The Girl Next Door

The Girl Next Door
Tolong


__ADS_3

"Tolong... Papa... Jangan..."


"Di saat seperti ini, beraninya kamu masih memanggilku dengan sebutan 'papa'?"


"Aku menyesal... Maaf..."


"Buat anakku hidup kembali, maka aku akan memaafkanmu!"


Deril akhirnya tersadar setelah mendengar suara ribut tidak jauh darinya. Kepalanya terasa pusing sekaligus sakit. Deril meraba bagian pelipisnya. Ada darah yang sudah mengering di wajah sebelah kiri. Dia tidak sadar, sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri di basement rumah itu.


"Aku minta maaf... Mika mengajak masuk. Mika memberi makan. Mika suka a--"


BUAK!!!


"Tutup mulut busukmu itu!!!" pukulan Dokter Stephen melayang ke arah Ardi. Tubuh Ardi yang kurus langsung terlempar ke tanah.


Grrrrtttt!


Dokter Stephen menarik tali yang membelit di leher Ardi. Ardi meronta, kaget karena tidak bisa bernafas. Dia berusaha melonggarkan tali itu sekuat tenaga. "Jangan menyebut nama putriku dengan mulutmu itu! Jangan berani-beraninya!" Dokter Stephen menyeret Ardi hingga ke salah satu sudut ruangan. Dia melemparkan tali ke atas, yang ternyata ada sebuah kayu melintang. Kayu itu tampak kokoh. Seperti memang sudah disiapkan untuk menggantung seseorang di sana.


"Aku mohon... Maaf, maaf, maaf, maaf!" Ardi merintih kesakitan.


Tanpa menghiraukan rintihan Ardi, Dokter Stephen menarik tali hingga Ardi berjinjit di tempatnya. Sedikit saja Dokter Stephen menarik tali itu lagi, Ardi sudah pasti akan tergantung.

__ADS_1


"Anda tidak boleh melakukan itu!" suara Deril akhirnya keluar.


Dokter Stephen menoleh, kemudian tertawa lantang. "HAHAHAHAHAHA! Kamu pikir, aku tidak tahu, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh?" sindirnya. "Seperti yang aku katakan, aku tidak akan membuat bocah ini mati dengan mudah. Dia harus merasakan neraka dunia lebih lama lagi."


Deril menatap Ardi yang hanya menangis. Dia seperti tidak bisa memutuskan, mana yang lebih mengerikan. Antara melayani para lelaki hidung belang, atau mati tergantung sekarang. Seperti hidup segan, mati tak mau.


"Aku melakukan ini, supaya dia tidak bisa kabur dari sini. Dia harus melihat komplotannya mati di depan matanya." Dokter Stephen menatap Ardi dengan pandangan jijik, seakan dia sedang memandang kotoran. "Apa yang kamu harapkan? Kabur dari sini dengan bantuan remaja tanggung seperti dia? Konyol!"


"Dia hanya berusaha untuk hidup," bela Deril.


"Apa bukan karena kamu menyukainya?" Dokter Stephen terkekeh geli. "Lihatlah, mahakaryaku! Bahkan, dia sanggup menipu semua orang di desa ini. Betapa hebatnya kemampuanku sebagai dokter bedah plastik!"


Deril berusaha bangkit, namun tangannya bergetar. Kepalanya sungguh terasa pusing. Dia kembali tersungkur ke tanah. Deril tidak tahu apakah dia bisa menjaga nyawanya kali ini. Jika Dokter Stephen melayangkan satu pukulan lagi ke arah Deril, dia benar-benar akan tamat.


TING! TONG!


"Hei, bocah!" panggilnya pada Ardi. "Jika salah satu dari kalian kabur, aku akan pastikan kakimu terpotong. Jika kalian berdua kabur, aku akan menemukan kalian, di manapun kalian berada."


"Aku tidak kabur..." jawab Ardi sambil menangis.


Deril menunggu hingga Dokter Stephen menghilang di balik pintu rahasia. Ia menajamkan telinganya, memastikan mereka benar-benar hanya berdua di sana. "Ardi!" desisnya.


Ardi langsung menahan tangisnya. Dia menoleh pada Deril yang merayap, berusaha mendekatinya. "Jangan... Jangan dekat!"

__ADS_1


"Ada handphone di saku celanaku. Dokter Stephen belum mengambilnya. Bisa kamu ambil?" Deril tidak mengindahkan penolakan Ardi.


"Tidak... Tidak... Jangan macam-macam... Dia tidak suka aku bantah..." Ardi memegang tali di lehernya. Wajahnya sudah penuh dengan air mata. "Jangan bantah... Diam saja... Diam..."


"Ardi! Sadarlah! Kalau kita tidak melakukan apapun, kita berdua bisa mati!" pinta Deril. Dia tidak mengerti, bagaimana takutnya Ardi pada Dokter Stephen, setelah apa yang Ardi alami sepuluh tahun ke belakang.


"Kamu yang mati. Kulkas itu untuk kamu. Dia sayang Mika. Aku bisa jadi Mika."


Deril sudah hampir menonjok Ardi, karena dia kehilangan kesabaran. Dia berusaha sendiri meraih handphone di saku celananya. Setidaknya, Mia masih menunggunya di luar. Mungkin saja Mia mengira kalau tidak ada hal yang terjadi, karena tadi Deril mengatakan bahwa mereka baik-baik saja.


'Aku harus menghubungi Bu Mia. Satu missed call saja,' Deril bergerak sebisa mungkin dengan tangan terikat di belakang. Itu tidak mudah baginya, karena kepalanya semakin lama semakin terasa sakit.


***


"Sial! Apa yang anak itu perbuat, sih!? Kenapa belum keluar juga dari rumah itu!?" protes Mia dari dalam mobilnya yang terparkir di jalan utama. "Aaargh! Kalau aku mendobrak rumah itu, pastinya aku yang akan kena masalah. Tapi, kalau aku diam saja, Deril bisa ada di dalam bahaya."


Mia keluar lagi dari dalam mobilnya untuk kesekian kalinya. Dia khawatir bukan main. Dia ingin berlari ke rumah Deril, tapi dia teringat kalau ibu Deril adalah tipe orang yang heboh bukan main.


"Aku harus berpikir... Alasan apa yang bisa aku gunakan untuk masuk ke dalam."


Drrrrrtt! Drrrrrtt! Drrrrrtt!


Mia mengangkat tangan kirinya yang sedaritadi menggenggam handphone. Matanya membelalak ketika mendapat missed call yang dia tunggu.

__ADS_1


1 MISSED CALL FROM DERIL


***


__ADS_2