika. "Maksudmu... Waktu untuk menonton film?"


Mika mengangguk. "Makasi sudah datang."


'Stop! Itu hanya basa-basi!' jeritnya pada diri sendiri. 'Jangan mengartikan lebih! Kamu sudah ditolak di awal!'


"Datang lagi. Cepat-cepat!"


"Aku harus mengatur waktu. Tapi, tenang saja. Itu tidak akan lama," janji Deril.

__ADS_1


Mika mengangguk, tampak lega dengan jawaban Deril. Wajahnya berubah cerah, walau yang ada di hadapannya adalah film horror. Sisa film itu menampilkan pemeran utama yang akhirnya melepas pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga, dan kembali pada ayahnya yang tinggal di dalam rumah gubuk kecil.


***


"Bagaimana?" sambar Alex, begitu Deril masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu depan. "Apa Dokter Stephen melakukan hal jahat padamu?"


Deril menggeleng lesu. Kepalanya terasa kosong. Dia lelah sekali, meski yang dia lakukan sedari tadi hanya duduk di depan televisi.


Alex melipat tangannya di depan dada. Dia menangkap ekspresi putus asa anak laki-lakinya. "Jangan bilang... kamu nembak Mika?"


Deril hampir tersedak mendengar perkataan ayahnya. "Mana mungkin!?" cicitnya.


"Kalau begitu..." Alex mengusap-usap dagunya yang sudah tidak berjanggut lagi. "Kamu ditolak sebelum bertarung?"


"Aku tidak mau membicarakannya!" Deril berjalan cepat menuju dapur. Dia menenggak air putih banyak-banyak. Tebakan dari Alex membuat tenggorokannya kering. "Ayah tidur, sana!" usir Deril, ketika melihat Alex malah nangkring di kursi mini bar mereka.


"Jangan teriak-teriak, nanti ibumu dengar," Alex memperingatkan. "Kamu tahu, kan, kalau ibu dan adikmu haus akan 'laporan berkunjung ke rumah calon menantu'?"


Deril memutar bola matanya. Ayahnya tidak salah, namun dia sedang tidak di dalam mood ingin menceritakan penolakan Mika padanya. "Aku akan cerita besok. Aku mau tidur," Deril mengakhiri percakapan mereka. Tanpa memperdulikan Alex yang merengek, Deril naik ke kamarnya. Dia hanya ingin tidur.


Selesai membersihkan diri, Deril langsung melemparkan diri ke kasur empuknya. Matanya juga terasa berat. Dia juga tidak berniat mengerjakan pekerjaan rumahnya yang tertunda.


"AKH!"


Deril membuka mata kembali. Jeritan itu membuat jantungnya berdebar cepat karena kaget. "Itu bukan suara Diana," pikiran itu yang pertama kali keluar dari kepalanya. Alex sudah pasti berada di kamar bersama Serena, jadi mereka aman.


Deril bangkit dari tempat tidurnya. Dia berjalan ke arah pintu kamar. Deril menyembulkan kepalanya ke luar. Lorong lantai dua sudah gelap. Dia melirik ke arah tangga. Lantai satu juga gelap. Teriakan itu bukan dari dalam rumahnya.


"Dari luar?" gumam Deril. Dia berjalan cepat menuju jendela. Dia tidak yakin dari mana suara itu berasal. Perlahan, Deril menyingkap tirai jendela kamarnya. "Gila!" Deril langsung membekap mulutnya dan jatuh terjengkang. Bola matanya bergetar. Kedua kakinya lemas. "Apa... Apa itu?" tanyanya pada diri sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2